[FF] SICK part I
A note from Author...
Baca SICK, enaknya ditemenin lagu OST. School
2015 yang Tiger JK (ft. Jinsil) – Reset. Lebih baik, lagunya berupa
instrumental, jadi gak terlalu ganggu konsentrasi pas bacanya.
Happy reading!
Near
*****
“Aku membencimu!”.
Seketika hari itu ia berlari keluar rumah
seperti pertengkaran kami biasanya. “Pergi sana, dasar anak manja!!” gertakku
tak peduli.
Namun ketika aku berbalik, ku temukan sosok
Ayah bergeram melihat tingkahku. “Sekarang juga kau keluar!!”.
“Sayang,” pinta Ibu pada beliau.
“Keluar dan jangan kembali sampai adikmu
pulang!!” lanjut Ayah.
Aku bergidik ngeri. Hampir tak pernah Ayah
memarahiku seperti itu, beliau membuatku merinding di siang bolong ini.
Membantah, bahkan berkata sepatah katapun, aku
tak sanggup. Aku tak bisa melawan Ayah yang sudah begini. Sosok Ayah adalah
pribadi yang lembut dan selalu tersenyum. Melihat beliau seperti ini, aku tak
bisa apa-apa.
“Sayang, jangan seperti itu, Hyojung kan
perempuan.” ralat Ibu.
Namun Ayah bersikeras. “Bawa adikmu kembali! Dan
jangan pulang sebelum kau kembali bersamanya!”.
“Sayang,”.
Dengan isakan tertahan di tenggorokan, aku
bergegas dan berbalik. Ku tabrak pintu rumah dan segera berlari mencari kemana
anak itu pergi.
“Park Hyo Jung!” Ibu yang tak tega melihat
puterinya pergi pun mengikutiku dengan susah payah di belakang.
Hari ini terasa menyebalkan seumur hidupku,
hingga tak terasa aku berlari sambil menitikan air mata. Sebenarnya anak itu
yang salah! Kenapa aku yang ‘diusir’ dari rumah?!
Pertengkaranku dengan adikku memang biasa
terjadi di rumah, namun mungkin kali ini berbeda. Tidak, memang berbeda.
Aku marah besar padanya yang telah membawa MP3
Player hasil tabunganku ke sekolahnya tanpa izin. Dan sialnya lagi, ia tak
sengaja menjatuhkan gadget yang belum
genap sebulan ku beli itu ke dalam kolam ikan di sekolahnya. Tentu saja aku
marah besar.
Oh! Di sana, ku temukan sosoknya mematung di
sana.
“Myungho-ya!!” seruku.
Mendengar suaraku, bocah itu lantas kabur dan
berlari menjauh. Dasar bodoh, kembali kau!! Kalau tidak aku gak akan bisa
pulang!!
“Park Myung Ho! Kembali ke sini!” seruku sambil
mengejarnya, “Aku harus membawamu pulang!! Appa
memarahiku!!”.
“Shireo!
Nuna pasti hanya memancingku supaya
bisa memukulku!” teriaknya, “Aku gak bisa dibohongi lagi!!”.
“Park Myung Ho! Percaya padaku!”.
Tapi bocah itu berlari menyusup di antara
kerumunan orang-orang yang berjalan di pinggiran jalan raya tersebut. Sial,
bocah bertubuh kecil seperti dirinya memang sangat mudah menyelinap, sementara
aku harus kesulitan.
“Hyojung-ah! Myungho-ya! Kembali, anak-anak!”
ku dengar suara Ibu di belakang.
Sial, kenapa kau tak percaya padaku?! Tidakah
kau dengar suara Ibu di belakang sana?!
Terlepas dari kerumunan orang itu, ku dapati
adikku berdiri mematung di depan zebra
cross. Begitu melihatku, ia segera berlari menyeberangi jalan.
“Myungho-ya, kembali!!” seruku mengejarnya.
Namun tak lama, “Tiiinnn!!!”.
“Braaakkk!!!”.
Tap. Satu langkahku terhenti.
Deg. Di saat itu aku membeku.
Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.
