[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part V : Let's Meet Again
Paper Plane
(Let’s Meet Again)
Part V : Let's Meet Again
Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.
***
Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^
Happy reading!
***
“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)
“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”
***
Gelap, gelap sekali, tak ada bedanya
jika aku menutup maupun membuka mata ―sama saja gelapnya. Perlahan namun pasti,
aku melihat butiran cahaya. Otakku berusaha mencerna benda-benda berkilau apa
kiranya yang ada di sekelilingku ini.
Nafasku seperti terhenti ketika
menyadari mereka semua adalah butiran bintang, berkerlap-kerlip dan berkilauan.
Nyata sekali. Aku terkejut ketika mendapati tubuhku melayang-layang di antara
mereka. Aku terkejut ketika aku mendapati diriku di ruang hampa tanpa udara, di
ruang hampa tanpa gravitasi, di ruang hampa tanpa siapapun di sini. “Di mana aku sebenarnya?”
Belum sempat aku mengucapkan kalimat
itu dengan bibirku, aku terdiam melihat jejeran debu yang berwarna-warni,
sangat indah dan bersinar. Mereka membuatku takjub dan terpana. Mereka ada
beberapa kumpulan, seperti debu atau awan yang menyembul-nyembul, beberapa
membentuk seperti sebuah gambar. Tapi, aku tidak tau apa namanya?
Lalu ada lagi, sebuah pusaran,
berputar-putar secara teratur dan juga bersinar, seperti ada ribuan bahkan
jutaan bintang mengikuti rotasinya. Tidak hanya satu, namun ada banyak lagi
pusaran, bentuknya pun bermacam-macam. Tapi, aku juga tidak tau, apa namanya?
Wonwoo, dia yang tau apa-apa saja
semua benda langit ini. Hanya dia yang tau benda-benda apa ini, yang begitu
asing di mataku. Dialah yang selalu mengajariku tentang langit, dialah yang
menjanjikanku untuk terbang bersamanya.
Andaikan saja ada Wonwoo di sini,
dia pasti akan memberitauku : apa nama benda yang berbentuk debu itu, apa nama
benda yang berbentuk pusaran itu? Dan terlebih lagi, di manakah aku berada saat
ini?
Ketika aku bertanya dan berharap,
aku merasakan kakiku berpijak. Aku merasakan gravitasi menggenggam tubuhku. Aku
merasakan kehadiran ―kehadiran yang tak ku duga sebelumnya. Aku berputar ke
sekeliling, dan aku melihat sesosok di hadapanku.
Otakku mulai menganalisa. Tubuhnya
tinggi dan tegap, dia mengenakan stelan jas kehitaman. Dan oh, aku juga melihat
beberapa benda-benda kecil menempel pada jasnya. Sepertinya dia mengenakan
sebuah topi yang tak asing di mataku.
Sekarang, pandanganku mulai jelas,
aku mulai mengenali beberapa benda yang dikenakannya. Stelan jas itu, topi itu,
dan benda-benda kecil yang menempel pada jasnya.
Seketika aku membekap mulutku
karena terkejut.
Seorang pria, dengan pakaian
maskapai penerbangan, lengkap dengan emblem di jasnya, lengkap dengan topi
berlambang garudanya. Air mataku berjatuhan ketika aku mengenali siapa pria
yang berbalik dan menatapku dengan senyumannya yang khas itu.
Dia, Jeon Wonwoo.
Aku mulai mempercayai netraku sendiri begitu mendengar suaranya, “Gom-ah,” suara bass-nya, “Seulgi, kenapa menangis?” dan dia masih tersenyum.
“Hik,” tanpa ku sadari, aku menangis
tersedu-sedu, diiringi irama haru yang menarik nafas dan bahuku berulangkali.
Dia ―Wonwoo― tak berkata apa-apa
lagi. Dia lagi-lagi hanya tersenyum dan membuka kedua tangannya, memintaku
datang pada dekapanya yang hangat ―pada dekapannya yang ku rindukan.
Tak ayal, aku segera berhambur meski kakiku terasa begitu lemas. Aku
berlari ke arahnya dengan air mata jatuh di setiap langkahku.
Bruk.
Aku mendekapnya
seerat-eratnya, seakan tak mengizinkannya meninggalkanku lagi. Dalam dekapannya
yang hangat, aku menangis sesukaku, aku meraung dan terisak semauku ―seperti
anak kecil.
