[FF] Aim part XIII
Aim
Part XIII : Just
Another Girl
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun
Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min
***
| Spoiler
ver. |
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Meski dengan pakaiannya yang kotor, wajah yang
babak belur, tubuh yang lemas, Wonwoo masih bisa berjalan menuju sebuah bukit
di tengah kota. Bukit yang suci, tempat di mana semua jiwa yang telah mati
tertidur dengan tenang.
Di sanalah Kim Jin Po dimakamkan, dan Wonwoo
berdiri lesu di depan nisannya.
“K, Kim..., Sonsaengnim...”
lirihnya, menatap batu hitam mengkilap itu dengan lemah, “Aku..., datang...”
seperti sebuah kebiasaan Wonwoo mengantongi kedua tangannya di saku jeans-nya.
“Maaf aku tidak bawa apa-apa, maaf aku tidak
datang di hari pemakamanmu, maaf aku...,” ia meremas tangannya sendiri, Wonwoo
menggeleng kecil, “maaf aku..., aku salah..., aku bersalah, Pak Kim...”
Pipinya terasa perih ketika bulir itu mengalir
di atas lukanya.
“Aku muncul sebagai pengecut..., pecundang... A loser..” Wonwoo menunduk, malu rasanya
menemui Pak Kim yang sudah tak bernyawa.
“Jika
kau merasa ragu,” ucapan Pak Kim menghentikan langkahnya, “coba kau tarik
nafas, perlahan-lahan, berulangkali, dan mulailah memilah jalanmu sendiri
setelah kau merasa tenang.”
Berulang kali, Wonwoo menarik nafas panjang
perlahan-lahan, namun bukannya merasa tenang justru ia tersedu.
“Apa yang harus ku lakukan, Kim Sonsaengnim? Sekarang tak ada yang
percaya padaku, tetapi sungguh aku ingin menolong mereka.” Wonwoo bisa melihat
titik-titik air matanya di atas tanah pemakaman.
“Apa yang harus ku lakukan...?” lirihnya.
“Ingatlah,
tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang ada hanya kata ‘terlambat’.” lanjut Pak
Kim.
Wonwoo jatuh bersimpuh di depan nisan yang bisu
itu, ia jatuh seperti seseorang yang telah kalah, ia bukan seorang Jeon Won Woo
yang sebelumnya. Ia benar-benar pengecut.
“Yongseo
haseyo, Sonsaengnim...” lirihnya, “Yongseo
haseyo...”.
***
“Jadi ia kembali?” ulang Ilsung, sambil
memandang ke jendela besar di ruangannya. Seorang anak buah memberinya kabar
tentang seseorang yang telah mengundurkan diri dari hadapannya.
Pria tua itu beralih pada laci mejanya, ia
ingin mengintip profil X Team sedikit. Dari map cokelat yang orang itu berikan
―sebelum ia mengundurkan diri― Ilsung menemukan salah satu foto profil seorang
gadis yang dikenalnya, meski ia sendiri belum pernah bertemu dan bertatap wajah
langsung dengannya.
Tidak, Ilsung sudah pernah bertemu dengannya,
ia sudah pernah melihatnya. Di hari itu, ketika ia mendapatkan seorang sandera.
“Nama asli, Sally Solji Choi.” Ilsung membaca
baris pertama profilnya, “Hm... Diakah gadismu yang berharga..., Tn. Muda
Park...?” gumamnya.
Ilsung berkedip, ia menemukan ide baru. Ide
yang mungkin akan membawa orang itu jauh lebih terpuruk dan menyesal lagi.
“Panggilkan Haera, putriku.” perintah Ilsung.
***
“Namanya Choi Sol Ji,” kata Haera sambil
memandangi profil Solji itu lekat-lekat, lalu ia beralih pada profil X Team
lainnya, “dari semua anggota, dirinyalah yang paling junior dalam dunia
kepolisian. Pengalamannya baru setahun.” selidiknya.
Ilsung bersandar pada jendela, dan memandangi
langit biru dari lapisan kacanya.
“Kau tau siapa Solji itu, kan?” tanya Ilsung.
“Anggota X Team.” jawaban Haera pun disambut
gelak tawa Ilsung.
“Nak, jangan pura-pura kau tidak tau,” Ilsung
menghampiri kursinya, dan duduk di sana, “Solji adalah gadisnya Wonwoo.
Seseorang yang paling berharga dalam hidupnya, dan dia bukanlah kau, Haera-ku
sayang.” lalu Ilsung kembali menekankan, “Solji adalah kesayangan Wonwoo ―bukan
kau.”.
“Abeoji,”
rasa sakit itu menyuruh mulut Haera untuk terbuka.
“Untuk apa kau selalu menunggu Wonwoo kalau
ternyata ia sudah memberikan hatinya untuk gadis lain, sayangku?” hasutan
busuknya mulai lagi, “Tidakkah kau marah padanya?”.
