[FF] The Story of Love!
The Story of Love!
The Story of Love! teaser
Author : Near
Genre : Songfic, MVfic
(?), Life, Sad-Romance
Cast : VIXX6
Their stories of love...
Enam laki-laki yang berbeda,
dengan kehidupan dan cerita cinta yang berbeda namun sama-sama mengalami putus
cinta. Aku datang membawa cerita mereka berenam di sini.
Mari kita mulai dari yang paling
pertama, seorang fotografer handal bernama Lee Hong Bin.
***
Putus?
“Oh? Jadi kau kembali?” tanya gadis itu ketus ketika Hongbin menepati
janjinya untuk mengajaknya makan malam.
“Ngh...” Hongbin gusar.
Kalimat-kalimat itu menghenyaknya hingga terbangun dan tersadar bahwa susunan
kata itu bukanlah mimpi ―namun hanya ingatan yang menghantui.
“Mianhaeyo.” pinta Hongbin sekali lagi.
“Kau pikir sudah berapa kali aku mendengar permintaan maafmu itu?”
jengkel gadis itu, “Sekarang, jawab aku,”.
Hongbin memaksa matanya untuk
menganga ―berguling berapa kali pun takkan membuatnya terlelap kembali. Dan
kenangan itu menghantuinya. Masih dengan kepala yang menempel pada bantal,
Hongbin terdiam.
Termangu.
Hongbin terhentak ketika mendengar pertanyaannya.
“..., kau pilih aku..., atau pekerjaanmu...?” tanya gadis itu tegas
sambil menatap lelakinya lekat-lekat.
“Heuaam~...” dengan terpaksa ia
akhiri hibernasi semalamnya ini. Tetapi, mengawali hari dengan mood seperti ini? Tentu bukanlah hal
mudah.
Sehingga Hongbin kembali termangu
begitu ia duduk di atas kasurnya.
Pertanyaan macam apa itu? Itu adalah pertanyaan tersulit dalam seumur
hidupnya ―yang bahkan lebih sulit dari soal matematika yang jawabannya bisa kau
temukan dengan rumus atau formula.
Formula?
Bangun, lalu bercermin, itu yang
ia lakukan sekarang ―ia menyadari betapa berantakannya dia. Namun ketika
memandangi bayangannya di sana, Hongbin menemukannya ―formula. Berbagai coretan
tangan seperti kutipan dan rumus yang ia buat. Sekali lagi, ia resapi coretan
tangannya itu.
“Rumus?” katanya, ditatapnya
bayangan pada cermin itu.
“Mwo?” Hongbin kebingungan ―apa yang harus dijawabnya?
Ia tau persis apa yang akan terjadi jika ia menjawab salah satu di
antaranya ―ia harus meninggalkannya. Namun Hongbin menimbang-nimbang kemudian.
Haruskah ia egois sekarang? Tapi tidak, ini sudah menjadi apa yang telah
mereka sumpahkan untuk saling mengerti ―dan gadis itu melanggarnya.
Setelah dipikir-pikir lagi, rasanya ia tau harus menjawab apa. “Mian.”
jawab Hongbin kemudian.
“U + ME = LOVE”
“MEET -> KNOW -> LOVE”
“LIFE
+ laughter x love – hate
=
HAPPINESS”
Hongbin segera merebut spidol
putih permanen dari lacinya, lantas menambahkan beberapa coretan. Salah satunya
di bawah kata ‘love’ di rumus “MEET -> KNOW -> LOVE” itu.
“
->LOVE”
“ ―believe
+ missunderstanding
= FAREWELL”
Gadis itu tercekat ketika Hongbin jelas-jelas memilih karirnya. Dengan
gusar, gadis itu bangkit dan menyambar gelas di dekatnya.
Seakan mengungkapkan perpisahan, gadis itu menyiram lelaki di hadapannya
dengan air di gelasnya sebelum akhirnya ia pergi begitu saja.
Setelah puas dengan
coret-coretannya itu, Hongbin merebut Canon-nya dari atas meja. Ia mengatur
posisi, angle, zoom, dan fokus agar gambar yang didapatnya terabadikan sempurna.
