[FF] Fall
Author : Near
Genre
: Songfic, MVfic (?), tragedy, angst
Rating
: 19+
Cast
: 7BTS
Near lagi nyari kerja, jadi belum punya pemasukan buat beli kuota... Meskipun udah naro beberapa lamaran, Near belum juga dapet job nih, hehehe... Doain Near, ya, supaya bisa cepet kerja^^
***
Warning!
Dilarang keras bagi pembaca
dibawah usia 19 tahun! FF ini mengandung unsur kekerasan dan adegan yang tidak
patut ditiru! FF ini tidak bertujuan berbagi hal negatif, namun mengajarkan
pada para pembaca untuk menarik hikmah dari kisah di dalamnya.
Author
Near
***
[Seokjin POV]
“Wah, keren...” sahut JImin.
Ketika kau tak lagi memiliki
hartamu yang paling berharga, ketika kau tak lagi bisa menghirup oksigen yang
kau butuhkan, bagaimana kau bisa bertahan hidup?
“Hei, menurutmu yang itu berapa usianya?” tantang Taehyung.
Aku di sini, duduk di pinggiran
ranjang sembari mempertanyakan itu semua. Pikiranku, hatiku, gelap ―berduka dan
bersenandung pedih. Air mata ini jatuh mengiringinya.
“Lokomotif yang itu?” tunjuk Jungkook, “Tiga setengah abad!” sahutnya.
“Ah, kau ini ―jangan ngawur.” ledek Seokjin.
“Tapi kelihatannya memang sudah tua.” tambah Namjun.
Yoon-gi menatapnya, “Kau menyindirnya ―lokomotif itu?” candanya.
“Lalu kau pikir, lokomotif itu akan tersinggung dan menghajarku?” tambah
Namjun lagi hingga membuat yang lainnya tertawa.
Keenam kelopak lili ini
mengiringi rasa dukaku yang mendalam. Mendengar satu persatu dari mereka pergi
dengan cara yang tragis, aku tak kuasa menahannya.
“Hooii! Ayo naik!” seru Jimin.
Taehyung dan Jungkook lah yang sampai duluan, Jimin pun membantu keduanya
menaiki salah satu gerbong itu. Sementara yang lainnya sudah sampai di atas.
“Kemarilah!” ajak Namjun ketika mereka baru saja bergabung.
“Kau bisa lihat pemandangan yang bagus dari sini!” kata Hoseok.
“Wah, keren!” sahut Jimin ketika ia sudah duduk di antara Yoon-gi dan
Hoseok.
“Sudah berapa kali kau mengucapkannya ―uh?” ujar Seokjin.
***
“Prang!” Jungkook melemparkaleng minuman
itu ke sembarang arah.
Sampai siang bolong begini, entah
Jungkook sudah sampai di mana sejak semalam kabur dari rumah. Sejak
bertahun-tahun yang lalu, Jungkook menepis pepatah home sweet home yang sering didengarnya ―baginya rumahnya bukanlah
surganya justru nerakanya.
Jungkook bangkit lalu berjalan
entah ke mana lagi, yang penting ia jauh dari rumah dan jauh dari dekapan
orangtuanya. Bukan tanpa alasan, tapi ia memang tidak menyukai suasana rumahnya
yang mirip seperti Perang Dunia II hampir setiap hari.
Keluarganya memang broken home, sejak bertahun-tahun yang
lalu Jungkook telah kehilangan perhatian dari Ayah Ibunya yang lebih memilih
bertengkar atau meributkan ini dan itu. Kekanakkan, selalu itu yang Jungkook
pikirkan ketika kedua orangtuanya itu bertengkar lagi.
Sehingga Jungkook selalu
menghabiskan waktunya di luar rumah, bersama keenam sahabat baiknya. Pulang sampai
larut malam pun Ayah Ibunya takkan peduli, justru lebih bagus jika mereka tak
ada di rumah ketika Jungkook pulang larut.
Di sekolah, Jungkook selalu iri
pada teman-temannya. Ketika sekolah mengadakan pentas seni, orangtua mereka
selalu datang. Ketika study tour,
banyak di antara teman-temannya yang dibawakan bekal buatan sang Ibu di rumah.
Ketika kelulusan, teman-temannya menghabiskan waktu lebih lama bersama orangtua
mereka untuk mengabadikan foto dan bersenang-senang. Bahkan yang tidak memiliki
orangtua pun memiliki euforia yang
sama ―seperti mereka yang memiliki orangtua― bersama wali mereka.
Namun itu semua tak terjadi pada
dirinya.
Sampai larut malam begini,
Jungkook tetap berjalan entah ke mana ―semakin larut semakin jauh pula langkahnya
dari rumah. Ia sengaja tak membawa ponsel atau sepersen pun uang saku, ia
sengaja mengasingkan dirinya.
Karena ia sudah lelah akan hidup
ini.
“Bruk!” tak sengaja, Jungkook
menabrak seseorang tak dikenal ―salah satu dari dua orang pria berjaket hitam.
Namun Jungkook tak peduli dan tetap saja melangkah.
“Hei, anak muda!” seru pria yang
tadi tertabrak olehnya itu.
Namun bocah itu tetap tak peduli.
“Hei, dasar tidak tau sopan
santun!” seru pria yang satunya jengkel, lalu menarik Jungkook dan mendorongnya
ke dinding.
Pria yang tadi menabraknya itu
menggenggam lehernya, namun Jungkook melepasnya dengan kasar. “Mau apa kau?”
ditatapnya tajam kedua pria itu.
“Dasar tidak tau diri.” ujar pria
di hadapannya, “Sudah tidak tau sopan santun, tidak tau diri pula ―dasar
bocah!”.
Pria itu menarik rambutnya,
“Buk!” lantas menendangnya.
Jungkook hanya merintih begitu
kepalanya menghantam dinding. Pria yang satunya lalu melemparnya ke arah
dinding yang lain, lantas menendangnya. Dan bocah itu hanya merintih, tak mau
melawan.
“Buk! Buk!” berkali-kali bocah
itu menerima pukulan, tendangan, hantaman, serta ceceran darah, rasa nyeri di
sekujur tubuh, sakit tak tertahankan, dan perih di tiap lukanya, namun Jungkook
tetap tak mau melawan.
“Rasakan itu!” sergah pria
tersebut sebelum ia dan kawannya meninggalkan Jungkook yang terperosok jatuh
itu.
“Ah,” rinith Jungkook lagi,
sekujur tubuhnya remuk, tiap bagiannya terasa sakit luar biasa, kepalanya
pening bukan main, dan darah itu tak berhenti mengucur.
Ia terduduk dan bersandar pada
dinding. Jungkook menarik nafasnya dengan susah payah, sengal nafasnya
terdengar nyaring, tatapannya menerawang.
***
[Seokjin POV]
Jungkook berjalan tergopoh-gopoh hingga ke penyeberangan jalan. Dan
ketika ia menyeberangi jalan raya, ia sengaja menjadikan dirinya,
“Brak!!” sebagai korban tabrak lari.
