[FF] 우리의 시간 (Uri-ui shigan) (Our Time) One Fine Day
A letter from author...
Paling enak baca FF ini ditemenin lagu SEVENTEEN yang '20' dan '어른이 돼면 When I Grow Up'..
Sekian, dan happy reading!!
Paling enak baca FF ini ditemenin lagu SEVENTEEN yang '20' dan '어른이 돼면 When I Grow Up'..
Sekian, dan happy reading!!
*****
Seandainya saja aku bisa selalu begini, seandainya
saja aku selalu bisa memandangi indahnya karuniaNya seperti ini, seandainya saja
ini berlangsung sangat lama,
seandainya saja,
andaikan...,
***
우리의 시간
(Uri-ui shigan)
(Our Time)
One Fine Day
Tittle : 우리의 시간 One Fine Day
Author : Near (Retno Nate River)
Cast : Yoon Jeong Han, OC
Genre : Romance, NC +18, One Shot
Seakan tak mampu menoleransi, pagi datang dan
cahayanya menyusup ke sela-sela tirai jendela itu. Mataku terbuka begitu cahaya
itu menyerangnya.
Dengan sedikit malas aku terbangun, namun
ketika aku melihat siapa yang di sampingku, aku langsung tersenyum ―dan jadi
sedikit bersemangat.
Wajah manisnya menyambut pagiku kali ini ―pagi
yang berbeda. Aku sangat mensyukurinya, seandainya saja ini bisa terjadi di
setiap pagiku ―tapi itu mustahil.
“Ireona.”
bisikku padanya, ku cubit pelan pipinya yang menggemaskan itu.
Dan aku tau, aku sudah mengganggu mimpinya,
“Masih ngantuk...” ia memeluk tubuhku dan lanjut tertidur.
Aku tertawa ―lucunya. “Sudah pagi tau.” ku
dorong tubuhnya menjauh, sehingga aku bisa melihat wajahnya yang masih sedikit
kacau.
“Oppa...”
rengeknya, dengan caranya sendiri meminta padaku.
Lagi-lagi aku tertawa, “Sejak kapan kau
memanggilku begitu, uh?” sahutku, “Ayo bangun, terus sarapan.” kataku.
“Lima menit lagi...” rengeknya, menggemaskan.
***
Keluar dari kamar mandi, aku mencium aroma
sedap tepat dari dapur. Aku yakin, dia pasti sudah menyiapkan sarapan.
Ku lihat, ia baru saja selesai memasak dan kini
sedang menikmati teh paginya. Gadis itu berdiri tepat di depan jendela dapur
membelakangiku.
“Sepertinya enak.” ku kejutkan ia dari
belakang, ku lingkari pinggangnya dan benar saja ―dia terkejut karena ulahku.
“Kkamjjak.”
kagetnya.
Aku tersenyum melihatnya terkejut.
“Nih, aku sudah membuatkan kopi untukmu.”
diseretnya secangkir kopi di atas meja dapur tak jauh dari jangkauannya.
Aku mengecup pipinya, “Gomawo.” ucapku. Dengan terpaksa ku lepas pelukanku darinya dan
beralih pada kopi buatannya.
Sementara ia berdiri menghadap jendela, aku
bersandar pada meja dapur membelakangi jendela dan memandanginya sesuka hatiku
―selama aku masih punya waktu memandanginya.
“Bagaimana kabar yang lainnya?” tanyanya,
kemudian ia duduk di atas meja.
Aku memandanginya sejenak, lalu menghadapnya.
Kedua tanganku berpangku pada meja, tepat di sisi kanan dan kiri gadisku.
Sengaja memandanginya jauh lebih dekat.
“Kami semua diberi tiga hari libur.” jawabku.
“Apa semuanya pulang ke rumah masing-masing?”
ucapnya sambil merangkul leherku dengan kedua tanganya.
“Mm.” aku mengangguk.
Ia juga memandangiku, “Lalu kalau cuma tiga
hari, kenapa kau ke sini? Tidakkah kau ingin bertemu keluargamu? Tiga hari itu
singkat, lho.” katanya.
Aku tersenyum, “Jangan cerewet ―aku juga tau
tiga hari itu singkat.” kataku, “Tapi setidaknya, beri aku sehari saja untuk
bertemu denganmu. Apa kau tak bosan hanya memandangiku lewat layar kaca? Kau
tak bosan mendengar suaraku saja? Kau tak bosan hanya berbalas pesan denganku dan
itupun tidak setiap hari?”.
Sederet kalimatku itu berhasil membuatnya
cemberut, “Iya, iya.” bibir itu mengerucut. Betapa lucunya.
“Hehehe.” cengirku, “Mian.” ucapku singkat. Ia menepuk bibirku ketika berusaha menyentuh
bibirnya.
***
“Aku akan memotong rambutmu.” ancamnya
―bercanda.
Dan lagi, aku tertawa mendengarnya. Kali ini
giliranku menyisir rambutnya. Ini salah satu kegiatan iseng kami jika
bersama-sama. Mengeringkan rambut, menyisirnya, menatanya, merawatnya, semuanya
dilakukan bersama.
“Aku tidak sadar rambutmu bertambah panjang
secepat itu.” katanya.
“Hei, tidakkah kita jadi pasangan yang unik?”
ucapku.
“Karena rambut kita sama panjangnya?” tebaknya.
“Terlebih lagi, kau cukup tomboy. Sudah sebelas
dua belaslah kita.” tambahku.
“Ya,” ia memainkan rambutnya yang sudah ku
sisir, “terlebih lagi kalau orang-orang mellihat kita bersama. Pasti jadi
terlihat aneh.”.
Aku tertawa, ada benarnya juga.
“Bukan begitu,” lagi-lagi aku kena omelannya.
