[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part II : Missunderstanding
Paper Plane
(Let’s Meet Again)
Part II : Missunderstanding
Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.
***
Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^
| Teaser ver. | Part I |
Happy reading!
***
“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)
“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”
***
“... Di belakang saya saat ini telah berdiri beberapa posko darurat
khusus bagi Tim SAR yang telah mengevakuasi jenazah penumpang maupun awak
pesawat MG707 dan, pemirsa sekalian, kami―”
“..., kecelakaan ini menewaskan sebanyak 180 penumpang serta 10 kru
pesawat yang tadinya berencana terbang―”
“..., Angkatan Udara menyatakan bahwa tragedi MG707 ini menjadi
kecelakaan pesawat terburuk dalam sejarah penerbangan Korea Selatan―”
“..., telah teridentifikasi tiga jenazah di mana dua di antaranya adalah
penumpang dan satunya adalah seorang pramugari dari Geum Hwa Airline yang―”
“..., Pemerintah Korea Selatan memerintahkan agar Tim SAR mengevakuasi
seluruh korban, dan juga mengevakuasi setidaknya sebagian besar bangkai
pesawat―”
“..., juga dibentuk tim khusus yang akan mencari keberadaan black box yang saat ini belum juga ditemukan―”
“..., menjanjikan pada seluruh keluarga korban―”
Irene bisa melihat, bahkan dari
punggungnya saja, Joshua terlihat begitu berduka. Sejak ia bangun tidur, yang
menyambut Irene adalah suara-suara buruk itu. Memang, sebenarnya Joshua tidak
bisa tidur semalaman dan mungkin saja di paginya dia menyalakan televisi lalu
menonton berita.
Diam-diam dari ambang pintu kamar
mereka, Irene ikut merasakan kepedihan. Semua berita itu hanya menjadi duka
buatnya, juga buat Joshua.
“Sweetie?”
kaget Joshua, tak sengaja merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, dan menemukan
Irene berdiri tak bergeming di ambang pintu.
Segera Joshua matikan televisi itu.
Namun mengejutkan, “Nyalakan saja.” perintah Irene tanpa bergerak seinci pun.
Meski tadinya merasa janggal, Joshua pun menuruti kemauan Irene. Dia menyalakan
kembali televisi yang menyiarkan kabar duka itu.
Kabar duka bagi Korea Selatan.
Joshua mendatanginya, menghampiri
tubuhnya, lalu memeluknya sayang. “Irene,” bisiknya setelah mengecup pucuk
kepalanya.
“Apa kau tidak merasa kehilangan
teman masa kecilmu?” pandangan Irene kosong.
Lelaki itu menghela nafas. “Jangan
bersedih, sayang.” diusapnya lembut rambut pirang tu.
“Ada yang lebih bersedih sekarang, Josh.”
lalu Irene menatap pria yang memeluknya, “Seulgi ―dia sangat berduka.”
Joshua mengangguk sendu.
“Ayo kita temui dia.”
“Tapi, Irene,”
“Aku janji aku takkan menangis.”
Joshua menatapnya dalam-dalam.
Otaknya terus mengajukan banding. Namun pancaran lembut sepasang mata itu tak
mampu membuatnya menolak.
“Bersiap-siaplah,” suruh Joshua ―yang
berarti iya.
“Kau di sini saja, temani Seulgi.”
kata Ibu.
“Tapi,”
“Bohyuk-ah, ini bukan kejadian baru
buat kita, terutama buat Ibu.” beliau meyakinkan, “Kali ini Ibu pasti bisa
melakukannya sendiri. Ibu akan memanggilmu kalau Tim Identifikasi memerlukan
datamu.” beliau melangkah ke arah pintu, “Temani Seulgi.”
Bohyuk pun hanya bisa menuruti
perintah sang Ibu yang sementara ini tengah menyerahkan beberapa data mengenai
putera sulungnya, Wonwoo, pada Tim Identifikasi.
Lelaki itu duduk di samping Seulgi
yang sedang menyaksikan konferensi pers terkait kecelakaan yang menimpa MG707
ini.
