[FF] Aim part XV

4:05 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part XV : Death

 

Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min

***



A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

[VIXX - Alive]


“Lepaskan Polisi Do, bukankah sudah kau lihat sendiri kami datang tanpa pengawalan apapun?” sahut Junhui.

“Ah, sampai lupa,” Ilsung santai saja.

Ia mengisyaratkan pada dua anak buahnya yang lain untuk membawa peti kayu di belakangnya dan memperlihatkan isinya pada X team. Lalu Ilsung mengatakan sesuatu.

“Agak disayangkan, sih, tapi...,”.

Semua terkejut dan membeku begitu melihat apa yang mereka sembunyikan di dalam peti kayu tersebut. Seri membekap mulutnya, tak sengaja air matanya jatuh. Mingyu yang paling tercekat melihatnya. Jeonghan sudah mulai geram, begitu juga dengan Sunyoung.

Ini tidak adil.

“..., beliau sudah mati...”.


Di dalam peti itu terbaring Polisi Do yang meringkuk dan telah menjadi mayat. Terlihat luka lebam di sekujur tubuhnya, bercak darah segar, dan juga luka tembakan di kepalanya. Sungguh mengenaskan, sungguh tidak adil.

“Kau keparat!! Brengsek!!” Jeonghan mulai lagi, Junhui dan Solji menahannya.

“Sayangnya aku tidak mejamin keselamatannya,” kata Ilsung santai, “dan juga keselamatan kalian.”.

Pertempuran pun dimulai. Semua anak buahnya yang berkumpul di markasnya itu segera menyerang X Team habis-habisan. Beberapa dari anak buahnya dibekali senjata tajam.

Bukan tim khusus namanya kalau dalam pertempuran tak sebanding ini tak bisa bertahan. Bahkan Seokmin bisa merebut sepasang pedang yang dibawa oleh seorang pria yang menyerangnya.

“Hore, aku dapat!” ledeknya pada pria tersebut.

Pria itu kelihatannya geram, “O-oh,” dan Seokmin baru sadar akan hal itu.

Segera saja ―dengan sepasang benda tajam itu― Seokmin menghabisi lawannya satu per satu. “Hoshi, tangkap!!” ia menyerahkan sebelah senjatanya itu pada Sunyoung.

Yo! Arigatou!” ucap Sunyoung ―mungkin pedang itu lebih terlihat seperti samurai di matanya.

Kedua bocah girang itu langsung saja menghabisi lawan masing-masing dengan kompaknya. Di tengah-tengah pertempuran seperti ini bahkan keduanya masih saja bisa bergurau.

Seri dan Solji kewalahan karena semua lawannya adalah pria-pria berbadan tegap, bahkan ada juga yang bersenjata. “Ahk!” Seri menjerit ketika merasakan seseorang menyentuh pahanya.

Entah kenapa, ia marah dan menjadi mengerikan.

“Dasar kurang ajar!!!” lalu melempar semua laki-laki yang menyerangnya ke sembarang arah, “Kalian tidak tau caranya menghargai wanita, ya?!! Brengsek!!”.

Mengganasnya Seri pun ada untungnya. Tak hanya lawannya, Seri pun sampai menghabisi lawan yang menyerang kawan-kawannya.

Boleh juga dia,” batin Mingyu, karenanya ia hanya perlu menghabisi satu lawan di hadapannya.
“Buk!!”.

Setelah lawannya jatuh, Mingyu merebut senjata yang melekat di tubuhnya.

“Lumayan.” Mingyu mendapat sebuah senjata api.

Namun tanpa terduga, Ilsung sudah menyiapkan pasukan tambahan.

“Bravo team, masuk.” perintah Jihun di dalam karavannya, ia masih bisa tenang karena bagian yang ini memang sudah menjadi rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya.

“Yes!” Jihun lega, setidaknya timnya tidak akan kalah secepat itu.

Ilsung terkejut melihat bantuan datang menyelamatkan X Team. Tetapi ini tidak seberapa, ia sudah menduga, X Team takkan datang ke sini sendirian.

Dari laci mejanya, ia memungut sebuah pisau. Wonwoo lah yang diincarnya, hanya saja Wonwoo tidak menyadari kehadirannya. Namun ketika Ilsung berjalan ke arah lelaki itu, banyak sekali yang menghalanginya. Ilsung bahkan tidak ragu-ragu untuk menikam mereka satu persatu ―dengan sangat kejam.

Salah satu yang mengalanginya adalah, seorang pemuda yang menariknya dari belakang lalu memukul wajahnya dengan kasar, “Bukk!!”.

Ilsung hampir saja jatuh, ia masih bisa melihat siapa yang telah memukulnya.

“Sekarang kau melawan seorang Hoshi.” lelaki bermata sipit itu mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawan Ilsung.

Merasa Sunyoung sama sekali tidak penting, Ilsung lantas berbalik pada Wonwoo. Sunyoung terkesiap. “Sialan!! Aku bicara padamu!!” setelah memutar, lelaki itu menendang kepala Ilsung dengan lincahnya.

Sekarang, Wonwoo menyadari kehadiran Ilsung yang sedari tadi memburunya. “Tidak. Hoshi!!” serunya. Baru saja hendak menyelamatkan kawannya, seorang pria menghadangnya. “Sial.” desisnya, sambil menghajar satu persatu lawan yang berhadapan dengannya.

Dia harus menyelamatkan Sunyoung, sebelum sesuatu terjadi.

“Mengganggu saja.” gumam Ilsung.

Sunyoung terlalu gegabah, ia merasa tanpa senjata pun ia bisa menjatuhkan seorang Jung Il Sung. Dan tentu saja itu tidak mungkin, karena ketika Sunyoung bergerak menyerangnya, “Hyaaaaakk..!!!”.

“Jerb!”.

“Kwon Sun Young!!!!” jerit Seri, di tengah perlawanannya dengan seorang pria di atas tangga.

Pemandangan itu tepat berada di depan matanya. Mendengar jeritan itu, semua beralih, mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di sana, mencari tau apa yang membuat Seri histeris seperti itu.

“HOSHI!!!” seru Seokmin, kemudian langsung menghabisi tiga lawannya sekaligus. Ia berlari ke arah Sunyoung di sana.

“Tidak! Jangan mendekat!!” seru Wonwoo, ia tau pasti apa yang akan Ilsung lakukan pada Seokmin jika lelaki itu datang melawannya.

