[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part I : Bad News

7:00 PM 0 Comments A+ a-

Paper Plane
(Lets Meet Again)
Part I : Bad News


Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
Other Cast : Irene, Joshua, etc...

Baca juga di

Wordpress Wattpad

[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^

| Teaser ver. |

Happy reading!



***

기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***



Pagi yang sibuk, hari yang sibuk. Dengan tatanan rambutnya yang mulai berantakan, sesekali digigitnya pensil itu karena habis sudah kedua tangannya yang saling sibuk bekerja. Belum lagi ponsel yang kadang dijepit telinga dan pundaknya, menunggu yang ditelepon menjawab panggilannya.

Seketika kepenatan pagi di ruangannya itu sirna. Morning voice itu mulai menghapus beban paginya, suara bass-nya menyambut.

“Hei,”

“Hei,” balas gadis itu, bahkan di tengah rumitnya tumpukan kertas di atas mejanya saat ini, dia masih bisa bergurau dengan lawan bicaranya.

Mwohae?

“Menggambar.” tanpa sadar, kurvanya merekah.

“Mm?” sahut suara bass di balik telepon, “Sibuk, huh?”

“Tidak,” gadis itu menjepit ponsel dengan pundaknya, “baru bangun tidur?”

“Hu-uh,”

“Dasar kukang.”

Ya~~

Gadis itu tertawa singkat. “Aku sudah menyelesaikan sketsa keenam, sekarang aku sedang mengerjakan yang ketujuh.”

“Kau terlalu bekerja keras untuk hari penting itu.”

“Jangan banyak bicara, kau yang harus memilih salah satu di antaranya ―turuti saja perkataanku.”

“Hei, Seulgi,”

“Ng?”

“Makan sianglah denganku, sebelum ku tinggalkan kau besok.”

“Memangnya kau sudah bangun dari tempat tidur?”

“Uh..., itu...,”

Seulgi tersenyum, “Ku hitung sampai lima. Satu..., dua..., tiga..., empat...,”

“Iya, iya, oke, bawel. Oke. Jangan tutup teleponnya.”

Terkikik gadis itu mendengarnya.

“Jangan lupa pakai bajumu.”

“Aku tidur dengan pakaian utuh semalam, Gom-ah.”

Keojitmal.

“Oke. Aku ketauan.”

***

“Sudah jadi resiko kekasihnya pilot ditinggal terbang.”

Wonwoo hampir tersedak siang itu gara-gara celetukan Seulgi. Baru saja ia lahap es krim green tea di hadapannya, Seulgi sudah membuatnya terhentak. Wonwoo tersenyum tipis.

Ya, kau ini kenapa, sih?” Seulgi menghapus noda hijaunya green tea pada bibir itu.

“Ucapanmu itu lucu.” dalih Wonwoo, lalu menyuapi gadis di hadapannya dengan es krimnya. “Kau pasti sering merasa kesepian karenaku.”

“Kalau boleh jujur, sih..., iya...” Seulgi mengerucutkan bibirnya, manis sekali ―Wonwoo menyukainya, “Tapi itu sudah jadi tuntutan.” dengan bibir itu, ditatapnya Wonwoo.

“Kasihan,” ditepuknya kepala Seulgi seenaknya.

“Masa cuma kasihan?” gadis itu makin mencondongkan bibirnya, kali ini seiringan dengan tangannya yang mulai menghancurkan menara es krimnya.

“Aku tau kau tidak akan menikung.”

“Itu sudah jelas ―dan pasti.” Seulgi melahap es krimnya.

Wonwoo menyeka helaian rambut Seulgi yang menutupi sebagian kecil wajahnya. “Kau kelihatannya bekerja keras hari ini.” katanya, khawatir, “Sisihkan dulu saja proyek ‘Tujuh Sketsa Pilihan’-mu itu, Seulgi. Oktober masih jauh, kau juga disibukkan dengan brand barumu.”

Seulgi tersenyum, “Bukan apa-apa.” katanya, “Kau sendiri? Apa belum dapat libur panjang?”