Ya Tuhan, aku sangat merindukannya.
“Hehe, Seulgi.” Wonwoo hanya
terkekeh, dia memelukku sayang dan sesekali mengecup pucuk kepalaku
dalam-dalam. “Sudahlah, sayang. Uljima.”
Aku terus saja menangis. Aku bahkan
tak bisa berkata apa-apa, bahkan aku kesulitan hanya untuk sekadar mengambil
nafas. “Aku..., aku...,” isakku, “aku..., merindukanmu..., Wonwoo-ya...”
Wonwoo menyentuh lenganku, dia
menarikku dengan lembut, dan memintaku menatap kedua netranya. Di saat yang
sama, jemarinya menghapus air mataku. Dia hanya tersenyum melihatku masih
terisak-isak.
Wonwoo, aku merindukanmu.
Dia menarikku, menarik tubuhku untuk
mendekat padanya. Lalu tangannya menyentuh pinggang dan leherku. Wonwoo mencium
bibirku yang basah, dia sengaja menahan tubuhku ketika dia ingin mencium
bibirku.
Tanganku juga bergerak menarik tubuh
Wonwoo, membalas ciumannya dan memaksanya untuk terus menciumku lebih lama
lagi. Dia melepaskan topinya, dan kembali menggengam pinggangku. Tanganku
bergelayut lemah di pundaknya, sementara Wonwoo berhasil membuka mulutku.
Seakan tak ingin kehilangan kesempatan, Wonwoo terus saja menyerangku meski aku
meminta waktu padanya. Dari rasanya, Wonwoo juga merindukanku --jelas sekali.
Karena dia bahkan tak melepaskan tautan bibirnya ketika dia mendapatkanku.
“Wonwoo,” racauku ketika
Wonwoo mengacak-acak mulutku. Dia hanya memberiku sepersekian detik, lalu kami
berciuman lagi.
Aku tidak tau berapa lama yang kami
butuhkan hanya untuk berciuman dan melepas rindu. Tetapi setidaknya aku bisa
mengurangi beban yang selama tiga tahun ini ku jinjing seorang diri.
Khawatir aku kehilangan nafasku,
Wonwoo akhirnya menyudahi kelakuannya. Dia menatapku yang hanya bisa terdiam
lemah setelah menerima ciumannya. Dengan tatapan elangnya, Wonwoo menatapku. Kali ini dia mengusap bibirku yang basah karena ulahnya. Meski hampir kehilangan seluruh
tenagaku, aku juga berusaha melakukan hal yang sama pada bibirnya yang basah.
“Selama ini, aku menanti, menanti,
dan menantimu.” ucapku, tatapan kami bertemu. “Aku..., menantimu untuk
waktu..., yang sangat lama...”
Wonwoo mengarahkan wajahku pada
wajahnya. “Berhentilah menunggu, sayang.”
Aku tercekat, “Wonwoo,”
“Aku takkan pernah bisa kembali.
Jadi berhentilah menungguku.”
“Ta-tapi..., kenapa...?”
Dia mengusap wajahku, dan berucap
dengan pahitnya, “Sudah saatnya..., kau melupakanku...”
“Apa...?” aku terhentak, “Tidak!”
“Berhentilah menungguku di bandara.”
“Shireo!” aku mulai terisak.
“Aku takkan kembali, Seulgi!”
Aku terdiam ketika Wonwoo juga
menghentak sepertiku.
Dari tatapannya, Wonwoo seperti
menyesal. Padahal tak terdengar kemarahan dari nada hentakannya tadi, dia hanya
berseru padaku. Tetapi Wonwoo kelihatan begitu menyesalinya.
“Seulgi, aku takkan pernah kembali
lagi, jadi tolong berhentilah menungguku, sayang.” dia mendekap wajahku, “Berhentilah
menungguku. Kembalilah pada kehidupanmu.”
Air mataku jatuh.
“Aku mohon,” kali ini dia menatapku,
“aku tidak ingin melihatmu seperti ini terus.”
Kembali aku terisak, “Tapi..., aku tidak
bisa apa-apa tanpamu..., Wonwoo...” aku mengaku meski nafasku tersendat-sendat.
