[FF] Let's Go Back part II (ending)
Let’s Go Back
Part II
Author : Near
Genre : Romance
Casts : OC, Wonwoo
Other casts : Mingyu, Joshua, Vernon
***
“Jeongmal
oryeopji anayo. Jeongmal. Aku benar-benar tidak kesulitan. Sungguh.” Joshua
berkata, “Minna-ya, gomawo. Manhi
gomawoyo.”.
Senang bisa mendengar Joshua berbicara lancar
dalam bahasa Korea secepat ini. Minna pun ikut tersenyum senang.
“Bukan apa-apa.” katanya, “Senang bisa
membantumu.”.
“I was
thought, it must be so hard since I was born in LA. But, yeah, sekarang aku
bisa mengingat bahasa Koreaku!”.
“Kau hanya perlu memperbaiki logatmu saja.”.
Dari kejauhan, Mingyu masih memperhatikan sang
Kakak bersama seorang teman lelakinya. Sementara itu Wonwoo tetap berdiri tak
jauh darinya. Ia memandang ke arah Minna kembali.
“Nanti kita coba ke kafe dan pesan secangkir
kopi. You have to do it by your self ―in
Korean.” ucap Minna.
“That’s
great! Maksudku,” ralat Joshua, “jotda!”.
Masih aman, Mingyu pun berujar, “Habis ini kita
ke mana, Hyung?” pandangannya masih
terpaku pada sang Kakak.
Namun hening, tak terdengar satu jawaban dari
sahabatnnya itu.
Alangkah terkejutnya Mingyu ketika berbalik.
Wonwoo sudah tak ada di sana. Gawat! Ke mana dia pergi?
“Wonwoo Hyung?”
Mingyu mulai mencari-carinya, “Hyung.”.
“Sial!” gerutu Mingyu yang keburu melesat dan
menyusul Wonwoo.
Hanya saja, “Bruk!” di langkah pertamanya
Mingyu malah menabrak seseorang. Tak hanya itu, buku-buku yang orang itu bawa
pun jatuh dan berserakan di lantai.
“Joesonghamnida!
Joesonghamnida!” bungkuk Mingyu beberapa kali.
Segera Mingyu menyerbu buku-buku itu dan
merapikannya, tak lama si pemiliknya menyusul. Masih sambil merapikan semua
buku itu dengan tergesa, Mingyu melirik lagi ke arah Wonwoo.
“Sialan!”
gerutunya dalam hati melihat Wonwoo sudah sampai di lantai dua.
“Terima
kasih.” ucap orang itu begitu Mingyu memberikan semua buku yang sudah selesai dirapikannya.
Mingyu segera melesat mengejar Wonwoo. Sampai
di tangga, ia harus sedikit bersabar karena ia harus menyelinap di antara
orang-orang yang naik turun tangga.
“Permisi
―maaf. Permisi.” tak ada waktu lagi.
Namun sesampainya ia di lantai dua, Mingyu
kehilangan jejak Wonwoo. Tak lama dari pencariannya, Mingyu bertemu Wonwoo.
Ucapan Mingyu tertahan ketika melihat sosok Wonwoo yang berjalan ke arahnya.
Tatapannya kosong, sedikit menunduk. Ia tak
membawa satupun buku, karena ia mengantongi kedua tangannya di saku jaket
jingganya. Wonwoo berjalan dengan tas dijinjing bahu kanannya.
Tanpa sadar, Wonwoo berjalan ke arah Mingyu.
Ketika mendongak ia menemukan bocah itu di hadapannya, dan ia tersenyum
kemudian.
“Kau sudah lapar?” tanyanya ―dan ia masih tersenyum
aneh.
“Hyung,”.
“Coba hubungi Vernon, ajak dia makan bersama
kita.” Wonwoo merangkul Mingyu dan menggiringnya menjauh dari tempatnya
berdiri.
Aneh, setau Mingyu, perasaan Wonwoo cukup
mendung hari ini, tapi kenapa tiba-tiba ia tersenyum padanya? Kentara sekali,
senyuman itu begitu aneh di mata Mingyu.
Ketika Mingyu menoleh ke belakang ―arah
datanganya Wonwoo― ia terkejut. Di sana, ia bisa melihat Minna bersama seorang
teman lelakinya. Tak salah lagi, Wonwoo pasti telah melihat pemandangan
tersebut, sehingga ia menjadi aneh seperti ini.
