[FF] 쳐다보지마 Don't Look at Me Like That (ONESHOT)
"쳐다보지마 Don't Look at Me Like That"
A BangSong fanfiction by Near
Cast : Song Ji Eun, Bang Yong Guk
Genre : Fantasy, Romance
Author : Near (Retno Nate River)
***
A letter from Author :
Near ngetik ini awalnya di Notepad terlebih dahulu, tahu kenapa? Karena
laptop Near baru aja diformat dan semuanya jadi baru, termasuk
Microsoft-nya --yang dulunya Microsoft
2007 setelah diformat dikasihnya Microsoft 2013.
Laptop Near ga bisa kesambung wi-fi
untuk aktifasi Microsoft karena belum diinstal pake driver-nya, jadi karena ga keaktifasi Microsoft di laptop Near ga
bisa dipakai.
Huft, makin capek...
Author
Retno Nate River
***
"쳐다보지마 Don't Look at Me Like That"
A BangSong fanfiction by Near
***
[Song Jieun POV]
"Srak, srak, srak...".
Lelaki berupa makhluk berwajah aneh itu memaksaku berjalan melewati
sebuah gedung tua, di kota Depan. Tanpa ia katakan pun aku tau apa yang akan ia
lakukan padaku.
Ia menarik untaian rantai yang mengikat kedua tanganku, ia menyeretku,
memaksaku menurutinya.
Aku terdiam, pasrah tepatnya. Ku ikuti ke mana lelaki itu membawaku
pergi.
***
Dari balik tirai, aku bisa mendengar gelas-gelas kaca berbenturan halus.
Kedua tanganku terbentang berkat tiap-tiap untaian rantai yang diikat di sisi
kanan dan kiri oleh lelaki tadi. Di tempat gelap dan aneh ini, aku berdiri di
balik tirai, siap ditunjukan kepada segerombolan orang-orang berwajah aneh juga
di depan tirai sana ―aku bisa mendengar suara mereka.
Baru aku tau, di kota Depan ada tempat sekumuh ini. Huh.
Kota Depan, terkenal dengan kemasyurannya, baik segi ekonomi, teknologi,
maupun informasi. Di sana segala fasilitas ada, semua kebutuhan rakyatnya
terpenuhi, kotanya teratur dan nyaman, serta seluruh rakyatnya yang
'berpunya' ―tak ada satupun dari mereka
yang kesulitan.
Namun ketahuilah, kota Depan itu sebenarnya jahat. Terdapat tirai hitam
yang menyelubungi kemajuan kota mereka.
Sementara kota Belakang, kota serba susah. Fasilitas tidak memadai,
hanya seadanya. Jika ada satu orang Belakang yang mengidap penyakit parah dan
disarankan untuk ke rumah sakit dengan fasilitas memadai, maka orang itu akan
memilih untuk berpasrah diri hingga usianya termakan penyakitnya tersebut. Ini
karena sulitnya kami mendapatkan kebutuhan kami di kota Belakang yang suram dan
tak ada akses bagi kami untuk pergi ke kota Depan untuk mendapatkan fasilitas
lebih. Tak ada satupun rakyatnya yang semasyur rakyat kota Depan. Namun siapa
sangka, dari kota Belakang lah sebenarnya rakyat kota Depan mencari keuntungan.
Tak ada persawahan, perkebunan, pertenakan dan semacamnya di kota Depan,
hanya kota Belakang yang memilikinya. Maka rakyat kota Depan akan mengimpor
kebutuhan yang tidak ada di kotanya dari kota Belakang. Tapi dasarnya tidak tau
terima kasih, rakyat kota Depan biasa menukarnya dengan nilai yang jauh lebih
rendah dari harga produk yang mereka impor dari kota Belakang dengan membodohi kami ―inilah alasan besar mengapa kota Belakang
begitu terbelakang.
Tidak hanya perdagangan lazim yang biasa rakyat Depan cari di kota
Belakang, namun juga perdagangan yang tidak lazim. Contohnya yang sedang ku
alami sekarang ini. Rakyat Depan biasa mencari orang-orang yang sangat tidak
mampu di kota Belakang dan mengiming-imingi mereka dengan sejumlah uang ―yang membuat mereka tergiur― asalkan mereka bersedia
ikut ke kota Depan. Ujungnya, mereka akan terperosok ke dalam perdagangan manusia,
yang di mana akhirnya mereka akan diperlakukan dengan sewenang-wenang. Tapi aku
bukan rakyat Belakang yang bodoh.
