[FF] Aim part XIV

6:00 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part XIV : Plan

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min

***



A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

[VIXX - Alive]


“Jadi itu alasanmu berciuman dengannya?” Solji melipat kedua tangan di depan dada.

Wonwoo menatapnya, “Aku tau kau pasti tidak suka,” katanya, “aku terpaksa melakukan itu karena sebenarnya Haera menyimpan perasaan untukku.”.

“Kau mempengaruhinya?”.

“Ya, demi kebaikannya.”.

Solji mendengus.

“Begini, aku akan mengakui tiga hal padamu.” Wonwoo bersiap, “Pertama, aku dan Haera saling mengenal, kami tumbuh tanpa mengenal namanya orangtua. Kedua, aku kasihan pada Haera yang dicuci otaknya oleh Ilsung ―ia gadis baik tapi terlalu polos. Dan yang ketiga...,” ia menggaruk tengkuk, “aku pernah..., menidurinya...”.

“Plak!!” tanpa komando apapun, Solji langsung menamparnya dengan keras.

Semua terkejut, apalagi melihat Solji hendak memukul Wonwoo, dengan segera Seri menahan Solji, Jeonghan mengevakuasi Wonwoo, dan Seungcheol menengahi keduanya.

“Hentikan! Hentikan!!” seru Seungcheol, suasana akhirnya mampu dibendung. “Ya, Jeon Won Woo. Kenapa yang nomor tiga kau akui pula?!” dia agak kesal juga.

“Aku rasa, Solji juga harus mengetahuinya, jadi ku akui saja ―toh, aku memang pernah melakukannya, kan?” Wonwoo santai saja.

“Solji-ya, bisa tidak kau jangan gegabah begitu?” jengkelnya kini beralih pada adik sepupunya.

Kali ini Seri bisa melepaskan genggamannya dari Solji begitu gadis itu bisa mengendalikan emosinya sendiri.

“Mulai sekarang, semua sudah clear. Ada pertanyaan lagi?” ucap Seungcheol, “Mulai hari ini, kita akan bekerja sama lagi dengan Wonwoo,” semua terkejut, “jadi aku harap kalian semua bisa,”.

“Tunggu! Dia, kan pengkhianat!” Sunyoung menyalahkan, “Kenapa kita harus bekerja sama dengan penusuk dari belakang?!”.


Ya, Kwon Sun Young,” Jeonghan jengah, ia tau tak semua anggotanya pasti menerima keputusan ―gila― ini.

“Wonwoo adalah satu-satunya akses kita untuk bisa menangkap Ilsung dan menghentikan terornya pada negeri ini. Sudah bagus, dia kembali untuk kita.” Seungcheol jengkel, “Baiklah, aku yang akan menjamin Wonwoo takkan berputar arah lagi.”.

Lagi, semua terkejut.

Oppa!” seru Solji.

“Aku yang mengizinkannya kembali ke X Team, berarti aku yang harus bertanggungjawab atas keputusan besarku ini.” kata Seungcheol.

“Bagaimana bisa kau mempercayainya, Hyung?” tanya Seokmin.

“Kim Min Gyu, simpan pistol itu. Gunakan untuk membunuh Wonwoo jika menurutmu dia berkhianat lagi.” itulah jawaban Seungcheol.

“Ini gila,” desis Jihun, mulai pusing.

“Bagi kalian yang ragu dengan keputusanku, silahkan mundur dari misi ini. Kalian tetap X Team walaupun tidak ikut serta dalam misi ini.” kata Seungcheol.

Seokmin segera memegangi tubuh Sunyoung. Lelaki itu segera menepis pegangannya, “Dasar bodoh, kau pikir aku akan ke mana, huh?”. desis Sunyoung

“Baiklah kalau begitu, waktunya cheering up.” Junhui bangkit.

Bermula dari tangan Junhui, lalu tangan Seungcheol dan Jeonghan menyusul. Anggota lain merasa ragu, namun Seokmin memulainya duluan, hingga akhirnya semua anggota ikut menumpukkan tangan.

Ekseu, ekseu~ aja-aja, FIRE!!”.

***

Aim
Part XIV : Plan

***

Ketika rasa dingin itu merambat ke sekujur tubuhnya, Wonwoo terbangun dan terkejut melihat tubuhnya tak lagi ditutupi sehelai benang pun. Begitu bangkit, kepalanya terasa amat pening. Dan lagi, ia dibuat kaget begitu melihat Haera tergeletak di sampingnya dengan kondisi yang sama sepertinya.

Bagaimana bisa gadis itu ada di atas ranjangnya?

Rasa sakit di kepalanya seakan merekaulang adegan yang dilakukannya semalam. Wonwoo masih mengingat apa yang dilakukannya bersama Ilsung dan kawan-kawannya sebelum ia mabuk.

Benar! Itu dia!