Pikirannya mengkerut. Mingyu berteriak dalam
hati, bertanya-tanya mengapa hal seperti ini harus terjadi. Perasaan ini lebih
dari sekadar iba. Mingyu harus bergerak.
***
“Kaja, Minna-ya.
Aku mau ke kafe ―dan mempraktekan bahasa Koreaku.” ucap Joshua.
“Wow, gak sabar, nih.” balas Minna.
Sebelum meninggalkan tempat, mereka segera
berbenah. “Tuk.” tak sengaja pulpennya jatuh ke lantai, Minna pun memungutnya
kemudian.
Tak jauh dari pulpennya yang jatuh, Minna bisa
melihat ke lantai dasar. Dan di saat itulah tak sengaja ia menemukan dua sosok
yang tak asing baginya.
“Mingyu?” ucapnya, dan ia lebih terkejut lagi
setelah mengenali seseorang yang datang bersama adiknya tersebut, “Wonwoo?!”.
“Pen-i
chajasseo? Pulpennya sudah ketemu?” tanya Joshua.
Tergesa Minna bangkit, “Chajasseo.” umpatnya sambil tersenyum, lalu memasukan pulpen itu ke
tasnya, “Kaja.”.
Andaikan saja ia bisa, Minna pasti sudah
menghentak-hentakkan kakinya jengkel. Jikalau bisa, ia ingin berteriak meminta
maaf. Hanya saja...,
“Mau kopi juga?” tanya Joshua saat mereka
menuruni tangga.
Minna pun mengangguk. “Gomawo.”.
akankah mereka kembali ―lagi...?
***
“Bruk.” Wonwoo melempar tasnya lembut ke atas
ranjangnya.
Pikirannya mengambang, dan langkah itu
mengantarnya pada jendela kamarnya. Ia duduk di samping jendelanya, memandang
langit dan menikmati kesendirian.
Wonwoo terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Hingga akhirnya ia tak mampu bertahan dengan keheningan ini. Wonwoo segera
mengambil headphone dari atas meja
dan menyambungkan ujungnya dengan port
di ponselnya.
Ia memendam dirinya sendiri dalam lagu yang
menyedihkan. Merasa belum puas, Wonwoo menaikan volume hingga tak ada suara-suara yang akan mengganggu perasaannya
saat ini.
Dan begitu sampai pada lirik itu, Wonwoo
bergerak.
Sebuah gambar hitam dipilihnya, lalu ia
menambahkan lirik itu di bawah gambar yang dipostingnya.
“Nô-ege ogo ganeun saramdeul jung han myông-igireul baram. Geurigo nunmul bôtkkot modu ttôlgwo sæssak
pigireul baram. geurigo uri chueok no-eulchôrôm jjalpgo areumdap-gireul baræ. i
modeun gôt bareul mot tten nôui ganyalpeun deung gibun jotge milgireul.”.
Yang artinya,
“Dan aku berharap aku hanya salah satu dari banyak orang dalam hidupmu yang
datang dan pergi. Aku berharap seperti air mata dan
bunga sakura yang jatuh akan ada kehidupan baru
tumbuh dari itu semua. Dan aku harap kenangan kita
yang pendek dan indah sama seperti matahari yang
terbenam, dan aku berharap semua hal ini dapat mendorong punggungmu yang langsing dengan nyaman, meskipun kamu masih belum bisa mengangkat kakimu dari
tanah.”.
Selesai, ia menghela nafas panjang ―meski
demikian Wonwoo belum merasa cukup.
Sementara itu, “Blam!” Minna membanting pintu
kamarnya, lantas melemparkan diri ke atas ranjangnya. Minna memendam wajahnya
seperti ia memendam penyesalannya hari ini. Entah kenapa ia ingin menangis,
tapi air mata itu tidak bisa jatuh dari pelupuk matanya.
Tak lama, Minna bangkit dan tak sengaja menatap
jendelanya. Ada sesuatu yang menggerakan tubuhnya untuk duduk di sana. Minna
menatap langit malam dengan tatap matanya yang sayu.
Berhenti dari keheningan yang menjeratnya,
Minna merogoh saku bajunya. Setelah menemukan headset dan ponselnya, ia mulai mendengarkan sebuah lagu yang senada
dengan hatinya ―lagu yang sama.