Bodohnya aku, kenapa aku tak lantas mengejarnya ke sana?! Kenapa aku hanya
mampu membekap mulutku...,
dan menyesal...?
“Tidak mungkin,”.
***
SICK
part I
Author : Near
Genre : Family
Main Cast : OC, The8
Other Cast : Hoshi, Jun
Cameo : Dino
***
“Myungho-ya!!” seruku, terbangun hebat dari
mimpi burukku pagi ini. Berpeluh dan nafasku begitu berat.
“Nuna,
ini aku.”.
Sontak mendengar suara itu aku langsung
menoleh, lalu terkejut.
“Aku mendengar kau memanggilku berulangkali,
jadi aku datang ke kamarmu, kemudian Nuna,”.
“Bruk!” aku segera memeluknya ―adikku. Leganya,
aku masih memilikinya. Dia masih ada di sisiku.
“Nu, Nuna,
kau kena―”.
Seketika Myungho terdiam, “Hik, hik,” begitu
mendengar isakan kecilku. Tak lama berselang, ia mengusap-usap punggungku
sayang.
***
“Permen..., kapas...?”.
Aneh, Myungho aneh sekali sore ini.
“Iya, permen kapas.” kataku, “Kau dulu sangat
menyukainya! Kita, kan, seringkali membelinya tiap sore ―sewaktu masih tinggal
di sini. Apalagi waktu sekolah dasar.”.
Myungho hanya menggaruk-garuk kepalanya.
“Ah, gitu saja lupa.” decakku.
Tanpa basa-basi, aku segera menariknya ke toko
itu. Aku mengajaknya berkeliling dan melihat-lihat makanan yang kami suka di
sana.
“Belilah yang kau suka.” kataku.
Namun Myungho hanya terdiam. Yang ia ambil
justru sebatang permen dan coklat wafer. Sangat tidak wajar. Atau mungkin
karena sekarang ia sudah besar, jadi ia tidak memakan makanan masa kecilnya?
“Kau tidak beli permen karetnya? Itu, kan,
favoritmu.” koreksiku.
Myungho hanya mengangguk kecil, “I, iya benar.”
jawabnya sambil tersenyum tipis. Lalu mencari-cari letak permen karet yang ku
maksud.
“Permen karetnya di sana.” aku menunjuk tempat
yang tak jauh darinya.
Dengan kikuk Myungho mengambil permen karet itu
asal. Hm, bocah ini sudah lupa rupanya. Harusnya ia sudah hafal letak-letak jajanan
kesukaannya di toko ini.
“Ada bungeo-ppang.”
aku mengambil es krim berbentuk ikan itu dari dalam freezer.
Myungho pun mengikuti. Namun yang diambilnya
justru bungeo-ppang rasa cokelat.
“Gak mau yang kacang merah?” tanyaku, lagi-lagi
mengoreksi kebiasannya sewaktu kecil.
“Mm..., mau coba yang cokelat.” jawab Myungho
kaku.
Tumbennya bocah ini. Tapi, ya, sudahlah kalau
memang ia sudah bosan dengan jajanan masa kecilnya itu. Karena seingatku, rasa bungeo-ppang favorit kami sama : kacang
merah.
“Berapa semuanya?” tanyaku pada pria di kasir
itu.
Sejenak aku memerhatikannya. Benar, rupanya
toko ini tidak berubah, bahkan pria paruh baya yang selalu berdiri di kasir itu
pun tak pernah berubah.
“Kim
Ahjeossi.” sapaku pada beliau.
Terkejut, pria paruh baya yang kini semakin
menua itu menatapku, lalu meneliti wajahku lekat-lekat. “Nugu..., seyo...?” tanyanya hati-hati.
“Ini aku, Park Hyo Jung. Ahjeossi masih ingat gadis kecil yang tiap sore selalu beli permen
kapas dengan uang receh itu, kan?” tanyaku.
Pria itu mengingat-ingat, “Oh! Hyojungie!”
serunya sambil tersenyum ramah, “Iya, iya! Tentu saja aku masih ingat! Kau
banyak berubah, ya, sekarang?”.
