[FF] 니가 아닌데 Not You Part 2
Not You
니가 아닌데
Author :
RetnoNateRiver
Genre :
Romance
Main Casts : - SJ
Yesung as Kim Jong Woon
- Moon Geun Young as Moon Geun Young
- SNSD Sooyoung as Choi Soo Young
- TVXQ Max as Shim Chang Min
Other Cats : - SJ
Kyuhyn as Cho Kyu Hyun
- SNSD Seohyun as Seo Joo Hyun
- SJ Ryeowook as Kim Ryeo Wook
- SNSD Tiffany as Tiffany Hwang
- Yesung’s Family
- SJ Hankyung as Moon Han Kyung
- SJ Heechul as Kim Hee Chul
Cameo : -
Jang Geun Seok as Jang Geun Seok
Tadda...!
Nate datang bersama kelanjutan FF Not You yang kedua~...!
Oya,
jeongmal joesonghaeyo, kalau misalnya ada nama yang kurang srek gitu, ya~~...
Atau ada penempatan tokoh yang kurang pas ^^kaya
tokoh sebagai orangtua, murid, guru, dan sebagainya yang rasanya kurang pas dengan
si pemain...^, jeongmal joesonghaeyo~~... (bow)
Ketinggalan Part sebelumnya?
Silahkan klik :
"Not You 니가 아닌데" Part 1
Ketinggalan Part sebelumnya?
Silahkan klik :
"Not You 니가 아닌데" Part 1
OK, sekarang...,
Happy
Reading!
Author
RetnoNateRiver
***
[Jongwoon
POV]
“Geunyoung-ah!!!”.
“Oppa...”.
Ah!
Itu dia!
“Geunyoung-ah,
tetaplah di situ!” kataku.
Aku
berusaha menerobos kerumunan orang-orang itu dan memicingkan mataku untuk
mencari sosok Geunyoung. Semakin ku dengar suara itu.
“Oppa...”.
“Geunyoung-ah,
jangan ke mana-mana! Aku akan ke situ!” kataku sekali lagi.
Aku
berulangkali mendengar suara Geunyoung, namun aku masih tak menemukan di mana
letaknya. Lama mencari, akhirnya aku menemukannya, terduduk di lantai sambil
bersandar pada dinding dan menutup kedua matanya. Ia aman, ia berada di luar
kerumunan yang sibuk itu.
Aku
menghampirinya, aku merendah agar posisiku sejajar dengannya meski rasa
khawatir masih saja melekat dalam perasaanku.
“Oppa...”
Geunyoung masih berujar.
“Geunyoung-ah,
naya...” kataku, menenangkannya, “Kau sudah aman, kok... Buka saja matamu...”.
“Dowa
juseyo...” Geunyoung masih saja berujar, “Oppa...”.
Ya,
ketika kau menemukannya dalam keadaan seperti ini, ia takkan langsung
‘mengenalmu’, itu karena ia masih tidak fokus. Biasanya, kau hanya perlu
membuka mata atau telinganya yang ditutupinya itu dan berbicara perlahan
padanya.
Aku
membuka tangannya agar ia dapat melihat, namun ia ternyata juga memejamkan
matanya. Dan ia masih berujar, “Oppa... Oppa...”.
“Geunyoung-ah...,
naya...” kataku.
“Oppa...”.
“Geunyoung-ah...”.
“Oppa...
Op...,”.
Kata-katanya
terputus. Entah ada perintah apa, aku mencium bibirnya hangat. Tapi ia tidak
menolakku, bahkan sampai aku melepaskannya semenit kemudian.
Ia
menatapku, ternyata ia mulai fokus, “Jongwoon Oppa..” panggilnya.
Syukurlah,
ia mengenaliku. Aku kemudian mengusap kepalanya dengan perasaan lega.
“Gwaenchanhayo? Ada yang sakit? Atau ada yang terluka?” tanyaku.
Geunyoung
menggeleng. Ah, syukurlah...
***
[Author
POV]
Jongwoon
masih menggenggam tangan Geunyoung malam itu saat mereka baru saja pulang dari
toko buku, mungkin namja itu masih ngeri dengan kejadian beberapa jam yang
lalu.
“Oppa...”
panggil Geunyoung.
“Hm?”
sahut Jongwoon.
“Mianhae...,
karena aku sudah menyusahkan Oppa tadi...”.
Mendengar
itu, Jongwoon memandang Geunyoung yang tertunduk itu.
“Di
kerumunan orang tadi siang... Aku mulai lagi... Aku tidak fokus dan melepaskan
tanganmu..., dan kau terpaksa mencariku..., dan..,”.
“Gwaenchanha...”
kata Jongwoon sengaja memotong kalimat Geunyoung.
Yeoja
itu terdiam selama beberapa detik, dan kemudian ia berbicara, “Oppa...,
menciumku, kan...?” tebaknya ragu.
Jongwoon
tersenyum, “Kalau iya, kenapa?” tanyanya, seakan memojokan lawan bicaranya.
“Um...,
aniyo...” kata Geunyoung, “Hal itu membuat pikiranku fokus kembali...
