[FF] HE part 9
He
The Snowman,
Snowheart...
(A special part for Kibum)
Author : RetnoNateRiver
Genre : Romance
Main Cast : -
SNSD Seo Hyun as Seo Joo Hyun
-
SJ Kyu Hyun as Park Kyu Hyun
Other Cast : -
SJ Ki Bum as Kim Ki Bum
- SHINee Min Ho as Choi Min
Ho
-
etc...
***
Dengan
senyuman yang belum hilang, Kyuhyun kembali menghadap ke para pelajar itu.
Tanpa canggung, ia menggenggam tangan Joohyun, membuat Joohyun terkejut.
“Satu
lagi yang ingin aku sampaikan...” kata Kyuhyun pada semua, “Aku menyatakan...,
bahwa mulai sekarang..., Seo Joo Hyun...,
adalah
yeojachingu-ku...”.
***
Annyeong, yeoreobun...!
Kali ini, FF He khusus untuk
Kibum...! Sesuai dengan judulnya ‘He – The Snowman, Snowheart... (A special
part for Kibum)’
Daripada nanti kelamaan nunggu,
mending langsung dibaca, deh, FF ini...!
Happy Reading...!
Author
RetnoNateRiver
***
“Mwo?!!”
Jonghyun dan Taemin terdengar terkejut atas kata-kata yang Kyuhyun katakan.
Bagi Kibum, yang kini senyumnya hilang seketika
setelah mendengar kalimat itu, kata-kata itu tak pernah diduganya akan
diucapkan oleh Kyuhyun yang jelas-jelas tak menyukai orang seperti Joohyun,
bahkan menjadikan yeoja itu sebagai budak kelompoknya.
Tak hanya dirinya, tapi seluruh pelajar yang
mendengar kalimat tadi juga terkejut. Sekaligus mereka bisa dibilang tak terima
dengan itu. Apalagi para yeoja-deul yang tadi ku bilang naksir dengan Kyuhyun
itu, mereka ada di urutan no.1 yang menentang pernyataan tersebut.
Tapi Kyuhyun hanya tersenyum santai. “Aku tak
mau mendengar kata keberatan lagi dari siapapun atas perkataanku itu...”
katanya, “Yang penting, aku sudah memberitau kalian...”.
Kembali ruangan terdengar sedikit ribut.
Joohyun —yang juga terkejut— hanya bisa
menundukan wajahnya lebih dalam. Ia tak pernah menduga sama sekali ini akan
terjadi.
“Baiklah...” kata Kyuhyun, “Bubar...!”.
***
Key berlari tergesa-gesa, seakan baru saja
melihat pencuri. Tapi bukan itu alasannya pasti. Ia rupanya membawa kabar.
Duduklah di ujung koridor lantai dasar sana
seorang namja yang merupakan tujuan info yang Key bawa. Di samping namja itu,
duduk Amber tengah mengobrol dengan namja itu. Ya, namja itu, siapa lagi kalau
bukan Choi Min Ho.
Key sampai di dekat mereka, sementara mereka
hanya memandang Key —yang terengah-engah— heran.
“Kau lari-larian?” ujar Minho.
“Ya! Apa kau habis lihat hantu di lab. IPA?”
ledek Amber.
Key masih terengah, “Biarpun aku memang agak
takut dengan hal-hal yang begituan..., tapi mereka itu gak muncul di siang
bolong..., tau...!! Geurigo..., bukan itu alasanku ke sini...!!” ujar Key.
Amber hanya terkekeh, sementara Minho memandang
Key serius, “Katakan, apa yang membawamu ke sini...?” tanya Minho pada Key.
“Berita buruk...!” kata Key.
“Uh? Berita buruk apa?” ujar Amber.
“Joohyun dan..., Kyuhyun Sunbaenim..., mereka...,”
kata-kata Key terputus sejenak, “Umm..., Kyuhyun Sunbaenim...,”.
“Wae?” tanya Amber, tak sabaran.
“Katakan yang jelas...!” suruh Minho.
