[FF] I Can't be, Without You (ONESHOT)
Assalamualaikum!
Pertama-tama,
Nate mau minta maaf karena telat nge-post FF tanggal 6 Mei yang Nate janjikan
tempo hari. Karena sepanjang hari itu mood Nate kurang bagus, jadi penulisannya
belum terselesaikan sampai hari itu datang dan menjanjikan hari Jumat atau
Sabtu baru bisa di-post.
Kemudian,
Nate kembali ngaret karena terjadi kesalahan teknis, sehingga FF ini baru bisa
di-post hari ini. 죄송합니다. Joesonghamnida. (Mohon maaf.)
Inilah FF 6
Mei yang Nate janjikan! ^^hehehe, ini FF
malah berjudul ‘6 Mei’? hahahaha^ Enggaklah, judulnya bukan 6 Mei.^
Oya, Nate
menyantumkan lagu-lagu yang harus di-play
di dalam FF ini. Lagu-lagu itu adalah
(di atas ada link download lagunya. untuk men-download, klik link-nya, tunggu 5 detik, klik SKIP ADD alias tombol warna kuning di pojok atas, dan selamat men-download!!^)
Tapi ini gak
wajib, kok. Semau Reader-deul aja mau diputer atau enggaknya. Ini cuma sebagai
bumbu penyedap aja, kok! #ellah ^^
Eh, ada
nyelip-nyelip lagunya Boyfriend? Gak papalah ya. Secara, Boyfriend adalah bias
Nate juga ^^boygroup favorite, setelah
SuJu!!^. Nate menyantumkan lagu ini, karena setiap kali Nate mendengarkan
lagu ini Nate ingat akan Nate dan semua orang-orang yang sedang menunggu
kepulangan Yesung.
OK, daripada
kelamaan nungguin Nate selesai ngetik (ngomong), mending silahkan baca FF Nate
yang satu ini, dan jangan lupa komen seikhlasnya dari kalian semua!!!^
YeMoon, LOVE
YA!
***
[► Super Junior Yesung – Gray
Paper]
— Video —
“안녕!! Annyông!! (pada kamera) Hei, kameranya sudah menyala~..!” seru gadis itu.
“안녕!! Annyông!!” lelaki itu akhirnya berpusat pada kamera yang tengah merekam
mereka.
“Kalian tau apa yang membuatku bahagia
sekarang?”.
“Kau bilang apa? ‘Kalian’? —memang akan ada
orang yang mau menonton video ini kelak selain kita berdua?”.
“Anggap saja ‘kalian’ itu kameranya— Kalian tau
apa yang membuatku bahagia saat ini?” gadis itu mengulang kalimatnya lagi.
“Apa? Apa? 말해봐요.. Malhæbwayo..
(Kasih tau aku..)”.
“Aku baru saja pulang ke Korea setelah mengenyam
pendidikan di tempat yang begitu jauh dari rumahku...” gadis itu tersenyum.
“Hanya itu?” lelaki itu mengulum bibirnya,
menggerutu.
Sekilas gadis itu memandang orang di sampingnya,
“아, 왜? Ah, wæ? (Loh, kenapa?)”.
Lelaki itu sengaja membuang muka, terlihat
sangat lucu sehingga gadis itu hanya mampu menahan tawanya.
“Baiklah.” ujar gadis itu, “Aku tau betapa
sedihnya Oppa hari itu —미안해... mianhæ... Sekarang, kan, aku
sudah pulang dan bertemu dengan Oppa lagi, jadi aku harap Oppa tidak marah lagi
padaku...”.
Ketika gadis itu memusatkan pandangan pada
kamera, lelaki itu mencuri-curi waktu untuk melirik gadis tersayangnya itu.
“Tapi ada hal yang lebih membahagiakan lagi
selain yang ku sebutkan tadi.” ucap gadis itu pada kamera di depanya, “Yaitu,
aku bertemu dengan Oppa yang paling ku rindukan...”.
Lelaki itu masih memandangi gadis itu, bahkan
ketika gadis itu menoleh padanya pun ia masih memandanginya. Sehingga lelaki
itu hanya bisa berbuat aneh —salah tingkah— karenanya.
Gadis itu tau betul kalau lelaki itu tersipu.
Kelihatan lucu seperti biasanya. Senang rasanya bisa membalas kelakuan lelaki
itu yang lebih sering membuatnya tersipu.
“오빠, 사랑해!! Oppa, saranghæ!!” seru gadis itu setelah berhasil mencium pipi lelaki
itu, lalu berlari begitu saja. Nakal.
Lelaki itu awalnya hanya bisa terdiam, tapi ini
hal yang ia sukai —gadis itu pasti mengajaknya bercanda.
“Dasar...!” geram lelaki itu dengan maksud
bercanda, “Akan ku kejar kau sampai tertangkap!!”.
“Oppa tidak akan bisa menangkapku!!” terdengar
seruan gadis itu yang jauh dari kamera.
“Ya!! Kembali!!”.
Itu seruan terakhir, sebelum akhirnya lelaki itu
mematikan kameranya, dan video berakhir.
I Can’t be, Without You
Author : RetnoNateRiver
Genre : Romance
Main Casts : - Moon Geun Young
-
Super Junior Yesung
Other Cast : - Boyfriend Donghyun
-
Kim Jong Jin
[■ Super Junior Yesung – Gray
Paper]
May 5th, 2013...,
“♪♫♪” tiba-tiba saja ponsel gadis
itu, Geunyoung, berdering pagi itu.
“여보세요?
Yôboseyo? (Halo?)” Geunyoung segera mengangkat
panggilan tanpa melihat siapa yang menelponya.
“Kau sudah
bangun?” terdengar suara lelaki itu dibaliknya, Jongwoon.
Geunyoung
segera terperanjat dan terbangun sepenuhnya dari tidurnya. “Jongwoon Oppa?!”.
***
Geunyoung,
atau nama lengkapnya Moon Geun Young, tinggal di sebuah rumah sederhana bersama
Ibu dan adik sepupu laki-lakinya, Kim Dong Hyun.
Donghyun memang
sudah lama tinggal bersama Geunyoung dan Ibunya semenjak pemuda itu kehilangan
ayahnya yang meninggal karena kebakaran pabrik sewaktu ia kecil. Bencana itu
jugalah yang harus membuat Geunyoung ikut kehilangan ayahnya.
Donghyun
memang tidak punya keluarga lagi, Ibunya meninggal sewaktu melahirkanya
sementara ia anak tunggal. Ibunya adalah adik dari ayahnya Geunyoung. Ayahnya
Geunyoung adalah sahabat baik ayahnya Donghyun sejak kecil, sampai akhir hayat
mereka.
“뭐?
Mwo? (Apa?)” Donghyun menjeda makanya, “Jongwoon menelponmu? Secara
tiba-tiba?”.
![]() |
| Moon Geun Young |
“Ssshh...!”
Geunyoung menyuruh Donghyun untuk menjaga omonganya.
“Apa? Kenapa?