Gomawo...”.
Jongwoon
kembali tersenyum.
Langkah
keduanya berhenti, sudah saatnya mereka berpisah, berjalan lewat jalannya
masing-masing untuk kembali ke rumah.
“Sampai
sini, Oppa...” pamit Geunyoung.
Jongwoon
tak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengusap kepala Geunyoung dan membiarkannya
pergi. Jongwoon terus memandanginya.
Geunyoung
berjalan memunggungi Jongwoon. Di saat itu, ia tersenyum, ia senang. “Aku malu sekali... Oppa, gomawoyo...
Saranghaeyo...” batinnya.
Tiba-tiba
saja, Jongwoon menariknya hingga berbalik. Dan namja itu lagi-lagi mencium
bibirnya hangat. Dan Geunyoung juga tetap menerimanya meski awalnya ia terkejut.
Masih
di waktu yang sama, tak sengaja melihatnya, Sooyoung yang tengah iseng
berjalan-jalan di malam hari itu —kebiasaannya— menangkap kejadian tersebut.
[ ►
SHINee – Romeo+Juliette]
아픈 사랑이야기 내 맘 시려온 실어온 사랑에
Apeun sarangiyagi næ mam shiryôon
shiroon sarange
또 난 숨가쁜 숨소리마저 멀어져 희미해져
Tto nan sumgappeun sumsorimajô
môrôjyô himihaejyô
소녀가
소년을 만나
Sonyôga,
sonyôreul manna
아픈 사랑이 이제 시작돼
Apeun
sarangi ije shijakdwæ
말할 수 없는 사랑은
Malhal
su ômneun sarangeun
메아리가 되어 사랑이 또 시작돼
메아리가 되어 사랑이 또 시작돼
Meariga
doeô sarangi tto shijakdwæ
Yeoja
ini mendekap mulutnya, menahan suara isakan tangis yang bisa saja mengganggu
keduanya dan menyadari keberadaannya. Ini memang lebih dari sakit buatnya, tapi
ia tidak mampu berbuat apapun.
Sooyoung
tau siapa yeoja itu, yeoja yang bersama Jongwoon. Yeoja itu adalah yeoja yang
disukai Jongwoon.
Mungkin
memang tidak ada pilihan lain selain melarikan diri dari tempat ini bagi
Sooyoung. Ia berjalan menjauh dari situ. Lima menit melihat mereka seperti itu
sudah lebih dari sekadar sakit buatnya, lebih dari sakitnya dimarahi Jongwoon
atau semacamnya.
Tepat
ketika Sooyoung berjalan menjauh, Jongwoon melepas ciumannya. Kemudian
memandang Geunyoung dalam, begitu sebaliknya.
그 사랑이 또 시작돼 그대를 사랑한
Geu
sarangi tto shijakdwæ geudæreul saranghan
나의 맘조차 날 알지 못하고
나의 맘조차 날 알지 못하고
Naui
mamjocha nal alji mothago
아픈 사랑이 또 시작돼 너를 만날 때면
아픈 사랑이 또 시작돼 너를 만날 때면
Apeun
sarangi tto shijakdwæ nôreul mannal ttæmyôn
앞서는 이 감정들은 나를 제어하지 못하고
앞서는 이 감정들은 나를 제어하지 못하고
Apsôneun
i gamjyôngdeureun nareul jeôhaji mothago
이별 같은 말은 싫어 사랑해라고 못할
이별 같은 말은 싫어 사랑해라고 못할
Ibyôl
gateun mareun shipô saranghærago mothal
난 또 바보처럼 너를 붙잡지도 못하고
난 또 바보처럼 너를 붙잡지도 못하고
Nan
tto pabochôrôm nôreul butjapjido mothago
사랑해 네가 보고 싶어
사랑해 네가 보고 싶어
Saranghæ
niga bogo shipô
“Apa yang akan terjadi jika aku mengatakan
yang sebenarnya...? Apakah..., aku harus membawa kenyataan buruk setelah aku
mengungkapkannya...?” batin Jongwoon.
[ ■
SHINee – Romeo+Juliette]
***
Changmin
berjalan menuju tasnya yang ia letakan di atas tumpukan kardus itu, sudah
saatnya ia pulang dari pekerjaannya ini.
Namun
seusainya ia mengambil tas dan memakainya, Changmin mendengar suara isakan. Membuatnya
ngeri dan takut.
Arahnya
dari belakang kardus itu, agak jauh dari situ.
Dengan
rasa ‘takut tapi penasaran’nya, Changmin mencari sumber suara itu. Kali ini, ia
sudah berjalan melewati tumpukan kardus itu. Sedikit lagi menuju si pemilik
suara.
“Itu suara apa, ya...? Bagaimana jadinya
kalau aku malah mendapati hantu wanita yang menangis...?” pikir Changmin
dalam hati, “Ah! Tidak boleh begitu!
Ayolah, Shim Chang Min!”.
Changmin
masih melangkahkan kakinya dan suara isakan itu makin dekat, rupanya dari balik
semak-semak yang memagari lahan restoran.