Dinginnya lempengan tajam itu terasa ngilu, sejenak saraf-sarafnya tak bekerja sangking sakitnya yang ia rasa. “Apa..., apaan pria..., tua ini...?” ada rasa tak percaya dalam benaknya ketika melihat benda itu menusuk bagian bawah diafragmanya.

“Uhk...” ceceran darah melompat dari mulutnya, dan jatuh di atas tangan yang menikamnya.

Ketika pisau kecil itu dicabut dari perutnya, lelaki itu terhuyung ke samping, “Bruk.” lalu ambruk seketika. Tangan kirinya memegangi luka dalam di bagian itu, ia bisa merasakan kemeja abu-abunya basah, dan warna misty di bagian tersebut mulai berubah menjadi merah gelap.

Sunyoung tak bisa apa-apa selain tergeletak begitu saja di atas tanah dengan luka tusukan di perutnya. Tak lama, nafasnya tersendat-sendat, “Huk... Huk...” Sunyoung merasa ia sudah berada di ujung kematiannya.

Samar-samar, ia bisa melihat sahabatnya, Seokmin, bergegas melawan Ilsung. Jatuh, bangun, Sunyoung melihatnya meski pandangannya kabur.

Ingin sekali rasanya berteriak, namun tubuhnya hanya bergetar sesekali, “Huk... Huk...” dan Sunyoung tak bisa berbuat apa-apa.

“Ho..., shi...?” gumam Jihun, jemarinya bergetar seakan tak mampu menyentuh komputernya lagi. Ia tau apa yang terjadi pada Sunyoung.

Meski terguncang, Jihun tetap harus melanjutkan tugasnya.

“Buk!!” sebelum Ilsung sempat menendang Seokmin kembali, Solji sudah menendang kepala pria tua itu dengan Brazilian kick-nya.

Ilsung berbalik dan melihat siapa yang telah menendang kepalanya. Solji, rupanya. Aha, gadis itu ternyata, kebetulan sekali ―ia punya ide yang lebih bagus.

Solji melayangkan beberapa tendangan lagi. “DK, selamatkan Seri!” perintahnya.

Tak perlu menjawab, Seokmin pun melesat menuju tangga. Di sana, Seri terhimpit sekitar tujuh pria yang menyerangnya bertubi-tubi. Sementara itu, Ilsung kembali terfokus pada mangsa barunya : Solji.

Gadis itu melayangkan beberapa kali serangan pada Ilsung, namun dengan santainya pria tua tersebut menghindar. Dan ketika Solji menyerang dengan Brazilian kick-nya kembali, Ilsung berhasil menangkap kakinya hingga membuat gadis itu terpelanting ke udara.

“Bruk!!” dan jatuh dengan kasar ke atas tanah.

Sakit memang, tulangnya serasa remuk, namun Solji masih bisa bangkit. “Uh-uh,” hanya saja sebilah pisau berdarah itu menunda pergerakannya.

Seperti sebuah ancaman, Ilsung menghunuskan pisaunya yang berlumuran darah itu pada leher Solji. Gadis itu tidak bisa apa-apa, atau pria tua tersebut akan mencabik lehernya.

“Ayo ikut aku, gadis manis.” Ilsung segera menarik paksa Solji untuk bangkit dan menyeretnya menuju tangga, menuju atap gedung.

“Kau yang,” Solji memberontak.

“Ku bilang, ikuti aku,” Ilsung hampir lepas kendali, hampir saja ia memotong leher itu ―untungnya senjata tajam itu hanya sampai menggores leher Solji, “gadis manis,”.

Solji mengatur nafasnya yang berantakan. Haruskah ia menuruti ocehan orangtua ini? Tak sengaja pandangannya menangkap sosok Wonwoo yang sedang membantu Mingyu.

“Nah, itu, kan, ‘kekasihmu’?” Ilsung menyadarinya, “Ayo ikuti aku ―dan bawa putera Shiyoung itu padaku.”.

Langsung saja Ilsung menyeret Solji pergi dari sana.

Tiga puluh, empat puluh? Entahlah, yang penting sekarang Jeonghan sudah kewalahan, ia sudah babak belur, tenaganya sudah habis. Jumlah mereka ternyata lebih dari perkiraan.

“Woozi, bagaimana?” tanyanya pada Jihun.

Giginya menggerutuk, “Waktunya tidak cukup.” gumamnya, “Hyung, cobalah tahan sebentar! Mereka akan segera datang!” mohonnya.

“Tidak, aku tidak bisa, mereka melebihi perkiraan kita,” Jeonghan lelah, “aku tidak,”.

“Bukk!!!” di saat ia lemah, ia pun jadi sasaran empuk bagi lawannya sendiri. Beberapa kali Jeonghan menerima pukulan dan tendangan hingga ia sendiri tak mampu lagi menghindar apalagi membalasnya. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau ia akan mati dikeroyok seperti ini.

Namun belum saatnya, “Bruk!!” beberapa pria yang menyerangnya berjatuhan satu persatu.

Hyung!” seru Junhui yang datang menolongnya.

Tak berdaya lagi, Jeonghan yang tersungkur di pojokan itu hanya bisa memandanginya nanar. Di sisa kesadarannya saat ini, ia menyaksikan sendiri bagaimana Junhui begitu melindunginya. Namun Junhui juga sama sepertinya : sudah habis tenaga.

Hingga ketika Junhui harus jatuh bangun melindunginya, Jeonghan tidak mengingat apa-apa lagi.

Di sanalah Seungcheol sempat melihat Solji dibawa kabur oleh Ilsung, “Wonwoo-ya!!!” serunya di tengah pertarungannya.

Wonwoo pun cepat tanggap. Ia melihat sisa bayangan gadisnya menuju atap gedung. Setelah menghabisi lawannya, Wonwoo pun bergegas mengejar Ilsung dan Solji ―yang dibawanya.

Benar, memang itulah yang Ilsung inginkan.

“Seri-ya!!” pekik Seokmin yang segera menghabisi semua laki-laki kurang ajar yang menyerang Seri tersebut.

Bersama, mereka hampir saja menjatuhkan semua lawan. Namun hingga satu pria itu tertinggal, Seokmin terlibat pertarungan sengit dengannya. Hingga akhirnya, Seokmin lengah, tubuhnya pun terjun langsung dari tangga ke peti-peti kayu di lantai dasar itu.