“..., Kyuhyun Sunbaenim bilang pada semuanya di
Aula II tadi pagi kalau..., kalau...,” Key ragu, “kalau..., Joohyun itu...,
adalah yeojachingu-nya..., sekarang...”.
“Mwo?!!” Amber yang tak terima itu bangkit
berdiri.
Sementara Minho sendiri terlihat kaget dan
sangat tak terima, namun ia hanya terdiam. Ialah yang paling tidak terima.
“Eh, eh, eh... Santai sedikit, dong!” tegur Key
pada Amber yang bangkit itu, sudah seperti mau memukul orang lain.
“Ini benar-benar...” kata Amber, “Bagaimana
tidak, masa ia menyukai pesuruhnya sendiri, sih?! Ini sama sekali tidak lucu!”.
“Aku juga tidak tau!” kata Key, “Sudah, kembali
duduk sana!”.
Dengan tiba-tiba, Minho berdiri dan beranjak
pergi dari dua temannya itu, membuat mereka membungkam dan memandang Minho
heran. Ia pergi dengan rasa kesal dan tak terimanya itu.
“Ia kenapa?” bisik Amber.
“Jangan tanya aku...” kata Key.
***
Kibum hanya memandangi langit biru siang ini sambil
bersandar pada pagar pembatas di koridor lantai dua.
“Kau sudah gila, ya...?!” terdengar suara
Joohyun dari taman sekolah di bawah sana. Kibum pun mennoleh ke arah Joohyun
yang sedang berbicara dengan seseorang yang menghampirinya.
Kemudian orang itu muncul, Kyuhyun. “Aku bisa
melakukan apapun yang aku suka di sini...” katanya santai.
Melihatnya, membuat Kibum menghela nafas.
“Dan membuatku dibunuh oleh para siswi yang
naksir padamu itu?!” lanjut Joohyun.
Kyuhyun hanya tertawa, “Mereka, kan, tunduk padaku...
Kalau ku suruh mereka untuk tidak mengganggumu, pasti mereka akan menurut pada
namja yang mereka taksir ini...!” katanya narsis.
—“Rupanya..., ia bukan
buatku...,
“Eo? Lantas aku harus mempercayaimu?!” kata
Joohyun.
Aku memang bukan orang yang beruntung...,
tak seperti orang itu...
“Oh, apa aku harus menunjukannya padamu?”
lanjut Kyuhyun sambil melipat tangan di depan dadanya.
Walau aku kelihatan tidak
sedih, tapi sebenarnya aku menangis dalam hati... Semua kejadian ini...,
semuanya seakan menjauhiku...
“Kau ini...?” ujar Joohyun.
“Kau masih memanggilku ‘kau’?” kata Kyuhyun,
kini mendekat pada Joohyun, “Bukankah aku sudah bilang, panggil aku Kyuhyun
Oppa!”.
“Apa aku masih budakmu? Apa aku masih harus
menuruti kata-katamu?” ujar Joohyun usil.
“Ani, kau bukan budakku. Tapi kau harus
menuruti kata-kataku...,
sebagai namjachingu-mu...”.
Tanpa kata apa-apa lagi, Kyuhyun kembali
mengecup bibir Joohyun. Kini, Joohyun kelihatannya menerimanya begitu saja, tak
seperti sebelumnya.
Ya, aku hanya bisa memandangi
mereka... Seperti itu...
Mungkin hatiku sudah terlalu
mendingin dan membeku diterpa seribu tahun musim Salju... Sehingga tak ada
satupun cinta yang mendekatiku sekarang...
Aku terlalu sakit...”— (Kim Ki Bum)
***
Flashback...
[Kibum POV]
Waktu itu, aku pernah tersakiti, lebih dari
tiga kali... Itu tidak penting... Tapi yang terakhir kali adalah yang paling
menyakitkan..., buatku...
Yeoja itu. Ya, yeoja-ku. Yeoja yang sangat
manis dan dewasa. Yeoja yang sangat ku percayai dan aku kagumi kedewasaannya
dalam bertindak. Yeoja idamanku.