“Sampai saat ini, sudah berapa korban meninggal dunia yang berhasil
dievakuasi?” tanya seorang wartawan.
“Terakhir dari laporan, sudah ada sepuluh korban yang telah dievakuasi.
Namun untuk jumlah pastinya saat ini, kami masih menunggu laporan selanjutnya.”
ucap pria berseragam itu.
“Sudahkah pihak yang berwenang menyelidiki penyebab kecelakaan MG707
ini, Pak?”
“Untuk sementara ini, kami belum bisa menyatakan apapun mengenai sebab-sebab
jatuhnya MG707 sampai black box ditemukan. Dan kami
masih menunggu penyelidikan lebih lanjut.” jawab orang yang sama.
“Ada banyak dugaan yang hangat diperbincangkan warga Korea Selatan saat
ini, Pak. Salah satunya, benarkah kecelakaan ini terjadi karena human error? Karena kelalaian awak pesawat, atau kelalaian pilot?”
Seulgi tersentak. Tentu saja
mendengar pertanyaan itu cukup membuatnya tersinggung. “Apa-apaan dia?!”
geramnya.
“Nuna.
Tenanglah, Nuna.” Bohyuk berusaha
meredakan emosinya.
“Apakah benar ini karena human error atau kelalaian pilot,
Pak?”
“Sekali lagi, kami belum bisa mengkonfirmasi segala dugaan mengenai
penyebab kecelakaan MG707 sampai black box-nya ditemukan. Kami rasa
sampai sini saja, terima kasih.”
Pria-pria berseragam itu meninggalkan meja, membuat lautan wartawan
gaduh dan berdengung menyuarakan berbagai pertanyaan mereka.
“Jaga ucapanmu!! Wonwoo bukan orang
yang ceroboh!!” Seulgi bangkit, menyumpahi televisi di ujung ruangan.
“Nuna!”
Bohyuk berusaha keras memintanya tenang.
“Kau tidak tau siapa itu Wonwoo,
jadi jangan bicara yang macam-macam!!!”
“Seulgi Nuna, tenanglah!!” akhirnya Bohyuk terpaksa membentaknya, tak
peduli semakin banyak orang yang memandangi mereka dengan dahi berkerut.
Seulgi mematung, membiarkan air
matanya jatuh untuk kesekian kalinya, memaksakannya mengalir meski sebenarnya
air matanya sudah kering kerontang. Seulgi akhirnya mau memenuhi bujukan Bohyuk
dan duduk di tempatnya kembali.
“Nuna,
jangan gegabah.” kata Bohyuk.
“Kau kenal siapa Hyung-mu, kan? Kau kenal dia, kan?”
Seulgi sesenggukan.
“Nuna,
aku tau kau tersinggung, aku tau kau tidak senang, tapi itu, kan, belum pasti.
Hanya dugaan orang-orang awam saja―”
“Hanya dugaan, katamu?!” Seulgi
menatapnya, “Mereka tidak tau apa-apa tentang Wonwoo!! Mereka cuma bisa―”
“Itulah kenapa mereka berkata
seperti itu, Nuna ―berpikirlah dengan
jernih!” Bohyuk harus menahan malu juga ―karena lagi-lagi mereka menarik
perhatian orang banyak. “Mereka berkata yang tidak-tidak karena mereka tidak
mengenal siapa itu Wonwoo Hyung dan Nuna harusnya menyadari itu!!” dan
membentaknya lagi.
Seulgi menutup mulutnya rapat-rapat.
Sempat terasa sesal dalam hati Bohyuk ketika ia lagi-lagi harus membentak
Seulgi. Tapi apa boleh buat?
Bohyuk membiarkan Seulgi pergi, dia
tetap tenang karena Seulgi pergi ke toilet. Memang seperti itu dirinya belakangan
ini jika dia bersedih tentang Wonwoo.
***
“Joshua,” panggilan Irene membuat Joshua
segera menanggapinya. Wanita itu meminta perhatiannya sedikit pada layar kecil
di dasbor mobil mereka.