Haera diam.
“Kau tau apa yang telah mereka perbuat berdua,
kan? Ku rasa tak perlu ku sebutkan pun kau sudah tau kalau mereka berdua sudah
melakukannya.” hasutnya lagi, “Gadis itulah yang selalu dipikirkannya, yang
selalu ada dalam benaknya ―bukan kau.”
Haera meremas tangannya.
“Katakan saja jika kau membencinya,” Ilsung
menyeringai, “aku punya tugas untukmu.”.
***
Aim
Part XIII : Just
Another Girl
***
Dari lantai dua, Haera bisa memandang ke bawah,
di sana Ilsung dan beberapa anak buahnya merayakan keberhasilan mereka dengan
minum-minum. Haera yang tidak bisa meneguk bahkan segelas kecil soju itu pun memilih untuk menyingkirkan
diri.
Anehnya, di sana Wonwoo bertahan, bukankah dia
juga tidak suka minum-minum? Itulah kenapa Haera masih memantaunya.
Awalnya, laki-laki itu hanya tersenyum tipis
saja melihat teman-temannya mulai berbicara ngawur, sementara itu Ilsung masih
sadar diri meski sudah meneguk beberapa botol soju. Lama setelah semua laki-laki yang mabuk itu knock out dan tidak sadarkan diri, Ilsung
terlihat mengambilkan sebotol red wine
yang ia sembunyikan di lemari.
“Minumlah, Tn. Muda Park.” Ilsung mulai
menuangkan red wine itu dengan
cekatan ke dalam gelas.
“Kau mau aku mati seperti mereka?” sindir
Wonwoo sinis, begitulah caranya berbicara.
Ilsung terkekeh, “Kau tak mau merayakan
keberhasilan kita bersama?” lalu menyodorkan gelas berisi seperempat red wine itu.
Wonwoo hanya meliriknya ―bahkan melirik saja
rasanya gelas itu bisa saja pecah karenanya.
“Mungkin kau memang tidak berselera dengan soju, tapi ku rasa kau pasti takkan
menolak anggur merah ini, kan?” bujuk Ilsung, lebih tepatnya menghasut.
Menghasut seperti iblis.
Wonwoo pun menggenggam pemberian Ilsung itu,
mereka bersulang singkat dan minum anggur pada akhirnya. Haera dengan ragu
memantau.
Haera tau betul, Ilsung adalah seseorang yang
senang minum-minum, bahkan ia bisa menghabiskan beberapa botol soju tanpa hilang kesadaran. Namun
bagaimana dengan Wonwoo ―yang ia tau― belum pernah minum itu?
Mungkin dia sudah pernah minum, tapi sedikit.
Lantas bagaimana dengan malam ini? Minum berdua dengan Ilsung si alcoholic itu tak mungkin seteguk atau
dua teguk, kan?
Tepat seperti dugaannya, setelah menghabiskan
beberapa gelas anggur merah, sekarang Haera bisa mendengar ucapan Wonwoo yang
mulai tidak beraturan. Dan sialnya, Ilsung sengaja membuatnya demikian untuk
mengintrogasinya.
Tapi kelihatannya terlalu sulit untuk
mengungkap apa yang selama ini Wonwoo sembunyikan dari Ilsung, karena jawabanya
yang terlalu ngawur. Wonwoo memang tipe orang yang misterius, bahkan di saat ia
mabuk pun ia masih bisa menutupi rahasianya ―secara tidak sadar.
Namun, Haera mendengar nama baru dari ucapan
Wonwoo.
“Dia..., dia manis...” Wonwoo menopang
kepalanya sambil tersenyum kecil.
“Dia?” tanya Ilsung.
“Uh-uh,” Wonwoo mengangguk lemah, “Solji, Choi
Solji, Sally Choi, teman sekolahku, teman satu kampusku.” akunya, “Seperti dia
: manis.”.
Haera mengerutkan dahinya.
“Oya, soal Solji,” Wonwoo berusaha menegakkan
kepalanya, “kau pasti belum tau, kan? Dia..., gadis yang sangat manis..., yang
memikat...”
Entah kenapa terasa begitu panas, Haera ingin
menutup telinganya dari semua fakta tentang gadis itu, Solji. Tapi ia tidak
bisa.
“Dia bukan gadis pelampiasanku..., dia..., benar-benar
gadisku...”
Hatinya hancur, Haera menahan air matanya saat
itu juga.
“Kau tau..., dia benar-benar menggoda...”
kembali Wonwoo menyerah, kepalanya terjatuh ke atas meja, “My style... Sally...” ia tersenyum tipis, “Aku akan melakukannya
dengannya...”
Ilsung mendelik, “Apa?” ulangnya.