Kemudian
namja ini melongokan kepala melewati semak itu, dan menemukan si pemilik suara
itu adalah, “Sooyoung?!” serunya.
***
Changmin
hanya terbengong ketika ia melihat Sooyoung sudah melahap beberapa dari banyak
porsi makanan di atas meja.
Karena
menemukan Sooyoung dalam perasaan yang tidak baik, si hobi makan Changmin ini
mentraktir Sooyoung makan di warung makan tradisional terdekat, mungkin dengan
makan perasaan Sooyoung bisa menjadi lebih baik.
Biasanya,
Changmin memesan lebih dari tiga porsi makanan untuk dimakannya sendiri, bisa
dibilang tidak wajar buat namja tinggi ini yang jelas-jelas badannya kurus ini.
Namun kali ini Changmin sepertinya harus mengalah melihat Sooyoung telah
melahap setengah dari seluruh makanan yang dipesannya.
Rupanya,
Sooyoung memiliki nafsu makan yang sama tingginya dengan Changmin. Ia kira,
satu porsi saja sudah cukup buat yeoja cantik nan slim ini. Namun, rupa bukanlah segalanya, yeoreobun...
“Shikshin...?”
gumam Changmin kecil, melirik Sooyoung sembari mengernyitkan dahi.
Seporsi
makanan Sooyoung yang Changmin berikan tadi sudah sejak tadi habis dilahapnya,
dan kini masih dengan perasaan yang kurang baik Sooyoung melahap beberapa
makanan lagi di depan meja.
“Apa...,
kau..., tidak makan dari..., tadi pagi...?” tanya Changmin, masih tercengang.
“Aku...,
sudah makan, kok...” kata Sooyoung masih fokus makan dan berbicara dengan mulut
yang tengah mengunyah.
Changmin
bingung. Ia saja baru makan dua porsi, sedang Sooyoung sudah lebih dari itu.
“Sebenarnya..., yang kau makan itu..., punyaku...” katanya pada akhirnya, meski
memang agak berat dan tidak enak hati.
Mendengarnya,
Sooyoung berhenti beraktifitas; berhenti mengunyah, mengambil makanan,
semacamnya. Kemudian, ia terlihat lemas, tak bersemangat, dengan mulut penuh
makanan dan ujung sumpit yang menempel pada bibirnya.
Lalu
Sooyoung meletakan sumpitnya di atas meja, kemudian, “Joesong hamnida...” ia
membungkuk sambil duduk dengan tidak bersemangat. Setelahnya, ia hanya bengong.
Melihatnya,
Changmin jadi merasa tidak enak. Ia mencoba berpikir cara agar dapat
memperbaiki suasana. Kemudian, ia mulai bertindak. “Mm..., kau mungkin...,
boleh makan satu porsi yang..., kau suka...” katanya.
Sooyoung
menatapnya. Semangatnya seakan terisi ulang. Sooyoung kemudian mencari seporsi
makanan yang ia suka untuk dimakannya. Setelah menemukannya, ia memakannya
dengan senang hati. Melihatnya, Changmin merasa lebih baik. Ia dapat makan
dengan tenang sekarang, meski memang setengah dari pesanannya sudah lenyap. Itu
lebih baik daripada harus melihat yeoja yang ditaksirnya itu bersedih.
***
“Appa!!”
seru Geunyoung.
“Kau
mau bilang apa sekarang?!” omel Hankyung, “Kau masih bersama namja itu?!”.
“Kenapa
Appa selalu melarangku?!”.
“Karena
aku tidak menyukainya!! Ia bukan orang yang sama dengan kita!!”.
“Tapi
itu bukan masalah yang berarti!!”.
“Geuman!!!”
kesabaran Hankyung sudah menipis. Seruannya berhasil membuat putrinya itu
terdiam.
Geunyoung
hanya tertunduk, duduk di atas ranjangnya dengan Hankyung berdiri di depannya.
“Joha...!
Jika sikapmu seperti ini..., suatu hari nanti kau akan menyesal...!” kata
Hankyung, “Cobalah untuk selalu berada di dekat namja itu, dan lihat apa yang
akan terjadi padanya...”.
Geunyoung
memandang ke arah Hankyung, dari tatapannya saja bisa dilihat bahwa ia
terkejut. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya.
“Malam
ini, Geun-seok datang...” kata Hankyung, “Ia sudah di halaman belakang... Temui
ia sekarang...”.
Sebenarnya,
Geunyoung tak mau diperlakukan seperti ini. Tapi dengan berat hati, ia
melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, turun tangga, dan melangkah menuju
halaman belakang rumahnya.
Terlihat
Geun-seok di sana. Pandangan keduanya bertemu, di saat itulah Geun-seok
tersenyum pada Geunyoung.
“Geunyoung-ah...?”
sapanya.
*Not You*
“Geun-seok
Oppa memang bukanlah orang jahat... Ia orang yang ramah dan sangat
memperhatikanku...
Geurae, ia memang
menyukaiku..., tapi aku justru sebaliknya... Aku hanya memilih Jongwoon Oppa..,
tapi keadaanlah yang berbalik sekarang...