“..., dan rupanya tak hanya ungkapan duka dan tagar #MG707 saja yang
ramai diperbincangkan. Namun juga salah satu kicauan dari akun SNS ini berhasil
menghebohkan dunia maya, berbunyi, ‘Kalian yang tidak tau siapa dia, tidak
sepantasnya menuduh salah padanya #MG707’...,’”
“Itu akunnya Seulgi!” seru Irene,
sementara Joshua tak bisa menanggapi banyak karena sedang menyetir.
“Akun
SNS dengan ID hibearnation tersebut merupakan akun pribadi dari seorang
perancang busana muda sekaligus pemilik brand pakaian Dressing Bear, Kang
Seulgi. Seulgi juga salah satu dari mereka yang berduka atas tragedi MG707
ini.”
“Pasalnya, kekasihnya yang merupakan pilot pesawat naas ini, Jeon
Wonwoo, juga ikut menjadi korban. Diduga kicauan Seulgi ini dipicu dari
beredarnya dugaan bahwa kecelakaan ini akibat dari kelalaian sang pilot, yang
sedang ramai diperbincangkan.....,”
“Kurang ajar,” desis Joshua.
“Kita harus segera menemui Seulgi.”
ucap Irene, segera Joshua menambah kecepatan laju mobilnya.
***
Joshua dan Bohyuk duduk-duduk di
pinggiran taman, sambil mengawasi Irene, Seulgi, dan Ny. Jeon yang duduk di
dekat kolam sana. Saat ini suasana hati Seulgi sudah aman terkendali, apalagi
dengan kehadiran Irene di sana.
Irene merelakan bahunya jadi
sandaran Seulgi, sementara salah satu tangannya memijat pundak Ny. Jeon. Mereka
mengobrol dengan tenang ―tidak, lebih tepatnya Irene dan Ny. Jeon saja ―karena
sedari tadi Seulgi terdiam dalam sandarannya.
“Jinjja?”
Joshua terkejut ketika Bohyuk menceritakannya kembali saat Seulgi menyumpahi
televisi tadi pagi.
Bohyuk menghela nafas, “Apa aku
harus minta maaf padanya, Hyung?”
tanyanya, “Aku sudah membentaknya.”
“Nanti saja ―ketika semuanya sudah
membaik.” Joshua tersenyum ketika melihat senyuman di wajah Irene, yang ikut
membuat Ny. Jeon tersenyum.
Tak lama, dilihatnya Ny. Jeon
tersentak kecil karena getaran ponselnya. Sepertinya, panggilan penting, karena
tak lama kemudian Ny. Jeon membekap mulutnya dan air matanya berjatuhan.
***
Kalau saja tidak ada Irene, entah
apa yang akan Seulgi lakukan saat ini. Wanita itu terus saja menangis ketika
Ny. Jeon dan Bohyuk bergegas menuju ruangan Tim Identifikasi setelah mendapat
kabar bahwa jasad pilot MG707 berhasil diidentifikasi.
Benar, Jeon Wonwoo.
Irene terus menghapus air mata
Seulgi yang tak berhenti mengalir. Mungkin kali ini Irene telah melanggar
janjinya pada Joshua, karena ―meskipun tidak menangis― bulir-bulir air matanya
berjatuhan dengan derasnya.
“Seulgi-ya, berhentilah menangis.”
Irene mengatur nada bicaranya ―masih sambil menghapus air mata sahabatnya itu.
“Kau sendiri yang bilang, Onnie.” sendunya, “Aku harus yakin
dalam doaku, benar, kan? Tapi kenapa...? Kenapa semuanya berbanding terbalik
dari apa yang aku yakini, Onnie...?”
Irene menata nafasnya, “Kau benar.
Kau memang benar, Kang Seulgi.” katanya, “Dan bukankah aku juga bilang, bahwa
kita tidak bisa apa-apa selain berdoa? Seulgi, kau ingat ucapanku itu, kan?”
“Kita boleh berdoa, kita boleh
berencana. Namun apa yang telah menjadi takdir, takkan bisa kita ubah, Seulgi.”
