[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part I : Bad News
Paper Plane
(Let’s Meet Again)
Part I : Bad News
Author :
Near
Genre :
Sad-Romance, Angst/Hurt
Length :
Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast :
Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.
***
Siapa itu
Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang
ketinggalan, silahkan baca part
dan/atau teaser sebelumnya!^^
| Teaser ver. |
Happy
reading!
***
“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”
(gidarimeun
naegen sasohan iril ppunin geol)
“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”
***
Pagi yang sibuk, hari yang sibuk.
Dengan tatanan rambutnya yang mulai berantakan, sesekali digigitnya pensil itu
karena habis sudah kedua tangannya yang saling sibuk bekerja. Belum lagi ponsel
yang kadang dijepit telinga dan pundaknya, menunggu yang ditelepon menjawab
panggilannya.
Seketika kepenatan pagi di
ruangannya itu sirna. Morning voice
itu mulai menghapus beban paginya, suara bass-nya
menyambut.
“Hei,”
“Hei,” balas gadis itu, bahkan di
tengah rumitnya tumpukan kertas di atas mejanya saat ini, dia masih bisa
bergurau dengan lawan bicaranya.
“Mwohae?”
“Menggambar.” tanpa sadar, kurvanya
merekah.
“Mm?” sahut suara bass di balik telepon, “Sibuk, huh?”
“Tidak,” gadis itu menjepit ponsel
dengan pundaknya, “baru bangun tidur?”
“Hu-uh,”
“Dasar kukang.”
“Ya~~”
Gadis itu tertawa singkat. “Aku
sudah menyelesaikan sketsa keenam, sekarang aku sedang mengerjakan yang
ketujuh.”
“Kau terlalu bekerja keras untuk
hari penting itu.”
“Jangan banyak bicara, kau yang
harus memilih salah satu di antaranya ―turuti saja perkataanku.”
“Hei, Seulgi,”
“Ng?”
“Makan sianglah denganku, sebelum ku
tinggalkan kau besok.”
“Memangnya kau sudah bangun dari
tempat tidur?”
“Uh..., itu...,”
Seulgi tersenyum, “Ku hitung sampai
lima. Satu..., dua..., tiga..., empat...,”
“Iya, iya, oke, bawel. Oke. Jangan
tutup teleponnya.”
Terkikik gadis itu mendengarnya.
“Jangan lupa pakai bajumu.”
“Aku tidur dengan pakaian utuh
semalam, Gom-ah.”
“Keojitmal.”
“Oke. Aku ketauan.”
***
“Sudah jadi resiko kekasihnya pilot
ditinggal terbang.”
Wonwoo hampir tersedak siang itu
gara-gara celetukan Seulgi. Baru saja ia lahap es krim green tea di hadapannya, Seulgi sudah membuatnya terhentak. Wonwoo
tersenyum tipis.
“Ya,
kau ini kenapa, sih?” Seulgi menghapus noda hijaunya green tea pada bibir itu.
“Ucapanmu itu lucu.” dalih Wonwoo,
lalu menyuapi gadis di hadapannya dengan es krimnya. “Kau pasti sering merasa
kesepian karenaku.”
“Kalau boleh jujur, sih..., iya...”
Seulgi mengerucutkan bibirnya, manis sekali ―Wonwoo menyukainya, “Tapi itu
sudah jadi tuntutan.” dengan bibir itu, ditatapnya Wonwoo.
“Kasihan,” ditepuknya kepala Seulgi
seenaknya.
“Masa cuma kasihan?” gadis itu makin
mencondongkan bibirnya, kali ini seiringan dengan tangannya yang mulai
menghancurkan menara es krimnya.
“Aku tau kau tidak akan menikung.”
“Itu sudah jelas ―dan pasti.” Seulgi
melahap es krimnya.
Wonwoo menyeka helaian rambut Seulgi
yang menutupi sebagian kecil wajahnya. “Kau kelihatannya bekerja keras hari
ini.” katanya, khawatir, “Sisihkan dulu saja proyek ‘Tujuh Sketsa Pilihan’-mu
itu, Seulgi. Oktober masih jauh, kau juga disibukkan dengan brand barumu.”
Seulgi tersenyum, “Bukan apa-apa.”
katanya, “Kau sendiri? Apa belum dapat libur panjang?”
Wonwoo terkekeh. Ada kalanya Seulgi
seperti anak kecil, ada kalanya Seulgi terlihat dewasa sesuai umurnya. Namun
siang ini, Seulgi kelihatan manja seperti anak kecil. Hanya satu yang
diinginkannya dari Wonwoo : waktu.
“Sabarlah, Teddy Bear. Hibernasimu akan segera usai.” Wonwoo menyantumkan
helaian rambut itu pada telinga Seulgi.
“Benarkah?” Seulgi sumringah,
pertanda apa yang diinginkannya akan segera terwujud. “Gidae.” gumamnya sambil menyendok es krimnya beberapa kali, hingga
tanpa sadar ―sangking girangnya― es krim itu berceceran di sekitar mulutnya.