Aku tidak suka hidup
seperti ini, tapi inilah hidupku...
Apakah cinta itu harus
dipaksakan...?
Apalagi ini semua sudah
terlambat untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jongwoon Oppa..., hanya akan
memperburuk keadaan... Tapi, apa Jongwoon Oppa juga menyukaiku...?
Aku harap, aku bertepuk
sebelah tangan, agar hanya aku yang tersakiti... Aku harap begitu...”
“Tok,
tok, tok...!” pintu kamarnya diketuk, Geunyoung segera meninggalkan catatan
hariannya dan bergegas membuka pintu.
Ia
menemukan salah seorang maid rumahnya
yang mengetuk pintu kamarnya. “Agassi, Anda harus bersiap...” katanya.
“Bersiap?
Untuk apa?” Geunyoung heran.
“Hari
ini..., pengukuran gaun, Agassi...” jawabnya.
Geunyoung
terkejut, “Pengukuran? Apa ini tidak terlalu cepat?” katanya.
Ia
kemudian menengok ke kalender dinding di dalam kamarnya. Tanggal hari ini yang
ia simak, tanggal yang sudah dicoret-coretnya,
29.
FLY di KBS
Music Bank jam empat sore!!
“Agassi...”
panggil maid itu, menyadarkan
Geunyoung dari pikirannya.
“Ne?”
Geunyoung menoleh.
“Anda
harus segera bersiap... Mereka sudah menunggu...”.
Mereka.
Geunyoung mengerti maksudnya. “Appa dan
Geun-seok Oppa...” batinnya.
***
Jongwoon
berjalan bersama ketiga sahabatnya itu. Mereka akan segera pulang dari gedung
stasiun TV tempat mereka performe barusan.
“Aa..!”
ujar Jongwoon, berhenti melangkah menuju mobil van mereka yang sudah menunggu.
Kyuhyun
dan Ryeowook memandangnya, “Wae geurae, Hyung?” tanya Kyuhyun.
“Kalian
ke dorm duluan...” kata Jongwoon,
“Aku mau pulang ke rumah sebentar... Ada yang keinggalan...”.
Tanpa
kata-kata pamit lagi, Jongwoon melesatkan dirinya bergegas menuju stasiun subway terdekat.
“Hyung!
Kau juga harus membawa bass-mu itu?!”
teriak Ryeowook, namun Jongwoon tak mendengar.
“Hyung!
Aku akan mengunci pintu dorm buatmu!”
teriak Kyuhyun ketika Jongwoon tak lagi terlihat.
Mendengar
kalimat itu, Ryeowook hanya menatap tajam Kyuhyun, seakan tatapan itu berarti
ancaman buat si magnae of the group tersebut.
Tapi, Kyuhyun yang memang dasarnya the
king of evil itu tak takut dengan tatapan tersebut, justru ia memberi
tatapan tajam balik pada Ryeowook. Keduanya beradu tatapan... (?)
“♪♫♪” ponsel Ryeowook
berdering, ada pesan masuk.
PESAN
MASUK
sender
: Fany Hwang
Ryeowook
segera mengambil ponselnya yang ada di kantong kemejanya itu dan lantas membaca
pesan yang masuk
Iseng-iseng,
Kyuhyun mengintip pesan itu, mencari tau siapa pengirimnya.
“Oh,
jadi kau punya nomor ponselnya Tiffany, ya~~~...?” ujarnya dengan nada usil.
Ryeowook
terkesiap, “Kau ini?!” ujarnya.
“Jadi,
kalian berteman~~..?”.
“Tentu
saja!” kata Ryeowook mantap, “Memang apa urusannya denganmu?”.
“Ah,
masa cuma berteman~~~?” usilnya Kyuhyun masih saja melekat.
Hal
ini membuat Ryeowook memilih untuk menyerah dan segera masuk ke dalam van
mereka, meninggalkan Kyuhyun di belakangnya.
***
Matahari
sudah hampir tenggelam, dan Jongwoon sudah hampir sampai ke rumahnya. Tapi
tepat di pertemuan perempatan itu, ia melihat Geunyoung tengah menunggunya.
Langkah
Jongwoon berhenti ketika ia melihat Geunyoung di situ. Menyadari kehadiran
Jongwoon, Geunyoung menoleh.
Jongwoon
tersenyum senang, ia bertemu dengan Geunyoung. Tapi Geunyoung tak demikian.
Jongwoon melangkah ringan menghampiri yeoja itu.
“Oppa,
gwaenchanha?” satu pertanyaan dari Geunyoung, bukan seperti
pertanyaan-pertanyaan yang Jongwoon perkirakan sebelumnya.
Agak
aneh memang mendapat pertanyaan seperti itu, tapi Jongwoon tetap menjawabnya,
“Nan jeongmal gwaenchanha...” jawabnya.
Harusnya,
Geunyoung tersenyum atau menghela nafas lega mendengar jawaban positif itu,
namun entah kenapa pertanyaan itu tak mampu menghilangkan rasa khawatir di
dalam benaknya.