Ketika suatu pagi kami berjanji untuk bertemu
di taman Namsan sambil ku bawakan sekotak coklat, yang sangat disukainya,
disertai senyum dariku yang tak pernah hilang hanya untuknya...,
rupanya ia tak sendiri di situ...
“Chagi, geu sarameun nuguya...?” tanya orang
yang menggandeng tangannya itu sambil menatapku, seorang namja yang tak pernah
ku kenal sebelumnya.
Yeoja itu, yeoja-ku, hanya memandangiku.
Kemudian ia menjawab pada namja itu,
“Mollayo...” katanya.
Senyumku hilang, heartquake. Hatiku membeku mendengar ucapannya, yang harusnya
bilang bahwa aku adalah namjachingu-nya. Tapi...?
Bahkan namja itu memanggilnya dengan sebutan
itu, aku tak yakin...
“Oppa, kaja...” ajaknya.
“OK, Chagi...!” namja itu kemudian menarik
lembut yeoja itu pergi dari hadapanku.
Dan yeoja itu..., hanya menuruti ke mana namja
itu membawanya pergi, tak ada kontak apapun lagi denganku.
Rupanya, ia bukan buatku, ia malah memilih yang
lain.
Tidak tau perasaan orang...
Lalu, ada lagi?
Ya, masih... Apa aku harus menceritakannya
padamu..?
Baiklah...
Yeoja yang satu ini, biarpun umurnya di
bawahku, tapi ia sangat dewasa dan cantik. Kini, ia penggantinya. Aku
mempercayainya sepenuhnya, sama seperti ia mempercayaiku.
Tapi semalam, tingkahnya aneh. Ketika ku ajak
ia berjalan-jalan dan makan, ia terlihat menjadi pendiam, tak banyak kata-kata
yang keluar dari mulutnya. Wajahnya begitu sendu, seakan menyimpan sebuah
masalah besar.
Dan pagi ini, misteri itu terjawab.
“Hati-hati, ya...!” pesan Ibuku pada Ibunya.
Ku lihat dari ambang pintu rumahku, rumahnya
itu ada di seberang rumahku. Terlihat mobil pribadi keluarganya sudah siap
melaju jauh dengan berbagai barang di rumahnya yang diangkutnya.
Mataku berpindah memandang ketika yeoja-ku itu
menghampiriku, “Oppa...” ku dengar suaranya bergetar.
Aku tersenyum padanya, “Kau..., akan...,”.
Air matanya jatuh, “Pumo-ku menyuruhku...,
untuk melanjutkan pendidikanku di...,”.
Aku segera memeluknya erat, “Arasseo...”
kataku, “Hati-hati, ya... Kau harus belajar dengan giat di sana...”.
Ku rasakan pundakku basah, ia menangis, “Aku
cuma mau di Korea, Oppa... Karena Oppa...” ujarnya, “Aku tak mau pindah ke
Jepang..., karena Oppa...”.
“Pendidikanmu adalah yang utama...” kataku,
“Sekarang, kau harus melupakanku dan fokus pada pendidikanmu..., karena aku...
Ara...?”.
“Chagi...!” Ibunya memanggil.
Aku melepas pelukannya. Ku lihat memang ia
menangis. “Umma-mu memanggil...” ku usap air matanya, “Sudah waktunya...”.
“Tapi Oppa...,”.
Aku kembali tersenyum padanya, “Pergilah...”
kataku, mengikhlaskannya, “Di luar sana ada banyak yang jauh lebih baik...,
dariku...”.
Ia masih memandangku.
“Pergilah, Chagi...” kataku.
Dengan sejuta rasa keraguan, ia menjauh dariku,
berjalan mundur beberapa langkah hanya untuk memandangku buat yang terakhir
kali.
Kemudian, ia menghampiri Ibunya yang sudah
menunggunya di dekat mobil. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil, satu keluarga
itu memberi ucapan pamit kepadaku dan Ibuku, dan yeoja itu...,
ia menangis lagi..., terlihat dari jendela mobilnya...