Aku hanya ditarik paksa dari pelukan ayah ibuku, menuruti kemauan
seorang rakyat Depan yang ingin mendapatkan uang banyak dengan menjualku kepada
rakyat Depan lainnya yang sudah menunggunya. Ironis.
Aku bisa mendengar mereka berpesta, meski bahasa Depan dan Belakang
berbeda. Walaupun aku berasal dari kota Belakang, tapi aku tau bahasa Depan.
Dan ketahuilah, hanya sebagian kecil rakyat Depan yang mengerti bahasa
Belakang, begitu demikian dalam rakyat Belakang. Dengan mengertinya aku akan
bahasa Depan, pertanda bahwa aku bukanlah rakyat Belakang yang bodoh.
"Prok, prok." aku mendengar suara tepukan, dua kali. Lalu
riuhnya pesta berhenti.
Aku bisa mendengar suara lelaki itu berbicara di depan tirai kepada
teman-temannya yang menikmati pesta tadi.
Biar ku terjemahkan, "Hadirin sekalian, aku persembahkan untuk
kalian. Harta yang takkan pernah berakhir. Beri aku sejumlah uang, dan kalian
bisa membawanya pulang.".
"Srakk!!" tirai dibukanya, dan saat itulah aku bisa melihat
mereka.
Segera begitu aku nampak di depan makhluk-makhluk berwajah aneh itu,
riuh kembali terdengar.
Mereka berteriak, beberapa dari mereka meneriakkan kata "Ikh!
Ikh!" yang berarti "Aku! Aku!". Mereka berebut untuk
mendapatkanku dengan sejumlah uang ditangan, bahkan melemparkannya ke arah
lelaki tadi. Menjijikan.
Sorot mataku tak berubah, dan aku tidak melawan, tak berekspresi pula.
Lalu lelaki tadi mendinginkan suasana. Ku terjemahkan lagi,
"Baiklah!" lelaki itu menarik rantai yang mengikat tanganku hingga
putus, "Kalian bisa membawanya pulang! Aku akan mengantarnya ke kereta
kalian." katanya dengan puas.
Aku tergopoh ketika lelaki itu menarikku lagi dari tempatku berdiri tadi
melewati orang-orang Depan berwajah sama anehnya dengan lelaki itu. Ketika aku
melewati mereka, orang-orang itu memandangiku bahkan menyentuhku.
"Hubsch..." kata seorang pria yang menyentuh leherku, artinya
"Cantik...".
Kemudian, yang lain mengusap rambutku, menyentuh pipiku, dan menggapai
bahuku yang kecil. Aku berusaha menghindari sentuhan mereka.
"Kau akan berguna bagiku." kata seorang wanita, dengan bahasa
Belakang.
Aku tak tahan lagi. Tatapan mataku benar-benar tak kemana-mana, hingga
akhirnya api yang entah menyala dari mana mulai membakar barang-barang di
sekitar mereka.
Makhluk-makhluk yang haus hiburan itu berubah panik.
"Feuer!! Feuer!" teriak mereka, artinya "Api!!
Api!".
Aku hanya diam, karena nyalanya api itu adalah perbuatanku.
Sebagian dari mereka kabur menyelamatkan diri, sisanya ada yang terjebak
api, juga ada yang tak sadarkan diri karena menghirup asap.
Aku diam, ketika api menyulut pakaian hitamku hingga berubah menjadi
gaun merah aku pun tetap diam. Dengan rantai yang masih mengikat, aku berjalan
keluar ruangan yang berapi-api dengan mudahnya.
***
Aku sampai di suatu tempat di kota Belakang, masih dengan gaun merahku.
"Krieek.." jeritan pintu lapuk itu menyambut kedatanganku.
Beberapa pria berjaket kulit hitam bangkit dari kursi mereka begitu
melihatku datang dan berdiri di ambang pintu itu.
"Hei, siapa kau?!" teriak salah satu dari mereka, tentunya
dengan bahasa Belakang.
Menganggap aku berbahaya, mereka mulai mengacungkan senjata api mereka
ke arahku.
"Dar! Dar!" beberapa peluru mulai ditembakkan ke arahku, namun
mereka semua meleset.
Aku menjerat salah satunya dengan pecutan rantai yang mengikat tanganku,
hingga ia terjerat dan aku berhasil merampas senjata apinya. Ketika aku punya
senjata di tangan, aku menembaki semua pria yang menembak ke arahku tadi dan
menjatuhkan mereka satu per satu.
Puas melihat mereka tergeletak tak berdaya, aku menjatuhkan senjata itu
dan meninggalkannya menuju satu pintu di sana, lalu membukanya.
"Kriekk..." jeritan pintunya tak jauh beda dengan pintu tadi.