Aku tersenyum senang mendengarnya.
“Annyeong
haseyo, Ahjussi. Lama tak jumpa, ya.” senyumku.
“Kau datang bersama siapa?” tanya beliau,
tepatnya memandang ke arah Myungho.
“Ahjeossi
lupa? Ini adikku, Myungho.” jawabku.
Seketika, senyumannya redup. Ada apa dengan
beliau? Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Myungho...?” koreksinya lagi, khawatir
pendengarannya yang semakin renta bermasalah.
“Iya ―Myungho.” kataku menekankan, “Apa
mungkin..., Myungho juga banyak perubahan, ya? Jadi Ahjeossi tidak,”.
“♪♫♪” ucapanku terpotong begitu sebuah pesan masuk
ke ponselku.
“Appa
sudah menyuruh kita pulang.” ucapku sambil memandang pada ponsel, “Kita harus
pulang, Myungho-ya.”.
“Mm.” angguknya.
“Ahjeossi,
maaf gak bisa lama-lama. Kapan-kapan, aku janji kami pasti bakal mampir lagi
ke sini.” senyumku.
“Iya, tentu saja.” beliau tersenyum lagi.
Setelah memberinya salam, kami pun meninggalkan
toko itu dan Kim Ahjeossi ―yang masih
terheran dengan tingkahku.
***
“Aku pulang!” seru Myungho.
“Myungho-ya? Sudah makan belum?” khawatir Ibu
sembari menyambut kedatangannya.
Namun, aku malah mengomelinya, “Ke mana saja
kau?”.
“Aku ada latihan hari ini, Nuna ―ini, kan, Minggu.” Myungho tetap saja tersenyum, “Tapi...,
aku minta maaf kalau pulangnya telat... Ada sedikit..., tambahan soalnya...” ia
menggaruk tengkuknya canggung.
“Kemari.” panggilku.
Myungho pun menurut saja, dan ketika ia
mendekat, “Tuk!!” ku sentil dahinya dengan sangat keras.
“Aduh!” rintihnya sekali lalu mengusap dahinya
yang sakit.
“Hyojung-ah?! Kau ini bagaimana, sih?” seru Ibu
yang langsung menghampiri Myungho dan memastikan anak itu baik-baik saja.
Aku terheran melihat tingkah beliau, “Kenapa,
sih, Umma?” gerutuku, “Kayaknya dulu Umma biasa saja kalau aku menyentil
dahinya Myungho? Kenapa sekarang Umma
terlalu memanjakannya?” jengkelku.
Namun, Ayah menepuk pundakku kemudian. Aku
menyelam dalam tatapannya yang memintaku untuk tenang. Aneh, saat itu aku
menganggapnya aneh.
***
“Myungho-ya, coba lihat!” seruku ketika tak
sengaja ku temukan foto kami bersama sepuluh tahun yang lalu terselip di salah
satu buku tua itu.
Bocah yang sedang asyik mendengarkan musik itu
pun beralih dan menghampiriku.
“Kau ingat, kan? Ini foto sewaktu kita kecil
dulu, kita pergi ke taman bermain bersama Umma
dan Appa. Karena keseringan berantem,
Umma akhirnya membelikan kita
beberapa cinderamata yang sama ―topi yang sama, gelang yang sama, kaos yang
sama. Supaya kita tidak bertengkar.” aku menyelam ke dalam ingatanku sendiri,
“Tapi kita akhirnya rebutan juga begitu jam makan siang datang hanya karena
jajanan! Ingat gak?”.
Aku menunggu Myungho bereaksi. Namun ia tak
juga menunjukan jawaban yang pasti.
“Kenapa diam saja?” ku pukul dadanya, “Masih
ngambek, ya? Masa ngambek sampai lima belas tahun?” candaku.
Myungho ku buat canggung pada akhirnya.
“Kau kenapa, sih?” kesalku, “Ingat, gak?”
tanyaku.
Namun belum sempat Myungho menjawabnya, Ibu
memanggilnya, “Myungho-ya, bisa bantu Umma
di gudang sebentar?!” seru beliau.