Nuna, ini mencurigakan!” Donghyun menegaskan, “Kalau dihitung-hitung, Jongwoon
sudah menghilang selama kurang lebih dua bulan, lalu ia tiba-tiba muncul dan
mengajakmu pergi?! Sebenarnya, apa yang ia mau?!”.
“Donghyun-ah.”
tegur Ibu, “Jangan terlalu over
protective! Lihat, kan? Kau malah berprasangka buruk pada orang lain!”.
“Tapi, Ômôni,
bukankah ini sangat tidak wajar?” Donghyun membela diri. Memang karena sudah
dirawat cukup lama oleh keluarga Geunyoung semenjak ia tidak memiliki orangtua
lagi, Donghyun mulai terbiasa memanggil Ibu Geunyoung dengan panggilan
tersebut.
![]() |
| Kim Dong Hyun |
“Aku yakin
Jongwoon Oppa bukan orang yang seperti itu...” Geunyoung melahap sarapannya.
“Pasti ada alasan kenapa ia menghilang tiba-tiba dan muncul kembali tiba-tiba
—juga.”.
“알았어!
Arassô! (Baiklah!)” Donghyun mulai jengah, “Kalau ia
menyakitimu —Nuna— aku takkan memberinya ampun!!”.
“OK, terserah
kau saja.” kata Geunyoung, “Tapi, Donghyun-ah, aku yakin ia bukan orang seperti
yang kau kira.”.
“Lihat saja
nanti...”.
Donghyun
menyudahi sarapanya —yang memang dasarnya sudah habis itu. Ia segera meletakan
alat makan yang dipakainya itu ke tempatnya.
Geunyoung
hanya menghela nafas.
***
Jongwoon
menjemput Geunyoung. Tak butuh waktu lama, setelah Geunyoung berpamitan pergi,
keduanya segera berangkat.
“Kita mau ke mana?” tanya Geunyoung begitu ia
dan Jongwoon sedang dalam perjalanan.
“난 몰라요... Nan mollayo... (Aku gak
tau...)” jawab Jongwoon singkat.
Geunyoung
memandanginya heran. “Jadi, kita berjalan tanpa arah tujuan? Kau belum
menentukan ke mana kita akan pergi?”.
“Aku akan
membawamu ke tempat yang aku mau.” Jongwoon tersenyum. “Ngomong-ngomong, kau
sudah sarapan?”.
Geunyoung
hanya memandangi Jongwoon tanpa menjawab, tapi Jongwoon lantas berkata.
“Aku akan
membawamu makan.”.
***
Ini hanya
sebuah kafe kecil, di sinilah Jongwoon mengajak Geunyoung makan. Jongwoon hanya
memesan 2 pancake dan 2 cappucino untuknya dan Geunyoung.
“Kau pemilik
kafe, tapi kau membawa kita makan di kafe orang.” canda Geunyoung ketika
Jongwoon tengah mengaduk cappucino-nya.
“Aku sering
makan di kafe orang untuk mengetahui seberapa bagus kafe mereka. Sekaligus
mengetahui keunggulan dan kelemahan kafe mereka, agar kafeku memiliki kualitas
yang lebih bagus.”.
Geunyoung
tersenyum takjub —hatinya berkata, ia tidak salah memilih namja. Ia lalu
berkata sebelum menyeruput cappucino-nya.
“Wow, gagasan yang hebat! Belum pernah terpikirkan olehku!”.
Geunyoung
meletakan cangkirnya kembali, namun kemudian ia menyadari bahwa Jongwoon tengah
terkikik melihatnya.
“아,
왜? Ah, wæ?” tanya Geunyoung risih.
“Kau pikir
itu lucu?” Jongwoon masih terkikik, “이제 드라마에서 아닌데. 몰라는 것 처럼?
Ije deurama-esô aninde. Mollaneun gôt
chôrôm?
(Sekarang ini bukan drama. Dan kau pura-pura tidak tau?)”.
“뭐예요?
Mwoyeyo? (Apanya?)” Geunyoung masih heran.
“이봐,
이봐... Ibwa, ibwa... (Dengarkan...)” Jongwoon mulai
serius, tetapi senyumanya tetap menemani. “Kau pikir membiarkan krim di atas bibirmu
itu lucu? Seperti yang terjadi di drama?”.
Geunyoung
tersentak. Baru tersadar kalau ada krim tertinggal di salah satu bagian wajahnya.
“몰랐어... Mollassô...
(Aku tidak tau...)”.
Ketika
Geunyoung akan membersihkan bagian yang kotor itu dengan lengan bajunya yang
panjang, Jongwoon segera menahannya —wajahnya serius nan dingin.
Gadis itu merasa,
kalau ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya,
“Nanti
kotor...” ujar Jongwoon dalam.
jadi
Geunyoung segera memejamkan matanya karena rasa ngeri yang langsung naik ke
ubun-ubun. Ia cuma bisa mematung karena rasa takut itu.
Tanpa
disadari, ternyata dugaanya salah. Ia kemudian merasakan serat-serat halus
membersihkan bagian bibirnya itu.
Ternyata setelah ia membuka matanya, ia mendapati Jongwoon tengah menggunakan
sapu tangan putihnya untuk membersihkan krim itu.
Setelah
bersih, Jongwoon kembali ke posisi duduknya. Ia melipat rapi sapu tanganya lalu
menyimpannya di salah satu saku jaketnya.
Tapi ketika
ia beralih memandang Geunyoung dan melihat ekspresinya, ia tertawa.
“Kau bahkan
sampai keringat dingin!!”.
Geunyoung
sadar kalau ia ditertawakan. “Ku pikir Oppa akan...,”.
“Menciummu?
Untuk membersihkan krim di bibirmu, seperti apa yang Hyun Bin lakukan pada Ha
Ji Won di drama mereka?” sela Jongwoon segera secepat kilat ditambah dengan
wajah yang mengejek. “Baru begini saja kau sudah ngeri, apalagi kalau aku
sungguh-sungguh melakukanya?!”.
“Perasaan
seperti itu, kan, wajar dirasakan yôjadeul!
Maklumi saja! —aku juga pernah seperti itu, dan Oppa tau itu!” sergah Geunyoung.
“Oh, jadi aku
harus melakukanya lagi sungguh-sungguh?”. Jongwoon mendekatkan wajahnya ke arah
Geunyoung secara tiba-tiba dengan wajah serius, sengaja meledek dan membuat
kaget Geunyoung.
“하지마!
하지마! Hajima! Hajima! (Jangan! Jangan lakukan!)”
sergah Geunyoung spontan.
Jongwoon
kembali tertawa melihat respon itu. Bahkan ia masih bisa tertawa meski ia sudah
terduduk dan beberapa detik telah berlalu. Kali ini ia berhasil membuat
Geunyoung tersipu malu untuk kesekian kalinya, seperti biasanya.
“Aku hanya bercanda,
kok! Hahahaha!” susul Jongwoon kemudian, yang segera membuat Geunyoung menekuk
wajahnya —walaupun sebenarnya ia malu.