Kali ini, pasti ada yang salah dari caraku menyisir rambutnya.
“Biarkan aku menyisirnya.” ku cegah tanganya
dari sisir yang ku pegang.
“Tapi bukan begitu caranya.”.
“Iya, aku tau ―dasar hairstylist.” cibirku ―bercanda, “Aku akan melakukannya lebih
hati-hati sekarang.”.
“Jangan mencibir pekerjaanku.”.
“Aku, kan, cuma bercanda.”.
“Kalau begitu, aku juga bercanda.”.
“Kau ini.” dan ia menertawaiku.
***
Dan di sinilah kami pada akhirnya. Tepatnya di
taman belakang rumahnya yang kecil namun asri. Kami bermain dengan lima anak
kucing peliharaannya yang aktif dan gesit, tak lupa juga sepasang induknya yang
hanya berdiam saja di depan pintu belakang rumah.
Hari-hari kami jadi tidak terasa hambar karena
kehadiran Dada, Chichi, Nunu, Jaeje, dan Momo. Benar, ialah yang memberi nama
untuk kelima anak kucingnya, sementara induknya sudah lebih dulu ku beri nama,
Jjujju dan Jjangie.
“Coba lihat.” ujarnya melihat Jaeje bermain
dengan rambutku yang panjang.
Kami pun terhibur melihat aksi menggemaskan
kelimanya yang tak hanya bermain dengan bola mainan ataupun tali-talian yang kami
berikan, tapi juga dengan jemari, rambut, atau bahkan pakaian kami yang
menjuntai dan menarik perhatian mereka.
Sesekali cakaran dan gigitan kecil mereka
membuat kami tertawa karena terasa geli, terutama dia. Aku senang sekali
melihatnya tertawa gemas melihat kelima anak kucingnya bermain-main dengan
jemarinya yang masuk ke dalam mulut mereka.
“Hahaha.” gelinya, “Coba kau lihat, Dada dan
Chichi menggigiti jemariku!”.
Aku pun tak bisa apa-apa karena Nunu naik ke
atas pundakku melihat tali-talian yang sengaja ku letakan di atas kepala
menjuntai ke bahuku, dan makhluk mungil itu naik hanya untuk menangkapnya.
Sementara Momo yang sudah malas pun hanya tiduran di pangkuanku.
“Hahaha, aku tidak bisa menahan betapa
gelinya!” ujarnya ketika Jaeje menjilati jarinya.
Ya, setidaknya meski kami belum bisa pergi
jalan-jalan keluar, bermain bersama anak-anak kucing seperti ini sudah membuat
kami senang.
Sayang, demi impianku, aku tidak bisa tampil
bersamanya, aku tak bisa menghadap dunia bersamanya. Kami ―dan hubungan ini―
bersembunyi dari dunia. Namun kami merasa baik-baik saja, kami punya mimpi
masing-masing dan kami mendukung satu sama lain.
Suatu hari nanti, ketika ia datang kepadaku
setelah impiannya tercapai, kami pasti bisa lebih sering bertemu, meski tak ada
kemungkinan pasti untuknya selalu menata rambutku sebelum tampil di atas
panggung.
Dia masih cukup muda, dia masih harus banyak
belajar. Aku tak ingin dunia mengeksposnya karena aku. Mimpinya bahkan belum
tercapai.
Suatu hari nanti, ketika impianku dan impiannya
tercapai, ketika musikku lebih terkenal, ketika kami menjadi sosok yang
berhasil, aku akan memperkenalkannya pada dunia, pada siapapun, tanpa rasa
takut maupun khawatir. Aku akan menunjukan pada dunia betapa aku menyayanginya.
Aku terus memandanginya dengan pandangan
kosong, selama aku masih bisa memandangnya aku ingin terus melakukannya. Ku
sentuh pipinya, ku usap lembut, dan aku tersenyum karena bisa merasakannya
seperti ini.
Rasa rinduku yang menggunung sirna sudah meski
hanya dalam waktu sehari. One fine day
with her, aku menjalaninya, menjahitnya satu per satu seperti rajutan
hingga menjadi sebuah memori yang takkan ku lupakan.
Kami bahkan rela terpisah seperti ini demi
impian kami, demi apa yang kami perjuangkan selama ini, demi mendapatkan apa yang
kami impikan.
Benar, kami harus bersabar hingga waktu yang
tepat tiba.
“Tik, tik, tik.” tanpa sadar tetesan air dari
langit berjatuhan satu per satu.
Salah satunya menimpa pucuk kepalanya, “Uh?” ia
mendongak ke atas, “Hu, hujan...?” gumamnya.
Tetesan air itu perlahan-lahan menjadi lebih
banyak dalam waktu singkat. Di saat itulah, anak-anak kucing itu berlarian
mencari tempat berteduh sesegera mungkin ―seakan tetesan air hujan itu akan
membunuh mereka.
“Ya,
odiga?!” paniknya melihat semua anak-anak kucingnya kabur.
Momo, Nunu, dan Chichi dengan cermat berlari ke
dalam rumah, namun Dada dan Jaeje berlari ke sembarang arah. Dan ia dengan
segera menangkap mereka sebelum keduanya kebasahan.
“Dada! Jaeje! Kembali!” serunya mengejar kedua
anak kucingnya, tanpa peduli hujan perlahan membuatnya basah.
Ia terkejut melihatku datang membawakan payung
untuknya. Dengan Jaejae dan Dada di dalam pelukannya, ia memandangku kosong
yang hanya berdiri memayunginya.
“Jeong..., han...” aku suka mendengar namaku
disebutnya.
Aku tersenyum, di saat yang sama Jaeje dan Dada
melompat dari pelukannya dan berlari ke dalam rumah mengekori
saudara-saudaranya.
Ini saat yang tepat.