“Lihat siapa yang hari ini jadi anak
kecil?” goda Wonwoo, Seulgi menatapnya.
Namun lelaki itu tak mengizinkannya
menatap lebih lama. Wonwoo menyapu bersih noda itu –di bibir gadisnya—dengan
mulutnya, Seulgi terkejut bukan main.
Seorang Jeon Won Woo yang pendiam tak
biasanya seagresif ini padanya, apalagi ini kafe ―tempat umum lebih tepatnya.
Wonwoo adalah tipe yang pasif, yang lebih senang melakukannya di tempat yang
pribadi. Namun hari ini, lelaki itu berani-beraninya bangkit dari tempat
duduknya dan dengan seenaknya menghapus noda es krim di sekitar mulut Seulgi
dengan mulut dan lidahnya.
“Jangan kaget begitu,” tepis Wonwoo,
begitu selesai melakukannya Seulgi menatapya canggung. “Gak suka, ya?”
“Ani,”
Seulgi memperbaiki penampilannya, “hanya..., kaget...”
“Tentu saja, kau pasti tau ―aku
bukan tipe agresif seperti itu.” Wonwoo menatap gadisnya lekat-lekat seakan tak
ingin kehilangan dia, “Tapi khusus untuk hari ini saja, aku ingin
melakukannya.”
Seulgi paham, mungkin karena lelaki
itu akan meninggalkannya lepas landas dari daratan makanya Wonwoo bertingkah
laku seperti itu padanya. Dia bisa memakluminya.
“Jadi, kapan tepatnya kau libur
panjang?”
“Hei, kita sudah bahas itu tadi,”
“Apa sebelum hari ulangtahunmu?”
“Seulgi,”
“Ayolah, Yeowoo-ya, aku tidak sabar lagi.”
***
Pagi itu terasa biasa saja. Cahaya
mentari yang menyusup seenaknya ke dalam kamarnya, ini pasti ulahnya Seulgi. Harumnya
aroma pancake yang menyeruak,
mengundangnya untuk keluar dari kamar dan menyambut pagi, ini juga pasti
ulahnya Seulgi. Dan ketika sampai di dapur, dia disambut pemandangan seorang
gadis berambut panjang yang membelakanginya, pastilah dia Seulgi.
Semua terlihat seperti biasanya.
“Hei,” gadis itu tersenyum padanya.
Wonwoo langsung menyambar
pinggangnya, cara khasnya berterimakasih pada gadis yang telah membangunkan
tidurnya dengan caranya yang khas.
“Siap untuk hari ini?” tanya gadis
itu, dilihatnya Wonwoo masih mengerjap-ngerjapkan mata, “Ayolah, bangun,
Kukang.”
“Seulgi, please.” gerutu Wonwoo, “Dasar Beruang...” gumamnya.
Pagi masih pagi buta, belum banyak
orang yang terbangun, salah satunya Wonwoo ―yang semalam kedapatan beraksi
nakal. Pantas sajalah kalau dia belum sepenuhnya terbangun.
Diacaknya rambut Wonwoo itu asal,
lelaki itu hanya mendengus.
“Ya,
Gom-ah,” gerutunya dengan morning
voice.
“Suaramu parau sekali.” komplain
Seulgi, setelah meletakan pancake di
atas piring, ia segera mengambil segelas air untuk Wonwoo.
Ketika lelaki itu meneguknya, Seulgi
menyiapkan sarapan di meja makan. Wonwoo pun bersiap duduk di kursinya.
“Kau serius memilih yang ketujuh dan
yang ketujuh?” pertanyaan Seulgi disusul anggukan Wonwoo ―yang tidak sadar
kalau rambutnya berdiri.
“Wae?”
tanya Wonwoo.
“Hanya memastikan,” Seulgi melahap pancake-nya, “kalau kau memang sudah
yakin memilih keduanya, maka hari ini aku akan mulai mengerjakannya.”
Wonwoo tersenyum sambil mengunyah,
“Kau sudah bekerja keras.” katanya.
Seulgi cuma nyengir. “Dihabiskan,
ya, sarapannya. Perjalananmu hari ini panjang sekali, jangan sampai di tengah
penerbangan kau malah kelaparan.” candanya.
Lelaki itu terkikik, “Jangan
bergurau, Gom-ah.” katanya, Seulgi
menertawainya.
***
Jemari manisnya merapatkan jas itu,
menata dasi itu, dan merapikan lencana itu. Hampir setiap kali
keberangkatannya, Seulgi akan melakukan hal yang sama padanya.
“Jam berapa pesawatnya berangkat?”
tanya Seulgi.
“Masih lama, tapi aku harus
berangkat lebih pagi untuk briefing.”
ucap Wonwoo setelah mengecup bibir itu.