***
Saatnya
mereka pergi. Keduanya segera beranjak dari kafe itu, entah mau ke mana lagi
Jongwoon akan membawa mereka pergi.
Tapi,
“Brukk..”. Geunyoung terjatuh ketika hendak berjalan menuju mobil Jongwoon.
Kebiasaan buruknya terjadi lagi.
“괜찮다?
Gwæchanhta? (Kau baik-baik saja?)”
Jongwoon yang —hampir bisa disebut— panik itu segera membantu Geunyoung
berdiri.
Geunyoung
kesulitan menjawab. Kali ini lukanya agak lebih berat ketimbang hari-hari
biasanya. Dan lagi-lagi luka itu ada di bagian kaki.
***
Terpaksa
perjalanan mereka tertunda.
Siang itu, setelah
pergi mencari obat luka ringan —dan plester pastinya— Jongwoon kembali ke
mobilnya. Kali ini bukan kursi depan yang ditujunya, tapi kursi belakang.
Begitu
pintunya dibuka, kita bisa menemukan sosok seorang gadis yang tengah meringis
menahan sakitnya luka di kakinya.
Gadis itu,
Geunyoung, bertemu pandang dengan Jongwoon. Lantas Jongwoon tersenyum mendapat
pandangan itu. Lekas ia masuk ke dalam mobil.
“Sini
kakimu...” suruh Jongwoon pada Geunyoung.
“Uh?”
Geunyoung melewatkan perkataan Jongwoon.
Dengan
perlahan, lelaki itu memangku kaki Geunyoung yang terluka itu. Ia kemudian
hanya berdecak melihat luka itu.
“Kau
kebiasaan...” ujar Jongwoon, sembari membuka kemasan obat luka yang dibelinya
tadi.
Ia lalu
mengambil kapas yang sudah tersedia di mobilnya bersama beberapa obat-obatan
lain.
“Kalau tidak
ada aku, bagaimana jadinya?” lanjutnya.
“Tanpamu,
tentu aku tidak bisa...” ujar Geunyoung singkat.
Jongwoon
hanya tersenyum sembari melirik gadis itu sedikit, kemudian ia mengobati luka
itu. Geunyoung hanya meringis, mungkin ia bisa menangis kalau ia mau. Tapi ia
menahan air matanya.
“울고 싶다? Ulgo shipta? (Mau menangis?)” tebak Jongwoon
sembari memandang Geunyoung tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Hanya terdiam
dan memandang Jongwoon, itulah yang bisa Geunyoung lakukan saat ini. Jongwoon
kembali mengobati luka itu. Dan kali ini, terdengar sesekali Geunyoung menahan
tangisnya yang sesenggukan karena kali ini sakitnya lebih terasa. ^^sesenggukan ini kalo gak salah bahasa Jawa,
hehehe :D ^
“아프지?
Apeuji? (Sakit, ya?)” tebak Jongwoon lagi, kali ini dengan nada meledek.
“Sudah tau
sakit malah bertanya!! —바보. Pabo. (Bodoh.)” omel
Geunyoung, meski ia sedang menahan air matanya.
Jongwoon
kembali tertawa melihat tingkah Geunyoung. Melihatnya sangat membuatnya gemas.
Bahkan sempat-sempatnya Jongwoon mencubit pipi gadis di samping kananya itu.
Sekarang,
Jongwoon tinggal melapisi luka itu dengan plester yang tadi dibelinya. Setelah
tertutup sempurna, Jongwon mengusap plester yang menutupi luka itu lalu
meniupnya sekali.
Dan Geunyoung
menyeletuk. “Aku, kan, bukan anak kecil.” .
Mendengar
itu, awalnya Jongwoon memang hanya terdiam, tapi begitu mengerti alasan
Geunyoung berujar demikian ia kembali tertawa.
“Jadi kau pikir
kau sudah dewasa, ya? Makanya kalau kau terluka, lukamu tidak usah diusap atau
ditiup supaya cepat sembuh?” Jongwoon masih bisa tertawa.
Lama kelamaan,
kalau dipikir-pikir memang logika itu lucu juga, pikir Geunyoung. Ia kemudian
terkekeh ketika Jongwoon masih mentertawakan perkataanya.
Jongwoon
kemudian berujar, “Tapi kau tetap harus berte...,”.
“Terimakasih!!”
sela Geunyoung segera.
***
[► Super Junior Yesung – Gray
Paper inst.]
Sesekali
sambil mengendarai mobil, Jongwoon memastikan keadaan Geunyoung yang duduk di
kursi belakang lewat cermin persegi panjang yang menggantung itu.
Geunyoung tau
kalau ia diperhatikan, ia risih. “Oppa, kenapa kau melihatku?”.
Jongwoon
sedikit tersentak, “응? Ng? (Uh?)”, matanya berkedip karena
sentakanya.
“Fokuskan
pandanganmu ke depan...”.
“Kau tidak
apa-apa, kan, di belakang?”.
Geunyoung
menghela nafas. Ingin rasanya tersenyum bahagia karena pertanyaan itu, tapi
Jongwoon masih memperhatikanya, agak malu rasanya kalau ia tersenyum secara
gamblang saat itu juga.
“Aku janji
kalau kenapa-napa, aku akan memanggilmu... Seperti biasanya saja...” katanya
kemudian.
Jongwoon
merasa tidak yakin, namun ia percaya pada Geunyoung. “Baiklah.” katanya yang
kemudian kembali terfokus ke depan.
Di saat
itulah Geunyoung tersenyum bahagia —Jongwoon begitu perhatian padanya. Tapi
tanpa disadari di saat itu juga Jongwoon melihat Geunyoung tersenyum karena
sifatnya. Jongwoon ikut tersenyum.
[■ Super Junior Yesung – Gray
Paper inst]
***
Tempat itu
dipenuhi banyak permainan, dan salah satu permainan yang paling umum dijumpai
dan hampir disukai semua orang adalah bianglala itu.
“Karena kau
sedang terluka, jadi kita tidak bisa naik wahana yang terlalu ekstrim...” kata
Jongwoon ketika ia memakirkan mobil.
Ia lalu
keluar dari mobilnya, sementara Geunyoung menghela nafas mendengarnya. Sayang
sekali, ketika Jongwoon ada waktu untuknya buat bermain dan bersama-sama malah
terhalang luka akibat kecerobohanya yang sudah menjadi kebiasaanya ini.
“Klek.” pintu
di samping kanan Geunyoung terbuka, dan ia menemukan Jongwoon di depan
pintunya.
“Ayo.” ajak
Jongwoon, sembari menyodorkan sepatu wanita berhak rendah itu untuk Geunyoung
di tanganya.
Betapa
perhatianya ia sampai menyimpan sepatu seperti itu untuknya, batin Geunyoung.
Ia takjub akan Jongwoon, hatinya berkata ia takkan bisa apa-apa tanpa Jongwoon.
“Kau...,
menyimpan sepatu seperti ini Oppa?” Geunyoung memandang Jongwoon.