“Tidak bisakah kau selamatkan dirimu sendiri?”
protesku.
Lagi, bibirnya mengerucut, “Anak-anak itu
berlari ke arah yang salah. Kasihan, kan, kalau mereka kebasahan?” ia tak mau
kalah.
“Tapi aku lebih tidak bisa melihatmu basah
kuyup.”.
“Mereka juga anak-anak kucingmu.”.
Hm, kalau begini jadinya, “Baiklah, aku kalah.”
ujarku ―mengalah, “Lalu, bagaimana kalau kau kebasahan ―tapi bersama
denganku?”.
Ia bingung, “Ng?” herannya.
“Jangan pura-pura gak tau.” ujarku.
Dengan segera, aku menyambar bibirnya. Di saat
itu, aku tau ia terkejut tapi ia menyukainya. Aku sengaja menjatuhkan payung
yang ku pegang. Tadinya ku pikir hanya sekejap saja, namun aku berubah pikiran
ketika aku bisa merasakan ia membalasku.
Aku merangkul pinggangnya, di saat yang sama ia
menyentuh pipiku. Kami bertahan lebih lama di situ, tak peduli meski kami sudah
basah kuyup seperti ini. Aku hanya ingin merasakan momen seperti ini lagi.
Ku mohon, hanya untuk hari ini, berikan aku
bahkan satu kali saja.
***
“Maaf jadi basah.” ucapku ketika ku jatuhkan
handuk di atas kepalanya.
Benar, kami basah-basahan seperti ini. Begitu
masuk ke rumah, kami segera menghangatkan diri setelah ganti baju sebelumnya.
Aku memberikannya secangkir cokelat hangat yang
ku buat ketika ia ganti baju tadi padanya, sementara secangkir yang satunya
lagi untukku. Kami duduk-duduk di ruang tamu sambil menyalakan penghangat
ruangan, sementara kucing-kucing itu berkeliaran di dalam rumah.
“Kau akan pulang besok?” tebaknya.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Kapan lagi kau akan libur?”.
Mendengarnya, aku mengangkat bahu, “Nado moreugesseo...” ucapku, “Libur itu
cukup sulit, bisa video call denganmu
saja itu sudah cukup membuatku senang, apalagi bisa bertemu denganmu seperti
ini.”.
Ia menghela nafas.
“Bersabarlah...” ku usap kepalanya dengan
handuk sambil tersenyum. “Kau sendiri, bagaimana dengan sekolahmu? Kau belajar
dengan baik? Apa kau akan mendapat training
di sebuah perusahaan fashion?”
tanyaku berulangkali.
“Belum pasti.” jawabnya setelah menyeruput
cokelat hangatnya.
“Lalu, apakah kau akan bekerja seperti haristylist yang biasa ku lihat setiap
hari?” ku ubah posisi dudukku jadi lebih dekat dengannya.
“Belum tentu.” katanya, “Lagipula, aku, kan,
penginya bekerja di sebuah perusahaan fashion.
Ya, kau taulah, yang biasanya di acara-acara besar nan penting ―bukan untuk idol sepertimu.”.
Kali ini, aku yang mengerucutkan bibir, “Berarti
menjadi seorang hairstylist untuk
para idol itu gak lebih penting, ya,
daripada acara-acara fashion seperti
itu?” ucapku ―meski tidak mengerti istilahnya.
“Bukan begitu maksudku.” ia merengek lagi.
Lantas aku tersenyum, “Jangnaniguyo. Bercanda, kok.” usilku.
Ia mendelik ke arahku, lalu memukul dadaku. Aku
hanya tertawa karena tingkah manisnya, “Gak lucu tau! Gak lucu!” sebalnya.
Lelah memukuliku, aku menangkap kedua tangannya
dan mendekapnya segera. Ketika ada kesempatan, aku mengecup dahinya.
“Tanganmu dingin sekali.” ucapku.
“Gak juga.” ia berusaha terlihat baik-baik saja
di depanku.
Aku mendekap tangannya, “Aku tidak ingin kau
kedinginan, sebentar lagi pasti musim salju. Aku tidak ingin kau sakit.”.
“Aku tau.” katanya.
Sejenak hening, aku menikmati kelembutan
tanganya yang ku dekap. “Kalau kau tidak menemukanku di sampingmu besok pagi,
jangan menangis ya.” ucapku.
Ia menoleh ke arahku, di saat yang sama aku
menatapnya.
“Kau pasti sudah pergi.” tebaknya.
“Maja.”
ucapku.
Hening lagi.
“Ini cukup sulit...” ucapnya.
Aku mengecup dahinya, “Bersabarlah...” ucapku
lembut, ku eratkan lagi dekapanku padanya, “Pasti ada hari di mana kita akan
selalu bersama-sama tanpa perlu mengkhawatirkan pandangan orang lain.”.
Ia mengangguk. “Aku menunggu hari itu.” katanya,
bersandar dalam pelukanku.
Aku menghela nafas, “Aku menjalani hari ini
dengan sangat baik. Inilah salah satu hari yang tak ingin ku lewatkan sesaat
pun. Hari di mana aku ingin menemukan kebahagiaanku : kau.” ucapku sambil
mengusap-usap rambutnya.
Ia menggenggam beberapa jemariku, ia
menikmatinya ―sentuhanku.
“Jika kau lelah, tidurlah.” kataku.
“Aku tidak pernah lelah bersamamu.” ucapnya.
Membuatku tersenyum, dan kembali aku mengecup pipinya.
Tak ada lagi yang seperti dirinya di dunia ini. Aku hanya menginginkannya.
***
“Ije
dallayo. Sekarang berbeda.” ucapnya.
Aku melirik ke arahnya, “Hm?” tanyaku yang
berbaring di atas pangkuannya malam itu.
“Yang tadi.” jelasnya.