Irene meminta Seulgi untuk menatapnya.
“Dan kepergian Wonwoo..., adalah
takdir...”
Lara dan duka semakin
menyelimutinya. Tak ada yang Seulgi lakukan setelah mendengar ucapan Irene itu
selain semakin terisak dan tersendu.
“Wonwoo...,”
Pada akhirnya Irene memeluk
sahabatnya itu, mendekap dan mengusap punggungnya. Kali ini tak ada gunanya
menghapus air mata Seulgi ―karena dia akan terus menangisi Wonwoo.
Di sana, di samping Irene,
terduduklah Joshua. Diam-diam menghapus buliran bening yang hampir beranjak
turun dari pelupuk matanya sebelum ada yang melihat. Dia tidak ingin terlihat
bersedih, dialah yang seharusnya lebih tegar.
***
Semilir angin hilir mudik, menghempas lembut tubuh mereka yang
berjalan-jalan di bibir pantai, sambil menikmati kaki mereka yang basah karena
deburan ombak ringan. Mereka hening, memikirkan sesuatu.
“Kau...,” Wonwoo menatap gadis di sampingnya, “belum bisa putuskan..., Nuna...?”
Seulgi masih menatap pasir di bawah kakinya. “Entahlah...” jawabnya
hambar, “Kau tau, kan, aku cuek banget sama cowok ―seumur hidupku. Aku tipe
cewek yang tomboy garis keras.”
Wonwoo terkikik kecil mendengar kalimat terakhir. Ya, Seulgi memang
gadis yang tomboy, itulah makanya kalau ada laki-laki yang
kurang ajar padanya Seulgi takkan segan-segan menghajar laki-laki itu dengan
kepalan panasnya.
Dan Wonwoo pernah melihatnya ―lebih dari dua kali.
“Kau tak perlu takut lagi. Nuna, aku akan melindungimu.”
Wonwoo tak mau menatap Seulgi.
Meski Seulgi kini menatapnya, “Kau melakukan itu untuk pacarmu
sebelumnya?” terkanya.
Wonwoo tertawa, karena awalnya ia pikir Seulgi hanya bercanda ―namun
gadis itu bertanya serius padanya. “Aku belum pernah pacaran.”
“MWOYA?! Cowok tampan sekeren dan sepintar dirimu belum pernah
pacaran?!!” ucapan Seulgi membuat Wonwoo terkesiap, ”Apa yang salah dengan
dirimu, uh? Kau mungkin terlalu sibuk baca―”
“Nuna, bisa kau ulangi ucapanmu?” mereka berhenti
melangkah di saat yang bersamaan.
“’Apa yang
salah dengan dirimu’?”
“Bukan itu. Yang sebelumnya, Nuna.”
Deg! Seulgi tersadar akan apa yang baru saja diucapkannya
lantang-lantang. “Aku tidak ingat...” dalihnya, berpura-pura, lalu melempar
pandangannya asal.
Wonwoo bisa melihat wajah dan telinga Seulgi mulai memerah karena
menahan malu. Dia tersenyum gemas melihat Seulgi bertingkah kaku seperti itu.
“Kau juga.” Seulgi akhirnya berani menatap Wonwoo, ketika lelaki itu
berkata, “Kau juga cewek cantik yang anggun dan pandai.”
Seulgi menggigit bibirnya. Pasti Wonwoo sudah melihat semburat merah
memenuhi wajahnya. Oh, astaga, bisakah Seulgi kabur ke laut sekarang juga? Dia
benar-benar mati kutu di hadapan lelaki yang baru dikenalnya enam bulan yang
lalu itu.
“Sudahlah, kalau mau bilang ‘iya’, ya bilang saja.” celetuk Wonwoo.
Seulgi terkesiap. “Kau bilang apa?”
“Aku tidak ingat...” sindir Wonwoo pada Seulgi, yang mengatakannya
sambil meninggalkan gadis itu.
“Ya!