“Aku tau
kebiasaanmu itu dan akibat yang akan ditimbulkannya... —kalau kau jatuh dan
kakimu terluka, tidak mungkin kau akan memakai sepatu berhak tinggi seperti
biasanya.”.
Geunyoung
tertunduk, wajahnya memerah. Tapi ia lekas memakai sepatu itu, ia tidak mau
Jongwoon menunggunya terlalu lama. Jongwoon juga ikut memakaikan sepatu itu
untuk yôja di depannya ini.
Tak lupa
seusainya, Jongwoon membantu Geunyoung bangkit.
“Lebih
nyaman, kan?” Jongwoon tersenyum.
Geunyoung
mengangguk. “고마워요... Gomawoyo... (Terimakasih...)” ujarnya
kemudian.
Ia menatap
namja itu yang sekarang tersenyum bahagia, dan sinar matahari menyilaukan
pandanganya, membentuk pemandangan yang takkan ia lupa. Dalam hatinya, ia tak
ingin melepas namja itu dari genggamanya.
***
[►Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
Di senja itu, ayah dan anak itu berjalan-jalan
di pinggiran sungai besar ini. Tetapi, anak itu,
“Brukk!”, terjatuh, seperti biasanya.
“Aduh, hati-hati kalau berjalan... Kamu ini
kebiasaan...” sang ayah menghanpiri anaknya yang hanya bisa meringis itu.
“Appa... Sakit...”.
“Ayo, naik ke punggung Appa. Kita harus segera
pulang dan mengobati lukamu..., ya?”.
“Hm!”
***
Ayah dan anak itu kedatangan sanak saudara
mereka.
“Namamu Kim Dong Hyun, kan?” tanya Ayah pada bocah
lelaki itu, keponakanya.
“Iya, Paman!” jawab bocah itu.
“Kau harus menjaga kakak sepupumu yang cantik
ini dari namjadeul jahat di luar sana, OK? Aku tau kau pasti sehebat ayahmu
—kau tau, dia sahabat terbaikku!”.
“Baik!”.
“Appa terlalu berlebihan.” keluh anaknya.
“Tidak apa, ini adalah amanat yang harus aku
jalankan!” kata bocah itu semangat.
“Nah, benar, kan?” bela sang Ayah, “Kalau Appa
tidak ada, Donghyun yang akan menggantikan Appa untuk menjagamu..”.
Anak itu hanya bisa menunduk. “Appa..”.
***
“Anakku yang paling cantik ini sudah besar.”
ujar sang Ayah.
“Anak Appa memang cuma aku, kan?” celetuk
anaknya.
“Iya, baiklah... Tapi, kalau kau dewasa nanti,
kau harus berhati-hati memilih pendamping hidupmu, ya!”.
“Yôbo, dia, kan, masih kecil,
kenapa kau beritau dia hal seperti itu?” tanya Ibunya.
“Bukan apa-apa, kok. Aku hanya takut tidak
sempat memberitau ia akan hal ini...”.
Anak itu hanya bisa memandangi Ayahnya.
“Aigoo. Kenapa kau berkata seperti itu?” tegur
Ibu.
“Hahaha! Kau ini penakut, ya?” ledek ayah.
***
“Aku ingin sekali melihat anakku satu-satunya ini
bahagia. Aku ingin selalu ada untuknya sampai ia menikah, memiliki keluarga
yang bahagia, memiliki anak, bahkan sampai usiaku berakhir.”.
Anak itu mendengar percakapan kedua orangtuanya
yang sedang bersantai di balkoni kamar mereka, dan anak itu mendengar perkataan
Ayahnya itu.
“Kenapa kau berkata seperti itu terus?” keluh
Ibu.
“Ah, tidak, kok. Aku cuma sedikit
merenunginya...”.
“Yôbo...”.
Sekilas, anak itu melihat kedua orangtuanya yang
berada di balkoni itu lewat celah pintu. Dan ia memutuskan pergi ke kamarnya
setelah terlalu banyak mendengar obrolan pribadi orangtuanya.
[■ Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
***
Jongwoon
memutuskan untuk mengajak Geunyoung menaiki satu wahana yang menyenangkan, tapi
tetap aman untuk Geunyoung, bahkan untuk semua orang sekalipun : bianglala.
Di dalamnya,
mereka sedang asyik menonton beberapa video yang mereka buat sendiri, termasuk
video di atas.
Jongwoon
memang sengaja men-copy hampir semua
video yang dibuat olehnya dan Geunyoung ke gadgets-nya,
seperti ponsel, I-pad, laptop, juga flashdisk,
dan lain-lain. Ia cuma mau ketika ia ingin melihat Geunyoung, video itu selalu
ada di mana pun ia berada, karena di situ ada rekaman dirinya bersama
Geunyoung.
Semua video
itu selalu mengobati hatinya ketika ia merasa bosan, marah, sedih, dan
lain-lain —singkat kata, bad mood.
Tak hanya di gadgets-nya sendiri, Jongwoon juga
sengaja men-copy video-video itu ke
hampir semua gadgets yang Geunyoung
miliki. Biasanya, Jongwoon men-copy-nya
tanpa sepengetahuan Geunyoung, tapi Geunyoung tidak keberatan akan hal itu.
Ketika ada
bagian yang lucu dari video yang diputar, mereka tertawa bersama-sama,
menyadari betapa lucunya saat itu. Mereka menikmati dunia mereka sendiri yang
terekam apik di situ.
“저...,
근영아... Jô...,
Geunyoung-ah... (Mm..., Geunyoung...)” panggil Jongwoon, seusainya semua video
habis ditonton mereka.
“네?
Ne? (Iya?)” jawab Geunyoung yang duduk berseberangan dengan Jongwoon.
“아름답지?
Areumdapji? ((Pemandangannya) Indah, kan?)” Jongwoon melempar pandangan keluar.
Geunyoung
menirunya. “흠, 아름답다. Hm, areumdapda. (Ya,
(pemandangannya) indah.)”.
“이건 진짜 아름답지만 너 더 아름답다.
Igôn jinjja areumdapjiman nô
dô areumdapta. (Pemandanganya sangat indah, tapi
kau lebih indah.)”.
[► Super Junior Yesung – Gray
Paper inst.]
Mendengarnya,
Geunyoung hanya tersenyum. “Oppa ini pintar mengambil hati orang...”.
“Eh, siapa
bilang? Aku serius, kok!” kata Jongwoon.
Ia kemudian
meraih pipi Geunyoung dengan tangan kanannya.
“Di dunia
ini, tidak akan ada lagi yôja sepertimu... Makanya, aku
tidak mau menyia-nyiakanmu...” kata Jongwoon, tersenyum.
“Oppa juga—
Tidak akan ada lagi namja sepertimu, makanya aku sangat menyayangimu.”. Yôja
itu ikut tersenyum.
Jongwoon
melepas sentuhanya. “완벽헤... Wanbyôkhæ...
(Kau sempurna...)”.
“안 완벽해...
An wanbyôkhæ... (Aku tidak sempurna...)”.
“Itu bagimu,
tapi tidak bagiku.”.