Ku dapati seorang lelaki berambut pendek dengan kaos dan jaket hitam
duduk di atas mejanya, dan memandangku.
"Jieunnie." ia bangkit dengan santai dari mejanya.
Ia memandang kedua tanganku yang terjerat rantai.
"Apa yang kau lakukan dengan rantai-rantai itu?" katanya.
Namun ketika mendekat, aku menamparnya, "Plak!" bahkan
rantai-rantaiku ikut menyabet tubuhnya.
Lelaki itu diam.
"Persetan kau, Bang Yong Guk." kataku pelan, namun tajam.
"Seberapa bodohnya dirimu? Dasar tidak tau diri.".
Lelaki itu, Yongguk, menatapku santai.
"Kau tidak tau aku di mana? Apa yang aku lakukan? Mengapa kau tak
tanyakan hal itu?!!" marahku, aku meneriakkinya.
"Kamu membunuh anak-anak buahku." kata Yongguk santai.
"Kau pilih anak buahmu yang mati atau aku yang mati?!!"
marahku lagi, "Kenapa kau tidak mencariku?! Aku menjadi barang dagangan
mereka pun kau tak juga mencariku?! Bagi orang-orang Depan, orang Belakang
seperti diriku tidak ada harganya!! Kau anggap aku apa?!!".
Yongguk meraih kedua tanganku, lalu melepaskan kedua rantai itu dengan
sebuah kunci ―dia memang hebat. "Aku tau apa
yang akan terjadi." katanya santai, "Jadi aku tau apa yang harus aku
lakukan.".
Aku menatapnya dendam, "Membiarkanku dijual oleh orang-orang Depan
juga bagian dari masa depan yang kau baca?" sindirku, tanpa sadar aku
menyalakan api lagi di sekeliling ruangan.
Yongguk hampir lepas kendali. "Matikan apinya." katanya.
"Tidak mau." tolakku.
"Kau akan membunuh kita." kata Yongguk lagi.
"Aku bilang, aku tidak mau!" tegasku.
Ketika Yongguk menggunakan pikirannya untuk menghentikkan gerak
pikiranku yang mengendalikan api, aku segera memukul wajahnya dan merenggut
senjata apinya.
Jadi, ketika Yongguk bangun dari rasa sakitnya yang tak seberapa itu,
aku menodongkan senjata itu ke arah kepalanya.
Tapi lucu, Yongguk diam.
"Apa? Kamu ingin membunuhku?" katanya, sok manis, "Kamu
ingin aku mati? Bunuhlah, kalau kamu ingin takdir itu tidak terjadi, bunuh saja
aku dan saksikan sendiri masa depanmu ―kalau
kau ingin menyesal.".
Aku tak peduli kata-kata itu dan bersiap menembaknya.
"Dar!" benar saja, aku menembaknya. Peluru itu hampir mengenai
dada kanan Yongguk, tepatnya dada bawahnya. Yongguk hanya merintih sebentar
setelah batuk beberapa kali. Lalu ia kembali menegakkan tubuhnya sambil
memegangi lukanya. Ia masih bisa bertahan. Kali ini, tak ada belas kasihan
dariku untuknya.
Yongguk siap untuk mati sepertinya, ia menatapku semampunya ―aku bisa melihat bercak merah di ujung
bibirnya, "Bunuh aku, Song Ji Eun... Aku ingin melihat seberapa beraninya
dirimu..., tanpaku..." katanya terengah, "Dan aku ingin melihatmu...,
dari sana..., melihatmu tak mampu berkeluarga..., tanpaku...".
Sialan, kata-kata itu, batinku. Air mataku jatuh.
"Dar!" aku menarik pelatuknya lagi, namun tembakanku kali ini
meleset tepat melewati telinga kiri Yongguk dan menancap ke dinding di belakang
Yongguk.
Aku menarik nafas, tersengal habis-habisan karena emosi yang sudah
mendidih. Dan yang paling membuatku kesal adalah, Yongguk tersenyum sinis.
"Aku pernah menceritakan..., masa depan kita padamu..."
Yongguk mendekat, meski tertatih, "Jadi aku tau..., kau takkan pernah
berani membunuhku..., sekalipun kita selalu bertengkar setiap hari...".
Yongguk mendekapku dengan cara khasnya, seakan ia baik-baik saja.
"Juga soal orang-orang Depan yang menjualmu..." bisik Yongguk
di telingaku, sengalan nafasnya bisa ku rasakan lewat kulitku, aku meleleh.
"Mianhaeyo.... Chatji anhasseo..., Maafkan aku... Aku
tidak mencarimu..., karena aku tau kau akan datang sendiri ke
hadapanku...".