Jeon Jung Kook, seorang bocah
yang ceria dan penurut itu, harus mengakhiri hidupnya sendiri. Di hadapan kami,
Jungkook tak pernah terlihat begitu hancur. Setiap kali kami mengulik masalah
di keluarganya, Jungkook selalu menghindar dan mencegah kami mengetahuinya
lebih dalam ―ia tak mau berbagi lebih banyak dan memilih menghabiskan waktunya
bersama kami.
“Kalian mau pesan apa?” tanya Seokjin, “Jungkook-ah, ikutlah memesan
makanan denganku.” perintahnya.
“Ah, tapi, Hyung,” dan yang pasti Jungkook menolak.
“Jeon Jung Kook.” panggil Seokjin.
Mau tidak mau, Jungkook pun harus mau. “Arasseo, arasseo.” angguknya.
Dialah sahabatku yang harus pergi
pertama kali. Aku tak sanggup ketika mendengar detail kematiannya dan lebih
memilih untuk menutup telinga. Jika saja ia bisa mendapatkan perhatian seperti
anak-anak pada umumnya, Jungkook pasti takkan begini.
“Hoi, minumanya apa?!” sahut Seokjin dari depan meja order.
“Soda!” sahut Namjun,
“Kopi!” sahut Yoon-gi,
“Teh!” sahut Jimin ―dan ketiganya berbarengan.
“Ya! Kalian sebenarnya mau minum apa, sih?!”
sebal Seokjin, “Hanya boleh satu jenis minuman!!”.
“Ya, sudah, air mineral saja!” sahut Taehyung.
“Wooohh! Dasar!” yang lain pun menimpali candaannya.
Begitu kabur dari rumah, Jungkook
pergi lebih jauh lagi tanpa membawa ponselnya. Dua orang pria tak dikenal
memukulinya karena Jungkook tak sengaja menabraknya. Aku tau, Jungkook mungkin
sudah menyerah akan hidupnya, jadi ia tidak melawan.
Malah, ia berjalan lebih jauh
lagi ke penyeberangan. Di depan sebuah mobil yang melintas kencang, Jungkook
sengaja menjadikan dirinya korban tabrak lari.
“Gamsa hamnida!” ujar Seokjin disusul Jungkook begitu pesanan mereka
sudah siap.
“Makanan datang!!” seru Jungkook senang sembari membantu Seokjin membawakan
semua makanan itu.
Dan mereka berlima menyambutnya dengan senang. Mungkin pada awalnya,
beberapa bungkus kentang goreng itu memang mereka santap bersama, namun,
“Kau mau?” tawar Namjun pada Hoseok, “Ambil saja!” bukannya berbagi
Namjun malah sengaja melempar potongan kentang goreng itu ke arah Hoseok.
Yang lain terkejut. “Hei, tidak sopan!” seru Jimin.
Tapi Hoseok malah melemparinya dengan beberapa potongan kentang goreng,
semua menertawainya. Jimin pun terpancing untuk melakukan hal yang sama.
“Jadi kalian mau bermain, ya?” ujar Jimin, “Rasakan!” dilemparnya
potongan kentang goreng itu ke arah teman-temannya.
Aku begitu terpukul akan
kepergiannya ―sahabatku yang usianya paling muda. Ia masih sekolah dan jalannya
masih panjang. Dalam hati, aku merasa kalau aku telah gagal, aku tak bisa
menjaganya, tak bisa memberinya semangat untuk terus hidup, hingga membuatnya
menyerahkan hidupnya begitu saja.
Jungkook-ah, kenapa kau harus
pergi?
Dan jadilah mereka perang makanan.
“Hoit!” Taehyung dengan sengaja melempari Jungkook dengan kentang goreng
di tangannya itu.
“Kita lihat apa magnae bisa melawan Hyung-nya?” bisik Yoon-gi.
Dan benar saja, tak hanya Taehyung, tapi Jungkook juga melempari semua hyung-nya
dengan kentang goreng. Taehyung pun sampai melarikan diri ke atas meja, Namjun
menyerang dengan lebih banyak kentang goreng, Seokjin hanya menyeruput sodanya,
sementara Yoon-gi hanya menonton aksi gila mereka.
“Haus?” Yoon-gi menawari minuman yang habis diseruputnya itu pada
Namjun.
“Eukh...” dan Namjun menolaknya.
***
[Author POV]
“Klik!” api itu menyala, lantas
disulutnya selembar surat itu hingga terbakar.
“Apa lagi yang kau tunggu?” ujar gadis itu, “Pergilah!!”.
Sakit hati, Jimin kehilangan
kepercayaannya pada gadis yang teramat dicintainya itu. Bahkan gadis itu
membuangnya begitu saja ―seperti sampah yang tak berguna. Gadis itu telah
menipunya selama ini.
Cintanya yang begitu besar, hanya
disia-siakan oleh gadis itu. Kini semua perasaannya pada gadis itu lenyap,
seperti selembaran surat dari gadis itu yang hampir habis terbakar ini.
Berniat mendinginkan pikirannya,
Jimin berendam di bathtub-nya. Dan
kini, surat yang hampir habis terbakar itu dijatuhkannya dengan sengaja ke atas
lantai.
Lelaki itu merenung, sembari
memeluk kedua kakinya. Air mata sudah habis, tak ada lagi yang perlu ditangisi
dan disesali. Dengan perlahan, Jimin memutar kran dan air yang melimpah pun
mengucur dari situ. Tidak, hanya satu kran yang dibukanya ―kran berwarna biru.
Air yang begitu dingin perlahan
memenuhi bathtub-nya, terasa sedingin
hatinya ―gadis itu. Meski Jimin sempat merasa nyaman denganya, namun hati gadis
itu terlalu dingin untuknya.
Sehingga ia merindukan
kehangatan, ia menggigil sekarang. Dinginnya air itu mulai menusuknya, Jimin
mulai tak sanggup.
Maka dengan perlahan, seluruh
tubuhnya memasuki air, termasuk kepalanya. Jimin sengaja menenggelamkan dirinya
sendiri, bahkan ketika ia mulai kehabisan nafas ia sengaja menahan dirinya di
bawah permukaan air, hingga paru-parunya terisi oleh air dan membuatnya
kesulitan bernafas.
***
[Seokjin POV]
Tak lama setelah berita kematian
Jungkook, aku mendengar berita duka lainnya dari sahabatku lagi, Jimin.
Awalnya, polisi menduga kematiannya adalah kasus pembunuhan di mana Jimin
ditenggelamkan di dalam air di bathtub, namun
aku kembali dikejutkan dengan penyelidikan polisi lebih lanjut yang mengatakan
bahwa ini adalah kasus bunuh diri.
“Hei, cepatlah!” sergah Seokjin ketika ia segera masuk ke mobil itu.
“Kau mau ngapain, Hyung?” sahut Jimin ketika Yoon-gi dan Hoseok
sudah masuk duluan ke dalam mobil, “Mau nge-drive?”.
“Jangan cerewet dan masuklah!” kata Hoseok.