Dengan cepat,
Jongwoon menggerakkan tanganya untuk meraih tengkuk Geunyoung. Tapi dengan
perlahan, ia mencium bibir gadis di depannya ini, ia ingin gadis itu merasa
nyaman. Sementara Geunyoung tidak menolaknya, ia membalasnya.
Hembusan
angin itu, cahaya mentari itu, udara di siang itu, seakan mengerti apa yang
sedang terjadi.
“Kalau saja Appa masih hidup,
ingin ku perkenalkan Jongwoon Oppa padanya...
Seperti apa yang
diamanatkannya padaku : Jongwoon Oppa adalah namja yang baik..
Tapi, Appa sudah pergi
sekarang, jadi aku hanya bisa berharap Appa melihatku bersama Jongwoon Oppa
saat ini, dan mengenal Jongwoon Oppa sebagai namja yang baik...
Jongwoon Oppa benar-benar
menjagaku, ia selalu ada untukku. Aku tau itu dengan pasti, dan aku begitu
mensyukuri nikmat Tuhan yang satu ini...
Tanpa Jongwoon Oppa, aku tidak
bisa apa-apa. Aku membutuhkanya, seperti aku membutuhkan udara dan air.
Aku tidak ingin ia pergi,
karena aku tidak bisa tanpanya...”
- Moon Geun Young –
[■ Super Junior Yesung – Gray
Paper inst.]
***
Di pinggiran
sungai besar itu, sembari bersandar pada pagar pembatas, yôja
itu —Geunyoung—menikmati pemandangan kesibukan sungai itu di depannya.
“Mau?” namja
itu, Jongwoon, menyodorkan satu ice cream
cone pada Geunyoung.
Dan Geunyoung
menoleh padanya. Ia meraih cone itu,
kemudian berkata, “Gomawo...”.
Jongwoon
punya satu cone lagi di tangan yang
satunya. Ia kemudian bergabung dengan Geunyoung menikmati pemandangan senja di
pinggir hamparan sungai besar itu.
“Bagaimana
dengan kakimu?” tanya Jongwoon sembari melahap ice cream cone coklat itu.
“Sekarang jadi lebih baik. Gomawo.” kata Geunyoung.
Jongwoon
memandang Geunyoung sembari tersenyum. “Kau selalu berkata seperti itu —kau
tau, (kata) ‘gomawo’..”.
“나한테 잘 해서 고마워 말해.. Nahante jal hæsô
gomawo malhæ.. (Karena Oppa berlaku baik padaku jadi ku ucapkan terimakasih..)”
jelas Geunyoung singkat.
Hembusan
angin menyibakkan rambut Geunyoung yang terurai panjang itu. Dazzling, mungkin satu kata itu cukup
mewakilkan ramainya kata-kata yang meluap di hati Jongwoon.
“Oya, soal
aku yang menghilang tiba-tiba dan muncul tiba-tiba,” Jongwoon mengalihkan
topik, “itu karena aku kembali ke Cheonan bersama Jongjin untuk bertemu kedua
orangtua kami. Abôji sakit, jadi kami tambah lama
di sana sampai Abôji sembuh..”.
“Lalu,
bagaimana keadaanya saat ini?”.
“Syukurlah,
beliau sudah sehat.” Jongwoon kembali tersenyum, “Oya, Ômôni
menitip salam padamu dan Ômma-mu...”.
“Wah,
senangnya!” Geunyoung tersenyum girang, “Salam balik untuk Ômônim,
dan akan ku sampaikan salamnya untuk Ômôni(-ku).”.
“Sampaikan
alasanku ini pada Donghyun —aku, kan, tidak mau dibunuh olehnya gara-gara
menghilang dan muncul tiba-tiba.” pesan Jongwoon, sekaligus bergurau.
Hal ini
membuat Geunyoung tertawa. “Kau rupanya mengerti kalau Donghyun akan mengiramu
seperti itu!”.
“Ah, Donghyun...”
Jongwoon terkekeh, “Siapa juga yang tidak mengenal ke-over-protective-annya untukmu?”.
“Jangan
salahkan dia.” Geunyoung masih tersenyum, “Dia begitu karena pesan Abôji,
yang merupakan paman sekaligus sahabat baik ayahnya. Ia mendapat amanat untuk
menjagaku, dan ia benar-benar menjalankan amanat itu.”.
Jongwoon
mengangguk tanda mengerti. “Ia anak yang luar biasa.”.
“Ya, meskipun
yang orang-orang tau kalau ia adalah anak yang nakal, tapi sebenarnya Donghyun
adalah anak yang perhatian dan baik hati...” lanjut Geunyoung.
“그래.
Geuræ. (Benar.)” Jongwoon memandang Geunyoung. “Salah satunya, kita bisa lihat
bagaimana ia melindungimu dari semua orang jahat di luar sana —bahkan mungkin
ia rela mengorbankan nyawanya sendiri untukmu.”.
Geunyoung
tersenyum pada Jongwoon, tidak menyadari ada noda di dekat bibirnya.
Melihatnya, Jongwoon segera mengusapnya dengan jemarinya. Dan Geunyoung tetap
saja tersenyum.
“칠칠맞가는...
Chilchilmatganeun... (Berantakan...)” bisik Jongwoon.
“Aku takkan
bisa tanpa Oppa..” bisik Geunyoung.
Mendengar
kalimat itu, Jongwoon merasa risih. “그렇게 말하지마...
Geurôhke malhajima... (Jangan berbicara seperti
itu...)”.
“아,
왜? Ah, wæ?”. Geunyoung heran.
“아니.
그냥 말하지마... Ani. Geunyang malhajima...
(Enggak. Yang penting, jangan bicara seperti itu...)”.
Jongwoon tak
mampu menjelaskan lebih rinci alasannya berkata demikian pada Geunyoung. Ada
banyak hal yang dikhawatirkanya akan terjadi apabila ia berterusterang di
hadapan Geunyoung sekarang juga.
***
Matahari
sudah tenggelam, malam pun turun. Kini lampu-lampu kota yang menerangi tiap
sudut menemani . Sekarang ini, keduanya tengah makan di restoran kecil
terdekat.
Satu hal yang
membuat Geunyoung merasa aneh : semakin larut Jongwoon semakin terbengong,
tidak bersemangat dan tidak seperti biasanya.
“Oppa, ada
apa?” tanyanya.
Jongwoon
terkesiap, tiba-tiba terbangun dari lamunannya. Ia mencoba tersenyum, meski seadanya.
“Tidak ada apa-apa...” katanya, “Oya, bagaimana kakimu? Sudah baikan?”
tanyanya, berusaha mengalihkan suasana.
Geunyoung
mengangguk-angguk kecil. “Ya, sudah baikan. Cukup untuk berjalan jauh...”.
Jongwoon
melanjutkan makanya setelah tersenyum sekali lagi. Namun tetap saja hal-hal
yang baru saja dilihat Geunyoung membuatnya makin merasa heran. Apapun itu, ia
harus menyelidikinya.