Wonwoo mengingatnya lagi ―kejadian ketika ia sedang mabuk. Ia ingat ketika dirinya memasuki kamar dan bertemu dengan seorang gadis yang dikenalnya, rasanya seperti Solji tapi bukan. Ingatannya tak pasti, karena gadis yang dikirannya Solji itu menjerit ‘Wonwoo-ssi’ ketika Wonwoo tergoda untuk memakainya.

Tak salah lagi, gadis itu pasti Haera, namun karena sedang mabuk Wonwoo justru mengiranya Solji. Wonwoo mengacak-acak rambutnya kesal karena telah memakai gadis yang salah. Ia bermaksud untuk ‘bermalam’ dengan Solji, namun netranya justru mengenal Haera sebagai Solji.

“Sialan, gara-gara Ilsung.” desis Wonwoo.

Wonwoo menyayangkan permainannya yang berbahaya itu justru dilakukannya pertama kali pada Haera, bukan pada Solji. Bodoh, Wonwoo mengutuk dirinya sendiri. Dia bertekad untuk bertemu Solji dan melakukanya malam ini juga dengannya.

Merasakan helaian kain tebal menghangatkan tubuhnya, Haera akhirnya terbangun dan mendapati sebuah bathdrobe menutupi sekujur tubuhnya yang telanjang.

Didapatinya Wonwoo mulai berpakaian tanpa menyadari dirinya yang terbangun.

“Wonwoo-ssi,” Haera agak terkejut melihat Wonwoo, ia tarik bathdrobe itu untuk melindungi tubuhnya.

“Oh, kau sudah bangun,” dengan santai Wonwoo menyahut.

Rasanya canggung.

“Apa..., ada yang sakit...?” tanya Wonwoo.

Haera menggeleng sambil tersenyum tipis, “Gwaenchana.” tepisnya.

“Kau..., pasti merasakannya..., ya, kan...?”.

“Sudah ku bilang, gwaenchanha, Wonwoo-ssi.”.

Wonwoo mengangguk kecil, lalu mengancingi kemejanya, “Maaf, yang semalam itu..., kecelakaan ―karena aku mabuk...” katanya, “Sungguh aku tidak bermaksud untuk melakukannya padamu...”.

Sebenarnya, Haera ingin menanyakan tentang siapa itu Solji padanya, namun sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat.

“Periksalah sedikit, jika terjadi sesuatu cepat-cepat hubungi aku.” Wonwoo bergegas menuju pintu, “Aku akan tanggung jawab. Dan aku..., minta maaf..., atas kecerobohanku...”.

“Blam!” lelaki itu meninggalkan kamarnya.

Haera masih di atas ranjang. Untuk pertama kalinya ia dengar Wonwoo meminta maaf, apalagi meminta maaf padanya. Ini juga merupakan kejadian yang pertama kali dirasakannya. Meski sebenarnya terasa sangat sakit secara fisik maupun psikis, tapi sebenarnya Haera senang.

Setidaknya, meski lelaki itu tidak menanggapi perasaannya, Wonwoo sudah pernah memakainya ―itupun karena ketidaksengajaan.

Haera tersenyum penuh arti.

***

Hari itu kebetulan sekali hujan turun sepanjang hari hingga malam menjelang. Dalihnya tak tega melihat Solji berjalan di tengah hujan sendirian di malam hari, jadi Wonwoo berinisiatif mengantarnya pulang.

Tak enak hati membiarkannya kehujanan, “Stay di rumahku sampai hujannya reda, ya,” kata Solji. Ini dia ―yang Wonwoo tunggu.

Chuwo~...” desis Solji sambil melepas jaketnya yang sudah basah kuyup.

Ada sesuatu ketika Wonwoo melepas coat-nya, ia memandangi gadis itu penuh arti. Dan Solji menyadarinya.

Nunbichi wae? Kenapa tatapanmu itu?” Solji menanyakan.

Lelaki itu menyunggingkan senyuman. “Imi algo isseoya dwae. Harusnya kau sudah tau.” Wonwoo merapatkan dirinya pada Solji, merangkul pinggangnya, lalu mencium bibirnya.

Solji merinding mendengar bisikan yang menggodanya itu. Lalu ia berusaha melepaskan diri dari Wonwoo, namun ia malah terjatuh di atas kasurnya. Dan di saat itulah, Wonwoo beraksi.

***

Aim
Part XIV : Plan

***

“Brukk!!” Ilsung menggebrak meja begitu mendengar laporan anak buahnya.

“Sialan!! Bocah itu!!” geramnya, “Dia melenyapkan asetku yang berharga!! Sekarang tak seorangpun mengetahui keberadaan puteriku, Haera!! Keparat kau, putera Park Shi Yeon!!”.

Tiba-tiba, emosinya mereda ―sungguh sulit ditebak. Ilsung lalu kembali duduk tenang di atas kursinya.