Dari penyelidikan yang dilakukan,
polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya, juga tidak ada
barang bukti yang menandakan adanya pelaku dalam kasus ini. Apalagi penemuan
polisi akan sidik jari Jimin di kran bathtub
itu menguatkan dugaan bahwa ini adalah kasus bunuh diri.
Hanya saja, ada selembar surat
yang terbakar di dekat bathtub.
“Ah, dingin sekali.” ujar Taehyung yang tiduran di lapangan luas itu
bersama Namjun.
“Ternyata kalau malam hari, pemandangannya bagus.” ujar Namjun.
“Brrruum! Brruumm!” dari kejauhan terlihat cahaya mendekat. Namjun dan
Taehyung pun segera bangkit dan menemukan bahwa cahaya itu berasal dari mobil
yang Seokjin kendarai.
“Apa? Mau apa kalian?” tantang Namjun pada Seokjin, Yoon-gi, Hoseok, dan
juga Jimin di dalam mobil itu.
Aku tidak lantas percaya begitu
mendengar bahwa JImin tewas karena menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam air
di bathtub-nya. Aku percaya Jimin
takkan melakukan hal sebodoh itu.
Namun, ya ―aku dituntut untuk
percaya. Semua bukti yang polisi berikan padaku itu cukup membuatku tutup mulut
dan harus menerima kenyataan bahwa sahabatku, Jimin, sengaja mengakhiri
hidupnya sendiri karena cintanya yang sia-sia.
“Ayo, Hyung! Lebih cepat!” sahut Hoseok.
Seokjin pun mulai menunjukkan keterampilannya mengendarai mobil ini.
Perlahan-lahan, kecepatan mobil yang mengitari Taehyung dan Namjun itu
bertambah semakin kencang.
Jimin pun memberanikan diri melongokkan sebagian badannya keluar dari
jendela dan mengulurkan tangan. Namjun dengan berani menyentuh tangan itu meski
kecepatan mobilnya sudah sangat kencang.
Park Ji Min, seorang teman yang
usil yang begitu senang bergurau dan bercanda ini ternyata memiliki hati yang
lemah. Karena cintanya yang begitu besar tak mendapat balasan yang setimpal
dari gadis yang dicintainya, Jimin yang biasanya pun menghilang menjadi Jimin
yang lemah.
Aku tak habis pikir sahabatku itu
bisa berubah begitu drastis hanya karena sakit hati. Namun rasa kehilanganku
jauh lebih besar lagi.
Jimin-ah, kenapa kau lakukan itu
dan meninggalkanku?
“Wooohoo!!” seru Hoseok.
“Ini keren!” seruYoon-gi, mereka
bersenang-senang.
“Lebih kencang lagi, Seokjin Hyung!” seru Jimin.
“Brrruuumm!!” Seokjin menambah kecepatan mobilnya lagi. Bukannya takut,
Jimin malah semakin menikmatinya, setengah tubuhnya masih di luar jendela
sementara Namjun masih berani menyambar tangannya.
***
[Author POV]
Setelah permen yang sebelumnya
habis, Namjun merogoh sakunya dan menemukan permen lagi. Ia membuka kemasannya
dan melahap permen bergagang itu lagi.
“Huh, sialan.” gumam Namjun.
Seperti biasa, malam iniia
sendirian menjaga SPBU tempatnya bekerja ini. Tapi ia tak peduli, toh seberapa
keras pun ia bekerja takkan ada yang menghargai usahanya.
Sewaktu sekolah, ia pernah
menjadi juara kelas, namun tak ada yang mengucapkan selamat padanya. Ketika ia
membuat lagu dan dipertunjukannya pada orang-orang, justru karyanya disebut
plagiat. Ketika ia adalah karyawan yang selalu bekerja dengan keras hingga harus
lembur, malah pekerjaannya itu diklaim rekan kerjanya yang lain.
Ia tak pernah dihargai sedikit
pun di mana saja ia berada, kecuali ketika ia bersama keenam sahabatnya yang
lain. Mereka selalu ada untuknya, selalu menyemangatinya, dan saling menghargai
satu sama lain.
Permen adalah benda yang selalu
berhasil menenangkannya. Benda itu diperkenalkan oleh Jungkook pertama kali
ketika bocah itu mengingatkannya untuk tidak menghisap batangan putih itu lagi.
Bocah itu memang sedikit berpikiran dewasa, meski hanya dengan mengatakan kalau
batangan putih itu tidak baik untuk paru-paru dan jantung. Sehingga Namjun
mengganti kebiasaan buruknya itu dengan mengemut permen.
Ya, hanya bersama merekalah
Namjun selalu merasa senang. Tapi tidak untuk saat ini, tidak untuk saat ketika
ia berada di sini ―di tempatnya bekerja ini, sendirian.
“Brruum!” sebuah mobil memasuki
area SPBU, Namjun pun bersiap mengisikan bahan bakar untuknya.
Namjun yang dulu dikenal pekerja
keras kini berubah menjadi orang yang sangat pesimis dan tak bersemangat,
apalagi ketika ia hanya dianggap rendahan oleh orang-orang hingga tak ada lagi
alasannya untuk bekerja keras seperti dirinya yang dulu.
“Tangki full.” ujar si sopir ketus, dan Namjun pun menuruti tanpa banyak
bicara.
Sambil menunggu pengisian bahan
bakarnya selesai, Namjun sesekali mengubah posisi permen di dalam rongga
mulutnya. Permen itu perlahan-lahan mulai menciut.
“Klek!” pengisian full pun selesai, ketika Namjun hendak
menyampaikan berapa nominal Won yang harus si supir bayar,
“Ambil saja kembalianya.” si
supir itu melemparkan dua lembar uang yang lusuh dari celah jendela seperti
sampah.
Namjun termangu melihatnya
―bahkan uang yang bernilai pun seakan tak ada harganya. Dua lembar won itu pun
jatuh ke atas tanah, benar-benar seperti tak ada nilainya lagi ―persis seperti
dirinya.
Dua lembar uang itu mirip seperti
dirinya yang bernilai namun tak ada harganya di mata orang-orang. Sekeras
apapun Namjun bekerja, ia takkan pernah dihargai sedikitpun oleh orang-orang di
sekitarnya.
Namjun hanya menghampiri lembaran
uang itu dan berdiri di depannya. Permen itu pun ditarik keluar dari mulutnya
lalu dibuangnya begitu saja. Namjun malah menggantinya dengan benda yang ada di
dalam saku jaketnya ―batangan putih itu.
Ia menyulut ujung batangannya
dengan api, lalu menghisapnya hingga hampir habis. Dan ketika batanganya sudah
menjadi cukup kecil, dengan api yang masih menyala Namjun sengaja
menjatuhkannya ke atas lembaran uang itu.
Dilihatnya dua lembar uang itu
mulai terbakar, dan Namjun hanya menunduk ―menunggu. “No more dream,” gumamnya,
“no more life.”.
“Boom!!!”.
***
[Seokjin POV]
Tak lama berselang, aku mendengar
berita mengejutkan : SPBU tempat Namjun bekerja meledak dan terbakar.