“Krek.” sebuah screenshot dari music player-nya
itu segera dipostingnya. “Good night, I’m
sorry.” setelah menulis dua kalimat singkat, Minna menyandarkan kepalanya
pada jendela.
Tanpa keduanya sadari.
***
Di jam makan siang itu, “♫!” seseorang mengirimi Minna pesan,
Joshua :
“Hungry, aren’t you?”
Karena pekerjaannya yang menumpuk, Minna tak
sedikitpun berniat membalas pesan itu. Gadis itu segera melanjutkan beberapa
jahitannya.
Namun lelaki itu belum bisa mengerti keadaanya.
Beberapa kali ponsel Minna berdering singkat. Setelah ditelusuri lagi, Joshua
mengiriminya beberapa pesan singkat yang mengajaknya makan siang di luar.
“Pekerjaanku
menumpuk, Josh”
Hanya itu balasan Minna untuk beberapa pesan
yang telah menantinya.
“Dari siapa? Adikmu, ya?” dari kejauhan
temannya melihat Minna sibuk dengan ponselnya.
Minna terkesiap, “Bukan,” jawabnya singkat.
“Sepertinya penting,” lelaki itu kembali pada
disain di tangannya.
Minna pun segera berujar, “Boleh aku keluar
sebentar?” izinnya.
“Bukankah jahitanmu belum selesai?” koreksinya,
“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa tidak akan berat jika kau meninggalkannya?”.
Minna mengerucutkan bibirnya, “Joshua Hong
mengirimiku pesan,”.
Mendengar nama itu, temannya terbelalak
menatapnya.
“dia,” ucap Minna ragu, “dia memintaku keluar
sebentar.”.
“Kalau begitu temui dia,” ucap temannya
singkat, “tunggu apa lagi.”.
***
Benar, lelaki itu di sana. Minna melihatnya
menunggu di seberang. Tanpa membuang waktu, ia bergegas ke sana.
“Joshua,” panggil Minna.
“Minna-ya,” akhirnya penantiannya sedari tadi
terbalaskan.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanyanya.
“Tentu,” Joshua mendekat, menyeka sehelai
benang yang menempel di wajah manis Minna, “seems
like you work hard for today.” ucapnya lembut.
Minna belum juga mengerti, “Yeah, a lot in Saturday,” gadis itu
tersenyum, “menumpuk.” lanjutnya.
“Then,
I’ll just say what I want to say.” kata Joshua, “Sayangnya, aku tidak bisa
menunggu hingga tanggal 14 datang.”.
Minna mendongak ―apa maksudnya?
“You are
just a kind girl, cute and sweet.” kata Joshua, “Just from your eyes in the first time we meet, I know who you are...”.
“Josh,”.
“And I
know what you will be,” Joshua meraih tangan itu, “you will be mine.”.
Tertegup hati Minna mendengarnya. Bagaimana
bisa Joshua menyukainya?! Minna mematung, membeku dibuatnya.
“Kim Min Na?”.
Joshua Hong, sosok seorang lelaki yang sangat
baik dan lembut padanya. Dia bukan orang biasa di matanya. Kebaikan dan
kelembutan hatinya sangat membuat Minna nyaman bersamanya.
Namun sosoknya selalu digannggu oleh orang lain
―Wonwoo. Sosok lelaki itu selalu muncul di setiap saat Minna merasa nyaman
bersama Joshua.
“I, I,”
entah mengapa bibirnya terasa kaku, “I’m...,
sorry...”.
Matanya berkedip, “Minna?”.
“I’m
sorry, Josh.” hanya itu yang Minna katakan sebelum berpaling dari lelaki di
hadapannya.
“Minna,”.
Kaki itu tak mampu mengejarnya, bahkan suaranya
tak mampu menjangkau gadis itu. Joshua merasa ia tak punya hak untuk meminta
Minna kembali padanya.
“But why?”.
“Because,”
Minna berbalik, “I already have another
one.”.
Joshua terperanjat.
“I’m
sorry, Josh. But, thank you,” senyum Minna, “you really nice to me, you are very impressed person for me.”.
Hanya itu, dan Minna berbalik pada arahnya
kembali. Tak mungkin baginya untuk mengejarnya, jelas Joshua tak punya apa-apa
untuk menariknya kembali.