Ketika merogoh map yang berisikan profil anggota X Team, kebetulan yang Ilsung temukan adalah foto Wonwoo. Ia letakan foto itu di atas meja dan menusuknya dengan sebilah pisau kecil.

“Tentu saja aku bisa melakukannya ―benar, kan, Tn. Muda Park...?” senyumnya penuh arti, lalu tertawa lepas.

***

Kembali Mingyu menatap cermin dan mendapati wajahnya yang basah setelah dibasuh dengan air. Lalu ia menatap senjata yang ia letakan di bawah cermin.


“Jikalau menurutmu, aku berbohong, aku berkhianat lagi, atau aku menikam kalian lagi,” Wonwoo tersenyum tipis, “bunuh aku dengan senjata ini.”.

“Kim Min Gyu, simpan pistol itu. Gunakan untuk membunuh Wonwoo jika menurutmu dia berkhianat lagi.” itulah jawaban Seungcheol.


Mingyu menatapnya bolak-balik, tak segaja tangannya merasakan guratan yang tak biasa di salah satu sisi senjatanya. Setelah dilihat lagi, ia mendapati sebuah guratan nama lengkap dengan marga, nama tengah dan nama akhir di sana.

“Park Nam Kyung?” gumamnya.

***

Wonwoo meninggalkan Jihun dan Sunyoung yang masih di garasi mobil, membiarkan keduanya memperbaiki van yang waktu itu terguling habis-habisan. Lelaki itu berjalan melewati lorong-lorong yang melewati beberapa ruangan.

“Iya, aku ke sana.” kata Wonwoo pada Seri lewat handsfree-nya.

“Park Nam Kyung!”.

Langkah Wonwoo berhenti, seperti ada suara yang menyahut dari lab sebelah. Namun ia tidak peduli.

“Nam-kyung-ah?”.

Lagi, Wonwoo berhenti. Ia berbalik, “Ya?” jawabnya, lalu menyelidik ke lab yang tadi dilaluinya. Lab itu tidak dibatasi dinding atau apapun, hanya saja di sana gelap. Apalagi ruangannya sangat luas.

“Ada yang memanggilku?” tanya Wonwoo lagi, “Siapa di sana?”.

Merasa suara itu hanya halusinasi, Wonwoo tak ambil pusing dan segera meninggalkan lab. “Iya, Seri, aku ke sana.” sebalnya, handsfree-nya berisik karena ocehan gadis yang sedang bertugas sebagai operator itu.

Merasa aman, akhirnya Mingyu muncul dari balik meja lab.

“Park Nam Kyung? Jeon Won Woo?” bisiknya sambil memandangi senjata di tangannya, “Sebenarnya kalian siapa...?”.

***

“X team!!” seruan Seungcheol di tiap handsfree memanggil.

Tak butuh waktu lama hingga semua anggota berkumpul di ruang utama bersama Seungcheol, Jihun, dan Seri. “Ilsung mengirimi kita ‘hadiah’.” preambul Jihun.

“Ilsung?!” kaget Junhui.

Seonmul? Hadiah?” sahut Seokmin.

“Ya, hadiah ―sebuah video.” Seri ikut menyahut.

Ketika video kirimannya diputar, semua tercengang, terkejut, dan tidak percaya. Bagaimana tidak, video itu berisi penganiyayaan terhadap seorang Dirjen Polisi yang sangat mereka kenal.

“Do..., Gyeongchal...” desis Seri.

“Josuk Ahjeossi,” gumam Mingyu. Benar, Mingyu memang mengenal betul polisi itu. Dialah sahabat baik pamannya, Kim Jin Po, yang biasa disapa dengan panggilan Polisi Do.

Di akhir video, terlihat Polisi Do bersimpuh dengan kedua tangan yang diikat ke belakang dan luka sekujur tubuh. Seorang pria lalu menempelkan ujung pistolnya pada pelipis Polisi Do.

“Kalian pasti sudah paham maksudku ―ya, kan, X Team?” suara Ilsung, namun sosoknya tak muncul dalam video ―suara tanpa rupa. “Tak perlu ku jelaskan lagi apa tebusan yang paling ku inginkan agar perwira polisi ini lepas dari siksaanku. Ku beri kalian waktu empat puluh delapan jam.”.

Lalu kamera berbalik, merekam siapa yang selama ini di balik kamera, “Dan jangan coba-coba menipuku,” katanya sambil tertawa lepas, lalu Ilsung mengakhiri videonya.

“Kurang ajar!!” Jeonghan menggebrak meja.

Semua berubah tak tenang.

“Kenapa, sih, dia pakai cara kuno harus nahan-nahan sandera segala?!” kesal Seokmin.

Seungcheol berpikir. Ilsung menggunakan cara yang sama untuk ‘mengudang’ mereka ke dalam jebakannya. Pria tua itu pasti menginginkan X Team untuk dilenyapkan.