“Memangnya apa yang berbeda?” tanyaku, sudah
yakin aku telah menangkap apa yang sedang dibahasnya sekarang.
“Kau agak-lebih-sedikit dewasa.” katanya,
“Sesuatu yang berbeda yang pernah ku rasakan darimu.”.
“Agak-lebih-sedikit?” aku terkekeh, “Apa tidak
ada yang lebih baik dari itu?”.
Ia berdecak, “Ayolah, aku hanya ingin
mengutarakan bagaimana rasanya, ya jadinya aku bilang begitu.” katanya.
Aku tersenyum, “Ya, memang agak-lebih-sedikit
karena ―kau harus tau― yang tadi itu belum apa-apa.” kataku.
Gadisku terheran, “Maksudmu?” tanyanya.
Seraya bangkit dari pangkuannya, aku berkata,
“Mungkin malam ini,” kataku, “aku akan menunjukkannya padamu ―tidak, aku akan
memberikannya.” dengan keyakinan penuh.
Ia melirik ke arahku.
“Junbi
dwaesseoyo?” tanyaku sambil mengusap pipinya.
“Untuk apa?” tanyanya, tak merubah pandangannya
padaku, “Kau pikir sudah waktunya?” tanyanya lagi.
Aku tersenyum.
“Kita mengenal baik sejak kecil. Dari situ,
kita selalu berjanji untuk bersama-sama. Kau cinta pertamaku, aku cinta
pertamamu, dan aku yakin kita akan bertahan sampai akhir.” ucapku, “Seiring
berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, aku yakin hubungan ini pasti
mengalami perubahan sedikit demi sedikit ―sesuai tahapan.”.
Kembali ia menatapku.
“Kau ingat waktu kecil dulu?” ku usap lembut
pipinya, “Ketika aku memetik bunga di taman sekolah hanya untukmu dan aku malah
kena omelan guru? Atau ketika kita berbagi bekal makanan sewaktu study tour kelas 3? Atau ketika kita
sering kali pulang pergi naik sepeda bersama waktu SMP? Atau ketika...,”.
“Ketika apa?” tanyanya ―penasaran.
Aku menatapnya usil, “Atau ketika,” ku teruskan
perkataanku, “aku menciummu untuk pertama kalinya?”.
Ia menangkap sorot mataku yang dalam.
”Di bawah anak tangga..., ketika tak seorang
pun di sana..., dan kau merasa kesepian...” ucapku dalam, ku sentuh beberapa
bagian wajahnya yang ku suka, ”Dan ketika kau melepasku..., untuk mengejar
impianku..., aku memberikannya untuk pertama kalinya...”.
Ia menelan ludah, seakan ia menelan semua rasa
pahit di masa itu.
“Sama-sama pertama kali ku lakukan dan kau
dapatkan ―benar?” senyumku, tak tahan melihat manis wajahnya, “Uggh, aku harus
menahannya ―untuk sejenak...”.
“Kenapa? Ada apa denganmu?” tanyanya khawatir.
Aku memandang dalam kepadanya, “Wajahmu ―manis.
Itu selalu menggodaku.” kataku sejujur-jujurnya.
“Jadi selama ini kau hanya menyukai wajahku?”.
Ia membuatku terkekeh. “Aku menyukaimu
seutuhnya.” kataku, “Hanya saja..., aku sangat menyukai beberapa bagian dari
wajahmu...”.
“Oh ya?” katanya.
“He-em.” anggukku.
“Dari wajahku? Bagian apa?”.
Dan aku menjawabnya dengan sangat akurat.
“Matamu, bibirmu..., aku menyukainya...” kataku.
“Hanya itu saja?” katanya, tak merasa puas, “Kenapa
cuma itu? Apa alasannya?” tanyanya lagi.
“Ada dua. Yang pertama, karena matamu jendela
duniaku.” jawabku, “Dan yang kedua, karena aku bisa mencium bibirmu.” lanjutku.
Tak ingin memberinya selang waktu, aku segera
menyambarnya. Hah, kesabaranku runtuh sudah, aku tak lagi mampu menahannya.
Yoon Jung Han, sialan. Jangan melampiaskannya berlebihan!
“Mianhae.”
ucapku buru-buru setelah hampir semenit aku terlalu menikmatinya, “Harusnya aku
bisa menahannya sejenak.”.
Namun ia masih bisa menatapku utuh, “Aniyo.” dan masih berusaha untuk terlihat
baik-baik saja di depanku. “Kalau kau menginginkannya, lakukan saja.” katanya.
Benarkah? Tapi bagaimana dengan perasaanku? Aku
masih berusaha menahannya, hingga aku menggigit bibirku ―menahan apa yang
sebenarnya ingin ku lakukan.
“Cup.” sekali lagi aku menciumnya karena tak
kuat menahan godaan itu.
Ah, sial.
“Yoon Jung Han.” ia mendorongku ketika sudah
terlalu lemah.
“Junbi isseoya
dwae.” bisikku, lalu melakukannya lagi hingga ia akhirnya tak mampu
menahanku dan jatuh terbaring.
Aish, ku rasa aku tak bisa melanjutkan
cerita ini! Tapi sebenarnya..., tanpa sadar aku sudah membuka beberapa bagian
dan ia tak mampu berkutik melawanku lagi.
Jadi, ya, aku termakan godaan lagi.
“Geuman..”
rintihnya.
Namun dengan sembrono aku melakukannya sendiri,
tanpa peduli seakan aku tak punya belas kasihan sedikit pun. Aku sudah
terlanjur menikmatinya.
Kau yakin ingin mendengar ini? Tidak, aku tidak
bisa menjelaskan inci demi inci ceritanya. Karena aku melakukannya bak di alam
bawah sadarku. Bahkan aku tak yakin bagian mana saja yang ku ‘sentuh’.