“Aku tidak kuat menahan godaan ini, aku
berencana akan melakukannya,” tambah Wonwoo, tak jelas apa yang dimaksudnya,
“terlalu kotor untuk dipikirkan sendiri, aku ingin benar-benar melakukannya...”
Sudah cukup, Haera tak tahan lagi. Ia berlari
meninggalkan tempatnya berpijak sambil terisak, sakit rasanya mengetahui Wonwoo
telah memiliki tempat sendiri untuk hatinya, dan itu bukan pada Haera, bukan
padanya.
Haera terhenti ketika melihat pintu kamar
Wonwoo terbuka. Baru saja memasukinya, Haera bisa melihat barang-barang Wonwoo
yang berserakan di sana sini. Terlepas dari kenyataan kalau Wonwoo baru saja
tiba tadi sore, kamar ini memang sebenarnya cukup berantakan.
Tas ranselnya yang terbuka, sementara isinya ke
mana-mana. Sepatu dan baju yang diletakan asal. Juga, ponsel.
Haera merebut benda persegi itu dari puncak
meja.
Dengan lihainya, Haera mengelabui kode yang
mengunci ponsel tersebut. Ia menggabungkan beberapa angka yang mungkin mengunci
ponsel Wonwoo itu dari sembarang tangan.
Setelah berhasil memecahkan kode, jemarinya
seakan bergerak sendiri, mengantarkannya pada beberapa pesan singkat yang
tertuliskan kata-kata manis, yang justru menyayatnya.
“Kau tau
itu,” ―Wonwoo.
“Kenapa
tidak bilang?” ―Sally.
“Kenapa
tidak bilang? Kau tidak peka atau pabo,
sih?”.
“Menyebalkan.”.
“Hehehe. Kau
manis, my Sally...”.
“Terus
kau maunya apa?”.
“Your whole body.”.
“Jeon Won
Woo!!”.
“Hehehe.”,
“Hei, balas pesanku.”, “Marah, ya? Hehehe”.
Seakan tidak mampu berhenti, jemari Haera itu
kembali mengantarkannya pada kenyataan yang lebih menyakiti perasaannya.
Deretan foto di galeri yang paling membuatnya serasa terjun dari tebing terjal
dan jatuh di atas bebatuan tajam yang mencabik tubuhnya.
Foto-foto pribadi keduanya yang tak seharusnya
orang seperti Haera lihat. Pantaslah mengapa Wonwoo begitu menjaga privasi
ponselnya.
“Blam!”.
Haera terkejut― seseorang memasuki kamar. Dia
lebih terkejut lagi melihat si pemilik kamar lah yang datang.
“Wonwoo-ssi,”
tak sengaja ponsel itu jatuh ke lantai.
Dengan sempoyongan, lelaki itu mendekat ke
sosok yang asing di kamarnya. Wonwoo terjatuh dalam dekapan Haera.
“Wonwoo-ssi!
Kau tak apa?” paniknya.
“Manis,” tiba-tiba lelaki itu mendesis, Haera
terkesiap, “apa yang..., kau lakukan...?”.
“Tidak, Wonwoo-ssi,” Haera berusaha menyadarkan Wonwoo, “ini aku, Shin Hae Ra!”.
Aroma anggur merah menyeruak ketika lelaki itu
mulai menyentuh lehernya. Haera bergidik ngeri dan berusaha menghindarinya.
Namun keadaan kali ini berbalik, Wonwoo lah yang sekarang mendekapnya.
“Wonwoo-ssi!!”
jerit Haera.
***
Di balik pepohonan yang ditanam mengitari
markas itu, Wonwoo mendelik. Aman, ia pun melangkah dan mendekati bangunan
tersebut.
Di saat yang sama, “Hei, lihat siapa yang
datang.” ucap Sunyoung sambil menyeruput kopinya. Karena ia berdiri di dekat
jendela besar tersebut, otomatis Sunyoung bisa melihat kehadiran Wonwoo di
bawah sana.
Seokmin, Junhui, dan Seri mendekat padanya.
“Oh? Wonwoo?” gumam Junhui, seketika suasana
markas mendingin.
“Apa? Wonwoo?” Jeonghan kedengaran tidak
terima, “Harusnya hari itu ku pukul saja dia.” sesalnya.
Seungcheol mengawasi, sementara Mingyu berusaha
tidak peduli. Solji pun segera beranjak dari tempatnya duduk.
“Shit.”
desis Solji, “Kenapa dia kembali lagi, sih?!”.
“Si, siapa itu?” Seokmin menyebutkan.
“Bu, bukankah dia gadis yang waktu itu,” Seri
mengingatnya, “dia yang waktu itu bertemu Yukseon di area taman hotel, kan?!”.
Di tengah langkahnya yang mantap, Wonwoo
merasakan cekikan dari belakangnya. Ia terkejut ketika menemukan Haera
diam-diam menyusulnya.
Namun dengan mudah, Wonwoo melepaskan diri.