“Kau ingat apa yang ku katakan
sebelumnya?” Wonwoo menyeka sehelai rambutku yang jatuh, “Aku ingin terbang
tapi aku tidak punya sayap, maka hanya dengan menerbangkan pesawat aku bisa
menyentuh langit. Kita sudah mengerti akan passion
kita masing-masing ―termasuk passion-ku
dalam dunia penerbangan. Pilot adalah cita-citaku, dan terlebih lagi...,"
Dia menautkan helaian rambutku pada
telingaku, sebelum melanjutkan,
“..., hidup matiku ada di pesawat yang ku
terbangkan...”
Aku terdiam. Tak ada kata-kata yang
bisa ku lontarkan karena semuanya lenyap hanya dengan kalimat
terakhir yang Wonwoo ucapkan. Air mataku meleleh dan berjatuhan dengan
derasnya.
“Hik...” sesakku menyusul, dan aku
kembali terisak. Aku meremas lengan Wonwoo yang ku genggam. Aku merasakan
sesuatu yang lebih menyakitkan daripada rasa sakit. Aku hanya bisa mengalah
ketika tangisan memintaku untuk menguras air mata dan emosi.
Wonwoo menatapku parau, “Aku telah
pergi untuk selamanya, dan takkan kembali, Seulgi.” ucapnya dalam.
Lengannya semakin ku remas tatkala
rasa sakit memintaku untuk menangis dan mengirisku lebih pedih lagi. Aku harus
menelan kenyataan bahwa Wonwoo memang telah berpulang padaNya. Dan aku meratapi
ketidakkuasaanku terhadap takdirNya.
Wonwoo kemudian mendekapku lebih
dalam dan lebih hangat lagi. Dia seperti berbisik, “Kembalilah, Seulgi.
Kembalilah seperti Kang Seulgi yang dulu.” ucapnya, “Kembalilah menjadi Kang
Seulgi yang ceria, Kang Seulgi yang ramah tamah, Kang Seulgi yang kuat,
Kang Seulgi yang Jeon Wonwoo
cintai.”
Aku masih meraung dalam dekapannya,
namun Wonwoo tak berhenti mendekapku. Di sini hanya terdengar suara Wonwoo dan raunganku.
“Seulgi, aku ingin mengatakan sebuah
kalimat yang tak bisa ku sebutkan setiap saat, di setiap kau terbangun dari
tidurmu, bahkan di setiap harinya.” katanya lagi,
“Aku sangat mencintaimu, Kang
Seulgi.”
Ingin sekali ku balaskan bahwa aku
lebih mencintainya, namun tangisanku yang terlanjur pecah membuatku tak bisa
berkata-kata. Hanya raungan ambigu dan isakan pedih yang bisa ku keluarkan.
“Bisakah kau membiarkanku
beristirahat dengan tenang, Seulgi-ku?”
Aku bahkan tak berdaya untuk sekadar menjawab 'ya' atau 'tidak'. Yang ku lakukan hanya mendekapnya erat-erat dan masih saja menangis.
Tapi aku yakin, tanpa perlu mendengarku pun, Wonwoo sudah tau apa jawabanku.
Jadi, dia memintaku untuk menatapnya
kembali. Lalu dalam waktu sepersekian detik, dia kembali melumat bibirku. Aku
berusaha mengatur nafasku yang berantakan dan membalas ciumannya semampuku.
“Jadi, ini yang terakhir kalinya,”
desisnya ketika tak ada jarak berarti antara kedua belah bibir kami, “ini terakhir
kalinya aku bisa merasakan dirimu.”
Tanpa memperdulikan mata elangnya
yang masih menatapku dalam jarak yang begitu dekat, kali ini aku yang mengecup
bibirnya lembut. Entah kenapa hatiku merasa sangat lega, apalagi ketika aku
bisa menciumnya.
Ku rasa, aku juga bisa hidup dengan tenang setelah ini.
Rengkuhan tangan Wonwoo di wajahku
memintaku untuk menyudahinya. Dengan garis matanya yang tegas, Wonwoo
menatapku.
“Pulanglah, Kang Seulgi. Kembalilah
ke pelukan orang-orang yang kau cintai ―kecuali aku.” lembutnya. Dia lalu
meminta tubuhku untuk berbalik, menatap taburan bintang yang mengitari kami.
Wonwoo lalu menunjuk salah satu
titiknya, dan berkata, “Kau lihat di sana? Di sana adalah sistem tata surya
tempatmu tinggal, di sanalah bumi berputar bersama planet lainnya yang juga mengitari
matahari.”