“Braaakkk!!” tubuhnya beradu hebat dengan peti-peti tersebut.

“Lee Seok Min!!!” jerit Seri.

Jihun sungguh tak tahan mendengar gadis itu menjerit lagi. Pikirannya kacau. “DK! DK, masuk!” panggilnya, “Jeonghan!! Jun!! Hoshi!!” tak satupun menjawab.

Lelaki itu mengacak-acak rambutnya. Ia membenturkan kepalanya pada komputer di hadapannya, bahkan hanya mendengar suara mereka saja Jihun merasa amat frustasi. Tak sengaja ia beralih pada senapan yang bertengger di meja sana.

“Gunakan ini dalam keadaan mendesak, aku yakin kau bisa menggunakannya.” suara Wonwoo itu seakan terdengar dari senapan tersebut.

Jihun tak punya pilihan lain.

***

Setelah tubuhnya beradu dengan peti-peti itu, Seokmin masih bisa merasakan tubuhnya. Hanya saja ketika menggerakan tubuhnya terasa sakit yang menjalar. Ditambah serat-serat kayu yang menembus kulitnya terasa sangat perih.

Melihat mangsanya masih hidup, “Ck, sayang sekali,” pria itu segera mengarahkan pistolnya ke bawah, ke arah Seokmin.

“Tidak!!” Seri yang melihatnya segera merebut senjata itu.

“Kurang ajar!” kesal pria tersebut, ia memukul Seri beberapa kali agar ia bisa mendapatkan pistolnya kembali. Namun Seri tidak menyerah.

Mereka saling memperebutkan senjata api tersebut hingga keduanya terguling di tangga dan jatuh sampai ke dasar. Seri mengalami beberapa kali benturan. Melihat kesempatan itu, pria tersebut mampu bangkit lebih dulu.

Dan menodongkan senjatanya ke arah Seri.

“Dor!”.

“Sial.” gerutu Jihun, belum terbiasa dengan senapan yang Wonwoo bekalkan untuknya. Ia bahkan beberapa kali terpental karena ledakan senapan itu.

Jihun pun berhasil menerobos masuk ke dalam markas Ilsung meski sempat kesulitan. Lelaki itu terkejut begitu disambut dua anak buah Ilsung yang menembakinya.

“Woops,” Jihun berguling dan bersembunyi di antara tiang. “Sial, brutal sekali mereka?!” kesalnya, dua anak buah itu menembakinya tanpa henti.

Selang beberapa detik, kini giliran Jihun menembak.

“Dor! Dor!”.

“Jerb!”.

“Yes! Kena satu!!” senangnya, namun kegirangannya itu tak bertahan lama. Karena ia masih punya satu lawan lagi, dan dengan ceroboh Jihun melupakannya.

“Dor!!”.

“Hukk!” Jihun tercekat hebat begitu timah panas itu bersarang di salah satu bagian tubuhnya. Begitu menunduk, ia bisa melihat warna merah maroon mulai merambati bagian perut dan sekitarnya.

“Sial..., an kau...,”.

“Bruk!” Jihun tumbang seketika. Namun ia menyeret tubuhnya ketika ia tau ada yang mendekat, dan benar saja ialah orang yang telah menembaknya. Melihatnya datang, Jihun tak segan-segan untuk,

“Dor!!” menembaknya sampai mati dan jatuh begitu saja.

“Ssss...,” Jihun mendesis, menahan perih di perutnya yang berlubang. Tanpa sadar, darah juga mengalir keluar dari ujung bibirnya.

“Kurang ajar!” suara pria itu, Jihun bisa mendengar jeritan Seri di handsfree-nya. Kali ini ia terbangun, misi utamanya sekarang adalah menyelamatkan gadis yang dicintainya itu.

Setelah terguling beberapa kali, akhirnya Seri dan pria itu mencapai dasar anak tangga. Seri yang menderita luka cukup banyak kalah cepat dengan lawannya.

“Klek.” dia bangkit terlebih dahulu dan menodongkan senjata ke kepala gadis itu.

Seri memandanginya yang tersenyum sinis padanya, “Ada pesan terakhir, Nona?” seakan pertanda selamat tinggal untuknya, “Sepertinya tidak?”.
Seri bersiap ―peluru itu akan segera meledak dan mendarat di kepalanya.

Namun dugaannya salah, “Dor!” sebelum senjata itu melepaskan pelurunya.

“Jerb!” senjata lain melepaskan timah panasnya ke arah pria itu lebih dulu.

Seri terkejut. Ketika lawannya jatuh dan tersungkur di atas tanah, Seri bisa melihat siapa yang telah membunuh pria tersebut. Lee Ji hun yang masih menodongkan senapannya di kejauhan sana. Jihunlah yang menghabisinya.

“Woozi?” tercekat gadis itu melihat Jihun bersimbah darah, “Woozi!!!” jeritnya, segera berlari ke arah Jihun ketika lelaki itu sudah tak mampu lagi berdiri.

“Bruk.” ia jatuh di atas tanah.

“Woozi!!!” Seri menjerit memanggilnya, sesampainya di dekat tubuh itu Seri memangkunya. “Woozi?!! Apa yang..., kenapa kau begini?!! Woozi, ku mohon jangan mati!! Kau tidak akan mati!! Tidak akan ada yang mati!!”.

Samar-samar, Jihun melihat Seri menangis ―menangis untuknya. Bahkan untuk mengatakan tak apapun lelaki itu tak bisa. Rungunya menangkap jeritan itu seperti dengungan.

“Woozi!!”.

Apa..., aku...,” batin Jihun, “akan mati...?”.

“Aku mohon, jangan tinggalkan aku!! Bertahanlah!! Karena aku.....,”.

Titik-titik air mata itu jatuh di atas dadanya. Ketika Jihun mulai kehilangan udara, Seri menyentuh pipinya. Tangannya yang berlumuran darah itu menyambut tangan mulusnya.

Apa kali ini aku benar-benar akan mati...?”.

***

Wonwoo mendaki tangga, ia bergegas menyelamatkan Solji. Dan apa yang terjadi di atap sana ―telah menjadi dugaannya.

“Tahan langkahmu, Tn. Muda,” tegas Ilsung.

Melihat orangtua itu menahan Solji sambil menghunuskan pisau bersimbah darah di lehernya, tentu saja Wonwoo berhenti. Ilsung puas karena Wonwoo menurutinya seperti anak anjing ―ia tertawa.