Kekhawatiranku pun tak salah ketika aku menemukan fakta bahwa ia juga ikut
tewas dalam kejadian ini. Lagi-lagi, aku dipaksa untuk percaya.
“Hei, mau ku tunjukan tempat yang bagus?” tanya Seokjin.
Penyelidikan yang polisi lakukan
cukup memakan waktu yang lama karena SPBU yang menjadi TKP itu hampir habis
terbakar. Namun pada akhirnya, penyelidikan itu membuahkan hasil.
Satu persatu dari mereka memasuki terowongan itu.
“Aku duluan!!” Seokjin pun berlari meninggalkan keenam sahabatnya di
belakang.
Jimin pun mengejar, “Tunggu aku, Hyung!!” disusul Yoon-gi di
belakangnya.
“Ayolah!” ajak Taehyung pada Jungkook ketika yang lainnya sudah berlari
sementara adiknya itu hanya bersantai saja.
Ditemukan putung rokok di dekat
korban satu-satunya itu sehingga memicu meledaknya SPBU ini. Kurangnya saksi
dan tidak adanya CCTV di tempat kejadian membuat polisi kesulitan mengungkap
kebenaran kasus ini. Namun polisi menduga bahwa kasus ini adalah kasus bunuh
diri mengingat tak ada orang lain di SPBU, selain Namjun.
“Eh, coba lihat...” bisik Jimin pada Namjun dan Taehyung.
Hoseok, Yoon-gi, Seokjin dan Jungkook pun baru sampai di dekat cermin
yang terpasang di terowongan itu. “Eh, minggir-minggir!” seru Hoseok yang juga
ingin bercermin.
“Hyung, kelihatannya kau belum cukuran, tuh!” usil
Jungkook.
“Diam kau.” kesal Namjun.
Kim Nam Jun, seseorang yang
pekerja keras di antara kami, juga memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tak
adanya pengakuan dari orang-orang di sekitarnya membuatnya lelah akan hidup.
Di hadapan kami, Namjun bukanlah
orang yang pesimis, justru ia seringkali memimpin kami bertujuh ―padahal aku
yang paling tua di antara mereka semua. Ia punya ide-ide yang briliant dan bakat-bakat luar biasa lainnya,
namun kami tak habis pikir begitu tau tak ada satupun orang yang menghargainya.
Namjun-ah, kenapa kau melakukannya
dan pergi?
Jadilah ketujuh pemuda itu berhadapan pada cermin bundar tersebut ―meski
tak seluruh dari bayangan mereka yang bisa dipantulkan si cermin.
“Kau perlu cuci muka lagi, tuh.” ujar Yoon-gi ketika menyimak
bayangannya Hoseok.
“Minggir sedikit, dong~..” Taehyung berusaha menerobos teman-temannya
dan menjadi yang paling depan.
“Wajahmu aneh.” usil Jungkook lagi.
“Ku bilang, diam kau.” jengkel Namjun.
***
[Author POV]
Kehilangan seseorang yang
disayanginya secara tragis, Yoon-gi baru merasakannya sekarang ―terutama malam
ini. Yoon-gi menoleh ke sampingnya, bagian ranjang yang kosong ―ia merindukan
seseorang yang biasanya selalu di sana.
Tengah malam sudah lewat, namun
Yoon-gi malah bangkit dari ranjangnya. “Klek!” korek api itu dibukanya, lalu
ditutupnya ―itu berulang kali dilakukannya.
Yoon-gi memandangi api yang
menyala itu. “Seberapa pun aku bersedih, aku menangis, aku memohon ―kau takkan
kembali...” ironinya.
Kembali ia merebahkan tubuhnya di
atas ranjang.
“Apa yang harus aku lakukan?”
gumamnya, “Aku hanya ingin bersamamu. Aku membutuhkanmu.”.
Ketika terbesit pikiran itu,
Yoon-gi bangkit.
“Aku―” gumamnya.
Lalu tanpa ragu, Yoon-gi
melangkah keluar. Entah apa yang ia pikirkan ketika ia menghamipri mobilnya itu
dan mengambil cadangan bahan bakar minyak di bagasi belakang mobilnya. Bahkan
Yoon-gi membawa benda berbahaya itu ke kamar motelnya.
Baginya, tak ada jalan lain lagi.
Bahkan tanpa ragu Yoon-gi menyiram setiap sudut kamarnya dengan benda yang
mudah terbakar itu. Dan dengan sengaja, Yoon-gi melempar korek apinya yang
menyala ke sembarang arah hingga kamarnya mulai dipenuhi kobaran api.
Ia mendongak dan menunggu ―hanya
menunggu.
***
[Seokjin POV]
Min Yoon Gi, sahabatku itu juga
harus mengakhiri hidupnya karena merasa begitu kehilangan kekasihnya yang
meninggal dengan cara tragis. Ia membakar kamar motelnya dan dirinya sendiri
menggunakan cadangan bahan bakar minyak yang ia simpan di mobilnya dan sebuah
korek api yang selalu di kamarnya.
Di ujung terowongan sana terlihat sebuah jalan keluar, tepatnya berujung
ke bagian bawah sebuah jembatan besar. Namun sepasang pagar yang terkunci itu
menahan langkah mereka.
Tak kehabisan ide, satu persatu ketujuh pemuda itu melompati pagar.
Setiap kali bersama, Yoon-gi
adalah sosok yang senang bergurau meski agak pemalas. Ia selalu membantuku
mengatasi keusilan teman-teman kami yang lainnya ―terutama Taehyung, Jimin, dan
Jungkook.
Dia adalah teman yang
menyenangkan, tapi kenapa ia juga harus pergi ketika aku sedang berduka?
Yoon-gi-ya, kenapa kau juga
meninggalkanku?
“Ayo!” ajak Hoseok ketika ia, Yoon-gi, dan Jimin sampai di sana.
Namjun pun menyusul di belakang mereka, di bagian yang lebih rendah ada
Seokjin dengan Jungkook di punggungnya, sementara Taehyung mengejar di belakang
keduanya.
***
[Author POV]
Sambil menghela nafas, Taehyung
akhiri lamunannya siang ini. Setelah duduk termangu di dekat pintu
apartemennya, pemuda itu lantas bangkit dan berjalan menuju kediaman Paman dan
Bibinya. Meski enggan, namun hanya merekalah satu-satunya keluarga yang
Taehyung punya.
Dengan rasa bosan dan berat hati,
Taehyung menyusuri jalan yang biasa ia lalui. Sesekali ia berhenti, atau
membunyikan tiang-tiang kecil pada jembatan dengan sebuah ranting, melempar
kaleng yang dibuang di pinggir jalan, atau yang lainnya ―sebenarnya ia enggan.
Bukannya ia tak sayang, hanya
saja ia tak senang akan kepribadian sang Paman yang tempramental. Selama empat
tahun menikah, baru dua tahun belakangan ini kelakuan kasar sang Paman
terlihat.
Taehyung yang sejak tiga tahun
yang lalu tinggal bersama mereka pun menjadi saksi kekerasan sang Paman. Sering
kali Taehyung dapati sang Paman berlaku kasar pada Bibinya ―adik kandung
ayahnya, dan sering kali pula Taehyung melindungi Bibinya itu.