“Shin Hae Ra?!” kagetnya, “Apa yang kau lakukan di sini?!”.
Aneh, Wonwoo melihat gadis itu tidak semanis
biasanya. Haera terlihat sangat marah, kedua netranya menatap Wonwoo
berapi-api. Sepertinya ada yang tidak beres.
“Astaga!” pekik Seri, “Gadis itu membawa
senjata tajam!” serunya, “Leader Oppa,
lakukan sesuatu! Kita harus selamatkan Wonwoo Oppa!”.
“Biarkan saja dia mati.” Sunyoung berselisih
dengannya.
“Tapi berbahaya kalau sampai terlihat publik,
kan?!” Seri tak mau kalah.
Jihun buru-buru melihat, “Benar yang dikatakan
Seri.” belanya, “Kita harus selamatkan Wonwoo, kalau tidak kejadian ini akan
menyinggung markas kita yang rahasia, juga identitas kita sebagai X Team!”.
“Sudah ku bilang, biarkan saja dia mati!”
Sunyoung tak juga mengerti.
“Bagaimana ini, Coups Hyung?” Junhui menyahuti.
Seungcheol berpikir.
Sementara itu, lagi-lagi Wonwo dibuat terkejut
begitu melihat Haera menghunuskan pisau kecilnya. Derap langkahnya membawa
benda tajam itu padanya, benar-benar tidak wajar.
“Haera-ya, apa yang kau lakukan?!” Wonwoo yang
tersungkur itu tak berniat melawan Haera, “Shin Hae Ra, jawab aku!!”.
“Aku membencimu!!” seru Haera, lalu bergegas
menikam Wonwoo.
Beruntung lelaki itu segera menghindar.
Bukannya berlari, Wonwoo justru mendekati Haera, otomatis gadis itu berusaha
menusuknya lagi. Dengan cepat Wonwoo menahan gerak tangannya sebelum Haera
menusuk lehernya.
“Shin Hae Ra!! Apa yang Ilsung katakan padamu?!
Apa yang telah diperbuatnya hingga pikiranmu kacau begini?!” Wonwoo berusaha
mencari petunjuk.
Haera terus berusaha melukai lelaki di
hadapanya ini, “Aku membencimu, Wonwoo-ssi!!
Aku membencimu!! Aku, aku,”.
Wonwoo dan Haera terjatuh di saat yang
bersamaan dengan posisi Haera di bawah dan Wonwoo di atas.
“Sadarlah, Shin Hae Ra! Ilsung hanya
memanfaatkanmu!” Wonwoo menggenggam wajah manisnya.
“Kau yang harusnya sadar!” Haera seperti
menangis, “Siapa yang selama ini memperhatikanmu! Siapa yang selama ini
menyimpan tempat untukmu! Kenapa tak sedikitpun kau menyadarinya?!”.
Itu dia ―Wonwoo mengerti sekarang.
“Jerb!!” di saat ada kesempatan, Haera berhasil
menancapkan pisaunya pada kaki Wonwoo.
“Aaargh!!” pekik Wonwoo, di saat yang bersamaan
Haera mencabut pisau itu dari pahanya dengan kasar. Rasa ngilu yang menjalar
itu membuatnya lemah dan Haera berhasil melepaskan diri darinya.
Ketika Haera mendatanginya lagi, Wonwoo justru
berusaha bangkit ―bahkan bergerak menghampirinya meski kakinya terasa ngilu.
Begitu Haera hendak menikamnya sekali lagi, Wonwoo dengan cepat menahan pergerakannya.
Ia menggenggam kedua lengan itu dan bergerak,
“Cup,” mencium bibirnya hangat.
[► Kim Jae Joong – Just Another Girl]
Haera terkejut, kedua matanya terbelalak begitu
bibirnya dilumat habis lelaki yang hendak dibunuhnya ini. Seketika pisau yang
digenggamnya jatuh karena tubuhnya melemas akibat ulah Wonwoo.
“Prang!” sontak melihat adegan itu, Solji
melempar berkas di tangannya ke atas meja di sampingnya, yang tak sengaja
menyinggung vas, dan benda keramik itu jatuh menimpa lantai hingga terpecah
belah.
Semua memandanginya, pantas sajalah kalau Solji
merasa panas melihat pemandangan tersebut. Sepertinya ia menangis, karena Solji
berlari ke kamar mandi.
“Onnie!”
Seri mengejar untuk menenangkannya.
“Ada apa?” Jeonghan jadi yang terakhir mendekat
ke jendela besar itu ―kecuali Mingyu yang sama sekali tak tertarik.
“Wonwoo..., ia sedang...,” Junhui gelagapan,
“mencium gadis yang berusaha membunuhnya...”.
Jeonghan tercengang melihat mereka berciuman
begitu lama, “Keparat,” desisnya kesal, “harusnya kau sudah mati di tanganku
kemarin, Jeon Won Woo.”.