“Wae
geurae?” selidik Jongwoon.
Geunyoung
agak terkesiap, “Ah... A, a, aniyo...” jawabnya.
Suasana
hening selama beberapa detik, membuat semilir angin dan gesekan dedaunan
terdengar dengan mudah.
“Mian,
aku tidak menonton performe-mu di KBS
sore tadi...” ujar Geunyoung pada akhirnya.
“Ah,
bukan apa, kok...” kata Jongwoon tersenyum, “Kau pasti punya kesibukan lain di
rumah...” katanya ringan, seakan ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun
sayangnya, Jongwoon memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Yang
sebenarnya terjadi. Geunyoung baru saja pulang dari perjalanan mendadaknya itu
dan diam-diam ia meninggalkan rumah untuk menunggu Jongwoon pulang. Rasa
khawatirnya pada Jongwoon sudah menggunung.
“Mau
mampir ke rumahku?” tawar Jongwoon.
Geunyoung
ragu. “Mm..., tidak usah...”.
“Sebentar
saja...”.
“Tidak,
terima kasih...”.
Mendengar
pernyataan teguh Geunyoung itu, Jongwoon akhirnya menyerah. Namun ia tak
kehabisan ide. “Ya, sudah... Kita jalan sebentar..., ya?”.
Tidak,
Geunyoung tak bisa menerimanya. “Tapi...,”.
“Sebentar
saja...”.
“Aku...,
” Geunyoung mencari alasan, “aku..., sudah terlambat untuk pulang...”.
Sesuai
dengan harapannya : Jongwoon membatalkan niatnya itu. “Joha... Mungkin kapan-kapan...”
ujarnya. “Berhati-hatilah di jalan...!” pesannya.
Geunyoung
tersenyum tipis. “Oppa juga...” katanya.
Keduanya
segera berlalu, berjalan melewati arah yang berlawanan. Meski memang telah
mendapatkan pernyataan itu dari Jongwoon, Geunyoung masih saja merassa
khawatir.
Lama
Geunyoung berjalan, tak jauh dari perempatan itu, ia mendengar suara keributan
dari arah belaknganya. Langkahnya terhenti dan ia berbalik.
“YA!!!”
seperti suara orang yang Geunyoung kenal, benar-benar dikenalnya.
“Andwaeyo!”
gumam Geunyoung.
Yeoja
itu tak hanya berjalan menuju sumber suara itu, ia berlari. Ia harus sampai
secepatnya. Dan tepat di belokan perempatan yang biasa Jongwoon lewati ketika hendak
pulang itu, ia menemukan apa yang paling dikhawatirkannya itu rupanya
benar-benar terjadi.
Jongwoon
sudah menyerah, tersandar pada dinding pagar tinggi salah satu rumah di
remangnya malam. Ia sudah penuh luka, itu yang Geunyoung lihat.
Tapi
tak hanya itu, ada Heechul di situ bersama beberapa pesuruhnya. Kim Hee Chul,
tangan kanan dari ayahnya Geunyoung atau Geunyoung mengenalnya sebagai asisten
ayahnya, Hankyung.
Dan
bisa ditebak, apa yang sebenarnya Heechul dan pesuruhnya itu lakukan pada
Jongwoon. Sebenarnya, Heechul hanya memerintahkan dan mengamati kerja dua pesuruhnya
saja, selebihnya pesuruh itu yang melakukan tugas yang Hankyung berikan dan
dibertahukan lewat Heechul. Hankyung memang tidak menyukai putrinya berada di
dekat Jongwoon.
“Asisten
Kim!!” seru Geunyoung sebelum beberapa pesuruh hendak memukul Jongwoon kembali.
“Oh?
Nona Moon?” sahut Heechul, namun nadanya santai.
Geunyoung
mendekat pada mereka, berdiri di depan Jongwoon, seakan ia melindunginya.
“Jadi..., Aboji benar-benar..., melakukannya...?” katanya.
“Aigoo...
Jadi, kau tidak percaya...?” ujar Heechul, tersenyum sinis. “Kau tau, kan,
kalau ayahmu itu tidak menyukainya (Jongwoon), jadi tentu saja apa yang ia
katakan waktu itu benar... Dan sekarang, kau melihatnya, kan? Kami diperintahkan
untuk memberinya peringatan...”.
Geunyoung
merasa kesal, tapi juga tidak percaya. “Tapi...,”.
“Nah?
Apa yang akan kau lakukan sekarang, Agassi...?” kata Heechul, disusul tawa
kecilnya dan beberapa pesuruhnya. “Jangan katakan hal ini pada Geun-seok..., OK...?
Kami tidak mau dia akan melepaskanmu ke tangan namja buruk itu, dan membuat
kami menerima hukuman dari ayahmu... Ara...?”.
“Andwae!!”
kata Geunyoung, “Kalian maupun ayahku, tak bisa membatasi kehendak hidupku!!”.
“Oh?
Jadi kau ingin melihat namja itu seperti ini di kemudian hari...?” ujar
Heechul, sekaligus mengancam.