“Klik! Klik!” dan rumus baru itu tersimpan dengan nilai artistik yang lebih
tinggi di kameranya.
Hongbin tersenyum puas, “Ini baru
namanya hidup.” gumamnya.
Ah, sial, gerutu Hongbin. “Aku harus stay cool begitu pulang.”
gumamnya.
Buku, kacamata, surat, kamera,
semua benda yang mengingatkannya akan gadis itu dimasukkannya ke dalam kotak
tersebut. Dan ketika benda terakhir itu masuk, Hongbin memandanginya ―sebuah
pigura dengan sosok dirinya dan gadisnya di situ. Ah, ia jadi mengenangnya
lagi.
Tidak, ia harus melupakannya!
Jadi Hongbin segera memasukkan pigura itu ke kotak tersebut dan membuangnya
jauh-jauh.
“Klek!” begitu jendela terbuka,
Hongbin bisa merasakan angin yang menabrak wajahnya. Hm, menenangkan.
Lalu dengan sengaja, si
fotografer itu mengabadikan pemandangan di depan rumahnya ini. Dalam hati, ia
berujar, “Akhirnya, aku bisa menikmati
hidupku tanpa perlu memikirkannya.”.
***
Jaehwan’s Story of love...
Putus?
“Aku...,” didapatinya gadis itu menangis.
“Yak! Seperti itu!!” seru Jaehwan
ketika karakter yang dimainkannya berhasil melakukan pukulan combo.
“Nice kick!” ujar suara
dalam permainan itu.
“aku harus pindah ke Inggris...” gadis itu sesenggukan, “Keluargaku akan
tinggal di Eropa karena perusahaan menugaskan Ayahku ke sana.”.
Tangan itu mengepal.
“Aish, sialan!” gerutu Jaehwan ketika mobilnya harus dibalap lagi
dalam permainan itu. Saatnya untuk mengeluarkan jurus andalannya.
Jaehwan lantar merubuhkan dirinya
ke atas sofa ketika joystick-nya itu
memerintahkan mobilnya untuk tetap melaju kencang.
“Haha! Rasakan, dasar pengecut!”
Jaehwan menyambar cheeseball di atas
mejanya ketika mobilnya sudah melampaui semua mobil ―bahkan mobilnya sudah satu
lap di depan mobil-mobil yang lain.
Matanya tetap fokus pada layar
ketika tangan Jaehwan menyambar joystick yang
satunya di atas meja.
“Tinggal dua lap lagi, setelah ini bermainlah!” ajak Jaehwan dengan hati gembira
sambil menyodorkan joystick itu pada
gadis di sampingnya.
Anehnya, joystick itu masih bertengger di tangannya, bahkan sahutan gadis
itu pun tak terdengar. Akhirnya Jaehwan tersadar ketika ia menoleh,
“Waeyo? Kau sedang gak mood,”.
Gadis itu bukanlah gadis lemah yang hanya bisa menangis, ia adalah gadis
periang yang hyperactive dan pantang menyerah.
“Mianhae...” namun di saat ia harus berpisah dengan
lelaki yang teramat dicintainya, ia memang hanya bisa menangis.
Dan Jaehwan membenci air mata itu yang mengalir di pipinya.
“Deo mianhae.” sendu gadis itu, “Justru di saat seperti
ini aku tak bisa apa-apa dan hanya bisa menangis ―ini semua di luar
keinginanku. Aku hanya gadis yang tidak bisa apa-apa. Mian, aku telah membuatmu ke―”.
Ucapan itu terhenti ketika Jaehwan sengaja mengecup bibir itu agar
pemiliknya menutup mulut dan tidak menyebutkan hal-hal yang harusnya tak
disesalinya. Jaehwan tak ingin mendengarnya, tak ingin melihat air matanya ―itu
menyakitkan hatinya.
“..., main...?” iatersentak menyadari
bahwa ia hanya seorang diri di ruangan gelap ini. Artinya, gadis itu memang
tidak ada di sisinya sedari tadi ―karena gadis itu telah pergi berhari-hari
yang lalu.