Seulgi mengenal betul siapa itu Jeon
Wonwoo. Dia sosok lelaki yang penuh tanggung jawab dan tegas, dingin, irit
senyum, irit bicara namun sebenarnya dia berhati lembut dan penyayang. Wonwoo
adalah sosok teliti yang tidak pernah mengabaikan hal-hal sekecil apapun.
Pernah beberapa kali Seulgi bertemu
rekan kerja Wonwoo, mereka mengakui bahwa Wonwoo adalah sosok yang patuh dan
sangat teliti, padahal dia bukan senior, malah para senior belajar banyak hal
darinya. Wonwoo sangat mementingkan SOP dan tidak pernah lari dari tanggung
jawab. Dia adalah orang yang haus akan pengetahuan.
Dia beruntung mendapatkan Wonwoo.
“Kau yakin bisa menungguku?” tanya
Wonwoo. Seperti biasa, sebelum berangkat Wonwoo selalu menatap gadis itu
lekat-lekat. Dan mengucapkan kata-kata khasnya.
Seulgi tersenyum, memeluk tubuhnya
sendiri yang dibaluti bathrobe.
“Menunggu sudah menjadi kebiasaanku, sudah menjadi hal biasa.” senyumnya.
Wonwoo mengusap kepala Seulgi.
“Maaf, aku selalu meninggalkanmu sendirian. Aku tau kau kesepian―”
“Dan kau tak perlu khawatir, karena
aku selalu duduk manis menantimu.” tukas Seulgi kemudian, berhasil merekahkan
senyum di wajah Wonwoo seiringan, sambil menyapu bibir gadis itu dengan
jemarinya.
Karena kata-kata itu, Wonwoo kembali
mencium bibir itu sebagai ucapan terima kasih. Wanita seperti Seulgi memang
sosok yang sangat cuek pada laki-laki, namun ketika hatinya luluh dia akan
menjadi pasangan yang sangat setia.
Dia beruntung mendapatkan Seulgi.
Gadis itu mengangkat tangan,
mengacungkan kelima jemarinya di samping pelipis kanannya, memberi hormat pada
kapten. Kelakuan Seulgi itu selalu mendapat cengiran dari Wonwoo, yang akan
membalasnya dengan hormat yang sama.
“Selamat lepas landas, Kapten Jeon
Wonwoo.” cengir Seulgi ―menggemaskan. “Semoga penerbanganmu menyenangkan.”
Wonwoo menyambutnya dengan pelukan
hangat dan kecupan di dahi. Dengan segera ia merebut topi khasnya dari atas
meja dan menutupi kepalanya dengan itu.
“Aku akan segera kembali.” pamit
Wonwoo.
Di ruangannya, seorang diri, Seulgi memulai
gaun yang dia gambar di sketsa terakhirnya. Beberapa jahitan kecil dan lembaran
kain disatukannya dengan mesin jahit. Ini belum apa-apa, namun dia sudah
menghabiskan waktu sampai tengah hari.
Seulgi akhirnya menyelesaikan pola
dasar dari gaunnya.
“Sudah jadi!” seru Seulgi, lalu
menorehkan beberapa catatan dalam memo, yang kemudian ia rekatkan bersama
gambar desain gaun ketujuh tersebut di mading khususnya ―sebagai pengingat.
Rasanya menyenangkan membayangkan
bagaimana jadinya gaun itu nanti, bagaimana dirinya akan mengenakan gaun itu di
hari penting mereka nanti. Seulgi tak bisa menahan kegirangannya sendiri.
Dengan riang, Seulgi melangkah ke
ruang penjahitan. Dia harus melupakan kegiatannya sejenak dan beralih ke
pekerjaannya sebagai seorang fashion designer.
Di sana beberapa busananya sedang sibuk dikerjakan beberapa karyawannya.
“Karena pemesanan meningkat, jadi
hari ini produksi harus ditambah lagi.” ucap seorang wanita berkacamata itu.
“Tidak ku sangka, Baby Bear akan laku keras juga.” tukas
Seulgi.
“Banyak yang menyukai bahan dan
desainnya.” ucap wanita itu, “Selain desainnya yang manis dan unik, bahan Baby Bear sangat cocok untuk kulit bayi
dan balita yang sangat sensitif. Itulah mengapa banyak sekali yang menyukai brand baru kita ini.”
Seulgi tersenyum. “Bahan babyterry memang khas, dan memang
dikhususkan bagi kulit anak-anak yang sensitif.” katanya, “Lalu bagaimana
dengan Dressing―”
Dering ponselnya tak sengaja memotong ucapannya. Seulgi pun terpaksa menyela waktu demi menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya tersebut.
“Yeoboseyo?
Nuguseyo?”
“Oh, Omonim, apa kabar! Sudah lama tidak bertemu, apakah ini nomor
barumu?” ucap Seulgi sambil tersenyum, ”Ini aku Seulgi, tapi aku sedang di
butik, Omonim, Wonwoo sudah
berangkat―”
Namun lengkungan manis itu tak
bertahan lama di wajah cantiknya. Begitu mendengar suara wanita paruh baya itu
menangis, Seulgi terhentak.