Pada akhirnya, Mingyu mendekat juga, ikut
berkumpul di depan jendela itu. Ia juga terkejut melihat Wonwoo berani
melakukan hal gila itu. Namun sekali lagi Mingyu teringat akan apa yang telah
Wonwoo perbuat bersama Solji. Mingyu tidak kaget lagi.
Haera memeluk tubuh lelaki itu lebih erat
ketika Wonwoo memeluknya. Lama sekali bibir mereka saling bertautan, karena
Wonwoo harus meyakinkan Haera bahwa ia tidak sejahat itu ―dalam kamusnya.
“Mhh,” Wonwoo bisa merasakan lembutnya lidah
itu dalam mulutnya ―sepertinya Haera sudah yakin pada dirinya.
Namun Wonwoo tak mau buru-buru menyudahinya. Meski
Haera bukan siapa-siapa baginya, mungkin ada baiknya membiarkan gadis itu
menikmati bibirnya. Agak lama, barulah ia memberikan ruang agar Haera bisa
beristirahat sejenak.
“Haera,” desis Wonwoo, “percayalah padaku.”
mereka saling bertatapan, “Bukankah sudah pernah ku katakan bahwa aku mengerti
akan perasaanmu padaku...? Bukankah sudah ku sampaikan bahwa aku peduli
padamu...? Haera, tidakkah kau mengingatnya...?”.
“Wonwoo,”
“Perlakuan Ilsung pada kita berdua berbeda,
Haera. Itulah kenapa ia bisa menghasutmu, ia selalu membisikan kata-kata manis
untuk menjebakmu, Haera. Sementara aku? Aku sosok yang tidak bisa dibohongi.”
Wonwoo mengusap wajahnya dengan sayang ―semata-mata agar Haera mempercayainya.
“Haera, dengarkan kata-kataku,” disekanya
helaian rambut Haera, “kembalilah ke panti asuhanmu, kembalilah pada ‘Ibumu’ di
sana, pada ‘saudara-saudarimu’. Jangan pernah kembali pada Ilsung, karena di bawah
naungannya lah kau akan,”
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” rupanya tak
semudah itu meyakinkan Haera.
Sabitnya menatap netra lugu itu dalam-dalam.
Wonwoo meneguk ludahnya sendiri. “Karena..., aku...,” ragunya, “karena aku mencintaimu...,
Shin Hae Ra...”
Jantungnya berdegup dengan sangat cepat,
telinganya berdengung seakan apa yang didengarnya salah. Haera cepat-cepat
menggeleng.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Ini nyata, Haera.” gadis itu kembali menatap
Wonwoo, “Perlukah ku sebutkan sekali lagi?”
“Wonwoo, sungguh ini,”
“Aku mencintaimu,”
“Tidak, kau,”
“Cup,” sekali lagi Wonwoo menyambar bibirnya
yang manis tersebut. Dengan lembut dan lebih dalam lagi, Haera bahkan tak mampu
melawan malah ikut bermain-main dengannya.
Kali ini Wonwoo tidak mau membiarkan gadis itu
bermain terlalu banyak, lelaki itu jauh lebih agresif sekarang. Haera bisa
merasakan benda asing di dalam mulutnya, seperti menggoda lidahnya. Wonwoo
memulai permainan yang jauh lebih menantang untuk lebih meyakinkan Haera pada
ucapannya.
Sengaja ia bermain-main di dalam rongga
mulutnya, menyahuti lidahnya yang kelu untuk menuruti kemauannya yang
berbahaya, meneguk salivanya, dan menjebaknya ke level yang lebih tinggi.
Terasa sekali Haera sangat mudah dipengaruhi,
itulah yang mendasari ciumannya pada gadis lugu itu. Ucapan cinta yang
disebutkannya tak bermakna harfiah, ialah ungkapan rasa kepeduliannya pada
Haera. Itulah mengapa ia berani menyebutkan kata cinta itu.
“Sekarang kau percaya padaku, Haera?” bisik
Wonwoo di sela-sela waktunya.
Dengan sembrono, Haera justru menarik tubuhnya dengan
sengaja, “Cup,” sehingga bibir mereka bertautan kembali.
Rasanya, itu berarti iya.
“Ish, apa-apaan, sih, keparat itu?” Sunyoung
jengkel sendiri, sementara ada rasa jijik dalam benak Mingyu melihat sahabat
yang kini selalu salah di matanya itu.
“Junhui,” Seungcheol segera memanggil Jun untuk
mengikutinya. Sepertinya ia tau apa yang akan pemimpinnya itu lakukan.
“Pergilah,” Wonwoo rasa cukup, ia
menghentikannya.
Haera memandangi luka yang telah dibuatnya,
“Tapi bagaimana dengan dirimu, Wonwoo-ssi?”
khawatirnya.