Intinya, Jaehwan hanya sendirian.
Perasaan sedihnya menyeruak
ketika ia mengenang gadis itu. Mereka punya banyak kesamaan, dari musik,
makanan, kebiasaan, dan salah satunya game.
Mereka sama-sama menyukai game. Game adalah
satu-satunya solusi ketika mereka sedang malas dating keluar.
“Berhentilah menyesal ―dasar payah.” bisik Jaehwan, “Kau pikir ini
salahmu? Kau pikir ini kemauanmu? Lalu untuk apa kau menyesal ―dasar payah.”.
Gadis itu tersenyum pahit, “Aku akan merindukan itu ―dasar bodoh.”
katanya, air matanya jatuh lagi. “Aku akan merindukan kekonyolanmu, bodoh.”.
Lantas mereka melakukannya lagi meski terasa pahit. Mungkin ini akan
jadi ciuman terakhir sebelum akhirnya mereka benar-benar terpisah.
Namun game ini mengingatkan Jaehwan akan kisah cintanya yang manis tapi
harus berakhir pahit itu. Dengan sendu, Jaehwan menyudahi permainannya dan
meninggalkan joystick itu di atas
meja.
“♪♫♪” ponselnya berbunyi singkat, deringan khas
dari obrolan buatannya yang dinamai ‘빅츄Vixchu’ itu.
Kong :
[gambar]
“Enjoy”
Rupanya pesan dari Hongbin yang
mengirimkan sebuah gambar dan sepatah kalimat di kolom obrolan pribadi mereka
itu. Jaehwan pun tersenyum ―meski pahit― setelah mencerna dengan baik maksud
dari pesan itu.
***
Taekwoon’s Story of Love...
Putus?
“Lepaskan aku!” Taekwoon menatap nanar pada gadisnya yang meronta itu.
“Drab! Drab! Drab!” bola jingga
itu memantul-mantul karenanya.
Taekwoon menggeram, lalu segera menghajar para pria berjas itu. Namun
dua pria di antara mereka itu berhasil membawa gadisnya semakin jauh.
Awalnya, mungkin Taekwoon berhasil menjatuhkan mereka, namun ia jelas
kalah jumlah. Para pengawal keluarga gadisnya itu berhasil menghantamnya juga.
“Jangan! Jangan lakukan itu padanya!!” rengek gadis itu melihat lelaki
yang disayanginya itu harus habis babak belur.
Meski ini sudah ke enam puluh
tujuh kalinya bola basket itu menjebol ring,
namun Taekwoon tetap melampiaskan amarahanya pada si bola jingga dan jaring
itu.
Setelah puas menghajarnya, mereka membiarkan lelaki itu tersungkur di
atas rerumputan meski setengah sadar. Samar-samar, Taekwoon bisa melihat gadis
itu dan beberapa pengawalnya. Samar-samar, Taekwoon bisa mendengar pekikan
gadis itu yang membuat hatinya terenyuh.
“Hentikan! Aku mohon hentikan! Aku akan menuruti apa yang kalian
inginkan asalkan hentikan!” ronta gadis itu sebelum para pengawalnya menghabisi
lelaki yang dicintainya itu, “Aku akan kembali ke rumah! Aku akan menuruti apa
kata Ayah! Tapi ku mohon : berhenti menyakitinya!”.
“Trang!” tak puas melampiaskan
segalanya, Taekwoon melempar bola itu ke arah pagar pembatas. Tertekan, ia amat
tertekan.
Dilema.
“Tidak.” batin Taekwoon.
Para pengawal yang mengapitnya membiarkan gadis itu terjatuh dan
menangis, “Aku mohon, hentikan...” pintanya teramat dalam meski sulit.
Samar-samar, Taekwoon melihat gadis itu memandanginya dengan air mata
yang bercucuran sebelum akhirnya dirinya kehilangan kesadaran.
Taekwoon duduk tepat di bawah ring dengan gusar. Ia sudah bermain
basket sejak sore hingga larut malam begini. Pemuda itu berniat mencari tau jam
berapa tepatnya sekarang, namun ketika ia memandangi ponselnya ia tersentak.