***
“Tok, tok, tok!”.
Mingyu segera berlari dari kamarnya menuju
pintu utama, “Klek.” dan benar saja Wonwoo datang seperti dugaannya!
“Akhirnya datang juga.” cengir Mingyu.
“Mana bukuku?” jengkel Wonwoo.
“Masuklah dulu, Hyung,”.
“Berikan saja bukuku!”.
Mingyu cuma nyengir, “Sepertinya,” ia menggaruk
kepalanya, “aku harus ‘mencarinya’...”.
Bocah ini benar-benar menyebalkan. Tadi Mingyu
bilang buku itu ada di rumahnya dan ia harus mengambilnya sendiri, sekarang ia
bilang kalau bukunya ―dalam kata lain― hilang.
“Makanya, masuk dulu, Hyung ―kau mau minum apa?” Mingyu segera menarik Wonwoo masuk ke
rumahnya.
“Gak perlu minum ―aku cuma perlu bukuku
kembali.” ketus Wonwoo, ia mendelik ke beberapa sudut rumah ―khawatir akan
kemunculan sesuatu.
“Nuna tidak
ada di rumah,” dalih Mingyu, “atau kalau kau mau, kau bisa duduk-duduk di
kamarku.” rupanya ia memperhatikan tingkahnya Wonwoo.
“Dia belum pulang?” tanya Wonwoo begitu ia
sampai di kamar Mingyu.
“Belum, katanya sibuk hari ini,” ucap Mingyu
sambil membereskan beberapa barangnya yang berantakan, “Kau di sini dulu, ya, Hyung ―aku coba cari bukunya.”.
Wonwoo pun dimintanya menunggu. Ya, hanya di
situlah lelaki itu, tak beranjak ke mana-mana. Bosan, Wonwoo pun bergerak menuju
balkon untuk menghirup udara segar.
Hingga tak lama, “Mingyu-ya, sudah makan
belum?” suara itu terdengar sangat dekat.
Wonwoo berbalik dengan tergesa dan benar saja,
ia menemukan Minna memasuki kamarnya Mingyu. Dan keduanya saling bertatapan.
“Won..., woo..?” kaget Minna.
Sementara Wonwoo tak bergeming.
“Kenapa kau ke rumahku?!” jengkel Minna.
“Begitukah sikapmu menyambut tamu?” sindir
Wonwoo.
“Dasar menyebalkan!!”.
“Geuman!!”
seruan lain terdengar, Wonwoo dan Minna memandang Mingyu yang baru saja memasuki
kamarnya, “Senang, ya, melihat kalian bersama lagi.” cengirnya.
“Kim Min Gyu!!” seru Wonwoo dan Minna
berbarengan.
“Jadi ini ulahmu?!” Minna mengguncang tubuh
sang Adik, “Menyebalkan!!”.
Mingyu melepaskan diri dari cengkeraman sang
Kakak, “Menyebalkan apanya? Justru ini bagus!” katanya.
Dengan segera Mingyu menyeret sang kakak dan
Wonwoo berbarengan untuk diajaknya duduk bersama di atas kasur rendahnya.
“Nah, begini, kan, lebih baik.” Mingyu
tersenyum puas.
“Lebih baik apanya.” ketus Minna, yang duduk di
samping kanan Mingyu. Ia hanya tiduran di situ, melemparkan pandangan sinis ke
sembarang arah.
Mingyu menoleh ke sisi kirinya, Wonwoo. Lelaki
itu juga samanya, tak peduli dan acuh-acuh saja. Benar-benar perang dingin.
“Aku tau kalian sebenarnya saling menyesal,”
ucapan Mingyu membuat keduanya melirik, “aku tau sebenarnya kalian ingin minta
maaf satu sama lain. Tidak bisakah kalian kurangi ego itu sedikit?”.
“Apa enaknya bertahan seperti ini? Bukankah
kalian merasa tersiksa juga?”.
Omongan ―yang terdengar cukup lugu― itu membuat
kakak dan sahabatnya berpikir ulang.
“Kalian pikir mendengarkan lagu yang sama saja
sudah cukup? Bicara, kalian hanya butuh bicara. Lagipula, kenapa aku sendiri
ikut campur dalam masalah kalian?!” Mingyu heran sendiri.