Air mata itu jatuh lagi, sulutan api itu merubah gaun merahku menjadi
gaun hitam tadi. Api itu redup dan mati.
Nafas Yongguk makin terasa ketika wajahnya melewati wajahku. Lalu,
Yongguk mencium bibirku. Aku bergetar, merasakan ciuman itu seperti berbicara
banyak padaku.
Berbagai permintaan maaf, ungkapan cinta dan sayang, serta untaian kata
yang memantapkan hatiku untuk tetap bersamanya sampai akhir ―persis seperti masa depan kami yang pernah ia ceritakan padaku.
Semakin dalam ciuman itu, aku makin tak berdaya untuk tunduk padanya.
Akhirnya, aku menyentuh bahunya. Yongguk mengerti betul, aku hanya mampu
ditaklukan dengan ciumannya.
Yongguk sengaja menenggelamkanku dalam lumatannya. Ia mendekapku, seakan
memaksaku melayani nafsunya ―meski kenyataannya memang
begitu. Kalau sudah begini, aku tidak bisa apa-apa lagi. Yongguk sudah
mempengaruhiku sepenuhnya hanya dalam waktu semenit itu.
Ketika Yongguk menyudahinya, aku dan dirinya saling bertatapan.
"Jangan tatap aku seperti itu." kataku.
Yongguk langsung tersenyum, "Jieunnie..." katanya sayang.
Lalu ia memelukku. Semua amarah dan emosi itu lenyap ketika Yongguk
mendekap tubuhku hingga terasa hangat.
"Aku...," kataku, "aku rindu..., dekapanmu..."
lanjutku dengan terpaksa.
Yongguk hanya terkikik nakal, "Aku tau kau pasti langsung
memaafkanku." katanya, "Aku tau pasti kita akan segera baikan dan
kembali jua..." lanjutnya, lalu menatapku sayang. Jemarinya mengusap
pipiku, dan ia tersenyum tipis sambil bergumam, "Jieun..., ku...".
"Bruk." tiba-tiba Yongguk terjatuh, ia hampir saja tumbang.
"Yongguk-ah!!" seruku.
Tapi Yongguk masih saja bertahan, "Hei, apa yang membuatmu
khawatir?" candanya, tengil sekali, "Kau jelek kalau lagi
khawatir...".
"Bodoh!" omelku, "Kau terluka.".
"Salahku kalau aku terluka?" sindir Yongguk. Menyebalkan! Aku
tau kalau aku yang menembakmu, tapi jangan sindir aku.
"Mianhae, aku akan
mengobatimu." kataku sambil menopang Yongguk.
"Sudah," kata Yongguk, "aku bisa jalan sendiri ―aku berat, kau tau?".
Ketika Yongguk mencoba bangun, ia terjatuh lagi. Kali ini aku tidak bisa
membiarkannya, "Bang Yong Guk!!" teriakku, aku berlari kecil
mendekatinya.
Aku bisa melihat wajah Yongguk mulai berubah pucat, kaos hitamnya itu
sudah mulai basah dengan lumuran darahnya. Ia mulai lemas, kalau dibiarkan ia
bisa mati. Ini salahku.
Segera aku berlari mencari kotak Pertolongan Pertama ―sebut saja begitu. Aku tau,
Yongguk tak akan pernah menyimpannya kalau saja aku tidak membuatkannya kotak
itu di markasnya ini. Dan untungnya lagi, kotak itu masih ada di sini. Aku
membawanya dan beranjak mendekati Yongguk.
"Bersandarlah." kataku, Yongguk lantas menuruti, aku
membantunya agar ia bisa bersandar.
Aku mulai mengobatinya, tanpa sadar Yongguk memandangiku.
"Kau cantik sekali." katanya, suaranya kecil sekali.
"Jangan bercanda." kataku, serius dengan luka Yongguk.
"Jeongmallo. Sungguh."
kata Yongguk, dia pikir kata-katanya lucu, "Yeppeunne...
Cantik sekali...".
Aku hampir selesai mengobati Yongguk. "Lain kali, jangan buat aku
kesal ―mungkin aku bisa saja mencoba membunuhmu lagi.." kataku.
"Aku tau itu." kata Yongguk, "Aku bisa membacanya
sekarang kalau kau akan mencoba membunuhku lagi
―bahkan berulangkali― di masa depan, bahkan aku bisa membaca dengan
jelas ketika aku hampir mati ketika kau mencoba menembak dada kiriku di
ma...,".
"Bisakah kau tutup mulutmu dan jangan pernah ceritakan masa depan
kita lagi?!" kesalku, sambil menatap Yongguk tajam.