“Omonim?”
tanya Seulgi.
“Sayang, ku mohon jangan kau minta
aku ulangi perkataanku ini, karena bahkan aku sendiri tidak mampu menerima
faktanya, tapi..., puteraku...,”
“Omonim,”
“..., pesawat yang
diterbangkannya..., mengalami kecelakaan...”
***
Tergopoh-gopoh dirinya menelusuri
tiap lorong, dengan tergesa ia mencari tujuannya, dan tanpa sadar ia membanting
pintu itu, membuat semua penghuni ruangan menatapnya lekat-lekat.
“Seulgi,” seorang wanita paruh baya
mengenalinya, lalu bangkit dari kursi tunggu.
Pada para petugas, Seulgi berhambur
dan menyeruak, “Di mana dia?!” tanyanya terburu-buru.
“Sabar, Nona,” ucap pria tegap
tersebut.
“Apa kalian sudah mengetahui
keberadaanya?! Jawab aku!!”
“Seulgi, tenanglah, Nak,” wanita itu
memaksa Seulgi duduk sambil menahan perih di hatinya.
Gadis itu tak bisa apa-apa selain
berdiri mematung. “Kami sedang berusaha melacak keberadaan pesawatnya, Nona.
Kami sedang berusaha dengan sekuat tenaga.” ucap pria itu lagi, “Mohon
pengertian dan kesabarannya.”
Mendapat jawaban yang tak sesuai
harapan, Seulgi terduduk lemas di atas lantai, sementara wanita itu memeluknya
iba dan menangis. Mereka berdua menangis, tersedu-sedu, hati mereka meluruh.
“Bu, ayolah, Bu,” pemuda itu meminta
wanita itu, Ibunya, bangkit.
Di tempat ini, salah satu bagian
dari bandara, semua keluarga yang salah satu atau beberapa anggotanya menumpangi
pesawat naas itu berkumpul, menantikan informasi, dan berdoa bagi keluarga
mereka yang mengalami kecelakaan. Termasuk Nyonya Jeon dan anak bungsunya ―juga
Seulgi.
“Aku tidak mau, Bu.” sergah pemuda
itu.
“Tapi kau harus kuliah, Bohyuk.”
kata beliau.
“Lalu siapa yang akan menjaga Ibu?”
Bohyuk tak mau mengalah.
“Aku akan menjaganya,” kata Seulgi.
“Tidak, aku yang akan menjaganya.”
dan Bohyuk masih memaksakan diri. “Aku akan menemani Ibu di sini, juga Nunim. Aku tidak akan meninggalkan
kalian.”
“Tapi―”
“Baiklah kalau maumu begitu.” ucap
beliau sambil menahan sendu, pada putera bungsunya.
***
“Seulgi?”
“Onnie,”
meski parau, Seulgi berusaha membalas panggilan Irene dari ponselnya.
“Astaga, kau di mana?”
“Aku bersama Bohyuk dan Ibunya di Panic Centre di bandara.” paraunya.
“Syukurlah, kau rupanya di sana. Aku kaget begitu Asisten Moon
menelponku dan bilang padaku kalau kau mendadak syok setelah menerima telepon
dan pergi meninggalkan butik begitu saja.”
Seulgi tertunduk, “Maafkan aku, Onnie.”
Namun Irene bisa memaklumi
keadaannya, “Aku sudah dengar beritanya
dari Joshua, Seulgi-ya.” nadanya merendah, “Janganlah terus bersedih, kita harus tetap berdoa.”
Air matanya jatuh. “Onnie, aku takut terjadi apa-apa
dengannya.”
“Seulgi,”
“Tidak ada yang tau Wonwoo di mana,
kan? Aku sangat mengkhawatirkannya, Onnie.”
suaranya makin kacau, “Aku tidak tau apakah dia baik-baik saja atau tidak...,
apakah dia terluka atau tidak..., apakah dia sadar atau tidak....
Onnie...
Ottokhaji...?”
Tetes demi tetes, mengiringi
ucapannya. Seulgi tersedu –lagi.
Irene menarik-ulur nafasnya
berulangkali, ia tak ingin Seulgi mendengarnya ikut menangis juga. “Seulgi-ya, dengarkan kata-kataku,”
katanya lembut, “berdoalah, berdoalah
untuknya. Kita tidak bisa apa-apa selain berdoa. Kau harus yakin dalam doamu.”
Seulgi mengangguk, meski Irene
takkan melihatnya.
“Ne,
Onnie.”
“Nanti sore aku akan ke sana bersama Joshua, oke? Jaga dirimu baik-baik,
dan teruslah berdoa.” ucap Irene.
***
Seulgi menyelimuti tubuh yang menua
itu dengan jaketnya, menggunakannya sebagai selimut untuk beliau. Dan ketika
Bohyuk kembali, mereka saling bertatapan.