Geunyoung
terkejut, “Mwo?”.
“Geurae...”
kata Heechul, “Kenapa kami melakukan ini? Kenapa kami memukul namja ini? Kenapa
kami hampir saja menghabisinya? Karena kau berada dekat denganya..., Agassi...”
katanya.
“Mwoyo...?”.
“Aish!”
gerutu Heechul, “Jangan membuatku mengulang kata-kata tadi, ya! Yang penting,
setiap kau berada di dekat namja itu, maka kau akan mendapati namja itu dalam
keadaan buruk esoknya... Itu karena ulah kami, dan terlebih lagi..., itu adalah
perintah dari ayahmu...”.
Geunyoung
membeku.
“Jadi,
ada dua pilihan buatmu...” kata Heechul, “Jika memilih namja itu (Jongwoon),
maka kau akan melihatnya selalu tersakiti. Tapi jika memilih Geun-seok, kau
takkan melihat Jongwoon tersakiti dan kami akan mengharamkan tangan kami untuk
menyentuhnya...” lanjutnya. “Semua keputusan ada di tanganmu, dan kau tinggal
menjalaninya...”.
Geunyoung
terdiam, menunduk. Beban berat beserta pilihan rumit seakan menimpanya
sekarang.
“Joha...
Come on, Kids...” Heechul memanggil seluruh pesuruhnya, “Agassi, kami pamit
pulang dan ingat..., semua keputusan ada di tanganmu...” katanya.
Heechul
beserta para pesuruhnya meninggalkan wilayah itu. Kemudian dengan segera,
Geunyoung menghampiri Jongwoon.
“Oppa?
Oppa!” panggilnya.
Jongwoon
sedikit tersadar, “Hei, gwaenhanha?” tanyanya lirih, tersenyum kecil.
Rupanya,
Jongwoon tidak tau sebelumnya kalau orang-orang tadi adalah orang-orang yang
Geunyoung kenal. “Harusnya, aku yang bertanya... Gwaenchanha?” tanya Geunyoung.
“Kau
khawatir, ya?” tanya Jongwoon usil, masih saja ada kesempatan seperti itu di
saat keadaannya seperti ini.
Tapi
Geunyoung tak peduli, ia harus menolong Jongwoon. Geunyoung meraih tas hitam
besar milik Jongwoon yang berisi bass itu.
Namun ketika tangannya menggenggam benda itu, ia merasa ada yang aneh dengan
bentuk bass-nya.
“Apa..., bass-nya tidak apa-apa...?”
batin Geunyoung.
***
“Aigoo...,
tidak perlu berkata seperti itu, Geunyoung-ssi...” kata Ibunya Jongwoon.
“Animnida,
Ahjuma...” kata Geunyoung, “Ini semua karena kesalahan saya...
Joesonghamnida...”.
Ibunya
Jongwoon hanya bisa menghela nafas, memang sudah dari tadi Geunyoung meminta
maaf dan kedengaran merasa sangat bersalah.
Tak
lama, Ayahnya Jongwoon masuk ke ruang tengah itu, dan duduk di dekat mereka.
Rumah Jongwoon ini memang sangat sederhana, hanya berupa rumah tradisional
Korea dengan dinding dan lantai dari kayu. Duduk maupun tidur juga hanya
memakai alas tikar atau kasur tipis seperti pada umumnya saja.
“Bagaimana
keadaannya (Jongwoon)?” tanya Ibunya Jongwoon.
“Tenang
saja... Ada Jongjin di dalam...” jawabnya, “Jongwoon sedang tidur...”.
“Um...
Apa boleh..., aku melihat keadaannya...?” tanya Geunyoung pada mereka.
***
“Geunyoung-ssi?”
ujar Jongjin begitu Geunyoung masuk ke kamar Jongwoon.
“Kenapa
begitu formal? Bukankah kita seumuran...?” kata Geunyoung, “Panggil namaku
saja...”.
“Baiklah,
Geunyoung-ah...” kata Jongjin, “Kau..., mau melihat keadaan Jongwoon Hyung?”
tebaknya.
Geunyoung
tersenyum tipis, “Geurae...” katanya.
“Aku
baru saja mengobatinya, lalu ia tertidur...” kata Jongjin, “Temui saja...”
ujarnya sebelum akhirnya ia memberi bungkukan kecil pada Geunyoung sebagai
tanda pamit, kemudian meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggalan
Jongjin, Geunyoung memasuki kamar itu. Ia mendapati Jongwoon tengah tertidur di
atas kasur tipis itu dengan selimut menutupi tiga perempat tubuhnya.
[ ►
TVXQ – Why did I Falling in Love with You?]
Geunyoung
berjalan menghampirinya, kemudian duduk di dekatnya.
“Oppa...
Lihat wajahmu...” gumam Geunyoung, memerhatikan setiap lekuk wajah Jongwoon
yang tenang itu. “Mianhaeyo... Tapi bagiku berapakali pun aku mengucapkannya,
aku tetap akan merasa bersalah... Dan ke depannya, setiap aku berada dekat
denganmu, aku akan melihatmu seperti ini setelahnya...