Ada ribuan bahkan jutaan titik
bercahaya di sekeliling kami, begitu juga di hadapan kami. Aku tak yakin titik
mana yang Wonwoo tunjukan sebagai tata surya matahari dan juga planet-planetnya.
Jalan pulang terasa
begitu panjang.
“Tapi,” kali ini aku berbalik dan
menatap Wonwoo parau, “bagaimana dengan dirimu di sini?”
Mendapat pertanyaan itu, Wonwoo tersenyum, “Aku ke sini hanya
karena ingin menemuimu.” jawabnya.
“Lalu, kau hanya seorang diri?”
Kembali lelaki itu tersenyum,
“Tidak.” diusapnya kepalaku gemas, “Cobalah tengok siapa di belakangku.”
Setelah berpikir selama beberapa
detik, akhirnya aku meneliti siapa yang ada di balik punggung Wonwoo. Agak jauh
dari tempat kami berdiri, aku melihat seorang pria paruh baya, beliau berpakaian sama
persis seperti Wonwoo, dan tengah membelakangi kami.
Kesedihan Ibu di tengah kebahagiaanku yang menerima beasiswa di salah satu sekolah tinggi penerbangan. Kami berkabung saat itu.
Ketika akhirnya aku bisa melihat Ibu tersenyum lagi setelah sekian lama berkabung.
Bohyuk, adikku, kaulah yang Ibu miliki satu-satunya ―setelah ini. Jadi ku mohon, jagalah Ibu, untukku, untuk Ayah.
“Bohyuk-ah, ini bukan kejadian baru buat kita, terutama buat Ibu.” beliau meyakinkan.
Merasa diperhatikan, pria itu
berbalik dan memandang ke arahku. Dia tau kalau tatapanku seperti panggilan
buatnya. Dia tersenyum simpul ke arahku, senyumannya sama persis seperti
Wonwoo.
Aku terkejut.
Apa mungkin..., dia.....
“Jangan kuatir.” lanjut Wonwoo, “Aku
senantiasa bersama Kapten Jeon.”
Aku terperanjat mendengarnya.
“Kapten.., Jeon...?" ulangku, "Ayahmu..., Wonwoo...?” tanyaku hati-hati.
Dan Wonwoo mengangguk. Sesuai dugaanku.
“Ja,”
kembali diacak-acaknya rambutku, “kau tidak perlu takut aku sendirian atau
kesepian. Aku berada di tempat terbaik di sisi Tuhan, dan aku senantiasa
bersama orang-orang terkasihku yang lebih dulu menghadapNya.
Seulgi, sampaikan salamku pada
adikku, sampaikan ucapan selamatku padanya. Sampaikan padanya untuk senantiasa
membuat Ibu kami bahagia. Dan juga, sampaikan salamku pada Ibu, sampaikan bahwa
aku dan Ayahku baik-baik saja.”
Dia kembali membuatku menitikan air
mata.
“Juga sahabatku, Joshua. Sampaikan
juga salam dan terima kasihku atas bimbingan yang ia berikan padaku selama ini.
Dan yang terakhir,” dia menatapku intens,
“aku mencintaimu, Kang Seulgi.”
Buliran bening itu mentes.
“Dan maaf, maafkan aku.” kini dia
melepaskan semua sentuhannya pada tubuhku, “Maafkan kesalahanku karena tidak
bisa menepati janjiku untuk berpulang padamu. Ini adalah takdir, dan sekarang
kau bisa berhenti menungguku pulang.”
Meski terasa begitu pahit, aku tersenyum.
Wonwoo berdiri tegak dalam posisi
siap, “Hormat!” dengan sigap dia mengangkat tangan kanannya di pelipis, dia
memberiku hormat untuk yang terakhir kalinya. Dan dia takkan berhenti sampai
ada komando dariku.
Gadis itu mengangkat tangan, mengacungkan
kelima jemarinya di samping pelipis kanannya, memberi hormat pada kapten.
Kelakuan Seulgi itu selalu mendapat cengiran dari Wonwoo, yang akan membalasnya
dengan hormat yang sama.
“Selamat lepas landas, Kapten Jeon Wonwoo.”
cengir Seulgi ―menggemaskan. “Semoga penerbanganmu menyenangkan.”