“Anak pintar, anaknya Shiyeon,” tawa Ilsung.

Wonwoo menyorotnya tajam. “Aku tau yang kau inginkan adalah aku,”.

“Itu benar,” kata Ilsung, “tanpa perlu cara kuno menahan gadismu seperti inipun aku yakin kau sudah menyadarinya, Tn. Muda. Ini hanya bumbu ―kau paham itu.”.

Solji meneguk ludahnya, keringat di pelipisnya jatuh merambat ke pipi dan lehernya, kemudian jatuh ke atas mata pisau itu. Kedua irisnya seakan memohon pada Wonwoo, memohon sesuatu pada lelaki tersebut.

“Kalau begitu tunggu apa lagi,” sinis Wonwoo, “ijebuteo jeonjaengiya.”.

***

Seungcheol berusaha mengatasi masalahnya sendiri, kesebelas pria inilah masalahnya. Dan ada lagi masalah yang lebih besar : ia sudah habis dikeroyok, mungkin ia akan jatuh setelah ini.

Hyung!!!” seru Mingyu, datang menyelamatkannya.

Pemuda itu memang tidak ada matinya. Bahkan meski luka-luka lebam bersarang di tubuhnya, Mingyu masih kuat menghabisi lebih banyak lawan lagi.

“Di mana Wonwoo Hyung? Di mana Solji Sunbae?” tanyanya ketika Seungcheol berhasil di selamatkan.

“Mereka,” Seungcheol termenung memandang ke arah atap.

Mingyu paham ―mereka pasti di sana. Namun belum sempat ia melangkah ke sana, Seungcheol sudah menahannya.

“Jangan,” katanya, “kita cari Jeonghan dan Junhui dulu, juga yang lainnya.”.

***

Awalnya, ini memang hanya pertarungan satu lawan satu, namun pada akhirnya Solji segera turun tangan. Tidak, seharusnya tidak begini, batinnya.

“Sally!!” seru Wonwoo melihat Solji menyerang Ilsung dari belakang.

“Aaarghhh!!” kelihatannya Ilsung tidak menyukai campur tangan Solji.

Pria itu berbalik dan berhasil lepas dari cekikan Solji. Dengan kasar, ia memukul Solji ―yang seorang wanita― hingga terjatuh di hadapannya. Masih dengan pisau di tangan, ia berniat menghabisi wanita yang mengganggu pertarungannya tersebut.

“Jung Il Sung!!” seruan Wonwoo mendekat.

“Jerb!!” dan Ilsung tau apa yang semestinya ia lakukan.

Bukan, Ilsung bukan membunuh Solji ―lebih tepatnya ia melenyapkan pengganggu terlebih dahulu seperti melenyapkan seekor serangga.

Kedua matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup dengan cepat, entah mengapa kejadian mengerikan seperti ini harus dialaminya kembali.

“Jeon Won Woo!!!” jerit Solji melihat pisau itu menikamnya.

Ketika lelaki itu terhuyung ke belakang, pisau yang masih digenggam Ilsung itu tercabut dari tubuhnya. Namun semua belum berakhir.

Dengan susah payah, Wonwoo merebut senjata apinya untuk menghabisi Ilsung ―sebelum hidupnya berakhir. Sayangnya, itu tak terlaksana.

“Dor!” karena Ilsung telah menembaknya lebih dulu, “Dor!!”.

“WONWOO-YA!!!”.

[VIXX - Alive]

***

“Jelb.”.

Aku bisa mendengar suara itu ketika dua timah panas menembus kulitku. Rasanya? Jangan dibayangkan. Kau tak perlu tau rasanya ―itu sangat mengerikan.

Satu tusukan, dua tembakan, beribu pukulan dan tendangan ―tiketku menuju penghujung hidup. Sempurna, akhir yang menyakitkan ―pilu, ngilu, ngeri nan perih. Luka-luka itu membuat tubuhku menjerit dalam hening.

Masih tak percaya, aku membeku. Telapak tanganku menyentuh perut dan dadaku, ketika ku arahkan telapak itu pada wajahku kemudian, aku bisa melihat darah membanjirinya.

“WONWOO-YA!!!”.

Dengungan itu mengusik telingaku, aku tak tau mengapa jeritan Solji terdengar begitu kecil, aku tak tau mengapa telingaku tak bisa menerima frekuensi itu.

Dan sungguh ini terjadi padaku : semua mendadak slow motion. Selama itu pula, luka itu menyiksaku. Di saat aku hanya bisa mematung, dua luka tembakan dan satu luka tusukan itu seperti menggigit sekujur tubuhku.

Aku merasa mual, tetapi yang ku muntahkan malah darah. Pandanganku kabur, aku tak yakin apa yang sedang dilakukan Ilsung pada Solji saat ini. Gravitasi seakan mengundang tubuhku untuk beradu dengan landasan yang ku pijaki.

“Bruk!” dan aku tau aku terbanting.

Aku kehilangan kendali tubuhku sendiri, aku tak bisa menggerakannya, tubuhku bergerak-gerak sendiri karena kesulitan mendapatkan oksigen. Rasanya lebih dari sakit, aku ingin menjeritkan betapa sakit yang ku rasa, tapi itu mustahil.

Di saat itu pula, aku bisa mendengar irama di dalam tubuhku. Jantung yang berdegup, darah yang berkelana, udara yang keluar masuk paru-paruku dengan susah payah. Bak melodi yang mengantarkanku pada kematian.

Tubuhku gemetar, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku.

***

“WONWOO-YA!!!” Solji histeris melihat Ilsung berhasil menembak Wonwoo.

Tak lama setelah Wonwoo melihat darah di tangannya, lelaki itu ambruk seketika. Solji tak bisa apa-apa ketika melihat lelaki itu kejang.

“Nah,” Ilsung menjenggut rambutnya yang panjang, ia berdiri di belakang Solji yang terduduk tak berdaya, “bagaimana, gadis manis? Hm?” ia tertawa puas.

“Aku telah membunuh Wonwoo,” bisiknya bengis.

Solji melemas, “Tidak,” isaknya.

“kau lihat sendiri aku telah membunuhnya, kan?”.

“Tidak!”.