Sebelumnya, Ilsung hampir saja berhasil dengan Nayeon sebagai umpannya. Hanya saja ia gagal dalam rencananya sendiri. Kali ini Ilsung pasti merencanakan hal yang lebih besar lagi.

Ilsung pasti memiliki benteng yang lebih besar lagi, Ilsung pasti memiliki senjata yang lebih tangguh lagi. Ilsung pasti telah mempersiapkan segala halnya agar ia tidak gagal untuk yang kedua kalinya, sehingga ia bisa memberi jalan masuk untuk militer dari negara seberang dan menyerang Korea Selatan.

“Aku sependapat dengan Seungcheol,” sahut Jeonghan.

Kali ini mereka berkumpul dan rapat darurat. Seungcheol mengutarakan beberapa dugaanya di atas pada semua anggota X Team.

“Apa sistem bala bantuan seperti misi yang lalu itu tidak cukup?” tanya Seri.

“Tidak akan cukup,” baru saja Seungcheol hendak menjawab, Wonwoo sudah menyerobot porsinya, “kalian tau aku kenal Ilsung, kan? Aku tau apa yang sedang Ilsung rencanakan.”.

“Kami mengandalkanmu.” Sunyoung memberi hormat dengan dua jari di pelipisnya. Kali ini ia bisa mempercayai Wonwoo meski awalnya sulit.

Wonwoo mengangguk mantap, “Kali ini Ilsung takkan main-main dilihat dari caranya menyampaikan pesan. Kita harus mengantisipasi sejauh-jauh mungkin, lebih dari yang Ilsung persiapkan.” katanya. “Kalau begitu, Jun,”.

“Siap.” sahut Junhui.

“Persiapkan lebih banyak tim medis. Mungkin misi kali ini akan lebih banyak memakan korban luka ―atau malah korban jiwa.” kata Wonwoo, “Woozi, aku mohon kali ini kuatkan dirimu dalam hal apapun. Aku tau kau lemah dalam urusan lapangan ―maaf― namun untuk mengantisipasi mereka menyusup ke dalam pengawasanmu ―seperti misi yang lalu― aku akan membekalimu dengan senjata,”.

“Uh, apa?” Jihun terkesiap.

“demi melindungimu, Woozi. Kau juga harus bersiap diri untuk melawan mereka sekalipun nanti Coups hanya akan menugaskanmu di balik komputer.” kata Wonwoo lagi.

“Kita tetap akan menggunakan sistem penyergapan seperti biasanya. Kloter pertama, X team, kita harus pastikan Ilsung dan kawan-kawannya bahwa hanya kita seoranglah yang menyerahkan diri tanpa embel-embel penjagaan polisi. Kloter kedua, sebut saja Alpha team, mereka akan mulai menyusup dan menyerang. Barulah Kloter ketiga, sebut saja Bravo team, akan membantu menyerang bersama Alpha ketika Ilsung dan pasukannya mulai melemah.”.

“Bukankah kau bilang kali ini Ilsung takkan main-main? Bukankah yang kau sebutkan itu adalah strategi yang kemarin? Apa dengan pasukan kita sudah cukup?” tanya Mingyu, mulai menerima kehadiran Wonwoo.

“Aku khawatir tidak.” Wonwoo menyentuh dagunya. Kemudian ia berkedip, ilham sampai di kepalanya. “Jeonghanie Hyung,” panggilnya.

“Siap.” jawab Jeonghan.

“Kau tau harus meminta bantuan ke mana.” Wonwoo mengisyaratkan.

[VIXX - Alive]

***

Mereka memutuskan untuk tidak pulang hingga misi ini selesai. X Team masih di markas, masih berjibaku dengan misi yang satu ini. Misi yang sangat berat. Dari pagi hingga menyambut malam, mereka masih di sini.

Solji menyingkirkan diri, ia berdiri di depan jendela itu, menatap gedung-gedung dengan titik-titik cahayanya satu persatu. Lalu ia memungut ponsel dari saku jaketnya dan menekan satu nomor penting.

Hello? Sally?”.

“Vernon,” sahut Solji.

Sally? Where are you? You didn’t come home! What are you doing?” benar, Solji menelpon Hansol. Entah kenapa, ia ingin sekali berbicara pada adiknya itu.

“Vern, sorry, I can’t go home tonight.” sesal Solji, “Jangan khawatir, aku sedang di markas. Aku baik-baik saja, Vern.”.

Oh, okay, Sally, I just want to hear you alright ―that’s enough.”.

Agak lama hening. “Did you get dinner?” tanya Solji.

Uh-huh, but sorry, I..., called ramyeon delivery...” lalu Hansol menertawai dirinya sendiri.

Solji tertawa canggung, ada perasaan tak enak di batinnya. “No, sorry.” ralatnya, “I should there tonight, and cook a dinner for you...”.

It’s alright, Sally, don’t get worry easily.” kata Hansol, “If you alright, I’ll be alright. Got it?”.

