[Author Chalenge #1stChalenge] 만약에 IF (Oneshot ver.)
만약에 IF (Oneshot ver.)
Author : Near
Genre : Fantasy, School-life
Main Cast : SEVENTEEN Dino (Lee Chan), Red Velvet Yeri
Support Cast : SEVENTEEN Seungkwan
***
STOP!!!
Sudah baca versi drabble-nya? Belum?
Sok atuh mundur sejenak, baca dulu yang versi drabble nya ya~
Enjoy~
*만약에 IF*
Ku tatap raut tak senang si gadis berambut kepirangan itu.
Tangannya memilin ujung gaun putihnya —merasa tidak nyaman.
Dan gelengannya membuatku terkejut. “Tidak, Chan.”
Deg! Dia...,
menolak perasaanku padanya —yang terpendam selama 14 tahun ini...?
“Ti-tidak?” ulangku, “Yeri, ada apa? Apa yang kurang dari
kita? Kita sudah saling memahami dan bersahabat sejak pertama kali bertemu, 14
tahun lamanya!”
Yeri terdiam.
“Ingat saat kita berusia lima tahun? Saat aku tersesat di
hutan karena terpisah dari rombongan, sosokmu yang bercahaya itu datang
menyelamatkanku dan membawaku ke jalan keluar. Sejak saat itu kau selalu
bersamaku. Kapan pun, di mana pun.”
“Bahkan kau menyukai nama pemberianku,”
“Masalahnya bukan—“
“Aku janji akan membuatmu bahagia, Yeri. Membuatmu tersenyum
lebih dari yang biasa kau lakukan untukku, kita akan terus bersama!”
“Brak!”
“Ups,” pekik Yeri, terlalu bersemangat membuatku tak sengaja
menjatuhkan kotak pensilku.
“Ma-maaf, sebentar,”
Sambil menbereskan alat tulisku yang tercecer di lantai, aku
melanjutkan, “Kau tak pernah datang pada orang lain, Yeri. Melainkan hanya
padaku,” setelah beres aku kembali duduk di kursiku, “Awalnya aku merasa aneh
tapi— astaga!!!”
“Nah,” aku terkejut tak mendapati Yeri duduk di hadapanku,
melainkan Seungkwan Hyung. “Seperti
biasa, Chan ngobrol sendirian..”
“Apaan, sih, Hyung?
Mana Ye—“
“Kau yang apaan!! Bocah Edan!!” sembur Hyung, memanggilku seperti anak-anak lain yang tidak percaya akan
keberadaan sahabatku, Yeri.
“Bergegaslah ke ruang Teater —sekarang!!!”
*만약에 IF*
Flashback...
“Kau bertaruh?”
“Apa?”
“Ayo kita cari si Manis itu di hutan ini!”
“Ah, kalau kau melihatnya, kau pasti akan berlari
terbirit-birit karena ketakutan!”
“Ish, sungguh! Ayo kita taruhan siapa yang.....,”
Bukannya menjaga adik kecil mereka, kedua laki-laki kakak
sepupu Chan itu tidak menyadari bahwa mereka melepaskan pengawasan mereka dari
si kecil Lee Chan.
“Uwa~ kelinci~ kelinci~” gumam Chan yang baru berusia empat
tahun itu antusias.
Dia ikuti ke mana kelinci putih itu melompat-lompat. Chan
kegirangan mengikuti si gumpalan bulu itu, hingga akhirnya dia menyadari :
sekitarnya sunyi.
Membiarkan kelinci itu lolos dari pandangannya, Chan menatap
sekitar. Dia sudah berada di tempat antah berantah, hanya ada pohon-pohon
tinggi yang menjulang, rumput-rumput liar, dan kabut tipis.
“Om-Omma...” Chan
mulai gugup, “Omma... Appa..” rasa
takut menghinggapinya.
Bibirnya bergetar, mata polos Chan tertuju pada sebuah
batang kecil yang bergerak-gerak tak wajar.
“Srak, srak.. Srak, srak..”
“Omma..” Chan
hampir merengek.