“Mian.”
kataku, “Tahan sedikit.” pintaku padanya.
Tanpa mau mendengar alasan apapun, ku lakukan
apa yang ingin ku lakukan malam itu bersamanya ―meski aku harus membuatnya
sedikit merasa sakit. Tapi aku yakin, ia pasti menyukainya juga.
Astaga, aku sendiri bahkan tak percaya telah
melakukan itu padanya. Mm, mungkin karena aku terlalu menyukainya. Sekarang,
kau bisa bayangkan sendiri bagaimana aku menghabiskan malam itu bersamanya.
***
“Kalau kau tidak menemukanku di sampingmu besok
pagi, jangan menangis ya.”.
“Kalau kau tidak bisa
mengejarku, jangan menangis ya.”. Selalu, sejak kecil, aku mendengar kalimat
yang tidak jauh berbeda.
Aku berdiri,
memandangnya termangu yang sudah berlari bersama anak-anak yang lain. Waktu
itu, kami masih TK dan sering main kejar-kejaran begitu jam istirahat.
Kebanyakan dari mereka
bocah laki-laki, dan aku tak mampu mengejar mereka ―apalagi dirinya. Dengan
cengirannya yang menyebalkan, ia berlari-lari menghindariku.
Awas saja, kali ini
aku pasti bisa menangkapnya!
“Ayo tangkap aku kalau
bisa!!” ledeknya masih sambil nyengir. Dan aku tak putus asa menangkapnya.
Namun, “Bruk!!” aku
terjatuh begitu keras ketika berusaha mengejarnya.
Ia berbalik dan
melihatku yang jatuh tersungkur seraya menangis sekeras-kerasnya. “Seohyun-ah!”
serunya dan berlari ke arahku.
“Sayang, kau tak apa?”
namun Ibu keburu menggendongku sebelum ia sempat menghampiriku, “Jangan
menangis, Ibu obati, ya. Pasti langsung sembuh.” hibur beliau, dan yang ku tau
ia hanya termangu memandangiku.
***
Ku lihat, ia
duduk-duduk saja.
“Harusnya aku yang
mengobatimu.” cemberutnya.
Aku melirik ke arahnya
dari atas ranjang. “Hng?” ujarku.
Dan kini ia mendongak
ke arahku, “Kau, kan, jatuh gara-gara aku.” katanya, “Harusnya aku yang
menolongmu.”.
“Memangnya kau bisa?”
tanyaku, “Memangnya kau bisa menggendongku seperti Ibuku?” tanyaku lagi.
“Huft.” ia
menggembungkan pipinya dan kembali menyandarkan kepalanya pada tepi ranjang,
“Kalau aku dewasa nanti, aku yang akan menolongmu! Aku yang akan melindungimu!
Aku takkan membuatmu jatuh lagi! Aku janji! Aku, kan, laki-laki!”.
Aku terbelalak
mendengarnya.
“Lihat saja!” ia
menatapku lagi, “Begitu aku dewasa nanti, aku yang akan selalu ada buatmu!”.
***
“Ayo lebih tinggi
lagi!” seru bocah-bocah sekolah dasar itu yang tau-tau sudah ada di atas pohon.
Dan para gadis kecil
ini pun hanya mampu berdiri di bawah pohon sambil menunggu buah yang mereka
petik jatuh. Tapi aku ingin yang berbeda.
“Hei, mau ngapain kau?
Manjat juga?” ledek seorang bocah.
“Memangnya bisa?”
ledek yang satunya lagi, lalu mereka menertawaiku.
Kecuali bocah itu.
Ketika mereka semua
sudah memanjat, aku malah terdiam. Nyaliku ciut seketika mereka meledekku tadi.
Namun bocah itu malah membangkitkan semangatku lagi.
“Mau naik?” ia ulurkan
tanganya padaku.
Aku mendongak ke atas
pohon dan ku temukan ia berpegangan pada batangnya sementara tangan yang
satunya ia ulurkan padaku.
“Ayo.” ajaknya, “Aku
akan menolongmu.” cengirnya.
Aku terdiam. Namun ia
tak mau hanya menunggu. Segera ia menarikku ke atas dan menunjukkan betapa
serunya di sana.
“Kau bisa lihat
rumahku.” katanya.
“Di sebelahnya
rumahku.” kataku tak mau kalah.
Ia memandangku,
“Keren, bukan?” katanya.
Aku mengangguk.
“Begitu aku dewasa
nanti, aku akan menunjukkan yang lebih keren dari ini!” katanya, kepedean. “Aku
akan menunjukkan betapa indahnya dunia padamu.”.
Lagi, kata-kata yang
tak jauh berbeda.
***
“Ya! Tunggu aku!”
serunya.
Aku malah sudah
berlari ke parkiran sepeda dan segera menghampiri sepedaku di sana. Dengan
cepat, siang itu aku menggoesnya keluar sekolah menengah pertamaku untuk segera
pulang ke rumah karena langit siang ini mendung. Aku tak bisa menunggunya
terlalu lama, aku tidak mau kehujanan.
“Seohyun-ah!”
seruannya makin lama makin tak terdengar ―aku semakin menjauh dari sekolah.
Buru-buru pulang,
entah apa yang terlindas banku hingga aku mendengar letupan kecil dan sepedaku
oleng. Untung saja, aku tidak apa-apa, hanya saja ban sepedaku...,
“Bocor...?” kagetku,
“Pasti kerikil tajam.”.
Tak lama terdengar
suara gemuruh petir. Bagaimana ini? Aku harus segera pulang. Jalanan ini begitu
sepi, tentu saja karena ini adalah jalan pintas ke rumahku.
“Sebentar lagi hujan.
Aku harus segera pulang.” rengekku sendiri, aku sudah berpasrah diri jikalau
harus kehujanan di sini.