Tapi senyuman redup Yongguk itu membuat hatiku luluh, "Lalu? Kau
tak ingin mendengar cerita dua bayi kembar itu?" tanya Yongguk, "Kau
tak ingin mendengar cerita ketika mereka memiliki adik perempuan? Kau tak ingin
mendengar cerita si kembar berebut mainan dan menangis satu sama lain hingga
kau mencium keduanya? Kau tak ingin mendengar cerita si bungsu yang tidak ingin
turun dari gendonganku ketika kita berdua mengantarnya ke sekolah
pertamanya?".
Aku tak bisa apa-apa ketika mendengar kata-kata itu.
"Kau ingin aku berhenti menceritakan itu semua...?" tanya
Yongguk.
Lagi-lagi, Yongguk berhasil membuatku menitikan air mata.
"Yongguk-ah..." gumamku, menatapnya beberapa saat.
"Jangan menatapku terus ―tolong obati lukaku."
kata Yongguk.
Aku terbangun dari lamunanku, "Eh, iya.." lalu meneruskan
pengobatannya.
Dan Yongguk masih memandangiku. "Kau tau, di masa depan nanti...,
kau mungkin akan berkali-kali hampir kehilanganku karena ulahmu sendiri...,
yakni mencoba membunuhku... Tapi itu hanya pada saat-saat sebelum kita
menikah..." kata Yongguk, "Namun, kau tau...? Aku juga akan merasakan
hampir kehilanganmu..., hanya sekali..., yakni ketika kau melahirkan si
bungsu...".
Aku terdiam, di saat yang sama aku selesai mengobati lukanya. Setelah
itu, aku menatap Yongguk ―kami pun saling bertatapan.
"Namun, aku tidak bisa membaca masa depan ketika si bungsu
melahirkan anak pertamanya... Aku hanya bisa membaca masa depan hingga kau
menemani si bungsu dan suaminya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya..." lanjut
Yongguk, "Kau tau... Pandanganku gelap ketika aku mencoba membacanya...
Entah kenapa...".
Firasat buruk menghampiriku... Apa mungkin, Yongguk akan meninggalkanku
di hari itu? Apa mungkin, di saat itu Yongguk akan...
Aku menepis perasaan itu. Aku mencium bibir Yongguk selama beberapa saat
untuk mengusir pikiran buruk itu, namun pikiran itu rupanya menghantuiku.
Semakin pikiran itu mencoba merasuk
hatiku, aku memperdalam ciuman itu hingga pikiranku tersebut pergi jauh.
"Hei, ada apa?" tanya Yongguk setelahnya, mungkin yang barusan
rasanya aneh.
Aku menyeka rambutku dengan kaku. "Ani, Tidak, bukan
apa-apa." umpatku.
Yongguk menegakan sandarannya. "Aku tau kau takut..." katanya,
"Meski mungkin aku akan berkali-kali hampir mati, tapi toh akhirnya aku
akan...,".
"Aku mohon!" aku memeluknya dengan cepat, tanpa sadar aku
menyenggol lukanya barusan, dan Yongguk hanya merintih kecil, "Aku mohon
jangan ceritakan itu...!!" perintahku.
Yongguk terdiam, "Ji.., Jieun..,".
"Aku mohon!!" kata Jieun, "Karena aku..., tidak ingin
kehilanganmu... Aku tidak bisa apa-apa tanpamu...".
Aku tau Yongguk pasti tersenyum mendengarnya.
Tak lama aku menangis dan tersengguk. "Aku..., tidak ingin
kehilanganmu... Aku tidak bisa apa-apa tanpamu..." tangisku, "Aku
membutuh...,".
"Ssst..." bisik Yongguk lembut, ia membalas pelukanku,
"Berhentilah menangis dan tenanglah... Ketahuilah, bahwa tak ada yang tak
mungkin di dunia ini...".
Aku hanya diam. Dengan sepenuh hati, aku mempercayai perkataan Yongguk
itu. Aku bisa merasakan pelukannya semakin erat dan semakin menenangkanku.
Dan seharian itu, kami habiskan untuk bersama-sama, seperti hari-hari
kami sebelumnya...
***
Kkeut!!
Gaje, kah? Feel-nya dapet,
kah?
FF ini terinspirasi beberapa jam setelah Near nonton MV Song Ji Eun - Don't Look at Me Like That untuk pertama
kalinya. Dan dari situlah, Near terilham untuk nulis FF ini.
Mohon komennya, ya! Komen Reader-deul sangat berguna bagi Near~...^^
Terima kasih sudah baca!!
Author
Retno Nate River