Solji tersentak ketika Ilsung kembali menjenggut rambutnya, “Kalau kau tidak menerima kematiannya, baiklah,” lalu ia menempelkan ujung pistolnya di pelipis gadis itu, “aku juga akan membunuhmu.” ia tertawa.

“Klik,”.

“Dor!”.

***

“Jihun! Seri!” Seungcheol terkesiap menemukan keduanya di sana.

Batinnya terguncang melihat Jihun hampir sekarat. “Apa yang harus kita lakukan, Oppa? Mana Jun? Di mana dia?!” Seri syok.

Seungcheol berusaha tenang, apalagi ia sudah tau keadaan Junhui sedang tidak memungkinkan. “Tenanglah, Seri,”.

“Kenapa cuma itu yang kau ucapkan?! Teman kita sekarat!! Jangan biarkan dia mati!!” Seri menangis sejadi-jadinya,

“Seri,”.

“Kita harus kembali tanpa meninggalkan satu pun anggota!! Kita tidak bisa mengabaikan Woozi!!”.

Hampir habis kesabaran, Seungcheol mendekap wajah Seri, “Dengarkan aku!” serunya, “Tidak akan ada yang mati! Tidak akan ada satupun yang tertinggal!” ia getarkan wajah itu, “Mana jiwa pemberanimu, Cheon Se Ri?! Kau seorang polisi, kau seorang X Team! Kau tidak boleh menangis!”.

“Tap, tap, tap!” beribu langkah itu membangunkan keduanya.

Bantuan datang, mereka akhirnya datang! Beberapa bantuan medis mendatangi Jihun, Seri, dan Seungcheol saat ini. Mereka segera mengevakuasi dan melakukan penyalamatan pertama pada Jihun.

Tak lama Mingyu muncul dengan tergesa.

Hyung, bantuan dari SWAT sudah datang!” senyumnya lega, “Semua akan baik-baik saja! Semua akan sesuai rencana!”.

Mendengar itu, Seungcheol bangkit. Tak ada yang bisa ia utarakan selain helaan nafas yang mengukirkan rasa syukurnya. Rasanya ia seperti terjun ke atas kapas yang lembut, syukurnya tak terkira.

“Sesuai rencana, Hyung! Semuanya berjalan lancar seperti yang Wonwoo Hyung rencanakan!” lanjut Mingyu.

Wonwoo, Seungcheol teringat akan lelaki itu.

“Kita harus selamatkan Wonwoo,” kata Seungcheol.

Sementara itu bantuan terus berdatangan. Mereka menemukan Seokmin yang tergolek lemah di atas serpihan peti kayu, menyelamatkan Jihun dan Seri, tak lupa juga Sunyoung yang kritis.

Beberapa agent SWAT juga berhasil menemukan Junhui dan Jeonghan. Salah satu agent itu mendekati Jeonghan yang terpojok tak sadarkan diri.

Hey,” panggilnya, “Jeonghan, it’s me.”.

Merasakan getaran yang mengguncang tubuhnya, Jeonghan akhirnya memaksakan matanya terbuka. Pandangannya kabur, ia menangkap sosok yang suaranya tak asing di telinganya.

“Jeonghan?” panggil lelaki itu lagi. “I know you hear me.”.

Sekarang pandangannya sudah jelas. “Joshua?” dahi Jeonghan berkerut.

Agent SWAT yang bernama lengkap Joshua Hong itu tersenyum lebar. “Syukurlah.” desisnya, ia lalu menoleh ke belakang dan memanggil, “Medical team, I found someone hurt here!!”.

“Joshua, kau sungguh datang?” Jeonghan memaksa Joshua untuk menatapnya.

Dan lelaki berkantung mata itu kembali tersenyum, “Aku tidak akan mengingkari janjiku, sobat,” katanya, “I’m coming for you all.”.

***

Solji tersentak ketika Ilsung kembali menjenggut rambutnya, “Kalau kau tidak menerima kematiannya, baiklah,” lalu ia menempelkan ujung pistolnya di pelipis gadis itu, “aku juga akan membunuhmu.” ia tertawa.

Solji bersiap ―matanya terpejam.

“Klik,”.

“Dor!”.

Bahkan ketika Solji baru bersiap dengan menutup mata, suara itu kedengarannya terlalu cepat. Dan benar saja, Solji tidak merasakan apapun ―selain jambakannya yang melonggar.

“Bruk!”.

Solji terkejut begitu menyadari Ilsung jatuh di atas pijakannya. Ia menemukan pria tua itu meregang nyawa dengan luka tembakan tepat di dada kirinya.

“Apa yang,”.

Pandangannya beredar, tidak mungkin Ilsung menembak dirinya sendiri, pasti ada orang lain di sekitar sini yang menembaknya.

Di sana, di antara bekas komplek perumahan di bawah sana, Solji melihat sosok seorang gadis dengan dress mokanya. Tampilan manisnya itu tidak sepadan dengan senapan panjang yang di genggamnya.

Dialah Haera.

Gadis itu datang menyelamatkan Solji dari kematian. Gadis itu bahkan berani menghabisi nyawa Ilsung yang telah ia anggap Ayahnya sendiri. Tanpa ragu, Haera bahkan tersenyum ke arah Solji sebelum akhirnya ia melarikan diri dari sana.

“Rupanya ciumannya Wonwoo mujarap juga.” gumam Solji, “Tunggu, Wonwoo!!” ingatnya.

Solji berhambur ke arah Wonwoo yang sekarat. Ketika memangku tubuhnya, Solji melihat wajahnya memucat, tubuhnya terasa kaku dan mulai mendingin.

“Tidak! Tidak, Jeon Won Woo! Tidak!” histerisnya.

Lelaki itu tak lagi kejang, hanya saja nafasnya sudah terhimpit. Kemejanya sudah dibasahi darah yang terus mengucur dari luka-lukanya. Mulutnya terbuka, ia berusaha menyerap oksigen lebih banyak, sementara nafasnya saja berbunyi nyaring.

Solji menyentuh pergelangan tangannya, merasakan nadi dari kulitnya yang mulai memucat. Lemah sekali getaran yang ia rasakan. Solji hampir menangis.

“Jun! Jun, kau dengar aku?! Jun!” ia memanggil lewat handsfree-nya, “Ya!! Moon Jun Hwi!!”.

Kali ini ia benar-benar menangis, ia tidak tahan melihat Wonwoo membatu seperti ini. Bisikan-bisikan yang menakutkan terus mengusik pikirannya.