Apalagi sendirian.
“Shin Seo Hyun!!!” tak
lama ku dengar seseorang mendekat.
Aku berbalik dan
menemukannya menggoes sepedanya ke arahku. Tunggu, bagaimana ia bisa tau kalau
aku lewat jalan ini?
“Ku bilang tunggu, ya,
tunggu.” protesnya begitu sampai di hadapanku, “Kenapa buru-buru, sih? Lantas
sedang apa kau berhenti di sini?”.
“Ban sepedaku...”
ucapku lirih.
Ia melihat ke benda
yang ku sebut, dan malah nyengir setelahnya, “Makanya, kalau ku bilang tunggu,
ya tunggu.” katanya, menyindirku.
“Geureom ottokhaji?” kataku.
“Tinggalkan saja sepedamu
di sini, naik ke sepedaku.” katanya.
“Mwo?! Aku gak mau meninggalkan sepedaku!” kataku.
“Hm, ya sudah.”
katanya yang segera berlalu meninggalkanku.
Aku jadi ngeri
ditinggal sendirian, “Yoon Jung Han!!!” teriakku berusaha menahannya.
Ia pun berhenti dan
nyengir lagi padaku, “Kau pikir aku tega meninggalkanmu sendirian?” katanya
sambil menoleh ke arahku.
Bocah itu mendorong
sepedanya mundur.
“Ayo, kita tuntun
sepeda sama-sama sampai ada bengkel sepeda terdekat.” katanya.
“Tuntun sepeda? Tapi
sebentar lagi hujan turun.” kataku.
“Kenapa harus takut?
Kan, ada aku.” katanya, “Tak ada yang perlu kau takutkan kalau ada aku di sini!
Kalau hujan, aku yang akan meneduhkanmu. Kalau kedinginan, aku yang akan
menghangatkanmu. Kalau sakit, aku yang akan mengobatimu.”.
Lagi, kata-kata itu...
“Aku, kan, laki-laki!”
dan cengirannya yang khas itu...
***
Hari itu, “Hiks...”
aku menyendiri, ”Hik, hiks...”.
Aku berusaha terlihat
baik-baik saja di depan semua orang hari ini. Bahkan aku masih bisa menjelaskan
materi di depan kelas ketika guru menugaskanku.
“Hik...” ku usap air
mata yang sudah terlanjur jatuh itu.
Aku tak berharap aku
akan menangis, aku bahkan tak tau kalau aku akan menangis seperti ini. Jadi
sekarang, yang ada aku malah menangis tersedu ―terlebih lagi sendirian.
Jika ia memang memilih
jalan itu, jika memang ia menginginkan itu, jika memang ia memimpikannya, jika
memang...,
“Seohyunnie.”
panggilan itu mengejutkanku.
“Junghan...” batinku menyadari seseorang yang memanggilku dari belakang.
Segera aku bergegas
menghindarinya. “Seohyun-ah!” dan aku tau ia akan mengejarku. Aku mulai berlari
seakan dikejar hantu, tapi yang mengejarku saat ini adalah seseorang yang
sangat ku sayangi.
“Shin Seo Hyun!!” ia
berhasil menggenggam tanganku ketika kami sampai di dekat tangga, “Jangan
pura-pura tak mendengarku!”.
Berbeda dari Yoon Jung
Han yang ku kenal, lelaki di hadapanku siang ini begitu serius dan sedikit
dingin. Aku bahkan hanya mampu menunduk, tak berani ku tatap wajahnya.
“Seohyunnie,” ia
membujukku.
“Pergilah.” kataku,
masih menyembunyikan wajahku, “Jika itu maumu, pergilah.”.
Ku dengar decakannya
―dan ia masih menggenggam tanganku. “Dengarkan aku,” ketika tangannya yang
satunya lagi hendak menyentuhku, aku menghindarinya.
“Ku bilang, pergilah!”
gertakku.
“Baik jika kau ingin
aku pergi!” ia tak mau kalah, “Tapi aku tidak ingin melihatmu seperti ini!”.
“Kalau begitu jangan
pergi!” ku tatap kedua matanya.
Ia terkejut bukan
main.
“Kajima...” kataku, tanpa sadar air mataku jatuh.
Tak mampu menatapku
lebih lama, lelaki itu langsung menarik tubuhku ke dalam dekapannya dan
memelukku erat. Aku menangis dalam dekapannya, berusaha menyampaikan agar ia
tidak pergi.
“Pernahkah orangtuamu,
paman bibimu, atau orang-orang dewasa di sekitarmu bertanya hal ini sewaktu kau
masih kecil,” diusapnya rambutku, “Kalau sudah besar nanti, mau jadi apa?’,
pernah?”.
Kini aku terisak.
“Semua anak berhak
punya cita-cita, dan berhak pula meraih cita-cita mereka.” ia masih mengusap
rambutku, “Termasuk kita berdua, ya, kan?”.
Sekarang, kami saling
bertatapan.
“Gadis itu memang
selalu menunggu dan menunggu,” katanya sambil tersenyum tipis ke arahku,
sementara tangannya menghapus air mataku, “benar, menunggu cintanya pulang.”.
Tangisku pun mulai
reda.
“Gadis itu memang
selalu menanti,” katanya, tersenyum manis, “menanti hari mereka datang.”.
Kali ini, aku bisa
menatapnya penuh.
“Kita ini belum
apa-apa, usia kita pun tak ada apa-apanya.” lembut sekali ucapannya, “Masih
banyak tahapan dan ujian yang menanti, aku tak ingin kita berhenti begitu saja
hanya karena satu atau dua rintangan. Kita sudah berjanji sejak kecil, bukan?”.
Disekanya rambutku.