“Omonim
kelelahan sepertinya.” jelas Seulgi.
Bohyuk pun menyisihkan sebotol
minuman itu untuk Ibunya, dan memberikan salah satunya untuk Seulgi.
Ini sudah tiga hari sejak berita
buruk itu terdengar. Pesawat naas itu hilang kontak setelah tiga puluh lima
menit lepas landas dari bandara. Dugaan sementara, pesawat itu kemungkinan
mendarat darurat atau jatuh di dataran Cina. Saat ini tim SAR Korea Selatan
yang bekerja sama dengan tim SAR Cina masih mencari keberadaan pesawat itu.
Sudah tiga hari pula keluarga para
korban kecelakaan itu bolak-balik ke Panic
Centre, sudah tiga hari pula mereka tak pernah berhenti berharap dan
memantau lewat berita di televisi. Tentu saja kecelakaan terburuk ini menyita
perhatian warga Korea Selatan.
Banyak pihak dan warga yang berdoa
bagi keselamatan para korban, sejumlah dukungan dikirimkan dalam berbagai
bentuk bagi para keluarga korban dan kru-kru yang bertugas mencari keberadaan
pesawat ini.
Dalam masa penantiannya, Seulgi tak
hentinya berdoa. Baginya, menunggu adalah kebiasaannya, dan bukan hal baru
baginya. Namun ia tak ingin menunggu selamanya, ia ingin yang ditunggunya segera
pulang.
Kehadiran pria berseragam itu sontak
membuat seisi ruangan terkesiap. Beliau membawa berita penting, di saat yang
bersamaan layar televisi menayangkan sebuah berita.
“Tim SAR berhasil menemukan serpihan
pesawat.” pengumuman itu langsung membuat sejumlah anggota keluarga histeris,
“Kami masih berusaha mendekat karena lokasi jatuhnya pesawat berada di daerah
pegunungan, di pelosok hutan di dataran Cina. Untuk sementara ini hanya itu
saja yang dapat kami sampaikan. Mohon ketabahannya.” ucap beliau, menutup
kesempatan para keluarga korban untuk menanyakan hal lebih lanjut.
“Ku mohon, selamatkan mereka!” seru
Ny. Jeon, Seulgi memintanya tenang. Tak ayal kedua wanita itu menangis.
Bohyuk, sebagai satu-satunya lelaki
di antara keduanya, hanya bisa menahan laranya dan menabahkan mereka. Itulah
kenapa ia bersikeras untuk tetap di sini.
“Ya Tuhan, putera sulungku.”
sendunya, “Aku mohon jangan Kau ambil dia. Jangan buatku kesepian lagi. Aku
mohon.”
Seulgi tak bisa menahan air matanya,
bersama Ny. Jeon dirinya ikut bersedih, ikut menangis. Di sini, hanya Bohyuk
yang tidak boleh menangis, dialah yang harus menegarkan keduanya.
***
“Yeobo,
bersiap-siaplah!” suara dari kamar.
Joshua justru melengos ke hadapan
televisi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Give me a minute.” ucapnya, jemarinya menekan tombol merah pada remote.
Televisi menyala, beberapa channel dilaluinya.
“Joshua Hong, ku suruh kau siap-siap!”
Irene tiba-tiba muncul dari dressing room-nya
dan berhenti di ambang pintu.
“And
you? Sudah siapkan makanan untuk Ibunya Wonwoo dan Seulgi?” Joshua belum
beralih dari layar televisi.
“Yeobo~..”
Namun perhatian Joshua tak bisa
teralihkan lagi tatkala televisi itu menyiarkan,
“..., dan berikut kabar terbarunya...
Pesawat Geum Hwa Airline, dengan nomor penerbangan MG707, yang
sebelumnya serpihannya berhasil ditemukan, kini telah berhasil dijangkau oleh
tim SAR.
Setelah melalui medan yang cukup terjal dan berbahaya, Tim SAR dan para
sukarelawan akhirnya berhasil mendekat ke lokasi. Tim SAR menemukan seluruh
badan pesawat yang terpecah menjadi beberapa bagian besar dan
serpihan-serpihannya, serta total 180 penumpang dan 10 kru pesawat yang
ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kecelakaan ini......,”
“Tuk,” Joshua hilang tenaga, remote yang digenggamnya jatuh dan
beradu dengan lantai kayu kamarnya.
Di ambang pintu sana, Irene mendekap
mulutnya rapat-rapat, tanpa sadar dirinya sudah sesenggukan dan menangis.
“Meninggal..., dunia...?” seketika Joshua
terhenyak.
“♪♫♪” Irene terloncat kaget begitu
ponselnya berdering di atas meja. Terpampang nama Kang Seulgi pada layar
ponselnya saat itu.
“Seulgi?!” dengan cepat Irene
menyambar ponselnya dan memastikan si penelpon baik-baik saja.