Solji menggenggam erat tangan Wonwoo yang melemas, ia menatap pada kedua mata Wonwoo yang masih terbuka.

“Coups! S.Coups!” cemasnya.

“Kami ke sana, Sally!” gadis itu merasa lega mendengar Seungcheol menanggapinya. “Tenanglah, aku, Mingyu, dan bantuan medis segera ke sana!”.

Quickly!!”.

“Jangan menangis, Sally! Jangan menangis!”.

Bagaimana ia tidak menangis, ini kali kedua Solji melihat seseorang yang sangat disayanginya meregang nyawa seperti ini. Pertama, Pak Kim. Dan yang kedua, Wonwoo.

Langkah yang berderap terdengar tak lama kemudian. Beberapa orang berpakaian anti peluru memenuhi atap, disusul beberapa orang medis, Seungcheol, dan Mingyu.

“Amankan Ilsung!” perintah Seungcheol pada orang-orang berpakaian anti peluru tadi.

Sementara Mingyu menghampiri Solji, “Nuna,” panggilnya lembut, “Nuna, ini aku, Mingyu. Tenanglah, kami akan menyelamatkanmu dan Wonwoo Hyung.”.

Mingyu melihat bagaimana keadaan Wonwoo saat itu. “Hyung,” gumamnya ―mengenaskan.

Tim medis segera menyelamatkannya, sementara Mingyu mengevakuasi Solji. “Tenanglah, Nuna. Kau sudah aman bersamaku.” lirihnya, ia tak bisa menangis begitu saja ―karena ia sudah melihat Solji menangis.

Solji masih terduduk lemas, sementara Wonwoo sudah berhasil dievakuasi.

“Aku..., aku tak ingin dia mati...” Mingyu mendengar isakannya, “Sudah dua kali aku melihat kejadian ini... Tapi aku tidak ingin mendengar akhir yang sama kali ini...”.

Mingyu menatapnya nanar.

“Aku hanya tak ingin Wonwoo mati.” isaknya, Mingyu menyusulnya dengan rengkuhan hangat.

“Semuanya akan baik-baik saja, Nuna.” bisiknya, “Semua akan baik-baik saja.”.

***

Apa aku hanya bermimpi...?

***
[Vernon (ft. Pledis Girlz (Eunwoo)) - Sickness]




Temaramnya malam sudah biasa mengusik tidurku, untuk bocah sepertiku tak baik tidur selarut ini. Pria itu pulang dan segera berhambur ke bagian belakang rumah.

Kesulitan tidur, segera tubuhku merosot turun dari kasurku yang berdecit. Tubuh kecilku menyelinap di balik pintu, mengendap-endap, dan hinggap di balik lemari dapur ―mengintip aktifitasnya.

Seperti setiap kali ia pulang di pagi buta. Aku melihatnya bergegas ke belakang dan membersihkan pisaunya yang berdarah. Itu darah manusia ―percayalah padaku. Sudah jadi pekerjaannya ‘menggantikan’ shinigami, menjemput raga yang hidup dan menghabisi nyawanya untuk suatu kepentingan. Dari situlah kami bertahan hidup.

“Kenapa? Tidak bisa tidur?”.

Aku terhentak mendengar dirinya menyinggungku, padahal tak sedikitpun ia melihat ke arahku. Mungkin dia bisa merasakann kehadiranku.

“Oh, iya,” ingatnya, dari tempatnya berjongkok ia memutar pandangannya kepadaku, “besok ada yang mau ku bicarakan.”.

***

Tergolek lemah, wanita itu tersangkut di teras rumahnya yang kecil dengan mini dress gemerlap yang masih melekat di tubuhnya. Riasan wajahnya tak bisa menyembunyikan bagaimana semrautnya ia saat ini.

Pria itu menghampirinya, menyadarkannya, dan menuntunnya masuk ke dalam rumahnya. Entah apa lagi yang ia lakukan, ku tebak ia akan membaringkan wanita itu, karena tak lama kemudian ku temukan ia keluar dari sana dan menuntup pintu rapat-rapat.

Hampir setiap pagi, aku menonton drama ini.

Ketika memasuki rumah, pria itu mendapatiku menonton kejadian yang tidak pantas anak kecil sepertiku lihat.

“Ibumu hanya..., sedikit mual...” dalihnya, berusaha membohongi anak kecil.

Benar, aku mungkin anak kecil di matanya, tetapi aku tak bisa dibohongi.

“Bergegaslah ke sekolah,”.

“Kapan?” tanyaku, “Kapan wanita itu yang akan mengantarku ke sekolah?”.

Pria itu terkesiap, “Apa yang kau,”.

“Kenapa ia selalu tersangkut di sana hampir setiap pagi? Kenapa ia harus ku panggil ‘Ibu’ sementara ia sendiri tak pernah menatap mataku? Kenapa aku harus memanggilmu ‘Ayah’ sementara wanita itu memanggilmu ‘Shiyeon’?”.

“Namkyung,”.

“Kenapa,” ucapku, “kenapa aku harus menyebut diriku Park Nam Kyung? Kenapa aku harus menyembunyikan nama asliku? Kenapa aku harus punya dua nama? Kenapa, Shiyeon?”.

Ia terdiam. Meski bertangan dingin, Shiyeon tak pernah marah padaku.

“Apakah kau Ayah kandungku, Shiyeon?”.

Sekali lagi, Shiyeon menatapku hangat. “Kau akan terlambat, Namkyungie.”.

***

Untuk anak SD seusiaku, aku memiliki pemikiran yang tak wajar. Rasanya aneh mendengar teman-temanku memanggil pria yang mengantar mereka ke sekolah dengan panggilan Ayah, rasanya asing mendengar teman-temanku memanggil wanita yang datang mengambil rapot mereka dengan panggilan Ibu.

Sementara aku tak pernah punya dua kata itu dalam kamusku.

“Park Nam Kyung,” panggil guru itu.

Shiyeon bergerak mengambil rapotku, dan ini terjadi setiap tahunnya ―tak pernah berganti sedikitpun. Aku tak tau bagaimana caranya, tetapi sepertinya Shiyeon mengubah ―atau mungkin memalsukan― beberapa dokumen pribadiku.

Pada setiap orang, Shiyeon mengaku kalau dia Ayah kandungku, sementara Ibuku sudah bercerai dengannya. Putera semata wayang Park Shi Yeon : Park Nam Kyung. Ini kebohongan.