Jamkkan!” Seulgi mengejar langkah Wonwoo
yang lebar-lebar, “Bukannya begitu ―aigoo― maksudku..., aduh, begini..., aku bukannya tidak mau berkata ‘iya’, hanya
saja aku butuh―”
“Jadi maksudmu kau menerimaku? Hanya saja kau ingin mengulur-ulur waktu
dulu? Begitu?” Wonwoo berhasil memojokkan Seulgi.
Dan Seulgi menjadi lebih kikuk lagi. “Aduh. Maksudnya ―eh, bukan, aku
mau bilang,” dia semakin kacau, “haduh, bukan, bukan... Aku..., duh, gimana ya?
Aku..., maksudnya...,”
Wonwoo berhenti melangkah, dia menghadap Seulgi dan menarik dagunya
lembut. “Apa kau yakin, Nuna? Waktu terus bergulir, dan
kau takkan bisa kembali. Aku harap, kau takkan menyesalinya.” katanya,
tersenyum tipis.
Menatap sepasang mata yang sama persis seperti miliknya itu, Seulgi
tidak bisa apa-apa. Baiklah, Seulgi mengaku kalah, Wonwoo memang selalu menang
darinya. Lelaki itu punya ilmu pengetahuan luas dan pengalaman-pengalaman luar
biasa lainnya, karena dia selalu singgah di berbagai negara dan belajar banyak
dari orang-orang asing di sana. Itulah kenapa, meski Wonwoo lebih muda darinya,
Seulgi selalu kalah berdebat dengannya, Seulgi selalu mati gaya di hadapannya.
Hanya di hadapan Wonwoo seorang, tidak di hadapan laki-laki lain.
“Jeon Won Woo,” panggil Seulgi.
“Mm?” Wonwoo selalu menunggunya.
Perlahan, Seulgi menelan kekalahannya bulat-bulat, lalu menatap sepasang
netra itu, kemudian dia berkata dengan lembut, “Iya.”
Hanya satu kata singkat, namun hanya untuk mendengarnya saja butuh
penantian yang begitu panjang. Wonwoo tersenyum, menggambarkan kesenangan dan
kemenangannya ―setelah terlalu lama menunggu.
“Akhirnya,” kata Wonwoo, “kau mengaku kalah juga..., Kang Seulgi...”
Seulgi tersentak kecil ketika lelaki itu meraih pinggangnya, kedua
tangan kokohnya mengantarkannya pada dekapan yang dalam. Lalu dengan perlahan,
Wonwoo mencium bibir gadis itu, dan membiarkannya menerima ciuman pertamanya.
Pertama untuk Seulgi, pertama untuk Wonwoo.
Pertama untuk mereka.
***
Hari ini sedikit terlambat, Ny.
Jeon, Bohyuk dan Seulgi akhirnya sampai di Panic
Centre. Irene dan Joshua masih menemani mereka. Karena terlambat, mereka
hampir tidak kebagian tempat duduk, kecuali untuk Ny. Jeon dan Bohyuk. Itupun
kursi paling belakang.
“Nuna,
duduklah.” ajak Bohyuk.
“Kau saja, aku akan berdiri bersama Onnie dan Joshua.” kata Seulgi, sehingga
Bohyuk pun membiarkannya berdiri di belakang mereka.
Beberapa petugas menyiapkan layar
besar, beberapa lagi menertibkan wartawan yang jumlahnya tidak seberapa di luar
ruangan sana.
Kemarin, tim khusus berhasil
menemukan black box yang langsung
segera diselidiki rekamannya. Dan hari ini, via Skype, isi dari rekaman tersebut akan diperdengarkan pada para keluarga korban MG707 di Panic Centre dan
beberapa pihak berwenang di tempat yang berbeda.
“Apakah sudah tersambung semuanya?”
ujar salah seorang yang memakai jas panjang di dalam layar, lalu menyampaikan beberapa
penemuan mereka dari black box yang
telah mereka selidiki tersebut.
“... Dan untuk lebih jelasnya, kami
akan membuktikannya dengan memperdengarkan rekaman berikut...” ucap pria berjas
tersebut.