“Ne, Umma!!”
balas Myungho yang lantas berlari ke arah gudang, tanpa meninggalkan jawaban
apapun.
Dan satu pertanyaan lagi yang belum sempat ku
tanyakan padanya, “Ada apa denganya?” gumamku, sementara sosoknya menghilang
begitu saja.
***
“Nuna~ ♡
Hari ini aku pulang telat, ada janji sama Lee Channie.
Tapi janji, pulangnya gak sampai larut malam.”
sender : Nae Dongsaengie Myung Ho
“Huft, dasar anak kecil.” gerutuku siang itu,
“Bisa-bisanya ia merayu dengan ‘hati’.”.
Selesai jam kuliah, aku segera menyimpan semua
berkasku di loker. Namun begitu menutup pintu besi itu, Myungho mengirimiku
pesan tadi.
Tiba-tiba sebuah sinar yang memantul
menyilaukan pandanganku. Aku tau ini ulah siapa. Dan benar saja, begitu aku
melihat sumber pantulannya, ku temukan Sunyoung berdiri di depan lokernya yang
terbuka sambil memantulkan cahaya matahari ke cermin kecil yang ia tempel di
pintu lokernya itu.
“Hi.”
sapanya ―sok keren dan membuat perutku geli.
“Pft.” aku menahan tawa.
Setelah menutup pintu lokernya, Sunyoung
mendekatiku. “Apa kau sibuk hari,”.
“Junhui mengajak kita makan siang. Kau mau
ikut?” tawarku, sebelum sempat Sunyoung melayangkan jurusnya.
Dan yang ku tau, Sunyoung seperti menahan
sesuatu. “Yeah. Okay.” senyumnya
canggung.
Oh, maafkan aku, Kwon Sun Young. Aku tau, sejak
kecil kau menyimpan sesuatu padaku. Tapi ―mianhae―
aku tidak bisa menganggapmu lebih dari sahabat kecilku.
***
“Apa maksudmu berbeda?” tanya Jun.
“Myungho sangat berbeda.” kataku, “Dia tidak
seperti waktu kecil dulu.”.
Aku, Myungho, dan Sunyoung berkuliah di sebuah
universitas global di Seoul. Di mana ayahku bekerja di perusahaan yang
mendirikannya.
Hari ini, selepas makan siang, kami duduk-duduk
lagi di lapangan basket itu. Oya, ini Wen Jun Hui, atau hanja-nya Moon Jun Hwe, seorang mahasiswa asal Cina yang mendapat
beasiswa kuliah di universitas ini.
Kebetulan, Sunyoung dan Junhui adalah dua
sahabat Myungho dalam dance team di
kampus kami. Selain itu ada juga adik kelas Myungho, Lee Chan, yang juga ikut
serta di dalamnya.
“Sebaiknya tak usah kau anggap ia begitu ―kau
terlalu berlebihan.” ujar Sunyoung, dari yang biasanya suka bergurau entah
kenapa hari ini ia begitu bijak padaku.
Aku memandang ke arahnya, “Apa maksudmu?”
tanyaku.
Sontak, Sunyoung berpaling dariku, “Ya...,
jangan anggap dia seperti itu.” katanya, “Ingatlah, Hyojung, mereka hanya
memiliki kesamaan tanggal lahir dan nama panggilan. Selebihnya mereka
berbeda.”.
Aku berpaling, “Kau ngomongin apa, sih?”
acuhku.
“Jangan menyiksa dirimu seperti itu,
Hyojung-ah,” Sunyoung menatapku, “mungkin untuk saat ini kau menganggapnya
Myungho-mu, tapi sebenarnya....,”.
Aku menanti jawabannya, “Apa?” ku tatap ia
lagi.
Namun Sunyoung malah bangkit dari tempatnya
duduk, “Terserahlah, aku tidak tau bagaimana harus mengingatkanmu.” lalu pergi
bersama tas di punggungnya.
Junhui menatap kami berdua, “Sebenarnya, kalian
ngomongin apa, sih, dari tadi?” herannya.
Sunyoung pun meninggalkan kami berdua tanpa
peduli.