Aku...,
ingin memilihmu tapi..., aku juga tidak mau melihatmu terus seperti ini
karenaku... Ini memang pilihan yang sulit...”.
Geunyoung
melirik jam meja di dekat jendela itu, sudah waktunya untuk pergi. Ia memandang
Jongwoon kembali.
“Sudah
ku bilang, tak apa, Ryeowook-ah~~~...” igau Jongwoon.
Geunyoung
tersenyum tipis, meski terselip rasa sedih di dalamnya. Ia tergerak,
mendekatkan wajahnya menuju wajah Jongwoon. ^^mau ngapain, ya~~...?^ Dan kemudian ia mengecup pipi namja itu.
Lantas,
Geunyoung bangkit untuk meninggalkan kamar itu, membuat Jongjin, Ayah dan
Ibunya yang mengintip hal ini dari celah pintu kamar pontang-panting
berpura-pura melakukan sesuatu, siap-siap jikalau Geunyoung keluar dari kamar.
Namun
setelah ditunggu beberapa detik, Geunyoung tak kunjung keluar juga. Hal ini
memaksa Jongjin. Ibu dan Ayahnya kembali mengintip aktifitas Geunyoung dari
celah pintu.
Ketiganya
terkejut ketika melihat Geunyoung kembali duduk di dekat Jongwoon dan wajahnya
kelihatan begitu dekat dengan wajah namja itu.
“Apa
yang ia lakukan?” tanya Ibunya berbisik, ketiganya memang tidak tau bahwa
Geunyoung tengah mencium bibir Jongwoon karena yeoja ini tengah memunggungi
mereka.
“Mencium
pipi Jongwoon Hyung lagi?” tebak Jongjin ragu, sambil berbisik juga.
“Lagi?”
ujar Ibunya.
“Ya,
ya! Geunyoung ke mari!” ingat Ayahnya.
Lagi-lagi,
ketiganya membubarkan diri, linglung berpura-pura melakukan sesuatu sampai
akhirnya Geunyoung benar-benar keluar dari kamar Jongwoon.
“Geunyoung-ah?
Sudah menjenguknya?” sahut Ibunya Jongwoon.
“Ahjuma,
Ahjussi, Jongjin-ah..., tolong jaga Jongwoon Oppa baik-baik, ya...” kata
Geunyoung dengan nada datar, membuat ketiga orang yang disebutnya heran. “Mohon
bantuannya... (bow)”.
Ketiganya
masih memandang Geunyoung heran.
“Aku
harus kembali...” kata Geunyoung, “Annyeonghi gaseyo... (bow)”.
Kemudian,
yeoja itu berjalan memunggungi ketiga orang yang hanya terbengong melihat
ekspresinya tersebut.
[ ■
TVXQ – Why did I Falling in Love with You?]
*Not You*
Keempat
anggota keluarga ini berkumpul. Ada Jongjin, Ayahnya, dan Jongwoon —yang baru
bangun itu— di ruang makan, sedang sang Ibu tengah memasak di dapur.
“Sudah
bangun, Jongwoon-ah...?” sambut Ayah yang duduk bersama Jongjin di balik meja
rendah itu.
Jongwoon
duduk di depannya, “Aku tidur di sini?” tanyanya.
“Geurae,
Hyung... Ada masalah sedikit...” kata Jongjin.
“Orang-orang
yang memukulku itu, ya?” tebaknya.
“Semacam
itu...” kata Jongjin lagi.
“Appa,
Jongjin-ah, kalian tau..., aku bermimpi sesuatu yang aneh...” kata Jongwoon
sembari memijit pelan lehernya, agak sakit.
“Mimpi
apa?” tanya Ayah.
“Geunyoung.”
kata Jongwoon, “Ia..., mencium pipiku...”.
“Ah.....!”
ujar Jongjin dan Ayahnya, keduanya sudah mengerti kenapa Jongwoon bisa bermimpi
hal seperti itu.
“Geurigo...,”
lanjut Jongwoon, “ia juga mencium bibirku...”.
“HAA?!!”
kali ini Jongjin dan Ayahnya tidak berujar santai lagi, keduanya terkejut.
***
“Umma!
Umma!” seru Jongjin memasuki dapur dan menghampiri Ibunya yang tengah memasak.
“Eih,
kau ini tergesa-gesa sekali, sih?” ujar Ibunya, “Museun iriya?” tanyanya.
“Umma
masih ingat kejadian semalam? Soal yang Geunyoung lakukan setelah mencium
pipinya Jongwoon Hyung...! Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Hyung!”.
“Iya,
iya, Umma ingat...” kata Ibunya, “Memang kenapa?”.
“Aku
tau apa yang Geunyoung lakukan saat itu!”.
“Memang
apa yang dilakukannya?”.
“Ia
mencium bibir Hyung!”.
“Mwo?!”
Ibunya terkejut.