Lagi, hatiku membeku, tanpa api unggun
penghangat yang kini pergi dan mungkin ia takkan pulang lagi. Meski memang
sakit, tapi aku harus menerimanya.
Rupanya, ia juga bukan buatku...
Apa ini belum cukup?
Baiklah, ini ceritaku yang paling baru.
Kemarin..., jika saja aku lebih
berhati-hati..., pasti ini takkan terjadi..., dan Ia pasti takkan merebutnya dariku.
Mobil hitam ini telah terguling beberapa kali
dengan posisi akhir terbalik. Tapi aku dan ia, yeoja-ku yang terpaut dua tahun
lebih tua dariku itu, berhasil keluar dari mobil ini.
Kecelakaan. Mobil yang menabarak mobilku ini
melarikan diri. Ini benar-benar...
“Bangunlah...! Apa kau dengar aku...?!” ku
guncangkan tubuhnya yang ada dalam pangkuanku itu.
Wajah, tangan dan kaki kami memang teraliri
darah karena luka-luka ini.
“Chagi-ya...!!” panggilku sekali lagi, tapi ia
masih terpejam dan tak menjawab.
Aku hampir putus asa, aku menitikan air mata.
Ini benar-benar genting, sedangkan aku tak mampu melakukan apapun.
“Apa di sini ada orang?!!!” teriakku, “Aku
mohon, tolong kami!!!” teriakku kembali, tapi rupanya memang tak ada orang di
sekitarku.
Namun ku rasakan, tangannya, yeoja-ku itu,
menyentuh pipiku. Matanya terbuka, namun nafasnya tersengal.
“Chagi...” ku genggam tangannya itu, “Aku
mohon, tunggu sebentar lagi... Aku akan menyelamatkanmu...”.
“Oppa...” panggilnya lirih, begitulah ia
memanggilku.
Dan kemudian, tangannya tak mampu menyentuh
pipiku lagi, aku kembali kehilangan sorot matanya yang teduh itu. Ini tidak
mungkin...
“Chagi...” panggilku, mungkin kali ini aku
benar-benar menangis.
Aku mendekapnya, benar-benar mendekapnya. Tak
ku rasakan lagi hangat tubuhnya dan tak ku dengar lagi nada nafasnya. Ini
benar-benar tidak mungkin...
“WAE?!!!”
Aku menghadiri upacara pemakamannya hari ini,
memandang wajah manisnya dalam pigura yang dibawa Ibunya itu. Walau aku
benar-benar merasa kehilangan, tapi ku rasa Ibunya lebih merasa kehilangan
dariku.
Aku kembali sakit, aku tak menerima ini
sepenuhnya.
Tapi apapun kata hatiku, ia takkan kembali
dalam pelukanku seperti sediakala. Senyumannya, kehangatannya, keceriannya yang
sangat nampak saat kami bermain ski, keramahannya..., semua itu takkan
kembali...
Ketika pemakaman usai, salju turun.
Ya, aku harus menikmati musim salju ini
sendirian, apalagi hatiku juga sedang dilanda musim salju, kembali beku tanpa
api unggunku yang kini pergi dan takkan pernah lagi ku lihat.
Tak ada lagi keceriaan saat kami bermain ski
bersama, kali ini aku harus bermain sendirian. Tapi aku tak mau main, karena
aku sendirian.
Dan rupanya, ia lagi-lagi juga bukan buatku.
Sekarang...
“Yeppeuda...”
batinku, melihat yeoja yang berada di ruang guru itu, Seo Joo Hyun namanya.
Inilah awal aku menyukainya. Walau memang
usianya di bawahku, aku terpesona akan dirinya. Aku menyukainya, aku ingin
memilikinya.
Aku mengajaknya mengobrol dan makan bersama.
Kami sering bertukar cerita sekarang. Tapi rupanya, ada sedikit pengganggu.