Wonwoo terkekeh. Ada kalanya Seulgi seperti anak kecil, ada kalanya Seulgi terlihat dewasa sesuai umurnya. Namun siang ini, Seulgi kelihatan manja seperti anak kecil. Hanya satu yang diinginkannya dari Wonwoo : waktu.

“Sabarlah, Teddy Bear. Hibernasimu akan segera usai.” Wonwoo menyantumkan helaian rambut itu pada telinga Seulgi.

“Benarkah?” Seulgi sumringah, pertanda apa yang diinginkannya akan segera terwujud. “Gidae.” gumamnya sambil menyendok es krimnya beberapa kali, hingga tanpa sadar ―sangking girangnya― es krim itu berceceran di sekitar mulutnya.

“Lihat siapa yang hari ini jadi anak kecil?” goda Wonwoo, Seulgi menatapnya.

Namun lelaki itu tak mengizinkannya menatap lebih lama. Wonwoo menyapu bersih noda itu –di bibir gadisnya—dengan mulutnya, Seulgi terkejut bukan main.

Seorang Jeon Won Woo yang pendiam tak biasanya seagresif ini padanya, apalagi ini kafe ―tempat umum lebih tepatnya. Wonwoo adalah tipe yang pasif, yang lebih senang melakukannya di tempat yang pribadi. Namun hari ini, lelaki itu berani-beraninya bangkit dari tempat duduknya dan dengan seenaknya menghapus noda es krim di sekitar mulut Seulgi dengan mulut dan lidahnya.

“Jangan kaget begitu,” tepis Wonwoo, begitu selesai melakukannya Seulgi menatapya canggung. “Gak suka, ya?”

Ani,” Seulgi memperbaiki penampilannya, “hanya..., kaget...”

“Tentu saja, kau pasti tau ―aku bukan tipe agresif seperti itu.” Wonwoo menatap gadisnya lekat-lekat seakan tak ingin kehilangan dia, “Tapi khusus untuk hari ini saja, aku ingin melakukannya.”

Seulgi paham, mungkin karena lelaki itu akan meninggalkannya lepas landas dari daratan makanya Wonwoo bertingkah laku seperti itu padanya. Dia bisa memakluminya.

“Jadi, kapan tepatnya kau libur panjang?”

“Hei, kita sudah bahas itu tadi,”

“Apa sebelum hari ulangtahunmu?”

“Seulgi,”

“Ayolah, Yeowoo-ya, aku tidak sabar lagi.”

***

Pagi itu terasa biasa saja. Cahaya mentari yang menyusup seenaknya ke dalam kamarnya, ini pasti ulahnya Seulgi. Harumnya aroma pancake yang menyeruak, mengundangnya untuk keluar dari kamar dan menyambut pagi, ini juga pasti ulahnya Seulgi. Dan ketika sampai di dapur, dia disambut pemandangan seorang gadis berambut panjang yang membelakanginya, pastilah dia Seulgi.

Semua terlihat seperti biasanya.

“Hei,” gadis itu tersenyum padanya.

Wonwoo langsung menyambar pinggangnya, cara khasnya berterimakasih pada gadis yang telah membangunkan tidurnya dengan caranya yang khas.

“Siap untuk hari ini?” tanya gadis itu, dilihatnya Wonwoo masih mengerjap-ngerjapkan mata, “Ayolah, bangun, Kukang.”

“Seulgi, please.” gerutu Wonwoo, “Dasar Beruang...” gumamnya.

Pagi masih pagi buta, belum banyak orang yang terbangun, salah satunya Wonwoo ―yang semalam kedapatan beraksi nakal. Pantas sajalah kalau dia belum sepenuhnya terbangun.

Diacaknya rambut Wonwoo itu asal, lelaki itu hanya mendengus.

Ya, Gom-ah,” gerutunya dengan morning voice.

“Suaramu parau sekali.” komplain Seulgi, setelah meletakan pancake di atas piring, ia segera mengambil segelas air untuk Wonwoo.