Aku menunduk karena menangis dengan begitu
pedihnya. Bayangkan saja, ini terakhir kalinya aku bertemu Wonwoo. Ini terakhir kalinya aku hormat padanya sebelum akhirnya kami kembali ke alam masing-masing. Hatiku serasa diiris.
Tetapi kemudian aku berdiri tegak lagi. Lalu memberinya hormat. “Ini salam
perpisahan..., Kapten Jeon Wonwoo...” ucapku kaku, tak bisa setegas di pagi
hari ketika dia bersiap menerbangkan pesawat dulu.
Begitu ku lepaskan hormat, Wonwoo
juga melakukan hal yang sama setelahnya. Segera setelah itu, aku bisa merasakan
gravitasi serasa memisahkan kami. Di saat itu pula, aku menelan air mataku dan
melambai canggung padanya.
“Jalga.”
ucapku, “Aku juga mencintaimu, Jeon Wonwoo.”
Sosok kapten yang ku cintai kini
perlahan berubah menjadi setitik bintang yang sangat bersinar, sangat terang di
antara gelapnya alam semesta. Gravitasi terus menarik tubuhku, meninggalkan
bintang yang berkerlap-kerlip itu. Semakin jauh, dan semakin jauh.
***
“Seulgi? Kang Seulgi, bangun!”
Dengan segera aku membuka mataku dan
menemukan diriku tengah bersandar pada tiang di samping kursi kesayanganku. Aku
terkejut mendapati Irene Onnie dan
Joshua sudah ada di hadapanku.
“Sudah ku duga kau di sini.” lanjut Onnie.
Tanpa menghiraukannya, aku memutar
ingatanku sebelumnya. Apakah yang tadi mimpi? Tidak mungkin! Rasanya begitu
nyata dan sungguhan. Tidak mungkin itu hanya mimpi!
“Ayo kita pulang, Seulgi.” Onnie tidak sabaran lagi.
“Sweetheart,
she just woke up.” Joshua meminta Irene-nya bersabar.
“Kang Seulgi―”
Sesegera mungkin aku mendekap Onnie. Entah kenapa air mataku meleleh
dan berjatuhan di bahunya yang mungil. “Aku baru saja bertemu Wonwoo, Onnie...” isakku.
“Seulgi, kau hanya bermimpi.” tegas Onnie.
“Dia..., dia nyata... Dia...,
dia...,” terpaksa ku telan tangisanku, “dia baik-baik saja..., dia bersama
Ayahnya, Onnie... Dia meninggalkan
salam untuk kita...”
“Seulgi...?” nada bicara Onnie melembut, sementara dari
gerak-geriknya hanya Joshua yang mempercayai perkataanku.
“Aku baru saja bertemu Wonwoo...”
***
“Jjan!”
Aku terloncat kaget, tak menyadari seseorang mengendap-ngendap ke dalam
ruanganku dan mengagetkanku seperti ini.
“Ya! Yeowoo-ya!” protesku padanya yang tertawa manis. Dia : Wonwoo.
“Kau serius sekali sampai tidak sadar ada yang masuk ke ruanganmu.”
ucapnya setelah mengecup bibirku singkat, “Mwohae?”
“Menggambar sketsa, baru saja selesai.” kataku, “Jja-jjan! Ini tujuh
sketsa untuk bulan Oktober nanti!”
“Oh?! Kau sungguh membuatnya?” Wonwoo meneliti ketujuh sketsa wedding
dress dan tuxedo yang baru saja ku selesaikan.
“Tentu saja, aku, kan, punya banyak ide brilian!” ucapku tengil.
“Ah, kau ini.” Wonwoo menyentil hidungku lembut.
Setelah mengaduh kecil, aku pun berkata, “Yeowoo-ya, pilihlah yang kau
suka. Maka itulah yang akan kita kenakan untuk bulan Oktober nanti!”
“Kau suka yang mana?” justru Wonwoo bertanya balik.
“Aku suka ketujuh-tujuhnya, makanya aku menyuruhmu memilih satu wedding
dress dan satu tuxedo yang kau suka.” kataku, “Pilihlah! Aku akan mulai
mengerjakannya sebelum bulan Oktober datang!” kataku semangat.
Mata elangnya seperti tengah mencari mangsa. Wonwoo masih
menimbang-nimbang ketujuh wedding dress yang ku gambar. “Yang nomor tujuh.”
tunjuknya.