Gambarnya bersama gadis yang
dicintainya ada di situ, di ponselnya. Sejenak, Taekwoon kembali teringat akan
kejadian itu.
“Lupakan.” batinnya berucap.
Dengan malas, Taekwoon melempar
ponselnya ke atas backpack-nya lalu
berbaring di atas lapangan basket itu. Mood-nya
makin hancur ketika ia kembali teringang akan perpisahan itu. Menyedihkan,
kisah mereka sangat menyedihkan.
“♪♫♪” baru saja berbaring, ponselnya berdering
lagi.
“Apa lagi.” gerutunya.
Dengan enggan, Taekwoon menarik backpack itu dengan kakinya. Ia pun
menyambar ponselnya begitu tangannya dapat menjangkaunya. Rupanya Hongbin
mengirim pesan di kolom obrolan pribadi mereka, Vixchu.
Beanie :
[gambar]
“Enjoy”
Ketika menyerapi makna dari pesan
Hongbin itu, Taekwoon bangkit dan duduk. Pesan itu memberinya motivasi. Meski
mimik wajahnya tetap tak berubah, Taekwoon merasa begitu berterimakasih pada
Hongbin yang secara tidak langsung telah memberinya semangat.
***
Sanghyuk’s story of love...
Putus?
Sanghyuk :
“Ayo kita jalan-jalan, sudah lama kita tidak
pergi keluar.”
“Nyam~...” dengan ice cream cone di tangannya, Sanghyuk
memandangi seorang lelaki yang sedang mondar-mandir mengepel lantai itu.
“Kenapa ia tidak membalas?” gumam Sanghyuk. Lantas ia mengirim pesan
lagi.
Sanghyuk :
“Nuna? Kau sedang sibuk?”
“Hm...” Sanghyuk melahap es krim
vanila itu masih sambil memandangi Wonshik yang bekerja keras membersihkan
lantai studio ini.
Seakan tanpa berdosa hanya
memandanginya saja.
Sanghyuk terkejut ketika ia mendapat balasan dari kekasihnya.
Nuna :
“Geuman mannaja, Sanghyuk-ah”
“Hosh...” Wonshik menyeka
keringatnya.
Dan masih dengan wajah tanpa
dosa, Sanghyuk hanya memandanginya.
Sanghyuk yang panik pun segera menghubungi gadisnya itu, tapi kau tau
apa yang lucu? Gadisnya menolak panggilannya.
“Apa yang,” Sanghyuk tercekat.
Kembali Sanghyuk menghubunginya, namun kali ini suara yang terdengar
berbeda. “Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif,”.
Sanghyuk segera berlari keluar rumah, ia mencari ke mana saja asal ia
bisa menemukan kekasihnya. Tapi tidak, rumah gadis itu terlalu jauh dan di toko
es krim tempat mereka biasa bertemu pun tak terlihat sosok manisnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?!” geram Sanghyuk, “Aarrgh!!”.
“Hyung, kemarilah.” ajak Sanghyuk pada Wonshik, mengajaknya untuk
duduk di sebelahnya.
Lelah, Wonshik pun menuruti
tawaran Sanghyuk itu.
Benar, kedua pemuda ini sudah
melupakan kisah lama mereka masing-masing. Sanghyuk yang ditinggal kekasihnya,
dan Wonshik yang menemukan kekasihnya bersama laki-laki lain.
Wonshik’s Story of love...
Putus?
“Hei, ayolah.” ujar rekan kerjanya itu, “Datanglah ke klub, kau boleh
duduk saja. Kau harus simak permainanku hari ini.”.
Mau tidak mau, Wonshik pun menuruti undangan rekan kerjanya yang seorang
DJ di klub malam itu. Ya, meski pun dirinya seorang musisi hip-hop dan
R&B, namun Wonshik sebenarnya
tidak menyukai tempat seperti itu.
Jadi Wonshik pun datang bersama temannya itu, dan hanya duduk di sana.
Wonshik pun duduk bersama
Sanghyuk. Lalu bocah itu menawarinya es krim di tangannya. “Kau mau?” disodorkannya
es krim itu ke wajah Wonshik.