“Maaf, cheonsa-mu yang satu ini harus membuat yojeong-ku menanti untuk waktu yang sangat lama ―sendirian.” senyumnya padaku,
“Tolong doakan aku, agar impianku segera tercapai. Aku juga akan mendoakanmu
selalu. Karena kita menginginkan hari itu segera datang untuk kita.” katanya, “Algetji?”.
Aku mengangguk.
“Aku memang akan
pergi, tapi aku janji aku akan kembali,” ku tangkap senyumannya itu,
“padamu...”.
Sejenak hening
menemani kami berdua. Hingga akhirnya lelaki di hadapanku ini mendekatkan
pandangannya ke arahku, dan aku hanya terdiam melihat raut wajahnya semakin
dekat dan dekat.
Aku pun membiarkan dia
menyentuh bibirku untuk pertama kalinya. Seakan mewakili semuanya, ia seperti
mengucapkan berbagai hal padaku. Ungkapan sayang, perpisahan, pesan, dan betapa
berartinya diriku dalam hidupnya.
Hanya dalam semenit
itu, cheonsa-ku bisa mengungkapkannya.
***
“Kalau kau tidak menemukanku di sampingmu,
jangan menangis ya.”.
Antara nyata dan mimpi, antara fakta dan fiksi,
Seohyun mendengar suara lelaki itu dari kejauhan sana.
“Junghan...?” ia seperti mengigau.
Dibukanya perlahan kedua mata itu, ia dapati
hari telah pagi. Cahaya mentari sudah berani menyusup ke dalam kamarnya. Di
situ, ia baru sadar bahwa hari telah berganti.
Buru-buru Seohyun bangkit terduduk dari
tidurnya, mengedarkan pandangan mencari bathrobe
untuk menutupi tubuhnya, memakainya, dan bergegas menghampiri si pemilik suara
itu di luar sana.
Dari celah pintu kamar, Seohyun dapati Junghan
tengah berdiri di dapur sambil memegang ponselnya, merekam dirinya sendiri di
memori pribadi gadisnya sebagai pesan sebelum ia pergi ke kediamannya.
“Benar, aku sudah berangkat.” senyum Junghan,
“Hyunnie, aku ingin kau tetap baik-baik saja selama aku tidak bisa melihatmu,
selama aku tidak bersamamu.”.
Junghan berdiri menghadap jendela dapur untuk
mendapat pencahayaan natural, sementara itu ia tidak menyadari kedatangan
gadisnya.
“Oya, soal semalam, mianhaeyo. Pasti agak mengganggumu, tapi kau suka, kan?” kata
Junghan pada kamera, “Jangan lupakan saat-saat itu, ya. Kau pasti akan,”.
“Bruk.”kata-kata Junghan terputus ketika
Seohyun memeluknya dari belakang secara mengejutkan. Junghan terbelalak dan
memandang ke arah gadisnya.
“Hyunnie...?”.
“Geurae,
an ijeulkeoya. Iya, takkan ku lupakan.” Junghan tak mampu melihat matanya,
gadis itu sengaja menyembunyikannya dari kekasihnya.
Lelaki itu segera berbalik dan memeluknya juga.
“Maaf, aku harus pulang sekarang...” ucapnya dalam.
“Gwaenchana.”
ucap Seohyun meski sulit.
“Uljima.”
Junghan mendongakkan dagu itu.
Namun ia menemukan gadisnya sudah menitikan
beberapa bulir air mata. “An ureo. Aku
tidak menangis.” dan gadisnya masih saja bisa berdalih.
Junghan menahannya, hingga matanya berair, “Kau
menggemaskan kalau lagi bohong ―nanti hidungmu panjang seperti Pinocchio.”
candanya, berusaha tidak menangis.
“Boleh aku bilang ‘Kajima’?” serbu Seohyun segera, “Boleh aku ikut denganmu?”.
Junghan tak tega. “Seohyunnie,”.
“Junghan-ah, aku tak ingin terpisah lagi ―ini
menyiksaku.” kali ini Seohyun menangis.
Apa yang harus diperbuatnya? “Jangan buatku
menangis, nae yojeong-ah.” disekanya
air mata itu, “Bila ada waktu, pasti Ia akan mempertemukan kita lagi. Kau harus
giat-giat belajar di sini ―aku akan selalu mendoakanmu.”.
Seohyun menggeleng, “Aku tidak ingin terjadi
lagi ―aku ingin bersamamu.”.
“Hyunnie,”.
“Bisakah kau di sini? Bisakah kita bersama
untuk sedikit lagi?”.
“Hyunnie, berjanjilah,” Junghan mendekap
wajahnya, “berjanjilah padaku kau tidak akan mengecewakanku, kau harus belajar
dengan giat. Sekarang, impianku hampir tercapai. Jika impian kita tercapai
sepenuhnya, pasti ada waktunya kita akan bersama lagi ―bersabarlah.”.
Seohyun malah menangis, ia menunduk, “Mot hagesseo.”.
“Tidak, dengarkan aku,” Junghan mendongakkannya
lagi, “kau bisa, aku bisa ―kita bisa.” katanya, “Ku mohon, Shin Seo Hyun,
jangan buat lelaki di hadapanmu ini menangis. Ku mohon, Hyunnie-ku, jangan
buatku jadi seseorang yang lemah di depanmu.”.
Gadis itu berusaha meredakan tangisnya, ia
menelan semua rasa pahitnya, dan pada akhirnya Seohyun pun mampu mengangguk.
Namun sebenarnya, Junghan tak tega.
“Cup.” ia kecup kening Seohyun, sebagai tanda
terima kasih tak terkira.
Kali ini, Seohyun bahkan bisa tersenyum pada
Junghan, “Berjanjilah kau akan baik-baik saja.” katanya, meski suaranya kacau,
“Jam berapa kau berangkat?” tanyanya.