“Tidak apa, kau bisa pergi.” katanya, “Sekarang
juga.”.
“Tapi,”.
Haera terkejut ketika Wonwoo menyambar bibirnya
lagi dengan agresif, sontak membuatnya terloncat dan ciuman itu hanya
berlangsung singkat.
“Baik,” Haera mengalah, “aku..., aku akan
pergi...” ragunya.
“Pergilah,” namun Wonwoo tak melihat gadis itu
bergerak seinci pun, “ku bilang, pergilah!! Cepat!!” bentaknya.
Masih tersimpan rasa khawatir untuknya, namun
apa boleh buat ―Wonwoo sudah mengusirnya― Haera pun segera berlari dari sana,
berlari dan berlari ―sejauh mungkin.
Rasanya lega melihat gadis itu menghilang.
“Bruk!” Wonwoo terjatuh di atas rerumputan hijau. Rasa ngilu yang luar biasa
membuat kakinya seperti mati rasa.
Ia tergeletak begitu saja di atas rumput itu.
Wonwoo seperti menyerah, terserah jika kematian akan menjemputnya sekarang
juga. Namun sepertinya itu berlebihan, karena tak lama berselang, datanglah
Junhui dan Seungcheol.
“Gwaenchanni?”
di antara birunya langit, ia melihat sosok Seungcheol.
“Bangunlah!” disusul sosok Junhui, tubuhnya
terasa terangkat.
Rupanya ini bukan fatamorgana, Wonwoo terbangun
seutuhnya dari imajinasi yang mengapung-apung. Ia sadar sekarang, saat ini,
Seungcheol dan Junhui sedang mengevakuasinya.
[■ Kim Jae Joong – Just Another Girl]
***
“Hei,” bisikan Seokmin memanggil dua gadis yang
berjalan menuju tangga itu.
Ialah Solji dan Seri yang baru saja keluar dari
kamar mandi. Selepas tangisannya yang emosional, Solji pun memutuskan untuk
keluar dari sana begitu Seri berhasil menenangkannya. Hendak turun ke ruangan
utama, mereka dihadang Seokmin yang berbisik memanggil mereka.
“Kenapa?” tanya Seri, ikut berbisik.
“Kemarilah.” Seokmin mengajak dua gadis itu
berkumpul di ruangan berkaca itu dengan anggota yang tersisa ―Jihun, Sunyoung,
dan Mingyu.
Semuanya kompak memandang dari kaca ke lantai
bawah, tepatnya ke ruang utama. Duduklah Junhui dan Wonwoo ―yang sedang
diobatinya― serta Seungcheol dan Jeonghan yang berdiri di dekat sofa.
“Loh, bagaimana dia di sini?” kaget Seri, Solji
lebih terkejut lagi melihat laki-laki kurang ajar itu berhasil memasuki markas.
“Ceritanya panjang,” kata Jihun, “setelah
melakukan ‘itu’ ―kau taulah― Wonwoo seperti memaksa gadis itu pergi. Awalnya,
sih, dia ragu, tapi pada akhirnya gadis itu meninggalkan Wonwoo juga.”
jelasnya, “Barulah Seungcheol Hyung
dan Junhui mengevakuasi Wonwoo dari sana.”.
“Terus sedang apa mereka?”.
“Tentu saja Junhui sedang mengobati luka
tusukan yang diderita Wonwoo, kalau Seungcheol Hyung dan Jeonghan Hyung
sedang ‘menginterogasinya’.” lanjut Jihun.
Wonwoo tidak tau kalau anggota lainnya ada di
ruangan atas sedang menyaksikannya dari sana. Hal ini sengaja dilakukan
Seungcheol agar Wonwoo tidak merasa terganggu dan tertekan ketika ia
melayangkan beberapa pertanyaan.
Luka sudah beres, interogasi sudah selesai,
anggota lainnya pun diperbolehkan keluar dan kembali ke ruang utama. Solji
tidak jauh-jauh duduknya dari Seri, gadis itu sama sekali tidak ingin menatap
Wonwoo yang duduk di seberangnya.
Seungcheol mempersilahkan Wonwoo buka suara.
“Aku minta maaf...” ucap Wonwoo.
“Cih,” desis Mingyu.
Wonwoo bisa mendengarnya, “Aku tau kata maaf
saja takkan cukup, maka dari itulah aku datang untuk kalian, untuk negeri ini.”
katanya, “Pada dasarnya aku cuma ingin bilang pada kalian, cepat atau lambat
Ilsung akan mengincar kita lagi, maksudku mengincar X Team lagi, sebagai salah
satu alat pertahanan negara yang sangat penting.”
“Kitalah yang diburunya, yang paling
diinginkannya. Jadi aku mohon, dengarkan aku.”