“Woi, Kwon Sun Young! Tungguin!” lalu Junhui
ikut menyusulnya, “Hyojung-ah, gak pulang? Aku duluan, ya! Bentar lagi, kan,
liburan, jadi aku mau beli tiket pulang ke kampung! Zai jian!”.
Dan dua lelaki itu meninggalkanku sendirian di
sini.
“Oya, tanyakan ke Minghao dia mau ikut atau
enggak, ya!” teriak Jun ketika ia sudah sampai di dekat Sunyoung.
Siapa? Minghao?
***
Senangnya, malam ini Ayah bisa pulang lebih
awal, bahkan mengajakku, Myungho, dan Ibu makan malam di sebuah restoran kecil
di dekat rumah kami dulu. Kami seringkali makan di sana karena masakannya yang
khas dan sedap.
Pemilik restoran sederhana ini sudah mengenal
kami sejak lama. Mampir ke sini memang tak hanya membuat perut kenyang, tapi
juga membuat tali kekeluargaan kami dengan mereka semakin erat.
“Habiskan, ya. Jangan sampai tersisa.”
senangnya bisa melihat Ayah begitu rileks malam ini.
“Jal
meog-gesseumnida.” seru kami berempat.
Makanan itupun sudah siap kami santap. Kapan
lagi makan malam bersama anggota keluarga selengkap ini, ditambah suasana
kekeluargaan yang begitu kental. Aku menyukainya.
“Bukankah kau menyukai kimchi-nya?” heranku melihat Myungho tak menyentuh makanan itu.
Tanpa ku sadari, Ayah dan Ibu memandangku
terkejut.
“Itu, kan, favoritmu di sini.” kembali ku
ingatkan ia akan masa kecilnya.
Ku lihat pandangan Myungho tak menentu, “Uh...,
iya...” jawabnya.
“Kalau begitu, makanlah ―apa yang kau tunggu.”
kataku. Lalu Ayah menatapku, aku berbalas menatap pada beliau tanpa rasa bersalah.
Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?
“Ne,
Nuna.” dengan ragu ia menjepit kimchi
itu dengan sumpitnya.
“Makanlah yang kau suka.” namun Ibu menahan
gerakan Myungho tersebut.
Aku bingung, “Umma, kenapa begitu? Myungho, kan, suka―”.
“Park Hyo Jung,” panggil Ayah.
Aku terdiam. “Apa yang salah? Lagipula, kenapa
Myungho tidak menyentuh kimchi-nya?”
koreksiku.
“Kalian berdua hentikanlah.” ingat Ibu, tanpa
sadar aku sudah membuat nafsu makan Myungho hilang.
Ada apa dengan anak ini? Gara-gara dia suasana
makan malam hari ini jadi tidak karuan. Ini bukan salahku, tapi memang bocah
itu saja yang aneh.
***
Suasana kurang menyenangkan itu berlanjut
bahkan hingga kami tiba di rumah. Aku tidak mengerti perubahan drastis Myungho
yang membuatku terheran-heran itu. Sebenarnya, apa yang membuatnya seperti ini?
“Gwaenchana..”
hanya itu yang bisa ku dengar dari balik punggung Myungho yang berjalan
berdampingan dengan Ibu.
“Hyojung-ah, ikut Appa.” ujar Ayah.
“Tapi,” elakku.
Tanpa pikir panjang, Ayah segera menarikku ke
ruang kerjanya dan menutup pintunya rapat-rapat. “Appa tak habis pikir. Bisa-bisanya kau melakukan ini pada Myungho.”
diurutnya dahi itu.
“Melakukan apa?” tanyaku.
Ayah menatapku nanar, “Kau bahkan tak
menyadarinya...?” ucapnya geger.
Sejenak kami terdiam, kemudian beliau beralih
pada berkas-berkasnya. Sebuah map kini ada digenggamannya, lalu ia lesatkan
berkas tersebut ke hadapanku.
Aku hanya memandanginya.
“Itu biodata Myungho.” ucap beliau, seakan
memintaku menyelidiki berkas yang ia berikan.