Tapi sepertinya tidak.
“Onnie,”
terdengar Seulgi menangis hebat, air mata Irene semakin mengalir deras
mendengar gadis itu hanya bisa menangis selama beberapa saat via telepon. “Onnie... Wonwoo, Onnie... Wonwoo...”
Irene berusaha tenang, “Seulgi,”
“Wonwoo..., dia…, dia tidak
selamat...,”
***
Paper
Plane
(Let’s Meet Again)
Part
I : Bad News
by
Near
retnonateriver.blogspot.com
***
Ayah...
Apakah ini yang Ayah rasakan
sebelumnya...?
“To..., long...”
Apakah..., Ayah bisa mendengarku...?
“Uhuk,”
Aku menemukan tubuhku tertelungkup
di atas tanah, aku melihat mereka tergolek tak bernyawa di sana sini, aku
mendapati burung besi itu terpecah belah dan berasap, menjadi seonggok
rongsokan yang mengenaskan.
“A..., yah...”
Sakit, sakit sekali rasanya. Tubuhku
remuk, darah mengalir deras di mana-mana, ngilu dan nyeri di sekujur tubuhku, aku
bahkan tak berdaya lagi untuk bergerak.
“Ibu...”
Ya, saat itu aku menangis. Aku
menangis. Sesungguhnya, aku ingin melawan takdir, tapi aku hanya manusia. Aku
tidak bisa apa-apa.
“Bohyuk...”
Aku berusaha memandang ke kaki dan
tanganku meski pipiku harus beradu dengan tanah. Aku melihat tangan kananku,
penuh darah dan penuh luka. Di sana, ada yang meregang nyawa, ada asap yang
mengepul, ada tangis dan derita, ada jerit dan lara, ada duka dan luka.
Aku, aku juga demikian menyedihkan.
Seragam yang ku impikan sejak kecil ini tak lagi nampak megah, tak lagi nampak
berwibawa nan gagah. Beberapa lencananya copot, ada bagian yang sobek habis
dicabik ranting, noda darah di mana-mana bercampur dengan deburan tanah yang
menempel.
Topi hitamku yang sama megahnya juga
tak bisa apa-apa di ujung sana, tergeletak begitu saja di atas tanah ―kotor,
tak lagi indah dipandang mata. Seketika dia menjadi benda yang tidak ada
apa-apanya. Emblem garuda emasnya juga ternodai tanah, tak terlihat
keindahannya.
Ayah..., apa ini takdirku...?
“Seul..., gi...”
Aku menangis, namun hanya air mata
yang bisa ku pancarkan. Sengal nafasku pertanda bahwa aku hanya makhluk lemah bak
setitik debu di antara kosmik yang luas.
Jadi di sini, di hutan belantara ini,
di antara kaki-kaki pegunungan ini, aku –tanpa berdaya— tertelungkup di atas
tanah. Aku bahkan kehilangan kendali tubuhku sendiri. Selama itu, aku merasa
ngilu. Selama itu, aku masih menangis.
Ibu, maafkan aku, maafkan puteramu
ini. Aku tau, belum banyak yang bisa ku berikan padamu, Ibu. Tetapi aku tidak
boleh menyesali bergulirnya waktu.
Bohyuk, adikku, kaulah yang Ibu
miliki satu-satunya ―setelah ini. Jadi ku mohon, jagalah Ibu, untukku, untuk
Ayah. Jadilah anak Ibu yang patuh, jangan nakal lagi, Bohyuk-ah. Kau harus
membuat Ibu lebih bangga daripada aku.
Seulgi-ku,
“Uhuk, uhuk!”
maafkan aku, tapi berhentilah
menungguku. Kali ini, aku takkan pulang, Seulgi. Aku tidak bisa kembali ke
pelukanmu yang lembut nan hangat. Maafkan aku yang membuat hibernasimu tak
berujung, Beruangku.
Maafkan aku, karena kita takkan bisa
bertemu di hari penting kita nanti.
Dengan nafas yang tersisa, ku raba
salah satu saku seragamku. Aku ingin meraih sesuatu di dalamnya, sesuatu yang
telah ku rencanakan secara matang, sesuatu yang ku kira akan menjadi takdirku.
Tapi aku mulai mati rasa, apa daya aku tidak sanggup menggapainya.
Jadi dua benda itu ku biarkan saja
berada di saku jasku –tanpa ku mampu meraihnya…
Aku meremas tanah, berusaha keras
untuk bangkit. Namun ―percuma― aku terjatuh lagi, “Uhuk,” darah meloncat dari
mulutku ―aku tidak sanggup lagi.
Sekilas, bayang-bayang masa laluku
melintas, seperti roll film yang
berputar dengan cepat. Seperti reka adegan yang Tuhan siapkan untukku.