***
Hari
ini, Kyuhyun, Ryeowook, dan Jongwoon tengah berada di dorm mereka. Kyuhyun tengah iseng-iseng bermain dengan pianonya,
biasanya, sih, dia main PSP, tapi kali ini berbeda. Ryeowook tengah berkutat
dengan komputernya, si komposer andalan ini tengah membuat karya baru lagi.
Sedang Jongwoon hanya termenung memandangi langit lewat kaca pintu balkon.
Ia
tengah memikirkan niatnya itu baik-baik. Ia ingin mengatakan yang sesungguhnya
pada Geunyoung. Ia harus mempersiapkan diri apappun hasil yang akan diterimanya
di akhir pernyataannya pada yeoja itu. Baginya, ini sudah saatnya.
“Yup!”
Jongwoon berseru sambil menepuk tangannya.
Hal
ini membuat Ryeowook dan Kyuhyun terloncat kaget. Ryeowook hanya mengusap dada
sambil menghela nafas, tapi Kyuhyun tidak bisa sesantai itu.
“Ya!
Hyung-ah! Bikin kaget saja!” protes Kyuhyun.
“Aku
akan menemui Geunyoung dan mengungkapkan yang sebenarnya!” kata Jongwoon.
Namja
itu segera bangkit dan mengambil tasnya. Ia segera keluar dari dorm
meninggalkan kedua dongsaeng-deul-nya yang memandanginya heran.
***
Beberapa
kali Jongwoon menghubungi Geunyoung, tapi yeoja itu tak mengangkatnya. Ia ingin
menelponnya untuk menyuruhnya datang ke perempatan itu dan membiarkan Jongwoon
berkata jujur padanya.
Namun
sudah panggilan yang kesembilanpuluhlima, Geunyoung juga tak mengangkat
panggilannya.
Jongwoon
tak menyerah, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar tempat itu,
mungkin saja ia bisa menemui Geunyoung yang tengah berjalan-jalan atau di suatu
tempat.
Tepat
dugaannya, ketika berjalan melewati taman, Jongwoon mendapati Geunyoung duduk
sendirian di bangku jauh di sana. Yeoja itu tengah memandangi ponselnya.
“Moon
Geun Young!!!” panggil Jongwoon dengan ceria.
Geunyoung
tersentak, ia menoleh pada Jongwoon. Namun ia tidak terlihat seceria Jongwoon
seperti biasanya, ia khawatir dan cemas.
Jongwoon
berlari ke arahnya, tapi Geunyoung segera bangkit dan berlari menjauh.
Melihatnya, Jongwoon makin mempercepat langkahnya.
“Geunyoung-ah,
jamkkanman!!” seru Jongwoon.
Jongwoon
sudah berlari jauh. Namun pada akhirnya Jongwoon kehilangan jejak. Ia berhenti
berlari, dan menarik nafas dalam-dalam berulangkali.
“Ke
mana dia pergi?” gumamnya.
Geunyoung
berada di balik pohon, bersembunyi dari Jongwoon. Sebenarnya, ia tak mau
melakukan ini, tapi apa yang harus diperbuatnya lagi?
Yeoja
ini terduduk di balik tumbuhan tinggi itu, kemudian memendam wajahnya di dalam
lipatan kedua tangannya yang ada di atas kedua lututnya, ia menangis.
***
“Ini memang bukan
keinginanku... Tapi jika tidak ku paksakan, aku hanya akan merasa bersalah...
Biarkan aku saja yang
tersakiti... Aku tak mau hanya karena keinginan kuatku ini bisa enyakitinya...
Makanya, sekarang aku sering menghindarinya...
Aku tidak ingin Appa
melihatku berada dekat dengannya lalu menyuruh Asisten Kim mememerintahkan pesuruhnya
untuk memukulinya lagi...
Meski ini memang
membuatku sedih dan sakit, tapi ini lebih baik daripada melihatnya tersakiti...”
*Not You*
To be Countinued
***
Catatan
di atas merupakan catatan harian dari Geunyoung, ya~~...!
Oya,
hanbon deo, jeongmal joesonghaeyo, kalau misalnya ada tokoh, couple, penempatan tokoh, atau watak
tokoh yang Reader-deul kurang suka~~... Jangan nge-bashing atau fanwar,
ya~~..! Juga jangan men-judge Nate
yang enggak-enggak dan bikin geleng-geleng kepala, ya~~... Saya cuma seorang
author yang punya imajinasi yang ketinggian~~....! —_____—
Ok,
part selanjutnya adalah part ending...!
Mungkin yang komen soal kritik dan saran buat kelanjutan FF ini, Nate gak bisa
memenuhi semuanya... Aku biasa nulis FF dulu di laptop, bukan nulis langsung di
Blog... Nah, kalau sudah jadi baru di-share
di Blog.. Jadi yang minta perubahan tokoh, tambah part, dan lain-lain, Nate
gak bisa mengabulkan karena tokoh, jumlah part, dan lain-lainnya itu sudah fix,
jadi gak bisa diubah lagi~~..^ Joesonghamnida~~... (bow) Juga untuk kesalahan
pengetikan, joesonghamnida~~...! (bow)
OK,
gomapseumnida~~...!
RetnoNateRiver