Selama bertahun-tahun aku memainkan peran yang bukan diriku, tetapi aku melakoninya sebagai diriku sendiri ―yang palsu.

“Bagaimana? Kau sudah memutuskan untuk melanjutkan di SMP yang mana? Karena prestasimu yang gemilang, sudah banyak sekolah yang mau menerimamu, lho, Namkyungie.” Shiyeon berujar seperi aku ini anaknya.

Aku hanya terdiam, harusnya perbincangan di ruang tamu ini sehangat obrolan Ayah dan anak lelakinya. Tetapi, dia bukan Ayahku ―dan aku tau betul itu.

“Bolehkah kali ini aku pakai namaku sendiri, Shiyeon?” tanyaku.

Shiyeon terkesiap.

“Tidak.” jawabannya mengecewakan, “Selama aku masih di hadapanmu, kau tetaplah Namkyung-ku.”.

***

Kembali malam itu menggodaku untuk terjaga. Sementara itu Shiyeon tak menyadari kalau aku belum juga terlelap. Karena rumahnya yang kecil, Shiyeon tak punya pilihan lain selain membuatkan kasur bertingkat ―aku menempati bagian bawahnya.

Ku lihat punggung itu masih menekuri sebuah catatan dengan sampul kulit berwarna kecoklatan. Dengan lampu meja yang remang-remang, lama sekali Shiyeon berkutat dengan tulisannya.

Mungkin ia sudah selesai menulis, karena kemudian Shiyeon meregangkan tubuhnya ke beberapa sisi, dan tak sengaja melihatku masih terjaga.

“Susah tidur lagi, ya, Namkyungie?” tebaknya, “Apa perlu lampunya ku matikan?”.

Aku tak menjawab. Aku sadar betapa dinginnya tanggapanku terhadap perlakuannya yang manis padaku.

“Kau tak pernah mau menjelaskannya padaku, Shiyeon?” tagihku.

Pria itu tertunduk, “Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan.” ucapnya.

Aku mendelik.

“Besok, aku akan mempertemukanmu dengan Jung Il Sung, sahabatku.” kata Shiyeon, “Kelak, ketika aku sudah tiada nanti, menghadaplah padanya.”.

***

“Jadi ini anakmu, Shiyeon-ah?” ucap pria paruh baya bertubuh tinggi itu. “Apa kabar, Namkyung kecil?”.

Ketika ia berusaha menyentuhku, aku bergerak mundur. Bisa ku tangkap kedua irisnya membenci tindakanku ini.

“Kau pasti ingat, kan, Ilsung-ah, Namkyung itu memang tidak mudah akrab dengan orang baru.” Shiyeon terkekeh mengucapkannya.

“Ya, ku harap, ia takkan begitu selamanya,” nada bicara Ilsung kedengarannya manis, namun menusuk, “benar, kan, Tn. Muda Park?”.

“Eeh, kenapa kau memannggilnya begitu?”.

“Karena aku menghormati jasamu, Hyungnim!” sambut Ilsung, “Aku berterimakasih karena kau telah membukakan jalan baru bagi kami! Itulah mengapa aku sangat ingin bertemu Namkyung sehingga suatu saat nanti aku bisa membalas jasamu padanya.”.

“Kau berlebihan, Ilsung-ah.”.

Pria bernama Ilsung itu..., logatnya aneh...

***

Malam itu persis seperti malam-malam sebelumnya, ketika aku duduk di pelataran rumah Shiyeon dan menatap ke arah rumahnya yang berantakan.

Wanita itu keluar dengan pakaian mewah, tak sepadan dengan tempatnya tinggal. Aku menatapnya lekat-lekat, aku mengiriminya telepati. Namun ―masih sama seperti malam-malam sebelumnya― wanita itu tak pernah menanggapi telepatiku, bahkan untuk menatapku pun saja tidak.

Pelataran rumah yang menyedihkan ini serasa tak berpenghuni, seperti itulah rasanya tak mendapat simpatinya sama sekali. Shiyeon bilang wanita seperti ini Ibuku? Inikah yang namanya Ibu?

Bahkan sampai aku kelas tiga SMP pun aku tak pernah mendapatkan tanggapannya. Benar, aku melakukan ini sejak aku SD, dan hasilnya? Nihil.

Aku tak percaya ia Ibuku.

***

Pada malam itu, setelah aku termangu seperti keledai di pekarangan rumah, aku tak mendapati Shiyeon pulang ke rumah. Bahkan sampai aku terbangun di pagi hari pun tak ku dapati sosoknya di rumah. Ada apa dengannya? Untuk pertama kalinya aku menanyakannya.

Aku sudah besar, bahkan sejak kecil pun aku sudah biasa menyiapkan ini itunya sendiri ―kecuali memasak. Jadi aku berangkat ke sekolah seperti biasanya.

Masih seperti biasanya, aku melewati toko elektronik itu dan mencuri-curi pandang ke arah siaran gratis televisi yang mereka pajang sambil berjalan melaluinya. Namun kali ini aku tak bisa hanya sekadar melewatinya,

karena..., berita itu...

“..., setelah berhasil ditangkap, pria bermarga Park ini segera digelandang ke tahanan untuk sementara hingga persidangan dimulai. Karena tindakannya yang telah menghilangkan banyak nyawa dan mengancam keamanan negara, ia dikenakan pasal berlapis...,”.

“Shiyeon?” gumamku, meski wajah itu diblur, aku paham betul gesturnya.

“..., belum diputuskan sebenarnya. Namun bisa dipastikan antara hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Kami masih menyelidiki lebih....,”.

Hukum mati?

Kenapa aku begitu terkejut mendengarnya? Tidak, lagipula polisi itu bilang kalau hukumannya belum diputuskan, semua akan menjadi jelas di persidangan.

Jawabannya?

***

Enam bulan kemudian...


“Namkyung-ah, aku sudah mengurus beberapa dokumen. Maaf jika ini sangat mengejutkanmu, tapi aku tak punya waktu untuk menjelaskannya, apalagi menuliskannya padamu.

Di dalam map ini, semua yang selama ini tersimpan bertahun-tahun akan terungkap. Semua instrumen yang merekamnya dan mengabadikannya dalam kebisuan. Semuanya akan jelas, Namkyung-ah.

Dan ku mohon di saat yang tepat, temuilah Ilsung.