***
Jongwoon
sengaja memarkirkan mobil hitamnya itu di pinggiran sungai besar nun sibuk itu.
Keduanya berada di dalam mobil sembari menikmati pemandangan malam itu.
Kembali
Geunyoung dapati Jongwoon yang merenung dan terbengong. Ini semakin membuatnya
heran.
Merasakan
sorotan itu terus-menerus, Jongwoon segera tersadar, lekas ia berujar, “Kau
lihat bintang-bintang itu? Cantik, bukan?” ia menunjuk ke langit di atas sana.
Geunyoung
memandang ke arah yang ditunjuk, namun tak lama ia kembali memandang Jongwoon
dengan tatapan yang masih sama. “Tolong jangan berbohong.” pintanya.
Senyuman
palsu itu meredup. Jongwoon menghela nafas panjang. “Ah... Geunyoung-ah...”.
“Oppa...,
menyembunyikan sesuatu..., ya, kan?” tebak Geunyoung ragu.
Jongwoon
memandangnya pasrah. “Kau berhasil membongkarnya.” katanya.
“말헤봐.
Malhæbwa. (Katakan.)” pinta Geunyoung. “이제 말해봐.
Ije malhæbwa. (Katakan sekarang juga.)”.
Helaan nafas
itu, putusnya eye contact itu,
pejaman mata itu, semakin membuat Geunyoung merasa benar-benar khawatir. Ia
takut mendengar satu hal buruk yang akan dilontarkan namja di samping kirinya
itu.
“Aku tidak
pernah mau menyakiti hatimu. Makanya, aku tidak bisa mengucapkanya.” ujar
Jongwoon, seakan pembukaan.
Jongwoon
menggenggam erat stir di depannya.
“미안하다...
Mianhada... (Aku minta maaf...)”.
“그냥 말헤봐! Geunyang malhæbwa! (Katakan saja!)” Geunyoung
mulai tidak sabaran.
“OK! Akan aku
katakan karena kau memintanya sekarang juga!” balas Jongwoon, “Sekarang juga,
berhenti berkata bahwa kau tidak bisa tanpaku!! Berhenti berkata seperti itu!!
Apapun itu, kau harus bisa melakukannya sendiri tanpaku!!”.
Geunyoung
terbelalak.
“Ini bukan
karena aku tidak menyayangimu, justru ini karena aku mencintaimu, makanya aku
berkata seperti ini!” lanjut Jongwoon, “Geunyoung-ah, aku akan pergi...”.
“Pergi? Ke
mana?”.
“Aku punya
kewajiban untuk negara ini...”.
[► Super Junior Yesung – Gray
Paper]
“뭐...? Mwo...?” batin Geunyoung.
“Aku akan
pergi besok. Dan aku lebih meminta maaf lagi karena besok adalah hari
ulangtahunmu...”.
“Aku tidak
peduli kapanpun kau akan pergi, tapi...,” terlihat benda itu mulai berlinang,
“tidak bisakah kau bicarakan hal ini denganku juga? Atau setidaknya —kalau Oppa
tidak bisa membicarakanya denganku— beritau aku sebelum hari itu semakin
mendekat! Tidakkah Oppa tau bagaimana rasanya dikejutkan dengan hal seperti
ini?!”.
“Ketahulah,
bahwa untuk mengatakan hal seperti itu padamu adalah salah satu hal tersulit
bagiku! Aku takut kau merasa sedih karena hal ini!”.
“Tapi lebih
sakit lagi rasanya jika kau memberitauku di saat-saat seperti ini! Sekarang
bandingkan yang mana yang lebih menyedihkan!!”.
Jongwoon
menghela nafas. Baginya, ia yang salah. Memang seharusnya, ia memberitau hal
seperti ini jauh-jauh hari. Ia segera mendengar isakan itu dari gadis di
sampingnya.
Segera ia
memeluknya, mencoba meredakan tangisnya. Tapi gadis itu menolak. Ia mencoba
mengalah, lalu kembali mencoba memeluknya lagi. Dan gadis itu berhasil
didekapnya, menangis dalam dekapanya.
“Jadi, harus
kita akhiri sekarang juga?” tanya gadis itu setelah tangisannya reda.
“Kau yakin?”
tanya lelaki itu, Jongwoon.
“Memang
begitu, kan?”.
Jongwoon
menghela nafas lagi. “Kemarin, kau yang pergi jauh untuk mengenyam pendidikan
di benua itu. Kini, aku yang pergi untuk mengabdi pada negara.”.
“Kau akan
kembali?”. Geunyoung, gadis itu, menatap Jongwoon.
Dan Jongwoon
membalas tatapanya, “Tentu.”.
Geunyoung
tersenyum tipis, melepas tatapanya dari Jongwoon. “Aku takut hal buruk
terjadi.”.
“Tidak akan.”Jongwoon
mengusap kepala Geunyoung. ”Semua akan baik-baik saja, dan kau tau itu.”.
“Kau berjanji
kalau kau akan kembali, dan aku mempercayainya.”.
Jongwoon
tersenyum tipis. “Kali ini, aku yang berterimakasih. Dan sebagai balasan atas
kepercayaanmu, aku akan segera menemuimu seusainya aku menjalani
kewajibanku...”.
Suasana
hening selama beberapa menit. Tak sengaja keduanya bertemu pandang.
“Boleh?”
tanya Jongwoon, hanya dibalas tundukan kepala dari Geunyoung.
Merasa
jawabannya ‘iya’, tangan Jongwoon mulai bergerak untuk menyentuh wajah manis
gadis itu. Perlahan, Jongwoon mencium bibir yôja
yang disayanginya ini. Ia tidak peduli telah berapa menit berlalu, tetapi ia
ingin membuat yôja itu merasa nyaman.
***
Jongwoon
berhasil mengantarkan Geunyoung dengan selamat sampai ke rumahnya. Tapi
Geunyoung enggan melangkah keluar.
Tatapan
Jongwoon itu seakan bertanya, “Kau tak
apa, kan?”.
“Oppa,”
panggil Geunyoung, “kau pasti akan kembali, kan?”.
Mendengar
itu, Jongwoon hanya tersenyum. “Pasti, dan jangan khawatir.” katanya, “Sekarang
kau bisa turun dan istirahat dengan baik. Tidurlah.”.
Geunyoung
menatapnya, berartikan perasaan enggan.
Dengan cepat,
Jongwoon mengecup bibir Geunyoung —berusaha menghapus kekhawatirannya, tidak
peduli berhasil atau gagal.
“Itu yang terakhir,
karena kau merasa khawatir.” ujar Jongwoon kemudian. “Sekarang pulanglah. Kau
harus istirahat. Dan kau ingat, kan? Aku akan kembali.”.
Geunyoung
menunduk. Masih bersama rasa enggannya, Geunyoung melangkah turun. Tapi tatapan
Jongwoon itu meyakinkanya sekali lagi untuk melangkah pulang,
dan menanti.
“Ada apa?”
gumam Donghyun yang melihat pemandangan itu dari jendela kamarnya di lantai
atas.