Ketika lelaki itu meneguknya, Seulgi menyiapkan sarapan di meja makan. Wonwoo pun bersiap duduk di kursinya.

“Kau serius memilih yang ketujuh dan yang ketujuh?” pertanyaan Seulgi disusul anggukan Wonwoo ―yang tidak sadar kalau rambutnya berdiri.

Wae?” tanya Wonwoo.

“Hanya memastikan,” Seulgi melahap pancake-nya, “kalau kau memang sudah yakin memilih keduanya, maka hari ini aku akan mulai mengerjakannya.”

Wonwoo tersenyum sambil mengunyah, “Kau sudah bekerja keras.” katanya.

Seulgi cuma nyengir. “Dihabiskan, ya, sarapannya. Perjalananmu hari ini panjang sekali, jangan sampai di tengah penerbangan kau malah kelaparan.” candanya.

Lelaki itu terkikik, “Jangan bergurau, Gom-ah.” katanya, Seulgi menertawainya.

***

Jemari manisnya merapatkan jas itu, menata dasi itu, dan merapikan lencana itu. Hampir setiap kali keberangkatannya, Seulgi akan melakukan hal yang sama padanya.

“Jam berapa pesawatnya berangkat?” tanya Seulgi.

“Masih lama, tapi aku harus berangkat lebih pagi untuk briefing.” ucap Wonwoo setelah mengecup bibir itu.

Seulgi mengenal betul siapa itu Jeon Wonwoo. Dia sosok lelaki yang penuh tanggung jawab dan tegas, dingin, irit senyum, irit bicara namun sebenarnya dia berhati lembut dan penyayang. Wonwoo adalah sosok teliti yang tidak pernah mengabaikan hal-hal sekecil apapun.

Pernah beberapa kali Seulgi bertemu rekan kerja Wonwoo, mereka mengakui bahwa Wonwoo adalah sosok yang patuh dan sangat teliti, padahal dia bukan senior, malah para senior belajar banyak hal darinya. Wonwoo sangat mementingkan SOP dan tidak pernah lari dari tanggung jawab. Dia adalah orang yang haus akan pengetahuan.

Dia beruntung mendapatkan Wonwoo.

“Kau yakin bisa menungguku?” tanya Wonwoo. Seperti biasa, sebelum berangkat Wonwoo selalu menatap gadis itu lekat-lekat. Dan mengucapkan kata-kata khasnya.

Seulgi tersenyum, memeluk tubuhnya sendiri yang dibaluti bathrobe. “Menunggu sudah menjadi kebiasaanku, sudah menjadi hal biasa.” senyumnya.

Wonwoo mengusap kepala Seulgi. “Maaf, aku selalu meninggalkanmu sendirian. Aku tau kau kesepian―”

“Dan kau tak perlu khawatir, karena aku selalu duduk manis menantimu.” tukas Seulgi kemudian, berhasil merekahkan senyum di wajah Wonwoo seiringan, sambil menyapu bibir gadis itu dengan jemarinya.

Karena kata-kata itu, Wonwoo kembali mencium bibir itu sebagai ucapan terima kasih. Wanita seperti Seulgi memang sosok yang sangat cuek pada laki-laki, namun ketika hatinya luluh dia akan menjadi pasangan yang sangat setia.

Dia beruntung mendapatkan Seulgi.

Gadis itu mengangkat tangan, mengacungkan kelima jemarinya di samping pelipis kanannya, memberi hormat pada kapten. Kelakuan Seulgi itu selalu mendapat cengiran dari Wonwoo, yang akan membalasnya dengan hormat yang sama.

“Selamat lepas landas, Kapten Jeon Wonwoo.” cengir Seulgi ―menggemaskan. “Semoga penerbanganmu menyenangkan.”

Wonwoo menyambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan di dahi. Dengan segera ia merebut topi khasnya dari atas meja dan menutupi kepalanya dengan itu.

“Aku akan segera kembali.” pamit Wonwoo.