Tak jarang Taehyung pun kena
batunya. Sang Paman bahkan tak ragu memukul keponakannya sendiri. Bahkan jika
Taehyung tak menahan kesabarannya, ia bisa saja membalas kejahatan Pamannya itu
―namun Bibinya selalu menenangkannya.
Paman dan Bibinya memang pasangan
muda, baru empat tahun menikah pula. Namun semua itu tak membuat Taehyung
memakluminya.
Seperti saat ini, “Dasar sialan!”
bahkan lima langkah sebelum ia sampai di kamar Bibinya, Taehyung bisa mendengar
keributan itu lagi.
Rumah ini berantakan seperti
biasa, dengan jejeran botol soju kosong
di atas meja dekat kamar Bibi. Dan takkan heran jika kau bisa mendengar suara
keras sang Paman begitu datang.
“Apa kau tuli?! Ha?!” geraman
Paman terdengar.
Dan ketika Taehyung memandang
dari celah pintu kamar, ia menemukan Pamannya memukul istrinya sendiri dengan
kasar.
“Kau memang payah!” makinya,
sembari menarik rambut Bibi hingga hampir jatuh.
Tidak, Taehyung tak tahan lagi.
Dengan emosi mendidih, diraihnya botol soju
kosong itu dari atas meja. Ia menyeruak ke dalam ruangan sambil memecahkan
ujung botol itu pada dinding kemudian.
Lantas dicengkeramnya sang Paman
dan dipojokkannya pada jendela berteralis itu, dan tanpa ragu, “Dukk!!” ia
memukul kepala sang Paman dengan botol di tangannya.
Setelah berteriak ngeri, Bibinya
hanya termangu melihat suami dan keponakannya sekarang mulai beradu tatap.
Didapatinya keponakannya itu menggeram.
“Memang benar,” ucap Taehyung,
“memang benar apa kata Ayah ―kau sebenarnya tak pantas untuk Imo.” katanya.
Masih bertahan dengan luka di
kepala, sang Paman hanya menatap keponakannya.
“Rupanya restu Ayah yang tak
pernah diberikan beliau untuk kalian memang beralasan.” Taehyung mendekat
dengan pecahan botol kaca itu, “Kau bahkan tak menganggap Imo-ku seperti manusia!!”.
“Memangnya kau tau apa, bocah?!”
geram sang Paman tak mau kalah, “Kau cuma anak kecil yang tidak tau apa-apa!!”.
“Yeobo,” panggil Bibi.
“Kau bahkan tak menganggapku
seperti keponakanmu.” geger Taehyung, “Kau bahkan tak berperasaan!!”.
“Taehyung-ah, hentikan,” ngeri si
Bibi.
“Itu bukan urusanmu! Bukan
urusanmu mencampuri masalah rumah tangga Paman dan BIbimu!!” kata Paman.
“Aku takkan membiarkan kau
menyiksa Imo-ku!!” dengan geram
Taehyung mendekat, dan tanpa kendali memberi Pamannya pelajaran,
“Jerb! Jerb!” dengan menikamnya
berkali-kali.
“Kim Tae Hyung!!!” getir Bibinya
ngeri.
Namun Taehyung tetap tak
mendengar, ia seperti dirasuki sesuatu yang membutakan mata dan hatinya,
menutup telinganya bahkan sekeras apapun Bibinya berseru ia pun takkan
mendengarkan.
“Jerb! Jerb!” tangannya tak
berhenti menikam.
“Taehyung! Hentikan! Dia
Pamanmu!!” seru Bibi.
“Kau takkan pernah tau rasanya!!”
geram Taehyung sekali lagi, “Dasar tak berperasaan!!” ia masih menikam Pamannya
sendiri hingga akhirnya,
“Kim Tae Hyung!!” sang Bibi menariknya
menjauh.
“Hosh, hosh,” terengah seperti
setan yang merasuki keluar dari tubuhnya, Taehyung baru tersadar akan apa yang telah
diperbuatnya.
Pamannya yang bersimbah darah itu
terperosok jatuh sambil menahan nyeri pada luka tikamannya tadi. Kaos putih
yang dikenakannya pun berbercak merah, sama seperti kaos yang Pamannya kenakan.
“A, a, apa yang,” Taehyung
terperangah ketika ia baru sadar ―bahwa ia telah menikam Pamannya sendiri.
“Trang.” pecahan botol yang juga
ikut berbercak darah itu pun jatuh dari genggaman Taehyung yang gemetar. Dengan
nanar, ia menyaksikan Pamannya mulai hilang kesadaran.
“Apa yang telah ku lakukan?!”
ngeri Taehyung.
Ia menabrak dinding, terperosok
jatuh, dan menangis sejadi-jadinya. Taehyung mengutuk dirinya sendiri sebagai
orang yang jahat, bahkan lebih jahat dari Pamannya yang tempramen itu.
“Tidak!!” teriaknya, “Aku tidak
melakukannya!!”.
Dalam waktu yang begitu singkat,
Taehyung merasa begitu terbebani akan apa yang baru saja dilakukannya.
Menyadari akan hal itu, sang Bibi mulai menenangkannya lagi.
“Taehyung, tenanglah,” ujar sang
Bibi ketika tangisan Taehyung mulai mereda, “tenanglah.” ujarnya dengan nada
bergetar.
“Aku, aku,” Taehyung mengatur
nafasnya yang tersendat, “aku tidak,”.
Sengal nafasnya terdengar jelas,
namun pikirannya belum tenang benar. Tak sengaja Taehyung menatap pecahan botol
kaca itu di dekatnya, dan terlintas sesuatu dalam benaknya.
“Tidak,” gumam Bibi, “tidak,
Taehyung-ah! Tidak!” serunya pada Taehyung.
Pikirannya yang menyempit seakan
membuatnya kembali dirasuki makhluk aneh lainnya lagi, maka dengan tergesa
Taehyung merebut pecahan botol kaca itu dari atas lantai.
“Jangan!” seru Bibi, “Kim Tae
Hyung!!”.
“Jerb!”.
***
[Seokjin POV]
Seakan tak memberiku kesempatan
untuk bernafas, esok paginya ku dengar berita duka kembali : kematian Taehyung
yang sangat tragis.
Di sana, mereka melihat sebuah piano tua usang tak terpakai, di dekatnya
ada beberapa kursi mobil dan sofa rusak. Dengan tak sabar, Jungkook pun
menghampiri piano itu dan memainkannya.
Tak ingin alunan musiknya hanya mengalir begitu saja, mereka pun
menyalakan kembang api yang sudah mereka siapkan di sana.
“Woohoo! Feel that baby!” seru Namjun ketika mereka berenam menikmati
musik yang mengalun.
Taehyung menjadi yatim piatu
sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya ketika sang Ibu akhirnya meninggal dunia
setelah setahun kematian sang Ayah. Orangtua Taehyung meninggal akibat sakit.