“Yeokshi,” kataku, “kau selalu suka yang simple.”
“Bagiku, gaun itulah yang cocok untuk karakter Seulgi-ku.” godanya.
“Eyyy...” aku tersipu, “Lalu, bagaimana dengan pasangan gaunku? Tuxedo
mana yang kau suka?”
Tak butuh waktu lama hingga Wonwoo menunjuk tuxedo yang diminatinya.
“Yang ketujuh juga.” katanya.
“Karena tuxedo ini juga cocok untuk karakter Wonwoo, kan?” tebakku.
“Kau sudah tau jawabanya.” dan Wonwoo mengiyakan alasannya memilih
tuxedo yang ku adaptasi dari seragam maskapai yang selalu dikenakannya saat
menerbangkan pesawat.
“Baiklah, aku akan mulai mengerjakannya.”
“Gom-ah, kau terlalu banyak bekerja. Jangan sampai kelelahan.”
“Jangan khawatir.”
“Kau mau makan bersamaku malam ini?”
“Ayolah, biarkan aku yang memasak.”
“Oh, begitu maumu?”
***
[Author POV]
Setiap kali Seulgi memandangi meja
kerjanya, kenangan itu selalu saja berputar dan membuatnya tersenyum pedih.
Kenangan lima tahun yang lalu itu selalu saja membuatnya rindu akan sosok
Wonwoo yang telah lama pergi.
Kembali Seulgi menatap pantulan
dirinya di cermin, berdiri lesu sembari mengenakan sebuah gaun putih sederhana
pilihan Wonwoo lima tahun yang lalu. Gaun itu terasa hambar dan sepi, karena
seharusnya ia juga dikenakan bersama pasangannya : tuxedo ketujuh pilihan Wonwoo.
Tanggal hari ini, di bulan Oktober
lima tahun yang lalu. Seulgi berharap, Wonwoo bisa meminangnya saat itu. Namun
kecelakaan tragis merenggut nyawanya sepuluh hari sebelum lelaki itu
berulangtahun. Dan kini, wedding dress dan
tuxedo itu hanyalah sebuah kenangan.
Seulgi mengenakan gaun itu seorang
diri, sementara tuxedo pasangannya hanya
melekat pada mannequin. Menyedihkan
rasanya, menatap pancaran dirinya seorang diri di cermin.
Wanita itu menghampiri sebuah lemari
kaca yang tak sengaja dilihatnya dari cermin. Dia membuka lemari kaca itu, di
mana sebuah mannequin berdiri di
dalamnya. Seulgi hanya termangu pilu memandangi stelan jas penuh lencana dan
ber-nametag Jeon Won Woo itu, serta
topi berlambang garuda itu di sana.
Seragam impian Wonwoo yang terakhir
kali dikenakannya.
Dengan gontai, Seulgi menggerakan
tangannya, membiarkan jemarinya merasakan aura lelaki yang dicintainya yang
tertinggal pada seragam yang setengah rusak itu. Namun Seulgi menemukan
kejanggalan ketika menyentuh saku jasnya.
Dengan nafas yang tersisa, ku raba salah satu saku seragamku. Aku ingin meraih sesuatu di dalamnya, sesuatu yang telah ku rencanakan secara matang, sesuatu yang ku kira akan menjadi takdirku. Tapi aku mulai mati rasa, apa daya aku tidak sanggup menggapainya.
Jadi dua benda itu ku biarkan saja berada di saku jasku –tanpa ku mampu meraihnya…
Segera jemarinya meneliti saku
tersebut. Wanita itu kemudian menemukan secarik kertas dan sepasang cincin dari
dalam sana.
Seulgi membuka lipatan kertasnya, dan menangis ketika menemukan
tulisan tangan berantakan yang khas tertoreh di atasnya.
“Sudah ku putuskan, sudah ku mantapkan. Ayah, Ibu, biarkan aku memilih
siapa yang akan ku jadikan teman sehidup sematiku. Biarkan aku mengajaknya
terbang mengarungi angkasa. Biarkan aku membahagiakannya sebagai ratuku.
Dia sosok Hawa yang cantik, yang menawan dan cerdas. Dia sosok puteri
yang anggun, yang mempesona dan sederhana. Aku mencintainya, Ayah, Ibu. Dan aku
memantapkan hatiku untuk memberinya singgahsana dalam kerajaan abadiku.