***

Di ruangannya, seorang diri, Seulgi memulai gaun yang dia gambar di sketsa terakhirnya. Beberapa jahitan kecil dan lembaran kain disatukannya dengan mesin jahit. Ini belum apa-apa, namun dia sudah menghabiskan waktu sampai tengah hari.

Seulgi akhirnya menyelesaikan pola dasar dari gaunnya.

“Sudah jadi!” seru Seulgi, lalu menorehkan beberapa catatan dalam memo, yang kemudian ia rekatkan bersama gambar desain gaun ketujuh tersebut di mading khususnya ―sebagai pengingat.

Rasanya menyenangkan membayangkan bagaimana jadinya gaun itu nanti, bagaimana dirinya akan mengenakan gaun itu di hari penting mereka nanti. Seulgi tak bisa menahan kegirangannya sendiri.

Dengan riang, Seulgi melangkah ke ruang penjahitan. Dia harus melupakan kegiatannya sejenak dan beralih ke pekerjaannya sebagai seorang fashion designer. Di sana beberapa busananya sedang sibuk dikerjakan beberapa karyawannya.

“Karena pemesanan meningkat, jadi hari ini produksi harus ditambah lagi.” ucap seorang wanita berkacamata itu.

“Tidak ku sangka, Baby Bear akan laku keras juga.” tukas Seulgi.

“Banyak yang menyukai bahan dan desainnya.” ucap wanita itu, “Selain desainnya yang manis dan unik, bahan Baby Bear sangat cocok untuk kulit bayi dan balita yang sangat sensitif. Itulah mengapa banyak sekali yang menyukai brand baru kita ini.”

Seulgi tersenyum. “Bahan babyterry memang khas, dan memang dikhususkan bagi kulit anak-anak yang sensitif.” katanya, “Lalu bagaimana dengan Dressing―”



Dering ponselnya tak sengaja memotong ucapannya. Seulgi pun terpaksa menyela waktu demi menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya tersebut.

Yeoboseyo? Nuguseyo?”

“Oh, Omonim, apa kabar! Sudah lama tidak bertemu, apakah ini nomor barumu?” ucap Seulgi sambil tersenyum, ”Ini aku Seulgi, tapi aku sedang di butik, Omonim, Wonwoo sudah berangkat―”

Namun lengkungan manis itu tak bertahan lama di wajah cantiknya. Begitu mendengar suara wanita paruh baya itu menangis, Seulgi terhentak.

Omonim?” tanya Seulgi.

“Sayang, ku mohon jangan kau minta aku ulangi perkataanku ini, karena bahkan aku sendiri tidak mampu menerima faktanya, tapi..., puteraku...,”

Omonim,

“..., pesawat yang diterbangkannya..., mengalami kecelakaan...”

***

Tergopoh-gopoh dirinya menelusuri tiap lorong, dengan tergesa ia mencari tujuannya, dan tanpa sadar ia membanting pintu itu, membuat semua penghuni ruangan menatapnya lekat-lekat.

“Seulgi,” seorang wanita paruh baya mengenalinya, lalu bangkit dari kursi tunggu.

Pada para petugas, Seulgi berhambur dan menyeruak, “Di mana dia?!” tanyanya terburu-buru.

“Sabar, Nona,” ucap pria tegap tersebut.

“Apa kalian sudah mengetahui keberadaanya?! Jawab aku!!”

“Seulgi, tenanglah, Nak,” wanita itu memaksa Seulgi duduk sambil menahan perih di hatinya.

Gadis itu tak bisa apa-apa selain berdiri mematung. “Kami sedang berusaha melacak keberadaan pesawatnya, Nona. Kami sedang berusaha dengan sekuat tenaga.” ucap pria itu lagi, “Mohon pengertian dan kesabarannya.”

Mendapat jawaban yang tak sesuai harapan, Seulgi terduduk lemas di atas lantai, sementara wanita itu memeluknya iba dan menangis. Mereka berdua menangis, tersedu-sedu, hati mereka meluruh.

Sampailah seorang pemuda menghampiri mereka.