Lalu beberapa orang di dekatnya
mulai melakukan sesuatu pada dua roll
rekaman yang mereka ambil dari dalam black
box.
Terdengar suara kacau antara pilot dan co-pilot. Mereka berusaha tidak panik, sementara pesawat yang
mereka terbangkan dalam masalah besar. Beberapa mesinnya tiba-tiba tidak
berfungsi.
“Mesinnya―”
“Wonwoo,” Seulgi buru-buru mendekap
mulutnya ketika mendengar suara sang pilot, air mata meluncur begitu saja dari
sepasang netranya.
“Ya,
Tuhan, apa yang terjadi?” ucap si co-pilot,
sementara itu Wonwoo tidak menanggapi. Dia masih berusaha menyelamatkan pesawatnya
yang kedengarannya hampir jatuh mencapai tanah.
“Kita
akan jatuh!”
“Tidak!
Tidak! Masih bisa! Kita harus berusaha!!” kedengarannya Wonwoo geram
mendengar kepesimisan rekannya tersebut, dia terus berusaha melapor dan
menyelamatkan pesawat ini.
Tak hanya Seulgi, namun Ny. Jeon
juga ikut menangis bersamanya.
“Ya,
Tuhan!!”
Seketika, suara bass yang dari tadi sibuk melaporkan ini itunya, tiba-tiba terdiam.
Dia tidak bergeming, sementara co-pilot itu
masih berseru ngeri.
“Kapten!
Kapten!!” co-pilot itu berusaha
memanggil rekannya, namun yang dipanggil tidak menjawab, “Kapten?!!”
Karena dia mungkin sudah menyerah
pada takdir.
“BRAAAAKKKK!!!!!!”
Segera orang yang ada di dalam layar
menghentikan rekaman dan mengajukan laporan dari penelitiannya. “Dari rekaman
yang kami dapatkan, sepertinya dugaan bahwa kecelakaan ini terjadi karena
kelalaian pilot tidak bisa dibuktikan.” ucap pria berjas tadi, “Namun penyebab
kecelakaan ini masih dalam cakupan human
error, yang selanjutnya akan diselidiki........,”
“Bruk.”
Irene terkejut ketika tubuh Seulgi
ambruk menimpanya. “Astaga, Seulgi!! Kang Seulgi!!” jeritnya, Joshua dan Bohyuk
segera memberinya bantuan.
Wanita itu tidak pingsan, dia hanya
mengalami syok berat sehingga tidak mampu mengendalikan tubuhnya yang kemudian
ambruk begitu saja. Seulgi begitu pucat, dan dia tidak bisa apa-apa ketika tim
medis membawanya keluar dari ruangan.
***
“Pemirsa, lima orang mekanik yang menangani pesawat MG707 milik Geum Hwa
Airline yang jatuh di dataran China hampir dua minggu yang lalu, ditangkap dan
dijadikan terduga penyebab celakanya MG707.”
“Sementara tim khusus mencari black box
beberapa hari yang lalu, tim penyelidik di Seoul juga menyelidiki orang-orang
yang diduga memiliki kaitan dengan MG707. Diduga mengabaikan SOP ketika
menangani MG707 sebelum lepas landas, kelima mekanik ini dibawa ke kantor
polisi untuk mendapatkan penyelidikan lebih lanjut.”
“Di lain tempat, pemirsa, dari rekaman black box
yang diperdengarkan hari ini membuktikan bahwa dugaan kecelakaan karena
kelalaian kru pesawat yang selama ini hangat diperbincangkan itu tidak benar
adanya.”
“Dari kesaksian kru-kru pesawat yang tidak ikut lepas landas bersama
MG707, mereka mengakui bahwa sang pilot, Jeon Won Woo, telah mengikuti briefing serta mengecek semua laporan dan prakiraan cuaca, secara rutin setiap
kali hendak lepas landas. Hal ini pula yang tidak bisa menguatkan dugaan
sebelumnya―”
Bohyuk menyandarkan kepalanya pada
dinding. Dalam benaknya, terulang ucapan Seulgi beberapa hari yang lalu.