Ia makin
mengernyitkan dahi melihat gerak-gerik Geunyoung yang terlihat tidak
bersemangat itu.
“Apa yang ia
lakukan pada Nuna?”.
Hatinya
menyergap Jongwoon segera. Dengan segera, Donghyun melangkah menjauh dari
jendela kamarnya. Segera ia melapisi tubuh bagian atasnya dengan t-shirt putih itu.
“Nuna!” seru
Donghyun begitu melihat pintu kamar Geunyoung yang menutup.
Segera ia
berlari kecil mengejar langkah Geunyoung yang tertutup pintu. Ia kemudian
membuka pintu kamar itu dan menemukan Geunyoung duduk termangu di atas
ranjangnya.
“Nuna, ada
apa?” Donghyun dengan segera duduk di samping Geunyoung dan memusatkan perhatiannya
pada gadis itu. “Apa yang Jongwoon..., —maksudku— Jongwoon Hyông
lakukan padamu?”.
“Tidak apa,
Donghyun-ah.” bela Geunyoung.
“Katakan,
Nuna, apa ia menyakitimu?”.
“Donghyun-ah..”.
“Aku tidak
bisa berdiam diri saja melihat Nuna se...,”.
“♪♫♪” ponsel Donghyun berdering.
Begitu melihat siapa penelponya,
“종운(형)
Jongwoon (Hyông)”
ia tersenyum
sinis, “Bagus. Baru saja dibicarakan.”.
Donghyun
segera melangkah keluar untuk mengangkat panggilan itu, tak peduli Geunyoung
memanggil-manggilnya untuk tidak bertingkah macam-macam pada Jongwoon.
“Apa? —Hyông?”
sergah Donghyun segera begitu panggilan berhasil diangkatnya.
“Donghyun-ah,
ini aku Jongwoon.” jawab si penelpon, Jongwoon.
“Aku tau itu
kau! Sekarang...,”.
“Bisa kau ke
kafeku sekarang? Ada yang ingin ku bicarakan. Ini mengenai kakak sepupumu.”.
“Bagus. Itu
yang ingin ku tanyakan.” Donghyun tersenyum sinis. “Beri aku sepuluh menit.”.
***
Sepuluh
menit, waktu yang cukup untuk Donghyun menempuh perjalanan dengan mobil sport itu untuk sampai di kafe milik
Jongwoon.
Begitu sampai
di depan kafe itu, Donghyun bertemu lelaki yang sedang membereskan teras kafe,
itu Jongjin, adiknya Jongwoon.
[■ Super Junior Yesung – Gray
Paper]
“Donghyun-ah.”
sapa Jongjin.
Donghyun
membalasnya. “Lama tak jumpa, Hyông.”.
“Hm.” balas
Jongjin. “Kau mencari Jongwoon Hyông,
kan?” tebakan yang sesuai, “Ia di atap.”.
“Baiklah.
Terimakasih.”. Donghyun berpamitan.
Segera ia
masuk dan berjalan menuju atap kafe itu. Dan seperti info yang didapatkanya,
Jongwoon ada di situ —menunggunya. Bagi Donghyun, melihatnya yang tengah
berdiri membelakanginya itu saja sudah membuatnya kesal.
Dengan
langkah geram, Donghyun berjalan mendekati Jongwoon. Ketika langkah yang
keempat, Jongwoon tepat berbalik menghadapnya.
“어?
왔어. Ôh? Wassô.
(Oh? Kau sudah datang.)” sambut Jongwoon, tidak membaca perasaan Donghyun saat
ini.
“Bukk!!”.
Donghyun memukul lelaki di depannya itu —Jongwoon— segera, tak peduli lelaki
itu tersungkur ataupun mengaduh.
“Apa yang kau
lakukan pada Nuna?” tagih Donghyun sesegera mungkin.
“Hyông!!”
seru Jongjin yang melihat kejadian ini setibanya ia di atap. Ketika ia hendak
menolong Jongwoon, kakaknya itu menahanya, seakan berkata bahwa ini tidak apa.
“Santai
dulu.” Jongwoon menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya. Dengan ringan ia
berdiri. “Aku tau pasti kalau aku akan dipukul olehmu karena kau melihat
bagaimana keadaan Geunyoung tadi, kan?”.
Donghyun yang
tidak sabaran, menarik kerah baju Jongwoon. “Jangan berbasa-basi, dan
katakanlah!!”.
“Donghyun-ah!”
seru Jongjin sekali lagi.
Tapi Jongwoon
mengisyaratkan padanya bahwa ini tidak apa-apa. “Mari kita berbicara sebagai
namja yang sesungguhnya. Akan ku jelaskan kenapa Geunyoung bisa seperti itu...”
katanya pada Donghyun.
***
“Jadi,”
Donghyun berujar.
Angin malam
yang berhembus pelan itu seakan mengetahui seberapa kuat mereka harus berhembus
di suasana seperti ini.
“Ya.”
Jongwoon mengiyakan, sembari seseskali meringis kecil karena lukanya diobati
Jongjin.
Donghyun
menghela nafas berat. “미안. Mian. (Maaf.)” ujarnya ketus, sebenarnya
hatinya merasa sangat bersalah karena telah memukul Jongwoon.
“Kesedihan
Geunyoung karena kepergianku pasti hanya sementara...” ujar Jongwoon kemudian.
“Yang penting, hal yang benar-benar penting dan benar-benar harus kau indahkan,
jaga Geunyoung. Lindungi dia. Aku tau kaulah satu-satunya orang yang bisa ku
andalkan untuk menjaga Geunyoung.”.
Donghyun
memandang Jongwoon santai. “Ya, aku tau itu.”.
“Dan terlebih
lagi,” kali ini Jongjin angkat bicara, “tolong jangan berprasangka buruk kepada
orang, apalagi sampai memukulnya. Selidiki dulu, baru kalau ia benar-benar
salah kau boleh memukulnya.” katanya sembari melirik Jongwoon yang sedang
meringis.
Kembali
Donghyun menghela nafas berat. “알아, 알아. Ara, Ara. (Ya, aku tau.)”
katanya, “죄송합니다... Joesonghamnida... (Mohon maaf...)” ujarnya
dalam pada Jongwoon.
“Ya, ya...”
Jongwoon menahan perihnya, “Asal tak kau ulangi saja.”.
*I Can’t Be, Without You*
[► Boyfriend – Standing With U]
Harapan
penuh, tenaga penuh, itulah modal yang Geunyoung pakai pagi ini. Ia meminta
dengan amat sangat pada Donghyun agar lelaki itu mau mengantarnya ke kafe milik
Jongwoon dan Jongjin untuk bertemu Jongwoon sebelum ia berangkat ke camp.
Tapi yang
Geunyoung dapati begitu sampai adalah pintu tertutup dengan papan yang
bertuliskan ‘closed’ itu.
“Nuna?”
panggil Donghyun pada Geunyoung yang berdiri tepat di depan pintu kafe itu.
Dengan
perasaan sedih, Geunyoung berbalik dan menggeleng pada Donghyun. Adik sepupunya
itu pun hanya bisa menghela nafas.