Karena tak memiliki keluarga
terdekat selain Paman dan Bibinya di Seoul, Taehyung pun akhirnya tinggal
bersama mereka ―Paman dan Bibinya. Awalnya, Taehyung merasa baik-baik saja,
namun setahun kemudian terlihatlah perilaku asli dari Pamannya.
Permasalahan rumah tangga pasti
selalu menghampiri setiap pasangan suami-istri, termasuk pasangan muda ini
―Paman dan Bibi Taehyung. Namun waktu yang membuat sifat asli sang Paman mulai
terlihat.
Beliau sering kali berperilaku
kasar pada istrinya, Taehyung pun tak tinggal diam ketika Bibinya itu
diperlakukan kasar oleh Pamannya. Namun Taehyung sering ikut jadi korbannya.
Seperti alunan piano yang Jungkook mainkan, waktu pun mengalun pelan
hingga tak terasa malam pun semakin larut. Namun hal itu tak ada bedanya bagi
ketujuh pemuda ini.
“Yeah!” seru Jimin.
Mereka justru makin menikmati asyiknya malam bersama-sama.
Kim Tae Hyung, seorang sahabat
dengan keusilan dan ide gila tanpa batas, tak pernah sekali pun memukul orang.
Sehingga tak heran setelah menikam Pamannya sendiri, Taehyung berubah tertekan
dan frustasi dalam waktu yang sangat singkat.
Menurut kesaksian Bibinya
Taehyung, sahabatku itu menangis dan meraung menyesali perbuatannya sendiri.
Meski beliau sudah mencoba menenangkannya, namun tanpa terduga Taehyung yang
frustasi itu segera meraih pecahan botol kaca ―yang sempat digunakanya untuk
menusuk Pamannya― tersebut dan menikam dirinya sendiri.
Setelah keduanya dilarikan ke
rumah sakit, hanya nyawa sang Paman lah yang tertolong, sementara Taehyung tak
sanggup bertahan dan meninggal dunia kemudian.
Taehyung-ah, kenapa kau juga
harus pergi?
Kembang api sudah habis, deretan lagu pun sudah berakhir, larutnya malam
tak membuat mereka kehabisan ide.
“Kemari!” ajak Taehyung pada
Hoseok, rupanya ia mengajak pemuda itu bermain-main dengan bayangan yang
dibuatnya.
“Uwwah!” seru Hoseok berpura-pura seperti kena pukulan bayangan Taehyung
itu.
“Hoi!!” panggil Jimin, Hoseok dan Taehyung pun menoleh, “Kemari!” di
dekatnya terlihat Namjun dan Seokjin yang bekerja sama menyalakan api unggun.
***
[Author POV]
Dengan sedikit kantuk, Hoseok
merenungi nasibya sendiri di depan cermin. Berita-berita miring itu kini
perlahan mulai berganti menjadi berita suka cita bagi orang lain.
“Apakah Anda sendiri tidak tau di mana keberadaan Ayah Anda sendiri?”
ujar salah seorang reporter itu.
“Ayahmu telah membunuh suamiku!!”.
Hoseok yang seorang piatu harus
menanggung akibat dari itu semua.
Sang Ayah yang merupakan seorang
komandan pemadam kebakaran diberitakan telah meninggal dunia setelah sebelumnya
disebut menghilang.
Ceritanya panjang.
Bersama beberapa tim pemadam
kebakaran lainnya, tim pemadam kebarakan yang Ayahnya pimpin mendatangi sebuah
pabrik yang terbakar. Seorang mandor dari karyawan di pabrik itu meminta pada
mereka untuk menyelamatkan dua orang karyawannya yang masih di dalam sana. Dan
dengan sigap Ayah Hoseok memimpin timnya memasuki gedung pabrik yang sesekali
mengeluarkan ledakan itu.
Namun rupanya dua karyawan yang
dimaksud sudah berada di luar gedung ketika Ayah Hoseok dan timnya memasuki
gedung. Hingga tak lama berselang, sebuah ledakan hebat menewaskan mereka.
Setelah api padam, polisi
berdatangan. Jasad para petugas pemadam kebakaran itu pun ditemukan kecuali
satu, sang Komandan ―Ayahnya Hoseok.
Setelah mendengar berita, Hoseok
pun mendatangi rumah sakit yang dimaksud sendirian. Di sana, keluarga yang
berduka pun berkumpul, mereka pun memandangi Hoseok dengan tatapan yang aneh.
Di ruang tunggu, seorang polisi
menghampiri Hoseok, “Kami tidak menemukan jasad Komandan Jung,” ujarnya, “ada
kemungkinan besar bahwa beliau selamat.”.
Berita baik itu sayangnya tak
membuat Hoseok tersenyum lebih lama begitu ia mendengar hujatan keluarga dari
petugas pemadam kebakaran yang tewas itu.
“Kau senang mendengar Ayahmu
selamat?!” maki seorang nenek, “Kau senang ia selamat, sementara anakku mati?!”.
Tak hanya menerima makian, Hoseok
menerima tatapan yang menghujamnya.
“Ayahmu telah membunuh suamiku!!”
seru seorang Ibu yang datang bersama ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.
Hoseok bahkan tak sanggup berkata
apapun, apalagi mendengar kesaksian si mandor pabrik yang mengatakan bahwa si
Komandan yang memaksakan diri dan timnya untuk memasuki gedung pabrik yang
sudah terbakar itu.
“Tidak! Ayahku tidak mungkin
bertindak gegabah begitu!” Hoseok tak mempercayainya, ia mengenal dengan baik
Ayahnya sendiri, ia tau persis bagaimana Ayahnya berpikir sebelum bertindak.
Berita ini begitu menggemparkan
masyarakat Korea dan menjadi berita besar selama berhari-hari. Dan selama itu
pulalah, Hoseok dikucilkan dari masyarakat.
Di kampus, teman-teman bahkan dosen
sekalipun tak ada yang mau mendekatinya. Sementara wartawan dan awak media terus
berdatangan ke rumahnya setiap hari. Bahkan tak satupun tetangga yang berniat
menolongnya, malah ikut menghujatnya dan Ayahnya yang menghilang.
Karena itu, Hoseok sengaja tak
meminum obatnya dan membiarkan hypersomnia-nya
kambuh selama beberapa hari, sehingga ia tak perlu keluar rumah karena kantuk
parah yang membuatnya tidur berkepanjangan.
Namun kelainannya itu memang tak
pernah membawa kebaikan. Justru karena kambuhnya, Hoseok selalu merasa lemas
dan pusing. Ia pun mulai meminum obatnya lagi meski tidak teratur ―asalkan ia
tidak terlalu banyak tidur.
Beberapa hari mengucilkan diri di
rumah sendiri, akhirnya Hoseok mendapat kabar bahwa polisi telah menemukan
jasad sang Komandan terlempar agak jauh dari gedung yang terbakar dan tertimbun
reruntuhan bangunan ―beliau rupanya juga tewas.
Hoseok yang tertekan itu pun dibuat
berduka lebih dalam lagi mendengar kematian sang Ayah. Justru berita duka ini
malah menjadi berita baik bagi keluarga para petugas yang tewas dan juga
masyarakat luas ―ironi.