“Bu, ayolah, Bu,” pemuda itu meminta wanita itu, Ibunya, bangkit.

Di tempat ini, salah satu bagian dari bandara, semua keluarga yang salah satu atau beberapa anggotanya menumpangi pesawat naas itu berkumpul, menantikan informasi, dan berdoa bagi keluarga mereka yang mengalami kecelakaan. Termasuk Nyonya Jeon dan anak bungsunya ―juga Seulgi.

“Aku tidak mau, Bu.” sergah pemuda itu.

“Tapi kau harus kuliah, Bohyuk.” kata beliau.

“Lalu siapa yang akan menjaga Ibu?” Bohyuk tak mau mengalah.

“Aku akan menjaganya,” kata Seulgi.

“Tidak, aku yang akan menjaganya.” dan Bohyuk masih memaksakan diri. “Aku akan menemani Ibu di sini, juga Nunim. Aku tidak akan meninggalkan kalian.”

“Tapi―”

“Baiklah kalau maumu begitu.” ucap beliau sambil menahan sendu, pada putera bungsunya.

***

“Seulgi?”

Onnie,” meski parau, Seulgi berusaha membalas panggilan Irene dari ponselnya.

“Astaga, kau di mana?”

“Aku bersama Bohyuk dan Ibunya di Panic Centre di bandara.” paraunya.

“Syukurlah, kau rupanya di sana. Aku kaget begitu Asisten Moon menelponku dan bilang padaku kalau kau mendadak syok setelah menerima telepon dan pergi meninggalkan butik begitu saja.”

Seulgi tertunduk, “Maafkan aku, Onnie.

Namun Irene bisa memaklumi keadaannya, “Aku sudah dengar beritanya dari Joshua, Seulgi-ya.” nadanya merendah, “Janganlah terus bersedih, kita harus tetap berdoa.”

Air matanya jatuh. “Onnie, aku takut terjadi apa-apa dengannya.”

“Seulgi,”

“Tidak ada yang tau Wonwoo di mana, kan? Aku sangat mengkhawatirkannya, Onnie.” suaranya makin kacau, “Aku tidak tau apakah dia baik-baik saja atau tidak..., apakah dia terluka atau tidak..., apakah dia sadar atau tidak....

Onnie... Ottokhaji...?”

Tetes demi tetes, mengiringi ucapannya. Seulgi tersedu –lagi.

Irene menarik-ulur nafasnya berulangkali, ia tak ingin Seulgi mendengarnya ikut menangis juga. “Seulgi-ya, dengarkan kata-kataku,” katanya lembut, “berdoalah, berdoalah untuknya. Kita tidak bisa apa-apa selain berdoa. Kau harus yakin dalam doamu.”

Seulgi mengangguk, meski Irene takkan melihatnya.

Ne, Onnie.

“Nanti sore aku akan ke sana bersama Joshua, oke? Jaga dirimu baik-baik, dan teruslah berdoa.” ucap Irene.

***

Seulgi menyelimuti tubuh yang menua itu dengan jaketnya, menggunakannya sebagai selimut untuk beliau. Dan ketika Bohyuk kembali, mereka saling bertatapan.

Omonim kelelahan sepertinya.” jelas Seulgi.

Bohyuk pun menyisihkan sebotol minuman itu untuk Ibunya, dan memberikan salah satunya untuk Seulgi.

Ini sudah tiga hari sejak berita buruk itu terdengar. Pesawat naas itu hilang kontak setelah tiga puluh lima menit lepas landas dari bandara. Dugaan sementara, pesawat itu kemungkinan mendarat darurat atau jatuh di dataran Cina. Saat ini tim SAR Korea Selatan yang bekerja sama dengan tim SAR Cina masih mencari keberadaan pesawat itu.

Sudah tiga hari pula keluarga para korban kecelakaan itu bolak-balik ke Panic Centre, sudah tiga hari pula mereka tak pernah berhenti berharap dan memantau lewat berita di televisi. Tentu saja kecelakaan terburuk ini menyita perhatian warga Korea Selatan.