Tanpa ada angin, Chan melihat dedaunan bergoyang.
Kelihatannya bukan digerakan oleh hewan. Tiba-tiba Chan merinding untuk pertama
kalinya.
“Sriing~..”
Chan terkejut ketika melihat sekelebat bayangan putih lewat
dan tertangkap sorot matanya. Dia makin ketakutan.
“Hm.. Apa caraku
salah...?”
“Kok, dia jadi gugup
gitu, sih?”
“Apa tidak apa
kalau..., aku berwujud seperti..., ini...?”
Hampir menangis, Chan melihat cahaya dari balik semak-semak,
mendekatinya lalu menghilang sebelum ia keluar dari sana.
Isakan Chan tertahan, dia melihat seorang gadis kecil keluar
dari semak-semak tak lama setelah cahaya itu lenyap.
Untuk sekejap, keduanya saling bertatapan.
Chan melihatnya lekat-lekat, surai panjangnya, gaun
putihnya, dan gadis itu kelihatannya seusia dengannya.
“Ngapain kamu di sini?” gadis kecil itu memberanikan diri
membuka suara.
“Aku..., aku mau pulang..., ke Omma...” jawab Chan canggung.
“Kamu nyasar, ya?” pertanyaan gadis kecil itu disusul
anggukan Chan.
“Sini, ikutin aku..” kata gadis itu, tak lama ia dan Chan
berjalan seiringan.
“Kamu tau Omma-ku
di mana?”
“Kamu siapa, sih?”
“Aku Lee Chan, aku suka ayam dan hobiku menari!”
Gadis kecil itu memandang heran pada Chan yang mengulurkan
tangan padanya.
“Nama kamu siapa?” tanya Chan.
“Namaku...?” batin
gadis kecil itu, “Panggil sesuka kamu aja.” katanya.
“Lho? Kamu gak punya nama apa gimana, sih?” ujar Chan asal
ceplos, “Ku panggil Yeri aja ya.”
“Apa itu Yeri?”
“Nama.” jawab Chan dengan polosnya, “Suka gak?”
Tak butuh waktu lama, gadis itu mengangguk, “Bagus
kedengarannya,”
“Hai, Yeri!” sapa Chan, membuat gadis itu —Yeri— agak risih.
“Hai, Chan,”
“Tau gak, Yeri? Tadi batang di sebelah sana, tuh,
gerak-gerak sendiri! Terus aku lihat ada bayangan lewat! Kamu lihat gak? Kok,
serem ya?” sembur Chan saat itu juga.
“Tuh, kan.. Salahku..”
“Maafin aku ya, Chan.”
“Kamu bilang apa, Yeri?”
“Nah, sudah sampai.” Yeri buru-buru mengalihkan perhatian
Chan.
“Wah, kok cepet banget ya sampainya?” gumam Chan.
Padahal saat Chan mengikuti kelinci tadi ia menempuh
perjalanan lebih dari tiga menit, itupun sudah dengan berlari-lari kecil.
Anehnya, ketika berjalan bersama Yeri, mereka hanya butuh waktu beberapa detik
saja untuk kembali.
“Lee Chan?!” seru seorang wanita paruh baya melihat Chan
muncul.
“Omma!” dengan
ceria, Chan berhambur pada sang Ibu yang sudah berlari memeluknya.
“Astaga, kamu ke mana saja, sayang? Nyasar, ya? Ada yang
terluka?” sang Ayah pun menghampiri istrinya yang menggendong buah hati mereka
penuh kekhawatiran.
“Chan gak papa, kok. Tuh, ada Yeri yang bantuin Chan,”
“Si-siapa..., Chan...?”
“Lho, kok..”
Saat Chan menyebut nama Yeri dan menunjuknya, Ayah, Ibu dan
yang lainnya tidak menemukan seorang pun di tempat yang Chan tunjuk.
Keluarga besar Chan dan beberapa penduduk hutan pariwisata
ini saling berbisik tentang hal-hal gaib.