Diam-diam, Wonwoo memperhatikan Minna. Namun di
saat gadis itu meliriknya, Wonwoo segera membuang pandangannya jauh-jauh.
Sayangnya, Mingyu mengetahuinya.
“Nah,” lelaki itu segera beranjak dari
tempatnya.
Dengan sembrono, Mingyu menarik tangan Minna
dan Wonwoo secara bersamaan, lalu menyatukan keduanya.
“Ayo, katakanlah,” bujuk Mingyu ―dia
benar-benar cupid manja yang
menyebalkan.
Wonwoo lah yang pertama kali menggenggam tangan
itu, namun Minna lah yang pertama kali bergerak lalu mencium pipinya. Itulah
permintaan maaf mereka.
“Hanya itu saja?” Mingyu terbelalak, “Gak seru.
Wonwoo Hyung, cobalah balas Nuna-ku.”.
Telinganya memerah, “Pergi kau jauh-jauh!!
Tinggalkan kami, dasar anak kecil!!” Wonwoo menendang-nendang Mingyu agar bocah
itu menjauh.
Tak ayal tawa pun meledak.
“Kami sudah minta maaf ―masa kau tidak puas?”
ujar Minna.
“Ya, tapi, kan,”.
“Pergi sana ―anak kecil di bawah umur gak boleh
lihat!” ucap Wonwoo.
“Ya,
Hyung, aku bukan anak kecil!!” jengkel Mingyu.
***
“Ayo kembali.”
“Ke mana?”.
Minna berpaling dari pemandangan sungai Han dan
menatap Wonwoo yang sedari tadi memandanginya. Pancaran sinar mentari senja
sengaja menghangatkan tubuh mereka di tengah dinginnya Seoul.
“Ke masa lalu.” jawab Wonwoo.
Minna mengernyitkan dahi.
“Argh, sejak kapan kau hidup bersama cupid cerewet dan banyak makannya itu,
sih?” Wonwoo melempar pandangannya.
“Maksudmu, Mingyu?” tebak Minna ―rupanya Wonwoo
menganggap bocah itu sama seperti dirinya.
“Kalau pun bukan karenanya, mungkin kita takkan
duduk-duduk di sini sambil saling menggenggamkan tangan sekarang.” Wonwoo
melirik ke arah Minna.
“Dia berguna juga,” celetukan Minna membuat
keduanya tertawa geli.
Sejenak Minna tertunduk, hingga ia bisa melihat
buku harian itu di pangkuannya ―buku hariannya. Hari ini, mereka telah
mengembalikan buku harian mereka masing-masing, sekaligus menghabiskan waktu di
akhir pekan dengan berjalan-jalan santai.
“Jadi karena kita telah saling memaafkan,”
awalnya ia berkata, “beritau aku alasan mengapa kau bisa bersama wanita sialan
malam itu.” dan Minna menatapnya.
Wonwoo terkekeh. “Kau boleh tanyakan kesaksian
Vernon,” kata Wonwoo, “aku sungguh-sungguh mabuk, gadis itu sudah mengincarku
sejak awal untuk mendekatiku,”.
“Ouh..., jadi kau ini famous, ya...?”.
“Eeey, bukan
itu maksudku,” ralat Wonwoo sesegeranya, “tapi sungguh, dalam keadaan sadar pun
dia selalu mendekatiku ―bahkan Vernon juga sangat membencinya. Dia memanggilnya
dengan bahasa yang kasar.”.
“Such a
bitch.” gumam Minna.
“Benar, Vernon memanggilnya begitu.” Wonwoo
menambahkan, Minna memandangnya, “Tetapi kelihatannya wanita itu sudah berhenti
mencari-cariku, Vernon yang bilang kalau dia ―seperti― telah mengancam wanita
itu jadi ia tidak berani datang menemuiku lagi.”.
Ada senyuman lega di wajah Minna.
“Sekarang beritau aku,” Wonwoo bergantian
menatapnya, “apa yang kau lakukan hari itu di Perpustakaan Kota?”.
Minna terperanjat, “Hei, jangan salah paham,
dia rekan kerjaku!” ia memukuli Wonwoo.
“Sudah ku duga ―kau hanya akan menyebutnya
‘teman’.” gumam Wonwoo.