Junghan segera menjinjing tasnya, “Lima belas
menit lagi.” ucapnya, lega melihat gadisnya bisa tersenyum lagi.
“Kau bisa terlambat!” kata Seohyun, mengingat
jarak yang harus ditempuh dari tempatnya tinggal ke stasiun subway terdekat.
“Tidak ―hanya saja hampir.” Junghan tersenyum.
Namun Seohyun mendapati lelakinya itu hanya
berdiam di tempat. “Lantas, apalagi yang kau tunggu?” tanyanya.
“Mm...” Junghan menerawang, “Goodbye kiss...?” godanya.
Mendengar itu, Seohyun malah terkekeh.
Junghan heran, “Ah~ wae...? Andwaeji...? Ih~ kenapa...? Gak boleh, ya...?”
cemberutnya.
“Cup.” Seohyun segera mencium pipinya, “Dwaesseo. Sudah.” kata Seohyun setelahnya.
Namun bukan itu yang Junghan inginkan ―terlihat
jelas dari mimik wajahnya. Jadi lelaki itu mencium bibirnya sebelum akhirnya ia
berangkat pergi.
Seohyun membalasnya, dan membuat waktu berjalan
begitu lamban untuk mereka nikmati berdua. Tak satupun dari keduanya yang mau
mengakhirinya, justru mereka menghabiskan waktu lebih banyak lagi.
“Junghan,” Seohyun berusaha melepasnya, namun
lelaki itu belum rela mengakhirinya, “kau akan terlambat.” ucap Seohyun meski
Junghan membungkam mulutnya.
Butuh waktu bagi Junghan untuk mengingat
kembali niat awalnya. “Mm, iya.” ingat lelaki itu, kemudian menyelesaikannya, “Mian, jadi keterusan...”.
“Wajar kalau kau inginnya berlama-lama.” senyum
Seohyun.
Mendengarnya, Junghan melirik ke arah Seohyun,
“Kau juga masih ingin berlanjut, ya?” godanya.
Tersipu, gadis itu memukulnya, “Jam berapa
ini?!” kesalnya pada Junghan.
Dan lelaki itu pun tertawa dibuatnya. “Jadi kau
ingin aku buru-buru pergi, gitu ya?” dan Junghan masih saja menggodanya.
“Yoon Jung Han!!” dan Seohyun memukulinya lagi,
“Niga shireoyo!! Aku membencimu!!”
tentu saja itu membuat Junghan tertawa gemas.
“Shiljiman
geuriwo. Benci, sih, kangen. Hahaha!” tak ada habisnya Junghan menggoda
gadisnya. Dengan gemas, ia mengusap-usap kepala Seohyun.
Tawa itu reda.
“Seohyunnie, nae Hyunnie yojeong, jaga dirimu baik-baik. Cheonsa-mu akan pergi untuk sementara waktu, namun cheonsa-mu ini akan menghubungimu
sesering mungkin.” senyum Junghan, “Yaksok?”.
Dan itu membuat Seohyun tersenyum, “Ne, Junghannie, nae cheonsa.” ucapnya,
“Aku akan berdoa, semoga hari-hari kita bersama akan segera kembali dan dunia
akan menyambut kita.”.
Junghan tersenyum, lalu memeluknya untuk
terakhir kalinya.
“Salamku untuk Ibumu, ya.” ucap Seohyun ketika
ia dan Junghan bertemu pandang.
“Pasti beliau menanyakanmu.” senyum Junghan
lagi.
“Maaf aku gak bisa nitip apa-apa untuk Ahjumma...”.
“Tidak apa, Ibuku pasti bisa ngerti, kok.”.
Perlahan genggaman itu semakin merenggang.
Rasanya berat bagi mereka berdua untuk melepaskannya.
“Jangan sampai orang lain mengenalimu.” ingat
Seohyun.
Dan genggaman itu lepas.
Junghan segera memakai masker, tudung jaketnya,
dan bergegas. “Identitas yang terpenting.” katanya.
Seohyun melambaikan tangannya, “Jal ga, nae cheonsa.” senyumnya.
“Annyeong,
nae yojeong.” Junghan juga ikut melambaikan tangannya, “Tidak usah
mengantarku sampai ke luar, tetangga pasti akan terkejut melihat keadaanmu
seperti itu.”.
“Pft.” Seohyun tertawa, “Udah tau.” katanya.
Dan sosok malaikatnya menghilang dari balik
pintu itu. Dengan susah payah, Seohyun menghela nafas. Buru-buru ia bergegas ke
jendela dan mendapati Junghan berjalan di pekarangan rumahnya.
Sambil berjalan keluar, Junghan membentuk hati
kecil dari telunjuk dan ibu jarinya untuk Seohyun yang memandanginya dari
jendela. Gadis itu tersenyum, girang bukan kepalang.
Dan itulah sosok Junghan yang terakhir kali
dilihatnya untuk sementara. Seohyun masih harus menanti dan menanti.
***
end
***
A letter from author...
Annyeong, ini FF SEVENTEEN pertama Near. Bagaimana?
Agak dewasa gak papa ya, cuma 18+ kok gak sampe 19+ *ini nawar-nawar ceritanya ya hehehe*.. Udah lama ya gak share FF..
Iya, soalnya Near lagi sibuk ngurusin olshop. Yup, Near baru aja berhenti kerja di awal tahun ini dan Near masih cari-cari kerja sekalian nyari duit dari olshop. Jadi mohon doa restunya ya!^^
Nantinya, Near mau nge-post FF SEVENTEEN lagi habis ini!^ Ditunggu ya komen dan tanggapan Reader-deul sekalian!^^
Jangan lupa support-nya buat olshop Near, Byul Lite STYLE.
Gamsa hamnida!
Author
Near