“Hm.” Wonshik menolak dengan
tangannya.
Di tengah pesta malam itu, rekannya mengenalkan Wonshik pada seorang DJ
lainnya. “Wonshik-ah, kenalkan dia sahabatku, seorang DJ.” ujar temannya pada
lelaki tinggi yang datang bersama seorang wanita dalam rangkulannya.
“Hai, senang berkenalan denganmu!” ujar teman barunya itu, namun yang
Wonshik pandangi hanya wanita yang dibawanya.
Sementara wanita itu menghindari tatapan Wonshik di depannya ―jelas
mereka saling mengenal. Suasana mulai terasa aneh.
“Eh, tak apa, Hyung ―cobalah.” berniat menghibur,
Sanghyuk pun menawari Wonshik es krimnya lagi.
“Tidak mau.” dan Wonshik tetap
menolak.
“Kalian saling mengenal?” heran temannya itu ketika menyadari hubungan
antara Wonshik dan wanita itu.
“Kau?!” sinis Wonshik pada wanita itu, “Jangan harap bertemu denganku
lagi!” ancamnya.
“Hei, hei, sebenarnya ada apa ini?” panik temannya ketika Wonshik
meninggalkan tempatnya berdiri dengan gusar.
Wanita itu mengejarnya dan menahan langkahnya, namun Wonshik menolaknya
mentah-mentah setelah tau tak hanya dirinya yang wanita itu cintai.
“Aku mohon!” pinta wanita itu amat sangat pada Wonshik.
Entah apa yang membuat Sanghyuk
tak mudah menyerah. Ia menyodorkan es krimnya ke wajah Wonshik lagi. “Hyung, coba―”.
Sanghyuk dan Wonshik sama-sama
terkejut ketika ternyata es krim itu tak sengaja menabrak dan mengotori wajah
Wonshik. Ketika menerima tatapan kaget itu, Sanghyuk segera menghindarinya
―sebelum berubah menjadi tatapan dendam.
Wonshik mengguncang tangannya hingga genggaman wanita itu terlepas
darinya. Ia merebut cincin yang dipakai wanita itu dan cincin yang dipakainya
sendiri.
“Kau lihat ini.” ujar Wonshik sambil menyodorkan sepasang cincing itu di
hadapan wanitanya.
Lantas lelaki itu melempar dua cincinnya keluar dari balkon dan terjun
bebas entah ke mana. Pertanda, semua telah berakhir.
Wanita itu menatapnya nanar.
“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi.” ancam suara bariton itu,
“Jangan pernah berharap kau bisa kembali padaku.”.
Wonshik membiarkan wanita itu menangis di hadapannya.
“Game over.”.
Dua pemuda yang sudah melupakan
kisah kelam itu duduk bersama-sama sebagai sahabat. Seakan sampah yang tak
berguna, kisah-kisah lama itu telah mereka buang dari ingatan mereka.
Nuna itu, wanita itu―
mereka sudah tak ada lagi dalam ingatan keduanya. Meski ‘sendiri’, mereka malah
lebih merasakan nikmatnya hidup bersama sahabat-sahabat mereka. Bersama
orang-orang yang benar-benar menyayangi mereka, keduanya bisa tertawa bersama,
bahkan menangis bersama.
Lagipula, akhir dari cinta itu
tak selamanya harus sedih, kan?
“♪♫♪” secara bersamaan, ponsel Sanghyuk dan Wonshik
berdering. Setelah dilihat lagi, rupanya Hongbin mengirim sebuah pesan dan
gambar di kolom obrolan Vixchu
mereka.
Terfokus pada ponsel
masing-masing, Sanghyuk dan Wonshik mencerna dengak baik maksud dari gambar
itu. Dan tersenyum lebar begitu mengerti artinya.
“Yo, bro~! Ini baru keren!” seru Wonshik ―seakan lupa dengan noda es
krim di wajahnya. Lalu ia ber-hi-5 dengan
Sanghyuk yang setuju akan perkataannya.
***
Hakyeon’s Story of love...
Putus?