Tak sengaja bulir bening itu jatuh. “Uh-hm.” Solji mengangguk.

Cause..., I’m only with you here, Sally... Only you... You’re the only family in this country, while Mom and Dad away there...”.

Lagi, dan lagi, air matanya menetes.

You are the best, ‘cause ―you know― I can’t do anything without you..., I’m nothing without you... I’m your little brother who always need you...” kata Hansol, “Neon naege eomma-cheoreom. Kau seperti Ibu buatku.”.

“Dan aku tak ingin kehilangan dirimu yang menyebalkan.” Hansol terkekeh sendiri.

Solji mendekap mulutnya, berusaha menyembunyikan suara isakannya dari adiknya tersayang.

Daddy often said, me and you are the biggest miracle for him and Mom ever. A prince and a princess in their beautiful castle. Bringing smile and brightness in their eternal family.” Hansol terkenang, “Kalau kata Halmoni, kita adalah keluarga paket lengkap. Ya, kan?” candanya.

“Hm-mm.” Solji mengiyakan.

“Ayah, Ibu, anak perempuan, dan anak laki-laki. Benar-benar happy family.” lanjut Hansol.

Vern, it’s time to bed.” ingat Solji.

Ouh, come on, Sally~...” gerutu Hansol, yang paling susah disuruh tidur.

“Sudah malam, anak manja. Waktunya tidur.” Solji tersenyum miris, “Nanti ku telpon lagi kalau ada waktu. Begitu aku pulang, kita akan jalan-jalan dan makan pizza. Aku yang bayar.”.

Serious?”.

“Hm-mm.”.

Promise?”.

“Kau meragukanku?”.

“Yuhu~.. Makan pizza!” Solji hanya terkekeh mendengar sang adik kegirangan, “I’m going to my bed, Sally ―right now.”.

Ya! Sikat gigi dulu sana! Cuci muka! Cuci kaki! Cuci tangan!”.

“Sally, rasanya gak pantas, deh, kau bicara begitu pada anak kuliahan sepertiku?”.

“Tapi pantas rasanya bicara begini pada anak manja sepertimu.”.

“Sally!”.

Solji tertawa sambil menghapus air matanya. “Ya, sudah. Tidur sana.” suruhnya.

“Jangan lupa pizza-nya, ya.”.

“Iya.”.

“Oke, bye.”.

“Pip.” panggilan berakhir. Lega rasanya bisa mengobrol sejenak dengan adik kesayangannya yang manja itu.

“Hansol, kan?” Solji terloncat, ia berbalik dan menemukan Wonwoo berdiri di sana. “Sorry,” ia menggaruk tengkuk, menyesalkan karena dirinya telah mendengar percakapan yang pribadi.

It doesn’t matter.” kata Solji ketika Wonwoo menghampirinya.

You cried?” kagetnya, Wonwoo menghapus air mata di pipi Solji.

I’m alright.” dalih Solji.

Tanpa disadarinya, tubuh Wonwoo seakan terhuyung jatuh ke arahnya. Namun sebenarnya, Wonwoo hanya ingin menciumnya.

“Grab.” segera Solji menahan tubuh itu.

“Wonwoo,” ingat Solji, “kita sedang bekerja.” tak ingin tergoda.

Aduh, jadi malu. “Benar,” Wonwoo pun mengiyakan.

“Tenang, semua akan baik-baik saja.” Wonwoo bisa membaca kekhawatiran di wajah Solji, “Tak lama lagi, kau pasti bisa pulang ke hadapan Hansol dalam keadaan baik-baik saja. Semuanya akan berjalan lancar.”.

Solji memandang ke arah sabitnya, mata itu seperti menghipnotisnya.

“Mm.” gadis itu mengangguk.

***

“Seri!” terlihat Jeonghan berlari ke arahnya. “Bisa kau sambungkan ke sini?” tanyanya sambil menunjuk sesuatu pada lembaran kertas yang dibawanya.

Gadis itu tak menjawab iya, langsung saja Seri berkutat dengan komputernya lagi. Sebuah pop up kemudian muncul di layar.

“Oh?” Seri bingung.

“Kita dapat bantuan tambahan!” girang Jeonghan, “Sesuai dengan yang Wonwoo rencanakan! Semua akan berjalan sesuai rencana!”.

Ya! Thank you!” sahut Jeonghan pada ponselnya yang masih tersambung dengan entah siapa di sana. Lalu ia bergegas menuju Seungcheol.

“Woozi, masuk.” lapor Seri.

“Masuk.” suara Jihun aneh.

“Woozi?”.

“Laporkan, Seri,” Jihun berusaha baik-baik saja.

Seri ragu, “Odini?” tanyanya.

“Sudah, laporkan saja.”.

Gadis itu membuka ponselnya, setelah melacak sedikit ia mengetahui keberadaan Jihun sekarang ini, “Aku ke sana,” kata Seri, “DK, replace.” suruhnya pada Seokmin.