Ayah, Ibu, setelah mendarat nanti, akan ku bawa ia ke hadapan kalian,
dengan sepasang cincin masing-masing tersemat melingkari jari manis kiri kami.
Dan biarkan kami membahagiakan kalian lebih dari sekarang.
Namanya, Kang Seul Gi.”
“Hik...” Seulgi terisak hebat
membaca surat yang sempat Wonwoo tulis tepat sebelum ajal menjemputnya. Dia jatuh,
bersimpuh lemah di atas lantai, dan menangis. Kesedihannya yang telah lama terobati, kini
kembali meradang dalam waktu sesaat.
Ternyata Wonwoo telah
merencanakannya. Wonwoo telah bersiap untuk meminangnya hari itu. Namun
sayang, niatannya itu takkan pernah terlaksana, karena di hari yang sama ia
pergi untuk selamanya.
Seulgi mendekap dadanya, ada rasa
sesak dan nyeri tertinggal di sana. Ada bekas luka yang kembali terasa perih
menyiksanya. Dia hanya bisa menangis dan menangis saja, dia hanya bisa
berpasrah dalam pilu, sembari memanggilnya parau.
“Wonwoo...”
"Kaptenku..."
Sesekali bahunya terguncang hebat. Seraut wajah hangat itu kembali muncul dalam ingatannya.
“Hik...” gaunnya basah, “Wonwoo...”
“Jeon Wonwoo...”
***
“그냥
꿈에서 깬 것뿐이야”
geunyang kkumeseo kkaen geotppuniya
Aku terbangun dari mimpi
“또 다시 까마득한 저 슬픈 별 하나”
“또 다시 까마득한 저 슬픈 별 하나”
tto dashi kkamadeukhan jeo seulpeun byeol hana
Menyedihkan, bintang yang kesepian yang
menghilang dari pandangan
“잘 가 서툴게 인사하고”
“잘 가 서툴게 인사하고”
jal ga seotulke insahago
“Selamat tinggal” ku katakan dengan canggung
“뒤돌아서 오는 길은참 멀기도 하다”
dwidoraseo oneun gireun cham meolgido hada
“뒤돌아서 오는 길은참 멀기도 하다”
dwidoraseo oneun gireun cham meolgido hada
Jalan kembali begitu panjang
“같은 시간에 Just for a minute”
gateun shigane Just for a minute
Di saat yang sama (just for minute)
“같은 공간에 Stay for a minute”
“같은 공간에 Stay for a minute”
gateun gong-gane Stay for a minute
Di tempat yang sama (stay for minute)
“그 짧았던 순간 모든 게”
“그 짧았던 순간 모든 게”
geu jalbatdeon sungan modeun ge
Segalanya dalam waktu yang singkat
“너와 날 위해 멈춰있던 그 순간”
“너와 날 위해 멈춰있던 그 순간”
neowa nal wihae meomchuitdeon geu sungan
Berhenti untuk kita pada saat itu
“왜 그게 기적인 걸 몰랐을까”
“왜 그게 기적인 걸 몰랐을까”
wae geuge gijeokin geol mollaseulkka
Kenapa kita tidak menyadari bahwa itu adalah keajaiban?