Hujan turun, menimpa segala yang
ada di bumi, termasuk halte itu ―berpenghuni seorang lelaki dan seorang
perempuan. Lelaki berjaket biru itu hanya bisa terduduk di atas bangku halte,
termenung dan terdiam ketika gadisnya itu meminta sesuatu hal yang sangat sulit
darinya.
Ya, itu yang ia alami sekarang.
“Kau dengar?” ujar gadisnya,
berdiri di hadapan Hakyeon dengan gusar.
Hakyeon mendongak dan menatapnya,
“Kenapa kau lakukan ini?” tanyanya, “Tidak bisakah kita bicarakan ini
baik-baik?”.
Sengal gadis itu. “Aku sudah
cukup lelah denganmu.” ujarnya tajam, “Kau tidak ada apa-apanya.”.
Kata-kata itu menghujam hatinya.
Sungguh gadis itu berubah tak berperasaan malam ini. Hakyeon semakin terpuruk.
“Jadi apa yang selama ini aku
berikan tak cukup buatmu?!” kesal lelaki itu.
“Pulanglah! Aku sudah tak
mengingikanmu lagi!” gertak gadis itu.
Hakyeon terhenyak, terbelalak
menatapnya, “Kau bilang apa?” ironinya.
“Baiklah, kalau begitu aku yang
akan pergi!” geram gadis itu lalu meninggalkan Hakyeon sendirian di situ.
“Tidak, tunggu!” tahan Hakyeon,
tetapi gadis itu menepis cengkeramannya dan pergi begitu saja dari
genggamannya.
Hakyeon hanya terpaku, kata-kata
tajam itu menghujam kepalanya, menggerogoti perasaannya, menghancurkan harinya.
Hakyeon yang tertekan itu mengacak-acak rambutnya.
“Sial.” gumamnya sambil mendongak
pada langit malam, “Sialan!!” geramnya, uap dingin terlihat ketika ia terengah
menghela nafas.
“♫♪♫” ponselnya berdering ketika sebuah pesan masuk.
Hakyeon merogoh saku jaketnya dengan kasar, lalu memandang ke layar ponselnya.
Hongbinie :
“Enjoy”
Menyerap makna pesan yang Hongbin
sampaikan itu, Hakyeon hanya bisa menghela nafas dan meratapi nasib sialnya
malam ini. Tapi apa yang Hongbin katakan itu memang benar ―hidup tak selamanya
bahagia dan tak selamanya sedih pula.
“♫♪♫” beberapa kali, ponselnya berdering singkat.
Rupanya di kolom obrolan Vixchu-nya,
beberapa sahabat mengirim pesan tepat setelah Hongbin mengirim gambarnya itu.
Jaehwanie :
“Daeeeebaaak, Bin-ah!!”
Real Friend Taekwoon :
[thumbs up]
Sanghyukie :
“Hyung, bagaimana kau bisa mendapat
rumus seperti itu?”
Wonshikie :
“Hei, ayo berkumpul di studio, VIXX-ya!”
Jaehwanie :
“Setujuuuu~~...!!”
Hongbin :
“Ganda!”
Real Friend Taekwoon :
“Ne.”
Membaca semua pesan itu, Hakyeon
merasa sedikit terhibur. Lalu ia gerakan jemarinya, dan membalas.
Hakyeon :
“Oke.”
***
Studio ini masih terasa sepi bagi
Sanghyuk dan Wonshik. “Kau pikir jam berapa mereka akan datang?” tanya Wonshik.
“Mm...,” Sanghyuk termenung
berkepanjangan.
“Klek!” hingga akhirnya seseorang
membuka pintu.
“Aku datang!!!” seruan nyaring
itu pastilah milik Lee Jae Hwan, ia kemudian muncul dari balik pintu studio
bersama Hongbin.
Sanghyuk dan Wonshik pun
menyambut kedatangan keduanya. “Akhirnya kau datang juga!” sambut Wonshik pada
Hongbin, sementara niat Sanghyuk yang ingin hi-5
malah batal karena Jaehwan tak memperdulikannya.