Tak lama, salah seorang pemandu mengajak keluarga besar Lee
dan pengunjung lainnya untuk masuk ke vila karena hari yang mulai gelap.
Sementara itu, bayangan putih tersebut mulai kentara di
balik salah satu pohon dan mengintip ke dalam vila. Dialah Yeri.
“Kau ragu-ragu?”
“Astaga,”
Yeri terkejut saat melihat sosok tinggi besar berjubah putih
itu mendekatinya.
“Haraboji,”
“Kau menyukai bocah itu, ya? Ingin ‘menempelinya’?” tanya
sosok itu.
Yeri terdiam.
“Kalau kau ragu, tidak usah—“
“Suruh yang lain saja jadi sosok si Manis ya, Kek,” hentak
Yeri saat itu juga.
“Kau serius?” kaget sosok itu.
“Aku akan mengikuti Chan dan menjadi ‘temannya’.”
“Mulai sekarang, aku berhenti jadi sosok si Manis.”
Sepuluh tahun
kemudian...
‘Loker si bocah Edan’
“Hah, kerjaan siapa lagi, sih.” dengan cepat, Chan menyentak
pintu lokernya dan memindahkan beberapa buku di sana ke dalam tasnya.
“Kenapa tiba-tiba cemberut gitu, sih, Chan?” sosok gadis
manis bersurai panjang dan bergaun putih itu mendekati Chan.
“Coba lihat, Yeri,”
Gadis itu, Yeri, tersentak melihat coretan tangan yang
meledek itu di pintu loker Chan.
“Yang edan itu mereka,” Chan kembali menyentakkan pintu
loker dan menguncinya.
Yeri mengikuti Chan begitu siswa SMP itu berjalan
meninggalkan lokernya menuju kelas.
“Lagipula, kau juga, Yeri. Kau selalu menghilang setiap kali
aku ingin mengenalkanmu pada teman-temanku.” Chan cemberut.
Yeri menghela nafas.
“Karena percuma saja,
Chan...”
“Seandainya saja, kita
bisa saling bertemu..”
“Bertemu di dunia yang
sama..”
“Dan saling
menggenggam..”
Sekali lagi, Yeri memandangi punggung Chan. Seiring sinar
mentari yang menyinari tubuh transparannya, Yeri melenyapkan diri karena sesal.
“Maafin aku ya, Chan...”
“Baiklah, kalau kau tidak ingin........, Yeri?” saat Chan
berbalik untuk menatap Yeri, dia tak menemukan siapapun di sana.
“Yeri? Yeri-ya!”
“Apaan, sih? ‘Yeri’, ‘Yeri’?”
“Seungkwan Hyung..”
sapa Chan pada Seungkwan yang datang menghampirinya.
“Jangan teriak-teriak sendiri, Bocah Edan,” Seungkwan
berjalan seiringan dengan Chan.
“Apaan, sih, Hyung?
Kan, aku lagi—“
“Ngobrol sama Yeri? Basi kau, Chan!” sergah Seungkwan
segera, “Daripada ngobrol sama angin, mending kau bantu aku bikin tugas dari
Pak Guru Park.”
“Aduh, Hyung..”
“Eits, jangan menolak, bukannya waktu.............,”
Sementara itu, tanpa menampakkan dirinya, Yeri masih
mengikuti Chan –hingga nanti ketika hanya ada dirinya dan Chan saja lah Yeri
akan menampakkan wujudnya kembali.
Bisikan-bisikan dari sosok-sosok nakal penunggu sekolah masih
saja meledeknya ini itu, tapi selalu Yeri abaikan.
“Berisik! Bukan urusan
kalian! Pergi sana!”
*fin*
.
.
.
Yaps
Sesuai kata Near tadi..
Gak jadi post ficlet,
one shot pun jadi 😂😂
Akhirnya bisa di post juga ini ff
Akhirnya bisa di post juga ini ff
Lega tiada tara *plak
Izinkan Near mengundurkan diri sejenak untuk apdet ff lainnya!
Ppyong!
Izinkan Near mengundurkan diri sejenak untuk apdet ff lainnya!
Ppyong!