“Sungguh ia cuma teman!” Minna memukul dada itu
kuat-kuat, Wonwoo merintih sambil terkekeh, “Dia salah satu perwakilan d’Style,
dari Amerika! Kami akan bekerja sama dengan perusahaan fashion itu!”.
“Wow, hebat,” ucapnya acuh, “jadi apa yang
kalian lakukan berdua di sana?” Wonwoo tersenyum usil.
“Aku mengajarinya bahasa Korea, kami sempat
beberapa kali bertemu,”.
“Kau pasti mencari hiburan ketika bertengkar
denganku.” sindir Wonwoo ―usil.
Minna memukulinya, “Dengarkan aku dulu!!”
sebalnya, Wonwoo tertawa lepas, “Ya, kami memang sering bertemu, tapi hanya
sebagai teman. Joshua memintaku mengajari bahasa Korea karena sebenarnya ia
keturunan Korea yang lahir,”.
“Oh, jadi namanya Joshua...” dari nadanya
Wonwoo masih saja menggoda Minna, “Kalian dekat?” pertanyaan itu membuat Minna
terdiam, “Jujur saja, kau kira aku ini siapamu?”.
“Yah..,” Minna ragu, “benar, kami memang
dekat.” jawabnya, “Tapi tidak ‘sedekat’ itu.” bibirnya mengerucut.
“Pantas, dia pasti menyukai gadis sebaik
dirimu. Siapa, sih, yang ingin menyia-nyiakan peri selembut dirimu? Aku saja
tidak.”.
Kata-katanya, membuat Minna termangu.
“Dia pasti sempat menyatakan perasaannya
padamu.” dan Wonwoo masih saja menggodai kekasihnya.
Wajahnya merona, “Diam kau! Jangan bicara
macam-macam!” Wonwoo kembali dihujani pukulan jengkel dari Minna.
“Jujur saja : kau pasti menolaknya, kan? Karena
pada saat yang sama, sosokku muncul di kepalamu dan sontak kau tak bisa
menerimanya.” tebak Wonwoo.
Minna tak mampu menyangkal lagi.
“Nah? Apa ku bilang, kan?” Wonwoo tersenyum
puas, ia usap pipi itu, “Kim Min Na, seorang gadis yang dipertemukan Kim Min
Gyu, adiknya, padaku. Kalau saja aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu,
apa kau bersedia?”.
Gadis itu mengerjap-ngerjap.
“Hei, tentu saja bukan sekarang, aku juga masih
kuliah dan kau masih berkarir untuk meraih mimpi besarmu ―lagipula Mingyu masih
membutuhkan Nuna-nya untuk
bermanja-manja.” Wonwoo mencubit pipi itu gemas, “Kau tunggu saja, pada saat
yang tepat aku akan menyematkan cincin itu untukmu.”.
Minna menghela nafas, “Wanita selalu saja menunggu.”
Wonwoo tak sengaja mendengar gumaman itu.
“Mwo?”.
“Anio.”.
“Coba ulangi.”.
Khawatir pipinya yang memerah terlihat, Minna
segera memalingkan wajah, “Sungguh, tak ada apa-apa.” tersipunya.
Wonwoo menarik dagu itu, dan mencium bibir
Minna singkat.
“Ya!
Pabo.” gertak Minna, “Nanti ada yang lihat.”.
Wonwoo mengedarkan pandang, “Gak ada orang,
tuh. Mana yang lihat?” nadanya nakal. “Sudahlah, aku merindukan itu. Memangnya
gak boleh?”.
“Bukannya gak boleh, tapi,”.
Wonwoo tersenyum, tatapannya meyakinkan. Maka
demikian, Minna pun membiarkan lelaki itu mencium bibirnya seperti yang ia
inginkan.
“Valentine-ku,”
bisik Wonwoo.
Benar, mungkin itulah yang akan Minna tulis di
buku hariannya nanti. Pada hari ini, pada tanggal ini, pada detik ini, ia akan
mengutarakan segalanya dalam bentuk tulisan.
Minna menggenggam erat buku hariannya itu.
Perlahan-lahan ia merajut senyum di wajahnya seiring Wonwoo mengusap pipinya
yang merona. Angin musim dingin berhembus hingga membuat lelaki itu memeluknya
erat.
“Ayo kita kembali,”.
“Mm, ayo.”.
***
end
***