Sambil menunggu sisanya datang,
Wonshik, Jaehwan, Hongbin, dan juga Sanghyuk bermain-main sebentar ―sekadar battle dance kecil.
Lalu tak lama, Taekwoon datang
bersama bola jingganya.
“Oii! Hyung!” sambut Hongbin sambil terduduk di atas lantai, dan Taekwoon
tetap saja tak merespon.
“Kemarilah, Hyung!” ajak Wonshik ketika Taekwoon melempar bola basketnya ke
arah Jaehwan. Namun bukannya ikut dance,
Taekwoon malah duduk sambil meneguk sekaleng minuman di atas meja.
Taekwoon tak peduli dengan apa
yang keempat sahabatnya itu lakukan. Mau mereka dance dari yang serius sampai yang main-main, main skateboard sampai jatuh, iseng-iseng fashion show, sampai melakukan hal yang
tidak jelas itu tetap saja Taekwoon hanya duduk di tempatnya.
“Klek!” tak lama, Hakyeon pun
datang dengan wajah muram.
Tentu saja kelima sahabatnya ini
mengerti apa yang baru saja terjadi dengan Hyung
tertua mereka ini. “Oouuhh...” seru Jaehwan, Wonshik, Hongbin, dan Sanghyuk
kasihan ―sementara Taekwoon hanya memandanginya saja.
“Kemarilah, Hyung! Mari kita berbagi pahitnya bersama!” Hongbin mengajak
Hakyeon ikut bergabung dengan mereka, dan tak lama Jaehwan pun menyambutnya
dengan pelukan.
“Kita mengerti kalau kau baru
saja putus ―kita berenam sepaham, ya, kan?” ujar Wonshik kemudian.
Ah, mereka selalu bisa menghibur
hatinya. Hakyeon bersyukur memiliki sahabat seperti mereka, baik itu senang
maupun sedih mereka selalu membaginya bersama-sama.
Bahkan hari ini Hakyeon dibuat
terkejut ketika Taekwoon menepuk pundaknya sambil berkata, “Hwaiting.” dengan nada yang sangat
pelan. Tapi Hakyeon sangat menghargai itu.
Merasa energinya kembali, Hakyeon
pun menyeruak, “Ayo, teman-teman! Kita mulai latihannya!” serunya senang.
Mereka berenam pun berkumpul,
lalu menyerukan, “Real V!! Hwaiting!!”
.
Dengan semangat penuh, keenamnya
mengalihkan pikiran mereka dari semua kenangan menyedihkan itu. Ini saatnya
untuk melanjutkan hidup.
“..., five, six, seven, eight!” Hakyeon memberi aba-aba ketika lagu dari
R.ef itu sudah sampai di bagian reffrain-nya.
♫햇빛눈이부신날에이별해봤니
hætbin nuni bushin nare ibyôlhæbwanni
Pernahkah kau putus dengan
seseorang di hari cerah nan bersinar?
비오는날보다더심해
bi oneun nalboda dô shimhæ
Ini bahkan lebih buruk
daripada hari hujan
작은표정까지숨길수가없잖아
jageun pyojôngkkaji sumgil suga ôpjana
Karena kau takkan bisa menyembunyikan
ekspresi sekecil apapun
흔한이별노래들론표현이안돼
heunhan ibyôllorædeullon pyohyôni andwæ
Perasaan ini tidak dapat
dijelaskan dengan lagu-lagu perpisahan biasa itu
너를잃어버린내느낌은
nôreul irôbôrin næ neukkimeun
Perasaanku kehilangan
dirimu
그런데들으면왜눈물이날까♪
geurônde deureumyôn wæ nunmuri nalkka
Tapi kenapa air mata jatuh
tiap kali aku mendengarnya?
Tidak ada lagi kesedihan, tak ada lagi tangisan, semua
itu hanya masa lalu ―akhir dari cinta adalah perpisahan. Kini mereka hanya
perlu melanjutkan hidup.
Masih ada keluarga, masih ada
sahabat, untuk apa menangisi dan menyesali seseorang yang kita cintai yang
justru pergi? Tidak, itu bukanlah arti dari hidup yang keenam pemuda ini
temukan.