“Jaga ucapanmu!! Wonwoo bukan orang yang ceroboh!!”
“Kau tidak tau siapa itu Wonwoo, jadi jangan bicara yang macam-macam!!!”
“Kalian yang tidak tau siapa dia, tidak sepantasnya menuduh salah
padanya.”
“Huft...” Bohyuk menghela nafas,
lalu beralih pada jendela kecil di samping kepalanya. Dilihatnya, dua orang
wanita di dalam sana, yang satu terbaring lemah sementara yang satunya lagi
duduk menemaninya.
“Bagaimana Seulgi?” Ibunya datang
ditemani Joshua.
Bohyuk beralih pada beliau,
“Entahlah, Bu.” lalu kembali menatap lewat jendela, “Mungkin..., dia masih
syok...”
***
Tubuhnya masih terbaring di atas
ranjang, tidak bergeming, namun matanya tak berhenti menjatuhan bulir-bulir
beningnya.
“Sampai kapan kau mau menangis
seperti ini, Seulgi.” tangan Irene datang menghapus air mata Seulgi yang jatuh
melewati pelipisnya.
“Mereka yang bilang Wonwoo lalai,”
suaranya parau hebat, “harus menelan malu.”
Irene menghela nafas. “Sudah
terbukti, kan, kalau Wonwoo memang tidak bersalah? Sekarang kau tidak perlu
menangisinya lagi, Seulgi-ya.” ujarnya lembut.
Namun ucapannya tidak berguna, kini
Seulgi justru menangis. “Wonwoo... Jeon Wonwoo...” isaknya, Irene tidak tahan
melihatnya begitu sakit, namun saat ini ia berusaha mati-matian untuk tidak
ikut bersedih.
“Wonwoo...” lirihnya.
***
to be continued
***
Annyeong yeoreobun!!
Maaf ya Part II ini sempat ke-delay karena nomor ponsel Near sempat diblokir akses internetnya karena ada kesalahan waktu registrasi. Tapi sekarang udah aman, kok. Buktinya sekarang sudah bisa posting Part II yehet!!
Masalah Near sama seseorang juga udah clear.. Kalo kalian liat di IG Near @/retnonateriver kalian bisa liat Near hari Minggu kemarin senang banget bisa ngabisin waktu sama teman-teman Near.. Eaaak promosi IG deh jadinya wkwkwkwkwk.. Intinya Near sudah tidak galau lagi..
Semalem Near mesti tersedu-sedu kembali saat ngerevisi bagian ini sambil dengerin lagu Red Velvet - One of These Nights.. Wkwkwkwk lagu itu selalu berhasil bikin muka Near basah hahaha..
Oke, makasih sudah mau baca dan/atau suka karyanya Near ini, meskipun pasti mengundang protes dari para SeulWoo shipper.. Hahahaha.. Tunggu nanti ya, guys.. Semua akan indah pada waktunya *plak
Maaf ya Part II ini sempat ke-delay karena nomor ponsel Near sempat diblokir akses internetnya karena ada kesalahan waktu registrasi. Tapi sekarang udah aman, kok. Buktinya sekarang sudah bisa posting Part II yehet!!
Masalah Near sama seseorang juga udah clear.. Kalo kalian liat di IG Near @/retnonateriver kalian bisa liat Near hari Minggu kemarin senang banget bisa ngabisin waktu sama teman-teman Near.. Eaaak promosi IG deh jadinya wkwkwkwkwk.. Intinya Near sudah tidak galau lagi..
Semalem Near mesti tersedu-sedu kembali saat ngerevisi bagian ini sambil dengerin lagu Red Velvet - One of These Nights.. Wkwkwkwk lagu itu selalu berhasil bikin muka Near basah hahaha..
Oke, makasih sudah mau baca dan/atau suka karyanya Near ini, meskipun pasti mengundang protes dari para SeulWoo shipper.. Hahahaha.. Tunggu nanti ya, guys.. Semua akan indah pada waktunya *plak
Author
Near