Ayahmu,
Park Shi Yeon”.


Surat wasiat Shiyeon itu menemani perjalananku di dalam kereta. Di sini, di ruangan kecil ini, hanya ada aku dan beberapa koper tuaku.

Benar, hakim menjatuhkan hukuman mati untuknya.

Beruntungnya, berita ini tidak menjadi kabar hangat, tak banyak juga yang mengetahui siapa itu pria bernama Park yang telah mengancam keselamatan negara.

Itulah kenapa aku masih di sini.

Shiyeon telah mempersiapkan segalanya sebelum ia mati, bahkan ia memindahkanku ke sebuah yayasan kecil di sudut kota Seoul. Aku berangkat meninggalkan tempat kelahiranku, Changwon. Aku berangkat meninggalkan yang harusnya ku tinggalkan. Aku berangkat untuk meninggalkan misteri tentang diriku sendiri.

***

Seorang wanita paruh baya bertubuh subur dan berpakaian rapi itu mengampiriku. Ku rasa telepati kami bertemu, maka dari itulah ia menjemputku di salah satu peron.

“Ny. Ji?” tanyaku.

Beliau tak menjawab, “Kartu identitasmu, tolong.” katanya.

Dari sebuah map berlabel nama yayasan, aku mengeluarkan sebuah kartu dari sana dan menyerahkannya. Beliau menyambar kartu itu dengan lembut dan menganalisa data di sana.

“Kalau begitu, Jeon Won Woo,” ucap wanita itu setelahnya.

“Ya?”.

“ayo kita pulang.”.

***
to be continued
***

next...

“Apa nama tim itu?” tanya Ilsung.

“X Team.”.

Dia mendelik.

“Tim yang sangat penting, seperti tanda ‘x’ pada peta harta karun.” tambah Wonwoo.

“Kalau begitu, menyusuplah. Tinggalkan orang-orang yang tidak mengenal siapa kau sebenarnya, tinggalkan semua orang itu. Beradaptasilah dengan lingkungan baru. Buatlah image baru dan masuk ke dalam tim tersebut.”.

“Dan tinggalkan gadis itu.”.


“Sally?” Hansol sudah ada di sampingnya. “Nuna, kau sudah bangun?”.

“Mana Wonwoo?” tanya Solji, ingatannya sebelum tak sadarkan diri berputar.

“Nuna,”.

“Katakan di mana Wonwoo?!!” bentak Solji.

 “Nuna, sebentar saja, ya. Dokter akan memeriksamu, nanti ku beritau di mana dia.”

“Katakan sekarang, Vernon!! Di mana dia?!!”

“Mom, Dad,” batin Hansol, “seandainya saja kalian tau perasaanku, seadainya saja tidak hanya aku yang tau...”.


“Hai,” sapa Junhui, ia datang menjenguk Solji.

“Kau,” Solji menatap tiang infus itu.

“Oh, ya, tentu saja.” senyum Junhui, “Aku bukan dokter, kok, saat ini. Aku jadi pasien. Hehehe.”


“Apa yang terjadi padamu, Seokmin-ah?” tanya Solji.

“Hanya jatuh dari atas tangga, lalu menimpa tumpukan peti kayu.” kata Seokmin, “Untungnya tidak ada tulangku yang patah.”

“Kau sendiri, bagaimana, Hosh?” tanya Solji.

“Tidak apa, hanya saja,” Sunyoung mendesis sedikit, “luka tusukannya belum terlalu kering. Tapi jangan khawatir, aku gak papa, kok.” cengirnya juga.


“Oh, ya, kau berteriak-teriak padaku, kan?” ledek Jihun, “’Jangan mati!! Jangan mati!!’ gitu, kan, ya?” ejeknya.

“Ish, aku, kan, khawatir!” Seri menyetil tangan Jihun yang bertengger di atas kepalanya.


“Tentu saja,” ia melahap sayuran di atas meja kecilnya, “oya, kau masih ingat Joshua? Dialah orangnya.”


“Haera-ssi,” ia sentuh bahu mungil itu.

Dan ketika gadis itu berbalik, Haera tepat memandangnya. Deg! Mingyu merasakan ribuan kupu-kupu melayang di sekitarnya, ketika ia menangkap sorot mata Haera yang teduh dan penuh dengan butiran bintang yang berkerlap-kerlip. Ajaib, batinnya.

“Maaf,” dengan canggung Mingyu melepaskan sentuhannya.

“Tak apa,” Haera tersenyum. “Permisi,”

“Shin Hae Ra,” gumam Mingyu, menatap punggung kecil yang menjauh darinya, “akan ku ingat nama itu.”


“Kalau kau sayang padanya, berikanlah jawaban yang pasti pada ruhnya, Solji : sudah waktunya Wonwoo pergi.” Junhui mengatakan dengan berat hati, “Sejak ia terbaring, tak ada perkembangan sama sekali darinya hingga hari ini, tidak ada yang bisa diharapkan selain melepas semua alat-alat itu dan merelakannya pergi. Kita harus menyudahi penderitaannya, Solji.”

***

Aim
Part XVI : COMA

***

Near rasa, ini perlu^^


Komentar para pembaca setia Aim

Aim part 13


Udah gagal paham, dikata yadong lagi.
*I'm fine, thank you*
😢😢😢

Bikin anak orang baper.
Goal-nya Near tercapai : bikin karakter Wonwoo (dalam ff Aim) jadi brengsek
😂😂😂😂


Aim part 14


Ada yang minta dihalalin sama Mas Junhui.
Siapa yang mau halalin mereka?

Mang enak 😂😂😂
Wkwkwkwkwkwkwkwk

Komentar yang paling Near suka ❤
Lagi-lagi Wonwoo dikata brengsek.
Maafin aku, Wonu 😢😢
Gak nyangka juga Aim bakal dikata daebak 😭😭😭😭

Makasih banget buat kalian yang sudah mau baca, ngelike atau ngasih G+, apalagi yang mau susah-susah komentarin tulisan Near 😢😢😢 Near jadi terhura *eh* terharu..

Dengan adanya komentar dari para pembaca, Near bisa tau sampai mana perkembangan tulisan Near, apa yang harus ditambah atau dikurangi, dan bagaimana Near harus berimprovisasi ke depannya.

Sekali lagi, terima kasih.
진심으로 감사합니다.
*bow*

Author

Nearu

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^