“Seperti yang kalian ketahui, aku mengenal
Ilsung. Bukan setahun dua tahun saja, tapi sejak aku kecil. Jadi aku sudah tau
tipikal seperti apa seorang Jung Il Sung itu,”
“Lalu kenapa kau kembali?” sinis Sunyoung.
Wonwoo menatapnya, “Karena Ilsung mengingkari
janjinya padaku.” jelasnya, “Dia membunuh Pak Kim.”.
Hening. Lelaki itu serasa membuka luka lama
yang Mingyu derita.
“Aku tau aku bodoh,” Wonwoo tersenyum miris,
“tapi aku tidak ingin dibodohi dua kali. Seperti yang Pak Kim sampaikan padaku
sebelum ia meninggal, ‘tidak ada kata
tidak pernah, yang ada hanya kata terlambat’. Aku akan memperbaiki semua.’”
Mereka menatapnya sekarang.
“Bagaimana kami bisa mempercayaimu?” kali ini
semua memandangi Mingyu.
Menanggapi pertanyaan itu, Wonwoo bangkit meski
sulit. Ia berjalan tertatih-tatih untuk menghampiri Mingyu dan memberikannya
sebuah senjata api.
“Jikalau menurutmu, aku berbohong, aku
berkhianat lagi, atau aku menikam kalian lagi,” Wonwoo tersenyum tipis, “bunuh
aku dengan senjata ini.”
Semua mata terbelalak.
“Nyawaku taruhannya.”
“Ku rasa dia sudah gila.” bisik Seokmin di
telinga Sunyoung.
“Aku rasa sudah cukup,” kata Wonwoo pada
Seungcheol.
“Kalau begitu tunggu apa lagi,” kata
Seungcheol, “Solji-ya.”
Solji terkesiap ketika Seungcheol memanggil
namanya. Ada apa dengannya? Dengan isyarat, Seungcheol meminta adik sepupunya
itu berdiri.
Wonwoo lalu menghampirinya. “Sol,”
“Sudah berapa kali kau mengkhianatiku?” itulah
sambutan dari Solji.
“Sally,” tegur Seungcheol, “dengarkan dia dulu.”
Solji memutar mata jengah.
“Maaf, dan maaf. Mungkin maafku takkan pernah
kau terima seumur hidupmu.” Wonwoo memulainya, “Tapi aku ingin menyampaikan
beberapa hal padamu, juga pada kalian semua ―tentang gadis itu.”
Solji mendelik ke arahnya.
“Namanya Shin Hae Ra. Benar, sejujurnya aku
juga sudah mengenalnya seperti aku mengenal Ilsung. Dari misi yang kemarin,
sebenarnya aku mengenal gadis yang ditemui Yukseon itu, dialah Haera.” aku Wonwoo.
“Haera berasal dari sebuah panti asuhan, sejak
bayi ia dibesarkan di sana, hingga akhirnya ia bertemu dan diasuh Ilsung. Haera
pun dijadikan manusia seperti dirinya, bisa menyusup, meretas, menggunakan
senjata, dan bahkan bisa saja ia membunuh sesama manusia suatu hari nanti.
Entahlah, namun kurasa Ilsung telah mencuci otaknya.”
“Karena aku kembali pada kalian, itu pertanda
bumerang Ilsung berbalik menyerang empunya. Jadi ia coba melenyapkan aku dengan
menghasut Haera yang kemudian datang untuk membunuhku karena rasa bencinya
padaku.”
“Jadi itu alasanmu berciuman dengannya?” Solji
melipat kedua tangan di depan dada.
Wonwoo menatapnya, “Aku tau kau pasti tidak
suka,” katanya, “aku terpaksa melakukan itu karena sebenarnya Haera menyimpan
perasaan untukku.”
“Kau mempengaruhinya?”
“Ya, demi kebaikannya.”
Solji mendengus.
“Begini, aku akan mengakui tiga hal padamu.”
Wonwoo bersiap, “Pertama, aku dan Haera saling mengenal, kami tumbuh tanpa
mengenal namanya orangtua. Kedua, aku kasihan pada Haera yang dicuci otaknya
oleh Ilsung ―ia gadis baik tapi terlalu polos. Dan yang ketiga...,” ia
menggaruk tengkuk, “aku pernah..., menidurinya...”.
“Plak!!”.
[► Kim Jae Joong – Just Another Girl]
***
to be continued
***
next...
“Tunggu!
Dia, kan pengkhianat!” Sunyoung menyalahkan, “Kenapa kita harus bekerja sama
dengan penusuk dari belakang?!”.
“Ini
gila,” desis Jihun, mulai pusing.
“Apa...,
ada yang sakit...?” tanya Wonwoo.
“Kau...,
pasti merasakannya..., ya, kan...?”.
Wonwoo
lalu mengancingi kemejanya, “Maaf, yang semalam itu..., kecelakaan ―karena aku
mabuk...” katanya, “Sungguh aku tidak bermaksud untuk melakukannya padamu...”.