Dalam kepedihan yang mendalam,
Hoseok berduka seorang diri ―kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang
dimilikinya dan sosok seorang pemimpin yang bijaksana. Kau mungkin takkan
pernah tau rasanya menjadi dia.
Hoseok yang masih dalam keadaan
berduka itu mulai terserang hypersomnia-nya
lagi, tapi kali ini tanggapannya berbeda ―ia tak ingin tidur dan terlelap dalam
buaian mimpi. Jadi sekarang, ia di sini, di kamar mandinya.
Ia memandang nanar bayangannya
pada cermin, ia frustasi dan ia tidak mau tidur ―ia hanya ingin menyendiri. Ia
memang sendiri, ia memang tak sanggup menanggung beban yang begitu berat ini
sendirian.
Hoseok menggeser cerminnya dan
terlihatlah beberapa obat di belakang cerminnya itu. Dengan sedikit rasa
kantuk, Hoseok mengambil botol obatnya ―masih ada beberapa kaplet di dalamnya.
Setelah membukanya, Hoseok
sengaja menuangnya ke atas tangannya, namun beberapa jatuh ke air di dalam wash basin dan kebanyakan tinggal di
atas tangannya yang menengadah.
Tanpa peduli seberapa banyak,
Hoseok segera menelan semua kaplet yang ada di dalam lekukan tangannya itu ―ia
hanya tak ingin tertidur.
Lantas Hoseok yang semakin lemah
baik fisik maupun psikisnya itu berjalan keluar rumah di siang bolong begini.
Ia hanya ingin berjalan jauh, sejauh yang ia bisa.
Teriknya matahari begitu terasa
ketika Hoseok berjalan di pinggiran jembatan itu, namun ia tak peduli ―ia hanya
ingin berjalan sejauh mungkin. Meski begitu, tubuhnya tak begitu kuat.
“Bruk!” Hoseok yang mulai
kehilangan tenaga pun akhirnya jatuh di atas aspal itu, kakinya melemas,
pikirannya tak jelas, pandangannya kabur. Mungkin panasnya matahari membuat
energinya menguap ―tapi sebenarnya bukan.
“Apa aku akan tertidur di sini?”
gumam Hoseok yang hampir hilang kesadaran, ia dapati dirinya sudah tersungkur
di atas aspal, “Kalau begitu, sampai kapan aku akan tertidur...?”.
***
[Seokjin POV]
Terakhir, setelah terjerat rasa
duka yang datang tanpa henti, aku mendengar berita duka terakhir ―dan aku harap
memang begitu.
Setelah beberapa hari tak bisa
menemuinya, akhirnya ku temukan kabar bahwa Hoseok meninggal karena overdosis.
“Whoomm!!” api itu membesar ketika Namjun melempar sesuatu ke dalamnya.
“Wuahh!” beberapa dari ketujuh pemuda itu terlonjak kaget.
Diduga karena frustasi atas
pemberitaan miring tentang Ayahnya dan sang Ayah akhirnyaditemukan meninggal,
Hoseok memilih menyusul Ayahnya dengan meminum obatnya dalam dosis berlebih.
Sejak remaja, Hoseok memang
menderita hypersomnia, di mana
penderitanya akan merasakan kantuk luar biasa sehingga si penderita akan tidur
dalam waktu yang cukup panjang ―bisa sampai 20 jam― namun tidak terasa nyenyak
dan bangun dengan kondisi tubuh yang kurang fit. Karena itu, Hoseok selalu
meminum obat yang dokter berikan tiap kali kantuk tak wajar itu datang, dengan
begitu rasa kantuknya akan berkurang.
Tetapi, hypersomnia bukanlah keinginannya. Hoseok bahkan pernah berharap di
depan kami, bahwa ia ingin hidup tanpa kelainan aneh itu.
“Aku ingin hidup,” Hoseok tersenyum pahit, “tanpa dirimu.”.
Lantas dikeluarkannya botol obat itu dari saku jaketnya, Hoseok membuka
tutupnya dan menjatuhkan tiap-tiap kaplet di dalamnya ke atas api.
“Aku harap, aku bisa hidup tanpamu.” ujarnya lagi memandangi kapletnya
itu jatuh ke dalam api.
Hoseok hanya tinggal bersama
Ayahnya yang seorang pemimpin dari tim pemadam kebakaran ―sementara Ibunya
sudah lama meninggal. Ayah Hoseok dipilih sebagai pemimpin karena bakat leadership-nya yang tinggi dan mampu
memutuskan dengan bijak.
Sebelum menghilang dari hadapan
kami, Hoseok mengatakan pada kami tentang kesaksian si mandor pabrik itu.
Hoseok paham betul bagaimana Ayahnya akan bertindak, beliau pasti takkan
memaksakan diri jika memang di dalam gedung sana tidak ada korban yang terjebak
api. Jadi bagi Hoseok, si mandor itu hanya mengajukan kesaksian palsu.
“Rasakan! Rasakan!” Hoseok berusaha mengusili Jimin yang duduk di
sampingnya.
Namun Jimin berhasil menangkis semua serangannya, “Tidak kena, hueek!”
ledeknya.
Setelah itu, Hoseok menghilang
dari hadapan kami. Pernah kami datangi kediamannya sewaktu berita itu masih
menjadi perbincangan hangat, namun rumah tempatnya tinggal seakan tertutupi
kerumunan para awak media yang tidak tau diri ―mereka hanya ingin mengais
penderitaan Hoseok.
Bahkan sampai kami mendengar
berita duka tentang kematian Ayahnya, Hoseok tak juga bisa kami temui. Hingga
beberapa hari kemudian, ku dengar ia meninggal.
“Kau bilang apa tadi?!” kesal Namjun, “Katakan sekali lagi! Ayo
katakan!!” katanya sambil menggelitiki Taehyung yang sempat mengusilinya.
“Hahaha! Ampun!” Taehyung tertawa geli.
“Katakan, ayo katakan?!” Namjun masih mengintrogasinya dengan cara yang
lucu.
Tapi memang dasarnya usil, “Haha! Gak mau! Haha!” Taehyung masih iseng
meski Namjun sudah menggelitikinya tanpa ampun.
Jung Ho Seok, seorang teman yang
konyol dan lucu, harus mengakhiri hidupnya setelah masyarakat luas perlahan
menekannya dengan kesaksian palsu. Hoseok tak hanya kehilangan sang Ayah,
tetapi ia juga harus kehilangan perhatian dari orang-orang di sekitarnya,
menanggung banyak hujatan dari masyarakat dan tekanan dari awak media.
Kau bisa bayangkan tragisnya jadi
Hoseok?
Ketidakadilan dan fitnah lah yang
membuatnya begini! Mereka hanya orang-orang tak berperasaan yang tidak tau
bagaimana rasanya jadi Hoseok! Namun, aku lebih bersedih lagi, karena pada
akhirnya aku kehilangan keenam sahabat baikku dalam waktu yang begitu singkat
dan hampir bersamaan.
Hoseok-ah, kenapa kau juga harus
meninggalkanku?
“Oh, ya?” ujar Jungkook, mulai tak jelas.