Begitu
Donghyun menyalakan mesin mobil sport-nya,
Geunyoung menggerakan kakinya yang melangkah berat itu menuju mobil itu dan
bergegas pulang, tanpa membawa harapan penuhnya.
“Geunyoung.”
Ini bukan
mimpi, but it’s a miracle.
Geunyoung
mendengar suara namja yang paling dicarinya itu saat ini. Ya, Jongwoon ada di
belakangnya sekarang, tengah berdiri di depan pintu berpapan closed itu.
Begitu
berbalik dan menemukan Jongwoon di belakangnya, Geunyoung hanya terpaku
sejenak. Tapi ia segera memeluk namja ber-sweater
hitam tipis, bersyal merah, dan memakai penutup kepala itu erat-erat.
Jongwoon
tersentak begitu Geunyoung memeluknya. Tapi ia kemudian merasa nyaman. Ia
membalas pelukan itu.
“Pintunya
bertuliskan closed, ku pikir memang
tutup.” ujar Geunyoung.
“Sengaja tak
ku ubah, karena aku datang cuma untuk memastikan keadaan kafe sebelum aku
benar-benar pergi, sementara Jongjin dalam perjalanan ke sini untuk mengantarku
ke camp.” jelas Jongwoon.
Geunyoung
melepas pelukanya dan segera menatap Jongwoon. “Boleh aku mengantarmu?”.
“Pulanglah.
—aku tak mau melihat air matamu.” suruh Jongwoon.
“Jongwoon Hyông!!”
suara Jongjin yang baru saja tiba bersama mobil hitam itu terdengar.
Semua memandangnya.
“Aku harus
pergi.” kata Jongwoon.
“Oppa.” gumam
Geunyoung, dan Jongwoon tersenyum.
Jongwoon
mengusap kepala Geunyoung sekali lagi. Ia kemudian melepas syal merahnya, lalu
melingkarinya di leher Geunyoung.
“Jaga dirimu
baik-baik, OK?” kata Jongwoon, “Aku sudah berpesan pada Donghyun. Jadi, kalau
Donghyun melanggar pesanku, akan ku hukum dia.” lanjutnya, lagi-lagi sambil
bergurau.
Donghyun yang
mendengarnya pun hanya tersenyum.
Jongwoon
melangkah pergi, memunggungi Geunyoung dan tak berbalik lagi untuk melihatnya buat
yang terakhir kali.
Lelaki itu
tak mengucapkan salam perpisahan, karena ia tau kalau ia akan kembali dari
pengabdianya untuk negara ini.
Dan gadis
itu, gadis bersyal merah itu, akan selalu menantinya pulang.
*I Can’t be, Without You*
Two years...
“Kim Dong
Hyun...!!” sekali lagi, gadis itu menggedor pintu kamar adik sepupunya yang
belum terbangun juga di pagi hari yang tenang itu. “Bangunlah!! Atau aku
akan...,”.
“Klek.” pintu
itu segera terbuka.
“Nuna~..”
terlihat Donghyun, adik sepupu gadis itu, masih mengantuk. Ia menyembunyikan ¾
bagian tubuhnya di balik pintu itu.
“Cepat pakai
bajumu!” suruh gadis itu, Geunyoung.
“Tapi aku
belum mandi, kan?”.
“Nanti
terlambat! —salah sendiri bangun telat?” ujar Geunyoung, “Baiklah, ku beri kau
kesempatan untuk mandi..., lima menit.”.
“Ah,
Nuna-ya...” gerutu Donghyun.
“Tiga
menit!”.
“Oo, OK, OK,
OK!! Lima menit!!”.
“Blam!!”
pintu segera tertutup.
***
Keduanya
sampai di depan kafe yang tutup itu. Geunyoung berdiri di depan pintunya,
sementara Donghyun berada di dalam mobil sport-nya.
Ini sudah
satu jam gadis ber-sweater coklat dan
bersyal merah itu, Geunyoung, menunggu.
“Nuna,”
panggil Donghyun, “mungkin nanti siang dia baru pulang.”.
“Aku akan
menunggu di sini.” ujar Geunyoung ketus.
“Tapi ia
tidak datang dari tadi. Kau masih mau menunggunya?”.
Setelah
dipikirkan secara matang berulangkali, Geunyoung akhirnya mengiyakan perkataan
Donghyun. Dengan perasaan kecewa, Geunyoung berjalan, melangkahkan kakinya yang
berat itu, menuju mobil.
Tapi satu
suara yang menghentikan langkahnya.
“Geunyoung.”.
Mendengar
itu, Geunyoung berbalik. Senyuman manisnya kini tak bisa lagi ia sembunyikannya.
Kegirangannya begitu gamblang terlihat.
“Oppa!!”.
[■ Boyfriend – Standing With U]
***
Nate adalah
author yang senang sekali sharing berbagai
FF yang Nate buat. Nate gak berharap lebih, viewers-nya
banyak aja Nate sudah senang! Apalagi ada yang mau rela capek-capek ngetik
komentar, nge-like, atau nge-vote. Atau bahkan Reader-deul yang rumahnya ada di
luar negeri lalu menerjemahkan FF Nate, itu sangat membuat Nate terharu.
Nate menulis
FF cuma untuk kesenangan aja, Nate tidak berpikir realistis. Dalam hal ini,
Nate teringat akan kisah author yang pikiranya realistis, tapi Nate gak mau
memperpanjang mengenai kisah itu. Nate juga bukan bermaksud menyinggung
siapa-siapa, namun ada baiknya kita sesekali tidak berpikir realistis di ‘dunia
kita’ yang seperti ini.
Jadi author
FF di blog, admin, dan semacamnya, jangan terlalu mengharapkan materi. Semua
harus berlandaskan keikhlasan.
Mood Nate
sempat hancur buat nulis FF ini karena pin SNSD Nate jatuh di angkutan umum.
Nate sampai nangis karena Nate gak punya pin SNSD lagi, dan perjuangan nungguin
pin itu jadi juga cukup lama. Meski pinnya tidak begitu bagus, tapi Nate suka.
^^satu-satunya girlgroup bias Nate :
SNSD!!^
Tapi mood
Nate segera terobati hari itu juga, ketika Nate hendak membeli ice cream cone yô
dongsæng Nate yang masih kelas 1 SD ikutan beli menggunakan uang simpananya
sendiri. Dan kami makan bersama-sama!!^
OK, sekian
sampai sini! Oya, Nate mau mengingatkan sesuatu. Nate mungkin bakalan lama lagi
nge-post FF lainnya karena Nate mau mencoba fokus ke naskah novel Nate, jadi
mohon kesabaranya untuk menunggu kehadiran FF Nate yang lainnya. Untuk saat
ini, mungkin Nate juga bakalan ngurus online shop Nate juga ^^yang ini gak bisa ditinggalkan..^.
Mohon do’anya
juga, ya!
Wassalamualaikum!
Dan PPYONG!!^
cr link : KMusicDL