Kelahiran Bohyuk yang ku sambut
dengan riang gembira. Ada juga adeganku berlari-larian di lapangan meninggalkan
Bohyuk sendirian lalu Ayah memarahiku. Aku ingat saat itu Bohyuk baru berusia
tiga tahun.
Kali pertama aku masuk SD, dan di
saat yang bersamaan Bohyuk masuk Playgroup.
Hari-hari yang ku lalui bersama teman-temanku. Saat aku dipanggil Bu Guru
karena aku kedapatan memukul teman. Astaga, waktu kecil aku nakal sekali.
Kelulusan SD, di mana kedua puluh
lima murid bernyanyi lagu perpisahan dengan sangat sendu. Pertama kali masuk
SMP dan pertama kalinya ikut tim Futsal. Keterkejutan Ayah dan Ibu ketika aku
membulatkan tekadku untuk menjadi pilot begitu dewasa nanti.
Aku menertawai Bohyuk yang dihukum
Ayah karena ulah nakalnya di SMP barunya, dan ujung-ujungnya kami bertengkar
―seperti biasa. Kesedihan Ibu di tengah kebahagiaanku yang menerima beasiswa di
salah satu sekolah tinggi penerbangan. Kami berkabung saat itu.
Kali pertamanya aku bisa duduk di cock-pit pesawat, meski hanya simulator.
Dan saat-saat yang menggelikan ketika aku tau Bohyuk sudah bisa jatuh cinta,
lucu sekali melihatnya begitu canggung di hadapan gadis yang ditaksirnya.
Ketika akhirnya aku bisa melihat Ibu
tersenyum lagi setelah sekian lama berkabung, saat itu aku memenangkan beberapa
perlombaan dan mendapatkan penghargaan. Saat aku akhirnya bisa menerbangkan
pesawat untuk pertama kalinya, aku sangat bangga dan bahagia.
Sebuah perusahaan penerbangan
merekrutku bahkan sebelum aku menamatkan pendidikanku. Mereka sudah menyiapkan
tempat untukku, betapa sebuah kebanggaan terbesar yang pernah ku raih.
Saat pertama kalinya aku harus
meninggalkan Ibu dan Bohyuk di Changwon dan berangkat ke Seoul untuk memulai
penerbangan pertamaku di perusahaan tempatku bekerja, saat itu aku baru saja
lulus akademi. Aku melihat senyuman Ibu yang ku rindukan terpancar untukku. Dan saat
itu, aku akur sekali dengan Bohyuk, dan dia berkata bahwa ia pasti akan
merindukan saat-saat kami bertengkar suatu hari nanti. Dan kami hanya tertawa.
Briefing pertamaku,
penerbangan pertamaku, kali pertama aku mengenakan seragam impianku, hal yang
takkan pernah ku lupa sampai kapanpun. Geum Hwa Airline adalah keluargaku, yang selalu menyambutku dengan tangan terbuka.
Di saat-saat aku rindu pada masakan
Ibu dan pertengkaranku dengan Bohyuk, setiap kali singgah di suatu negara dan
makan makanan yang enak, aku selalu merindukan mereka. Di saat itulah aku
merasakan home sick untuk pertama
kalinya.
Ketika aku mulai beranjak dewasa dan
lebih bisa memaklumi segala sesuatunya, jadwal penerbanganku mulai padat dan
aku mulai terbiasa. Bertemu banyak orang-orang asing di berbagai belahan dunia dan
belajar banyak hal dari mereka.
Dan saat yang takkan pernah ku
lupakan.
“Jeon Wonwoo.”
“Kang Seulgi.”
Aku bisa merasakan adegan itu begitu
nyata. Adegan di sebuah acara amal, di mana aku dan Seulgi bertemu untuk
pertama kalinya. Adegan yang tak pernah ku duga sebelumnya.
“Jadi, kau seorang pilot?”
“Kelihatannya?” senyumku, “Kau sendiri?”
“Aku seorang fashion
designer,” katanya, sedikit canggung, “Dressing
Bear.”
“Oh, aku tidak tau kalau kau yang membuat Dressing Bear.” kali ini aku yang canggung, “Maafkan aku, ya.”
“Tidak apa, aku juga masih baru, kok.”
Tanpa sadar aku tersenyum, namun
buliran air mataku terus berjatuhan. Tanganku bergerak seakan ingin menggapai
sosok indah itu. Seulgi, adegan itu begitu nyata di hadapanku.
“Hei, sedang apa kau di sini?” dia menyambutku dengan senyuman, “Sebelumnya
kita tak sengaja bertemu di bandara, di toko buku, di kedai pinggir jalan, dan
sekarang di butikku sendiri?” kata Seulgi.
Aku nyengir. “Kali ini bukan kesengajaan. Nunim,
aku ingin membelikan sesuatu untuk Ibuku sebagai hadiah ulangtahunnya.”
“Kau takkan minta diskon, kan?”