Perlahan-lahan, sambil mengobrol, balutan selimut itu mulai naik.
Dinginnya malam pun mengantar mereka tidur, sementara hangatnya api membantu
mereka terlelap.
“Kau takkan pernah tau kalau belum mencoba.” tiba-tiba Yoon-gi berubah
bijak.
“Hei, hei, jangan bergurau.” sahut Namjun.
Tanpa sadar, Jungkook pun tertidur pulas di atas tanah sambil bersandar
pada sofa tua yang Hoseok dan Seokjin tempati. Jimin pun menyusul yang kemudian
terlelap di atas pangkuan Yoon-gi.
Setelah menguap, Taehyung pun mulai memejamkan mata. Yang awalnya ikut
mengobrol, Hoseok pun akhirnya jatuh tertidur sambil bersandar pada Seokjin.
“Kau benar.” kata Seokjin, tanpa sadar Yoon-gi sudah tertidur ketika ia
dan Namjun mengobrol.
Menyadari yang lainnya sudah tertidur, Namjun dan Seokjin pun akhirnya
ikut melelapkan diri dalam mimpi. Dan mereka bertujuh akhirnya menghabiskan euforia-nya
malam di sini.
***
“Sreekk!” ku buka tirai putih
itu. Ku pandangi cerahnya matahari dari balik jendela kamarku. Dan ketika ku
memandang langit, aku terdiam.
Tunggu aku.
Lagi-lagi, aku termangu di
pinggiran ranjangku. Keenam kelopak lili ini masih bertengger di atas tanganku.
Aku lantas meletakan mereka di atas lantai, mengisyaratkan rasa duka yang
mendalam atas kepergian keenam sahabat baikku.
Sebagai simbol kepergian mereka,
ku sulut kelopak-kelopak itu dengan api dan membiarkan mereka lenyap karena
terbakar. Keenam sahabat yang sangat berharga buatku itu harus pergi
meninggalkanku begitu saja, persis seperti keenam kelopak lili yang terbakar
ini.
Kembali aku meringkuk di atas
ranjang, air mataku habis menangisi kepergian mereka. Namun kesedihanku tak
berujung.
Merekalah sahabat yang ku punya.
Kematian memang bukanlah keinginan mereka namun keadaan yang memaksakan.
Perlahan, aku merasa lemas,
seiring kamarku dipenuh gas yang dikeluarkan kelopak lili yang terbakar itu.
Tapi aku tak bertindak apa-apa dan membiarkan mereka memenuhi paru-paruku.
Seperti diserang rasa kantuk, mataku tak mampu bertahan menganga.
Tapi tak peduli selama apapun
itu, biarkan aku menutup mataku.
***
[Author POV]
Semilir angin menemani suasana
pelabuhan yang sepi ini, beberapa camar terbang ke sana ke mari. Suara
ombak-ombak kecil seakan menemani kicauan para camar sehingga membuat simfoni
yang indah.
“Hap!”.
“Tap, tap, tap.”.
Awalnya, hanya Jungkook yang
memecah keheningan dengan menaiki pagar pembatas dan berjalan di atasnya sambil
berusaha keras menjaga keseimbangan.
“Wooooiii!!” seru Jimin.
“Hahaha!!” Yoon-gi berlari lebih
dulu dari mereka.
“Aku duluan!!” Taehyung membalap
secepat kilat.
Dari arah yang sama, munculah
Yoon-gi, Seokjin, Jimin, Hoseok, Taehyung dan Namjun berlari-larian ke ujung
pelabuhan.
“Jungkook-ah, ayo!” ajak Namjun
pada Jungkook yang kemudian turun dan ikut berlari bersama mereka.
“Woah! Lihat di ujung sana!” seru
Jungkook.
“Seokjin Hyung!” Hoseok pun akhirnya sampai di samping Seokjin.
Hampir sampai di ujung pelabuhan,
mereka memilih berjalan santai dengan Jungkook memimpin di depan, disusul
Yoon-gi, Seokjin, Jimin ―yang mulai berlari, Hoseok, Namjun, dan Taehyung.
“Lihat di sana!!” seru Jimin bak
bocah.
Mereka berkumpul di ujung sana
sambil memandang laut lepas.
“Woohoo!!” seru Hoseok, “Bukankah
ini menyenangkan?!”.
“Hei, apa yang kau lihat?” tanya
Seokjin pada Jungkook yang berusaha memandang ke ujung lautan.
“Aku menunggu kapal lewat.” ujar
Jungkook, “Aku menunggu ada sesuatu yang lewat, seperti kapal, perahu, atau
feri.”.
Mendengar pernyataan lugu itu,
Seokjin tersenyum, “Kau polos sekali.” katanya, “Mereka takkan lewat.”.
Jungkook terkejut, “Memangnya
kenapa?” ditatapnya Seokjin.
“Di sini takkan ada kapal,
perahu, apalagi feri.” kata Seokjin, “Di sini hanya ada kita bertujuh ―tak ada
siapa-siapa lagi.” lanjutnya, “Di sini, kita bebas untuk bahagia. Semua rasa
sakit terbalaskan di sini.”.
Masih ditatapnya Seokjin. “Jinjja?” tanya Jungkook senang.
Namun Seokjin malah mengacak-acak
rambut Jungkook. “Sudah, bersenang-senanglah.” hanya itu yang dikatakannya.
“Yeeahh!!” teriak Taehyung.
“Kami di sini!!” seru Namjun,
“Kami bersama-sama!!”.
“Selamanya!!” tambah Yoon-gi.
Ombak itu, langit itu, lautan itu
―tempat ini milik mereka. Di sinilah mereka ditempatkan, di sinilah mereka
bebas, di sinilah semua penderitaan berakhir, di sinilah mereka bahagia tanpa
akhir.
Tak ada lagi tekanan, tak ada
lagi makian, tak ada lagi hujatan, tak ada lagi penderitaan, tak ada lagi
kesedihan ―semua itu tak ada. Mereka di sini untuk bersama-sama, untuk
merasakan apa yang harusnya mereka dapatkan.
Di sini, mereka takkan jatuh.
*END*
A letter from Author...
Ottae? Gimana pendapat kalian
tentang FF buatan Near yang terinspirasi dari music video BTS – I NEED U??
Oya, sedikit note. Ceritanya Hoseok yang bikin dia frustasi dan akhirnya bunuh
diri itu sebenarnya Near ambil inspirasinya dari drama Pinnochio ―kasih tau aja
sebelum ada salah paham. Jadi, jangan tuduh Near yang macem-macem, lho, ya!^^
Near juga sedikit men-sensor benda yang dibawa Namjun, yang
kemudian dia jatuhkan ke atas lembaran uang itu di SPBU. Hehehe, kalau terlalu
frontal, kan, gawat ―bisa-bisa rating-nya
jadi +30 loh??
Bagi Reader-deul yang sudah baca,
jangan lupa tinggalkan komentar yang membangun, ya! Yaksok, lho, ya ―alias janji, ya!^^
Dan gak lupa, mohon support-nya buat Near ―dan juga buat BTS!!
Author
Near