Okay.” balas Seokmin yang langsung menggantikan posisi Seri ketika gadis itu bangkit dari kursinya.

“Hei, aku bilang laporkan saja!” protes Jihun.

Seri melihat titik merah itu bergerak, “Jangan ke mana-mana!” omelnya.

“Kau yang seharusnya jangan ke mana-mana! Jangan tinggalkan komputer!” Jihun protes lagi.

Mereka akhirnya bertemu di lorong-lorong menuju garasi. Hanya saling berpandangan dalam diam. Seri mendekat, ia tau ada yang Jihun sembunyikan darinya.

“Ku bilang jangan tinggalkan,”.

“Kelihatannya kau kacau?” Seri menyerobot.

Bibirnya terkatup ketika gadis itu angkat bicara. Tak sengaja Jihun menangkap kehadiran kamera pengawas di atas kepala mereka. Tanpa bicara apapun, ia segera menarik Seri pergi dari situ ke garasi markas yang sangat luas.

Namun di sana juga ada banyak kamera pengawas. Karavan yang tak jauh dari mereka pun jadi pilihan terakhir. Jihun membawanya masuk ke karavan putih itu.

“Apa yang kau lakukan?” Seri bingung dengan tingkah Jihun yang aneh, “Kau pasti kurang tidur. Sudah hampir jam satu pagi, kenapa kau tak juga istirahat? Apa van-nya belum selesai?”.

“Bukan, bukan itu,” ralat Jihun, “hanya saja..., mm...,”.

Aneh sekali, tak biasanya Jihun kelihatan bingung dan kacau seperti ini. Bahkan genggamannya terasa dingin dan rapuh, pupil matanya bergetar dan suaranya agak parau.

“Aku merasakan aura negatif untuk misi kali ini. Tidak hanya aku, bahkan anggota yang lain juga merasakan hal yang sama. Misi kali ini pasti sangat berbahaya, dan yang paling berbahaya dari misi-misi sebelumnya.” Jihun menatap kedua matanya lekat-lekat, “Bahkan Wonwoo sendiri tidak menjamin bahwa takkan ada korban jiwa berjatuhan untuk misi kali ini.”.

“Seri, aku hanya ingin menyampaikan ini sebelum maut menjemputku di misi,”.

“Plak!!” mendengar itu, Seri marah, ia menampar Jihun tanpa berpikir panjang.

Jihun terkejut bukan main. Tak pernah terpikirkan pipinya itu akan jadi sambaran tangan mungil Seri ketika ia menyampaikan isi hatinya saat ini. Yang lebih mengejutkan lagi, ia melihat Seri menangis.

“Kau gila?!!” jerit Seri, “Kita akan selamat!! Negeri ini akan selamat!! Kita tidak akan pulang meninggalkan satu anggota pun!! Kita akan bertahan hidup, Lee Ji Hun!! Kita akan hidup!!” tangisnya tersedu-sedu.

Jihun hanya diam saja, selama memarahinya Seri terus menggoyahkan tubuhnya, menarik-narik kemeja denim yang dipakainya sambil terus meraung-raung.

“Tidak akan ada yang mati!! Kau dengar?! Tidak akan!!” Seri masih menjambak kemejanya,

“Seri,”

“Pesimis!! Kau hanya putus asa!! Kau hanya tidak percaya diri, Lee Ji Hun!!”

“Seri,”

“Semuanya akan baik-baik saja!! Tidak akan ada yang mati!! Tidak akan ada yang tertinggal!! Tidak akan ada yang,”

“Cup,” Jihun memberanikan diri membungkam bibir tipis itu dengan bibirnya.

Jihun bisa merasakan bibir itu bergetar hebat dan sedikit basah ―karena Seri menangis. Ketika bahu itu berguncang hebat, Jihun meredamnya dengan rengkuhnya yang kecil. Ketika nafas itu tak beraturan, Jihun meredamnya dengan usapan lembut di punggungnya yang mungil. Ketika likuid bening itu jatuh lagi, Jihun menghapusnya dengan jemarinya dan mengusap pipi itu lemah lembut.

Dengan sedikit memaksa, Jihun menahan tengkuknya, ia ingin melenyapkan kesedihan itu dari Seri. Ia ingin meminta maaf karena telah membuat gadis ―yang dicintainya― itu menangis.

“Seri, mian,” lirih Jihun setelahnya, “maaf karena aku sudah jadi Woozi yang pesimis di hadapanmu, maaf karena aku,”

“Harusnya aku yang minta maaf ―aku telah menamparmu tanpa sebab.”

“Itu pasti karena kau benci mendengar ucapanku yang putus asa, kan?”

Seri menggeleng lemah.

“Kau benar,” Jihun berdiri mantap, “tidak akan ada yang tertinggal satupun di misi kali ini ―semuanya akan selamat, semuanya akan baik saja.” katanya, “Aku hanya pesimis, aku hanya ragu, aku hanya sedikit trauma dengan kejadian di misi yang lalu.”.