“오래된 Story와 그 날에 멈춘 나”
oraedwen Story-wa geu nare meomchun na
Sebuah cerita lama, dan diriku yang berhenti di
hari itu
“사랑한 시간보다 더”
“사랑한 시간보다 더”
saranghan shiganboda deo
Kita terpisah untuk waktu yang lama
“오래 이별하는 중인걸”
“오래 이별하는 중인걸”
orae ibyeolhaneun jungin geol
Daripada ketika kita benar-benar saling
mencintai
“은하수 너머에 아득히 먼 곳에”
“은하수 너머에 아득히 먼 곳에”
eunhasu neomeo-e adeukhi meon gose
Di seberang bima sakti di tempat yang sangat
jauh
“하얀 우리의 기억을 건너는 나”
“하얀 우리의 기억을 건너는 나”
hayan uri-ui gieokeul geonneoneun na
Aku menyeberangi kenangan kita
“꿈속이라도 괜찮으니까”
“꿈속이라도 괜찮으니까”
kkumsogerado gwaenchaneunikka
Tak apa jika itu hanya dalam mimpi
“우리 다시 만나”
uri dashi manna
Mari bertemu lagi
“One Of These Nights”
“One Of These Nights”
“우리 다시 만나”
uri dashi manna
Mari bertemu lagi
“One Of These Nights”
“One Of These Nights”
“Oh 난 서둘러 잊지 못해”
oh nan seodulleo itji mothae
Aku
tak bisa dengan mudah melupakannya
“달력을 넘겨도 난 늘 제자리니까”
“달력을 넘겨도 난 늘 제자리니까”
dallyeogeun neomgyedo nan neul jejarinikka
Sekalipun ku putar kalendar, aku tetap berada
di tempat yang sama
“너의 눈빛에 Just for a minute”
neo-ui nunbiche Just for a minute
Dalam pandanganmu (just for minute)
“스친 손끝에 Stay for a minute”
“스친 손끝에 Stay for a minute”
seuchin sonkkeute Stay for a minute
Jemari kita yang menyapu masa lalu (stay for
minute)
“그 짧았던 순간 모든 게”
“그 짧았던 순간 모든 게”
geu jalbatdeon sungan modeun ge
Segalanya dalam waktu yang singkat
“너와 날 위해 멈춰있던 그 순간”
neowa nal wihae meomchwoitdeon geu sungan
Berhenti untuk kita pada saat itu
“난 그 때 반짝이게 된 것 같아”
“난 그 때 반짝이게 된 것 같아”
nan geu ttae banjjagige dwen geot gata
Ku rasa aku bisa bercahaya di saat itu
“오래된
Story와 그 날에 멈춘 나”
oraedwen Story-wa geu nare meomchun na
Sebuah cerita lama, dan diriku yang berhenti di
hari itu
“사랑한 시간보다 더”
“사랑한 시간보다 더”
saranghan shiganboda deo
Kita terpisah untuk waktu yang lama
“오래 이별하는 중인걸”
“오래 이별하는 중인걸”
orae
ibyeolhaneun jungin geol
Daripada ketika kita benar-benar saling
mencintai
“은하수 너머에 아득히 먼 곳에”
“은하수 너머에 아득히 먼 곳에”
eunhasu
neomeo-e adeukhi meon gose
Di seberang bima sakti di tempat yang sangat
jauh
“하얀 우리의 기억을 건너는 나”
“하얀 우리의 기억을 건너는 나”
hayan uri-ui gieokeul geonneoneun na
Aku menyeberangi kenangan kita
“꿈속이라도 괜찮으니까”
“꿈속이라도 괜찮으니까”
kkumsogerado gwaenchaneunikka
Tak apa jika itu hanya dalam mimpi
“Baby One of these days”
“One of these years”
“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”
gidarimeun
naegen sasohan iril ppunin geol
Menunggu hanyalah hal sederhana buatku
f i n
***
Annyeong, ini Near!
Mungkin sama seperti kalian saat ini, Near juga nangis pas ngerevisi part terakhir dari Paper Plane ini. Ya, untung udah buka puasa ya. Hehehe.
Di akhir cerita Paper Plane ini, Near mau mengucap rasa syukur yang begitu besar karena akhirnya cerita ini bisa rampung sesuai dengan mood yang Near inginkan. Terima kasih buat kalian yang sudah mau baca Paper Plane meskipun dari awal sampai akhir fanfict-nya sedih terus. Terima kasih juga buat yang sudah voment, karena apa yang telah kalian berikan telah membakar semangat Near untuk kembali menghadirkan karya-karya selanjutnya.
Terakhir, Paper Plane ini adalah fanfict yang special banget buat Near. Karena penulisannya gak cuma ngotak, tapi juga pake emosi dan hati. Sampai-sampai Near sendiri suka baper kalo ngeliat cowok pakai segaram maskapai. Iya, kan jadi keinget Wonwoo di cerita ini.
Jadi, terima kasih dari hati Near yang paling dalam bagi kalian yang sudah mengapresiasikan karya special Near yang satu ini ya.
Author
Near
COMMING SOON!!!
"SEULWOO'S DAILY"
Cerita-cerita singkat tentang keseharian Kang Seulgi dan Jeon Wonwoo sebagai sepasang kekasih
"HOW DO I KISS YOU"
Kumpulan beberapa ficlet dari beberapa couple --dan juga ciuman mereka