“Periksalah
sedikit, jika terjadi sesuatu cepat-cepat hubungi aku.” Wonwoo bergegas menuju
pintu, “Aku akan tanggung jawab. Dan aku..., minta maaf..., atas
kecerobohanku...”.
Ia
letakan foto itu di atas meja dan menusuknya dengan sebilah pisau kecil.
“Tentu
saja aku bisa melakukannya ―benar, kan, Tn. Muda Park...?” senyumnya penuh
arti, lalu tertawa lepas.
Kembali
Mingyu menatap cermin dan mendapati wajahnya yang basah setelah dibasuh dengan
air. Lalu ia menatap senjata yang ia letakan di bawah cermin. Ia mendapati
sebuah guratan nama lengkap di sana.
“Park
Nam Kyung?” gumamnya.
“Ada
yang memanggilku?” tanya Wonwoo lagi, “Siapa di sana?”.
Merasa
suara itu hanya halusinasi, Wonwoo tak ambil pusing dan segera meninggalkan
lab.
“Park
Nam Kyung? Jeon Won Woo?” bisiknya sambil memandangi senjata di tangannya,
“Sebenarnya kalian siapa...?”.
Di
akhir video, terlihat Polisi Do bersimpuh dengan kedua tangan yang diikat ke
belakang dan luka sekujur tubuh. Seorang pria lalu menempelkan ujung pistolnya
pada pelipis Polisi Do.
“Kalian
pasti sudah paham maksudku ―ya, kan, X Team?” suara Ilsung, namun sosoknya tak
muncul dalam video ―suara tanpa rupa. “Tak perlu ku jelaskan lagi apa tebusan
yang paling ku inginkan agar perwira polisi ini lepas dari siksaanku. Ku beri
kalian waktu empat puluh delapan jam.”.
Lagi,
dan lagi, air matanya menetes.
“You
are the best, ‘cause ―you know― I can’t do anything without you..., I’m nothing
without you... I’m your little brother who always need you...” kata Hansol,
“Neon naege eomma-cheoreom. Kau seperti Ibu buatku.”.
“Dan
aku tak ingin kehilangan dirimu yang menyebalkan.” Hansol terkekeh sendiri.
“Daddy
often said, me and you are the biggest miracle for him and Mom ever. A prince
and a princess in their beautiful castle. Bringing smile and brightness in
their eternal family.” Hansol terkenang.
“Plak!!”
mendengar itu, Seri marah, ia menampar Jihun tanpa berpikir panjang.
“Kau
gila?!!” jerit Seri, “Kita akan selamat!! Negeri ini akan selamat!! Kita tidak
akan pulang meninggalkan satu anggota pun, Lee Ji Hun!!” tangisnya
tersedu-sedu, Seri terus menggoyahkan tubuh Jihun sambil terus meraung-raung.
“Seri,”.
“Semuanya
akan baik-baik saja!! Tidak akan ada yang mati!! Tidak akan ada yang
tertinggal!! Tidak akan ada yang,”.
“Cup,”
Jihun memberanikan diri membungkam bibir tipis itu dengan bibirnya.
“Jeonghanie
Hyung,” panggilnya.
“Siap.”
jawab Jeonghan.
“Kau
tau harus meminta bantuan ke mana.” Wonwoo mengisyaratkan.
***
Aim
Part XIV : Plan
***
Ini sedikit OOT, dan sedikit menginspirasi buat kita para penulis. Gak peduli itu penulis/author FF maupun penulis pada umumnya.
Waktu itu, Onnie gak sengaja ngeliat memo Near yang isinya tentang Aim, dan dia kaget karena Near bisa nulis NC.
Di rumah, Near orangnya cuek, dan Near gak pernah nunjukin hal-hal yang menjuruskan pada hal-hal yang berkaitan dengan NC.
Near sontak 'demo' (?) ke Onnie.
Bagi Near, siapa kita gak bisa membatasi tulisan apa yang bisa kita tulis.
Biarpun kita bukan polisi, kita bisa menulis cerita tentang kriminalitas dan detektif. Biarpun kita belum pernah mengalami kecelakaan serius sebelumnya, kita bisa kok nulis adegan kecelakaan parah di cerita kita.
Kita tau dari mana? Membaca tentunya.
Betapa hebatnya membaca itu, bukan? Dari yang tidak tau, menjadi tau. Sama seperti proses belajar.
Cewek seperti Near mana peduli sama hubungan 'lanjut' kaya gitu. Tapi Near bisa tuh bikin FF genre NC.
Itu semua bukan dari pengalaman, tetapi dari membaca. Ingat, ya! MEMBACA.
Status ini pun ternyata menginspirasi salah satu temen Facebook Near.
Semoga ceritanya Near ini bisa menginspirasi kalian juga, ya!
Author
Near