Lantas,
Kibum menggenggam tangan Joohyun, membuat yeoja ini terkesiap. “Ini tak bisa
dibiarkan, Joohyun-ah...” katanya, “Cepat ikuti aku...!”. Ia kemudian menarik
Joohyun pergi dari situ dengan sorak-sorakan murid-murid itu. Tapi ia tak
peduli, ia pun juga tak peduli dengan Joohyun yang memanggil-manggilnya.
Namun,
baru tiga langkah, Kibum terhalang oleh Kyuhyun yang baru saja datang. Keduanya
saling berpandangan. Apalagi Kyuhyun menatap Kibum dengan tatapan yang
mematikan. Sementara Joohyun hanya terdiam memandangi dua orang ini. Dan
sorak-sorakkan itu lenyap.
Kyuhyun
melirik ke arah Joohyun, kemudian kembali menatap tajam Kibum, “Apa yang kau
lakukan pada Joohyun, huh?!” tanyanya dingin pada Kibum.
Joohyun
mencoba meluruskan keadaan, “Ya! Dia ini...,”.
“Aku
minta, kau jawab aku!!” protes Kyuhyun pada Kibum, membuat Joohyun terpaksa
membungkam mulutnya dalam-dalam.
Kibum
masih memandangi Kyuhyun, “Kau..., kelompokmu..., kelompok Minho..., dan
mereka...,” katanya, “kalian semua sama saja...”.
Kemudian,
Kibum melanjutkan langkahnya yang tertunda masih dengan Joohyun dalam
genggamannya. Ia berlalu melewati Kyuhyun yang masih terpaku di tempatnya.
“Subaenim!
Lepaskan tangannya!” perintah Kyuhyun pada Kibum.
Kibum
tak memperdulikanya.
“Lepaskan
dia, Kibum-ah!!!” bentak Kyuhyun.
Kali
ini, langkah Kibum terhenti. Joohyun kemudian melepaskan tangannya dari
genggaman Kibum.
“Lepaskan
saja aku, Oppa...” kata Joohyun pada Kibum, membuat Kibum memandangnya.
Joohyun
berjalan ke arah Kyuhyun dengan berat hati.
Kyuhyun
kemudian berbalik ke arah Joohyun. Ia menatapnya dalam, “Neon paboya...”
ujarnya dingin pada Joohyun.
Ya, Park Kyu Hyun...
Ini benar-benar...
[Author POV]
Flasback
end...
***
“Dan
kini..., ia berhasil mendapatkan Joohyun...” batin Kibum.
Kyuhyun baru melepaskan Joohyun, kemudian
Joohyun kelihatan terdiam. Ia bingung apa yang harus ia lakukan setelahnya.
“Wae...?” tanya Kyuhyun usil pada Joohyun,
“Kok, kau tidak marah?”.
“Marah?” ujar Joohyun, “Memang selama ini aku
begitu...?”.
“Oh, berarti, kau juga menyukaiku, kan?” tebak
Kyuhyun asal.
Joohyun terbelalak, “Mwo?!” ujarnya, hanya
membuat Kyuhyun tertawa.
“Mungkin,
aku memang sudah tak layak lagi menerima cinta dari semua yeoja yang ada di
dunia ini...” Kibum menghela nafas.
Ia kemudian beranjak dari sandarannya, seulas
senyum tipis menghiasi wajahnya. Kibum kemudian berlalu, pergi menjauhi tempat
itu, tempat ia melihat Kyuhyun dan Joohyun yang ada di bawah sana.
*HE*
To be Countinued
*HE*
Kyyaaaa....!
Ottaeyo, Reader-deul? Kurang
asyik kah? Ottae, ottae, ottae? ^^thor,
sabar, thor...!^
Hm.., Nate lupa memberitau
kalau ada bagian dari FF ini yang terinspirasi dari VCR Super Show 4... VCR
sebelum lagu Storm... ^^pada tau gak ya?^
At all..,
Yeoreobun, gomapseumnida!!
Author : RetnoNateRiver