Daripada menangisi kesedihan itu,
lebih baik melakukan hal yang jauh lebih baik bersama orang-orang yang
benar-benar menyayangi kita.
“You know, no more cry!” Wonshik menambahkan di akhir lagu, latihan
yang sudah berjalan berjam-jam ini akhirnya selesai juga.
“Uwahh, capeknya!!” ujar Jaehwan,
ia dan kelima sahabat yang lainnya pun kompakan berbaring di atas lantai studio
yang bersih berkat kerja keras Wonshik tadi siang.
“Hei, setelah ini, ayo makan gopchang~...” ajak Sanghyuk.
“Ayo! Siapa yang nraktir?” sahut
Jaehwan.
“Pasti kalian tidak mengajakku.”
sindir Hakyeon.
“Memangnya, Hyung mau makan?” tanya Hongbin.
“Ayolah, kita pergi ―makan apa
saja.” kata Wonshik, “Taekwoonie Hyung
kau ikut juga, kan?” tanyanya.
“Ne.” jawab Taekwoon singkat.
“Hore! Makan gopchang lagi!!” pekik Sanghyuk girang.
“Woy! Siapa yang mau nraktir?”
sahutan Jaehwan tak dijawab ―si ahjuma
pelit ini hanya mau dibayarin makan.
“Ayo, kita main game untuk menentukan siapa yang kalah
dan menraktir gopchang!” ide usilnya
Hongbin mulai lagi.
Padahal belum ada yang menentukan
permainan apa yang akan dimainkan, “Sam-yuk-gu
sam-yuk-gu!” tapi Jaehwan lantas berseru memulai permainan 3-6-9, “Sam-yuk-gu sam-yuk-gu! Satu!” dengan
tempo secepat-cepatnya.
Lalu menjalar ke Hakyeon, “Dua!”.
“Prok!” Wonshik pun segera
menepuk tangan begitu kebagian angka tiga.
“Empat!” lanjut Hongbin, lalu
Taekwoon, Sanghyuk, kembali lagi ke Jaehwan dan seterusnya, hingga angka yang mulai
sulit.
“Dua puluh tujuh!” seru Sanghyuk.
“Dua puluh delapan!” seru
Jaehwan.
“Prok!” Hakyeon kebagian angka
dua puluh sembilan.
Lama sekali Wonshik berpikir,
hingga ia mengira ia kebagian angka tiga puluh tiga, “Prok! Prok!” tepuknya.
“Wonshik yang menraktir!!”
Hongbin bangkit.
“Loh, apa?” heran Wonshik, yang
lalu ikut bangun diikuti keempat yang lainnya.
“Hyung hanya perlu menepuk sekali ―kan, masih tiga puluh!” ingat
Sanghyuk.
“Yeah! Wonshik menraktir kita
lagi!” pekik Jaehwan girang.
“Aduh,” dan Wonshik hanya bisa
menepuk dahinya.
*END*
A letter from Author...
Sebenarnya, FF Songfic ini sudah
lama mau ditulis, tapi baru kesampaian sekarang. FF ini terinspirasi sepenuhnya
dari lagu dan music video VIXX – Love
Equation ―sudah tertera di posternya, ya.
Oya, gimana tanggapan posternya?
Near mencoba mengeditnya kaya poster-poster film gitu. Yah, biarpun amatiran
―hehehe.
Bagi yang sudah baca tolong
komentarin, ya. Kasih komentar yang membangun Near dalam dunia penulisan ini
―oke? Yaksok, loh, ya ―alias janji,
ya.
Pembuatan FF ini membutuhkan
durasi yang cukup singkat untuk kesebelas lembar ceritanya, yakni kurang dari
sehari ―dari hari Minggu malam (14/5) sampai Senin sore (15/5). Rencananya,
Near akan merilis (?) FF Songfic lainnya setelah ini.
Oke, Near tunggu komentar kalian,
ya! Terima kasih sudah membaca! Dan jangan lupa, mohon support Reader-deul buat Near, ya ―dan juga buat VIXX!!
Gamsa hamnida!
Author
Near