Aku tertawa mendengar candaannya. “Ayolah, Nunim. Bisa
kau pilihkan baju mana yang cocok untuk Ibuku? Beliau sosok yang dewasa dan
sederhana. Kalau bisa jangan yang terlalu complicated.”
“Tentu saja, selera Ibumu sama persis seperti Ibuku. Biar ku lihat,”
Hanya air mata yang ku ungkapkan,
“Seulgi...” isakku, menangis untuk pertama kalinya.
Suaramu, senyumanmu, tawamu,
candamu, sentuhanmu ―segala hal tentang dirimu― semuanya terasa sangat nyata.
Ketika aku menyapamu, ketika aku memeluk tubuhmu, ketika aku menggenggam
tanganmu, ketika aku mencium bibirmu, ketika aku mengusap rambutmu. Semua
kenangan itu, pahit manisnya, suka dukanya ―segalanya.
Kenapa terasa begitu nyata,
Seulgi...?
Seulgi, jika saja aku punya
kesempatan, aku pasti akan berpamitan padamu, aku pasti akan menyampaikan
betapa aku sangat mencintaimu. Tetapi, maafkan aku ―ini sudah jadi takdirku.
Aku ingin kembali pada saat-saat
itu. Pada adegan ketika kau menyambutku dengan aroma pancake memenuhi ruangan. Ketika bibirku membasuh bibirmu untuk
terakhir kalinya, dan ketika kau memberiku salammu yang terakhir kalinya.
“Selamat lepas landas, Kapten Jeon Wonwoo.”
“Seul..., gi...”
Maaf aku melanggar janjiku untuk
segera kembali. Maaf, aku tak bisa mengganti musim dinginmu ke musim semi. Seulgi,
maaf aku takkan pernah pulang. Kang Seulgi, maafkan aku...
Ketika aku berusaha bangun, tetap
saja aku terjatuh lagi. Nafasku semakin sempit, paru-paruku terhimpit, aku
semakin terjepit. Mungkin ini sudah waktunya, sudah waktunya, Jeon Won Woo!
Menyerahlah! Kau harus ‘pulang’!
Aku menangis, dan menangis. Betapa
besar kuasaNya dan aku tak bisa melawan. Berharap dalam hati, aku bisa
mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang berarti bagi hidupku, namun aku
tetap berakhir di sini ―di pelosok hutan di kaki gunung, terkapar tak berdaya
di atas tanah.
Tuhan, mohon ampuni aku.
Tuhan, mohon lindungi Ibu, Bohyuk,
dan Seulgi.
Dan jika memang saat inilah
waktunya, aku takkan pernah bisa melawan, aku hanya manusia, aku hanya makhluk
yang lemah di hadapanMu. Semua ini murni karena kehendakMu. Maka takkan ada
yang bisa ku lakukan selain kembali padaMu. Akan ku penuhi takdirku.
Tuhan, aku akan pulang.
***
to be continued
***
Gimana part pertamanya Paper Plane?
Ada yang baper gak, nih? Kalau gak ada, berarti Near gagal, dong. Huhu..
Maaf juga kalau ada kata-kata
yang kurang srek gitu ya dibacanya.. Mohon koreksiannya juga dari readers-nim sekalian.. Kalau masih ada yang bingung dengan part pertama ini, mungkin kalian belum
baca teaser-nya kali, ya? Monggo
mundur sejenak, biar tau cerita awalnya bagaimana.
Karena sudah cukup lama sejak Near ngerevisi FF ini, Near jadi baper sendiri bacanya --apalagi yang monolognya Wonwoo. Huhu, maklum aja, Near juga lagi ada masalah sama seseorang. Sedang galau-galaunya, gak nafsu makan sampai-sampai insomnia, kerja juga rasanya masih pengin nangis, serasa kaya gak punya semangat lagi..
Karena sudah cukup lama sejak Near ngerevisi FF ini, Near jadi baper sendiri bacanya --apalagi yang monolognya Wonwoo. Huhu, maklum aja, Near juga lagi ada masalah sama seseorang. Sedang galau-galaunya, gak nafsu makan sampai-sampai insomnia, kerja juga rasanya masih pengin nangis, serasa kaya gak punya semangat lagi..
Tapi Near, kan, sudah janji untuk ngeposting FF ini. Jadi, Near tetap bertanggungjawab untuk melanjutkan terbitnya FF yang sudah lama mengendap ini. Hehe..
Terima kasih banget sudah mau baca
dan komenin Paper Plane, apalagi
sampai ada yang suka sama ff ini dan couples di dalamnya.. Haha..
Kapan next chapter-nya bakal di posting??
Like Facebook Fanpage Near atau cari di kolom pencarian dengan mengetik 'nearestworld' untuk mengetahui schedule rilisnya "Paper Plane (Let's Meet Again)"
Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!
Like Facebook Fanpage Near atau cari di kolom pencarian dengan mengetik 'nearestworld' untuk mengetahui schedule rilisnya "Paper Plane (Let's Meet Again)"
Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!
Author
Near