“Katakan,” ucap Seri.

Jihun berkedip, “Apa?” ulangnya.

“Katakan,” Seri mendongak dan menatapnya, “bukankah sebelum ku tampar, ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?”

Benar juga. “Lebih dari ungkapan sayang yang sudah sering diucapkan laki-laki pada perempuan, aku ingin mengganti kalimat itu menjadi,” Jihun agak ragu, “aku ingin setia padamu.”

***

“Hei, ke mana saja kau?” tegur Seungcheol melihat Seri kembali, namun ia agak kaget melihat wajahnya yang sedikit murung.

“Maaf, tadi aku ke kamar mandi.” Seri menunduk.

Sepertinya ada yang tidak beres, tapi Seungcheol tak berani bertanya. “Ya, sudah, lanjutkan pekerjaanmu. DK baru saja mendapat balasan dari seorang agent SWAT. Kau yang urus tanggapannya.”

“Siap.” Seri langsung menggantikan posisi Seokmin, Seungcheol pun meninggalkannya.

“Coups Hyung.” tak lama Jihun datang ke ruang utama, “Van-nya sudah selesai. Bagaimana kalau kita uji coba,”

“Ada apa dengan Seri?” Seungcheol langsung menghampirinya sambil berbisik.

Jihun melihat gadis itu dari belakang. Mungkin Seri berusaha untuk terlihat baik-baik saja, namun tetap saja ia tak bisa menyembunyikan perasaannya. Jihun tau itulah yang Seungcheol tanyakan padanya.

“Nanti ku ceritakan, Hyung ―janji.” kata Jihun, “Sekarang, mari kita uji coba van-nya.”

***

“Srekk!” plat besi itu bergeser, meninggalkan sebuah celah kecil pada pintu raksasa ini.

Terlihat sepasang mata garang seorang pria menatap mereka satu per satu. Lalu Seungcheol buka suara.

“Kami ingin menepati janji kami.”

Terlihat mata itu mendelik.

“Kau boleh geledah kami ―kami sama sekali datang tanpa penjagaan apapun.” ujar Seungcheol lagi.

“Srekk!!” plat besi itu bergeser dan menutup celah kecil tersebut.

“Graaakkk...” pintu besar itu kini terbuka lebar. Kedatangan X Team kali ini disambut oleh tiga orang pria berparas garang.

“X Team?” ujar seorang pria yang paling depan, “Geledah.” suruhnya pada kedua suruhannya.

Dua orang pria itu langsung menggeledah mereka satu persatu dengan teliti. Tidak ada senjata, tidak ada perlawanan. Pria yang berdiri paling depan tadi menyelidik keluar, memastikan bahwa tidak ada siapapun yang mengikuti mereka ke sini.

“Aman.” ucap salah seorang suruhannya.

“Masuk.” suruh pria tadi, “Ketua Jung sudah menunggu kalian di dalam.”

Mereka menuruti perintahnya saja, “Blam!!” dan pintu besar itu terkunci rapat bagi mereka yang ingin melarikan diri.

“Akhirnya,” Ilsung muncul dari pintu di samping mereka, “kalian datang juga.” lalu berdiri di hadapan mereka.

Satu per satu anak buahnya mulai menampakkan diri begitu X Team datang menyerahkan diri. Seokmin agak tegang, Seri menelan ludah, Junhui menghela nafas panjang, dan yang paling tidak terpengaruh adalah Wonwoo.

“Aku agak ragu, tetapi kalian datang tanpa penjagaan apapun ―sungguh-sungguh tanpa penjagaan apapun.” kata Ilsung, “Kalian pikir kalian hebat?”

“Kami tidak berpikir seperti itu.” ucap Seungcheol yang berdiri paling depan.

Ilsung menertawainya. Tak sengaja ia merasakan kehadiran seseorang yang amat dikenalnya di antara para anggota X Team.

“Ku rasa kalian berteman dengan pengkhianat.” ia menyinggung Wonwoo.

“Sepertinya itu tidak penting.” Seungcheol langsung menyerobot bagian Jeonghan.

Lelaki berambut panjang itu mulai lagi, kalau saja tidak Seungcheol tahan mungkin Jeonghan akan gegabah seperti biasanya. Junhui mendekap bahunya dan menggesernya ke belakang.

“Tenanglah sedikit, Hyung.” kata Junhui pada Jeonghan.

“Huh, menjilat ludahnya sendiri, munafik, bermuka dua, pembohong...” sinis Ilsung, Wonwoo ―yang disinggung pun― memilih diam,“Tapi kalau dilihat-lihat, kalian kurang satu, ya?”

“Dia Lee Ji Hun,” sahut Seri, “dia tidak pernah turun ke lapangan, dia hanya operator, dia tidak pernah melukai siapapun.”