Aku mendongak. “Biodata Myungho? Apa
maksudnya?” heranku, “Appa, tolong
jangan buatku bingung.”.
“Justru kau yang membuat Appa bingung!” ucap Ayah dengan emosi tertahan.
Aku tercekat. Ada apa ini sebenarnya?
“Aigoo...”
Ayah kembali mengurut dahinya, lalu menghempas tubuhnya duduk di atas kursi
kerjanya. Ia menyadari bahwa ia baru saja marah-marah pada puterinya.
Aku tak sanggup berdiri di sana lagi, jadi aku
berlari sambil menahan tangis ―dan tanda tanya besar dalam benakku. Tak sengaja
aku melewati ruang keluarga.
“Iya, Umma.”
mendengar suara Myungho di sana, aku berhenti dan berbalik. Diam-diam aku
memerhatikan apa yang sedang ia dan Ibu lakukan.
“Kau yakin? Sudah kau pikirkan betul-betul, Adeul?” tanya Ibu, ku dapati beliau
berdiri di hadapan Myungho sambil menatap bocah itu lekat-lekat.
Myungho tersenyum, “Jangan khawatir, Umma.” lalu memeluk Ibu, “Pasti ku
kabarkan kalau aku sudah sampai di rumah, ya?”.
Ibu lalu melepaskan pelukannya, “Kau sudah ku
anggap anakku sendiri.” senyumnya sambil mengusap pipi Myungho.
Anak sendiri? Tunggu, apa maksud Ibu
mengucapkannya?!
“Tidak, aku selalu anak Umma...” Myungho mengusap air mata yang tak sengaja jatuh dari
pelupuk mata Ibu.
Tidak mungkin.
Aku membekap mulutku di saat yang sama. Aku
benar-benar terjebak dalam tanda tanyaku sendiri : sebenarnya apa yang terjadi
pada Myungho?
Siapa Myungho sebenarnya?! Tidak, dia adikkku!
Adik kecilku! Tidak ada selain itu! Dia adalah sosok yang berarti untuk
keluarga ini ―terutama untukku sendiri!
Tak bisa menahan lebih lama lagi, aku
melesatkan diri menjauh dari mereka ―menjauh dari segala fakta aneh yang
menyerangku akhir-akhir ini. Sambil terisak, aku berharap semua ini akan
berakhir.
***
[Author POV]
“Oh!
Everybody get up!”.
Hingga malam turun, para pemuda pemudi itu
belum juga mengakhiri latihannya hari ini. Dua di antaranya adalah Sunyoung dan
Junhui yang masih betah mengolah tiap gerakan menjadi sebuah koreo.
Setelah giliran latihannya selesai, barulah
Sunyoung tergerak untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedari pagi terus saja
menari.
“Masih banyak yang salah.” ucap Jun sambil
melemparkan sebotol air mineral ke arah Sunyoung.
“Ini sudah mendingan, kok.” hibur Sunyoung
setelah menangkap pemberian Jun tersebut.
Pemuda itu ikut duduk di samping Sunyoung yang sedang
mengubek-ubek isi tasnya, “Acaranya masih lama, kan, ya? Jadi aku masih punya
waktu buat pulang kampung.”.
“Iya, iya. Kita kasih kamu kesempatan liburan,
kok ―kita gak sejahat itu.” canda Sunyoung.
“Hahaha. Kalau gitu jangan kangen sama aku,
ya!” Jun membalas candaan itu.
Namun bukannya ikut tertawa, Sunyoung malah
tertegun begitu melihat layar ponselnya. “49 panggilan tak terjawab?” kagetnya.
Jun ikutan terkejut, “Banyak sekali? Dari
siapa?” ia ikut meneliti ke ponselnya Sunyoung.
“Hyojung.” jawab Sunyoung singkat sambil
menelepon Hyojung balik. Namun alangkah terkejutnya Sunyoung begitu mendengar
suara Hyojung kemudian.
“Sunyoung-ah.” dibarengi dengan isakan gadis
itu.
Sunyoung terkejut, “Hyojung-ah?” paniknya.
***
to be continued
***