“Jadi kami rasa, ia tak perlu menyerahkan diri.” tambah Seungcheol.

“Cih,” desis Ilsung, “padahal sama saja, X Team ya X Team... Kalian ini bodoh atau bagaimana, sih...?”

Mendengarnya saja, Sunyoung sudah mendengus kesal.

[VIXX - Alive]




“Tapi setidaknya, aku bisa menghabisi X Team ―meski kurang satu― dan menerobos pertahanan Korea Selatan.” Ilsung mulai lagi, “Ini adalah langkah awal dan langkah pentingku untuk memberi jalan ‘mereka’ yang ingin merebut bangsa ini.”

“Kami tidak pernah merasa penting, sekalipun kami semua mati di tanganmu.” tegas Seungcheol, “Kami hanya bagian terkecil sebagai alat pertahanan negara. Lenyapnya kami pun takkan berpengaruh terhadap pertahanan tanah air ini.” katanya, “Yang terpenting adalah satu kesatuan Korea Selatan.”

“Huh, patriotisme di ujung tanduk,” sinis Ilsung lagi, “sudah mau mati masih saja berkilah.”

“Sabar,” Solji menyentuh ujung jari Jeonghan yang mendengus kesal ―tanpa menatap ke arahnya.

“Lepaskan Polisi Do, bukankah sudah kau lihat sendiri kami datang tanpa pengawalan apapun?” sahut Junhui.

“Ah, sampai lupa,” Ilsung santai saja.

Ia mengisyaratkan pada dua anak buahnya yang lain untuk membawa peti kayu di belakangnya dan memperlihatkan isinya pada X team. Lalu Ilsung mengatakan sesuatu.

“Agak disayangkan, sih, tapi...,”

Semua terkejut dan membeku begitu melihat apa yang mereka sembunyikan di dalam peti kayu tersebut. Seri membekap mulutnya, tak sengaja air matanya jatuh. Mingyu yang paling tercekat melihatnya. Jeonghan sudah mulai geram, begitu juga dengan Sunyoung.

Ini tidak adil.

“..., beliau sudah mati...”.

***
to be continued
***

next...

“Kau keparat!! Brengsek!!” Jeonghan mulai lagi, Junhui dan Solji menahannya.


Ilsung hampir saja jatuh, ia masih bisa melihat siapa yang telah memukulnya.

“Sekarang kau melawan seorang Hoshi.”

“Tidak. Hoshi!!” serunya.

“Mengganggu saja.” gumam Ilsung.

“Hyaaaaakk..!!!”

“Jerb!”

“Kwon Sun Young!!!!” jerit Seri.

“HOSHI!!!” seru Seokmin.


“Ayo ikut aku, gadis manis.”

“Kau yang,” Solji memberontak.

“Ku bilang, ikuti aku ―dan bawa putera Shiyoung itu padaku.”


“Woozi, bagaimana?”

 “Waktunya tidak cukup.” gumamnya, “Hyung, cobalah tahan sebentar! Mereka akan segera datang!” mohonnya.

“Tidak, aku tidak bisa, mereka melebihi perkiraan kita,” Jeonghan lelah, “aku tidak,”.

“Bukk!!!”


“Braaakkk!!” tubuhnya beradu hebat dengan peti-peti tersebut.

“Lee Seok Min!!!” jerit Seri.


“Dor!”

“Yes! Kena satu!!” senangnya, namun dengan ceroboh Jihun melupakannya.

“Dor!!”.

“Hukk!” Jihun tercekat hebat begitu timah panas itu bersarang di salah satu bagian tubuhnya. “Sial..., an kau...,”.

“Bruk!”


“Hey,” panggilnya, “Jeonghan, it’s me.”.

“Jeonghan?” panggil lelaki itu lagi. “I know you hear me.”.

Sekarang pandangannya sudah jelas. “Joshua?” dahi Jeonghan berkerut.


Masih tak percaya, aku membeku. Telapak tanganku menyentuh perut dan dadaku, ketika ku arahkan telapak itu pada wajahku kemudian, aku bisa melihat darah membanjirinya.

“WONWOO-YA!!!”.

Dengungan itu mengusik telingaku, aku tak tau mengapa jeritan Solji terdengar begitu kecil, aku tak tau mengapa telingaku tak bisa menerima frekuensi itu.

“Bruk!” dan aku tau aku terbanting.

Di saat itu pula, aku bisa mendengar irama di dalam tubuhku. Jantung yang berdegup, darah yang berkelana, udara yang keluar masuk paru-paruku dengan susah payah. Bak melodi yang mengantarkanku pada kematian.

***

Aim
Part XV : Death

***

Yeeyyy, Near sudah kasih bocoran, di Aim part selanjutnya ada cameo!! Siapakah dia?? Kalau belum ketebak, coba baca ulang lagi ‘next’-nya, hihihihi^^



감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^