Banyak pihak dan warga yang berdoa bagi keselamatan para korban, sejumlah dukungan dikirimkan dalam berbagai bentuk bagi para keluarga korban dan kru-kru yang bertugas mencari keberadaan pesawat ini.

Dalam masa penantiannya, Seulgi tak hentinya berdoa. Baginya, menunggu adalah kebiasaannya, dan bukan hal baru baginya. Namun ia tak ingin menunggu selamanya, ia ingin yang ditunggunya segera pulang.

Kehadiran pria berseragam itu sontak membuat seisi ruangan terkesiap. Beliau membawa berita penting, di saat yang bersamaan layar televisi menayangkan sebuah berita.

“Tim SAR berhasil menemukan serpihan pesawat.” pengumuman itu langsung membuat sejumlah anggota keluarga histeris, “Kami masih berusaha mendekat karena lokasi jatuhnya pesawat berada di daerah pegunungan, di pelosok hutan di dataran Cina. Untuk sementara ini hanya itu saja yang dapat kami sampaikan. Mohon ketabahannya.” ucap beliau, menutup kesempatan para keluarga korban untuk menanyakan hal lebih lanjut.

“Ku mohon, selamatkan mereka!” seru Ny. Jeon, Seulgi memintanya tenang. Tak ayal kedua wanita itu menangis.

Bohyuk, sebagai satu-satunya lelaki di antara keduanya, hanya bisa menahan laranya dan menabahkan mereka. Itulah kenapa ia bersikeras untuk tetap di sini.

“Ya Tuhan, putera sulungku.” sendunya, “Aku mohon jangan Kau ambil dia. Jangan buatku kesepian lagi. Aku mohon.”

Seulgi tak bisa menahan air matanya, bersama Ny. Jeon dirinya ikut bersedih, ikut menangis. Di sini, hanya Bohyuk yang tidak boleh menangis, dialah yang harus menegarkan keduanya.

***

Yeobo, bersiap-siaplah!” suara dari kamar.

Joshua justru melengos ke hadapan televisi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Give me a minute.” ucapnya, jemarinya menekan tombol merah pada remote.

Televisi menyala, beberapa channel dilaluinya.

“Joshua Hong, ku suruh kau siap-siap!” Irene tiba-tiba muncul dari dressing room-nya dan berhenti di ambang pintu.

And you? Sudah siapkan makanan untuk Ibunya Wonwoo dan Seulgi?” Joshua belum beralih dari layar televisi.

Yeobo~..”

Namun perhatian Joshua tak bisa teralihkan lagi tatkala televisi itu menyiarkan,

“..., dan berikut kabar terbarunya...

Pesawat Geum Hwa Airline, dengan nomor penerbangan MG707, yang sebelumnya serpihannya berhasil ditemukan, kini telah berhasil dijangkau oleh tim SAR.

Setelah melalui medan yang cukup terjal dan berbahaya, Tim SAR dan para sukarelawan akhirnya berhasil mendekat ke lokasi. Tim SAR menemukan seluruh badan pesawat yang terpecah menjadi beberapa bagian besar dan serpihan-serpihannya, serta total 180 penumpang dan 10 kru pesawat yang ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Kecelakaan ini......,”

“Tuk,” Joshua hilang tenaga, remote yang digenggamnya jatuh dan beradu dengan lantai kayu kamarnya.

Di ambang pintu sana, Irene mendekap mulutnya rapat-rapat, tanpa sadar dirinya sudah sesenggukan dan menangis.

“Meninggal..., dunia...?” seketika Joshua terhenyak.

♪♫♪” Irene terloncat kaget begitu ponselnya berdering di atas meja. Terpampang nama Kang Seulgi pada layar ponselnya saat itu.

“Seulgi?!” dengan cepat Irene menyambar ponselnya dan memastikan si penelpon baik-baik saja.

Tapi sepertinya tidak.

Onnie,” terdengar Seulgi menangis hebat, air mata Irene semakin mengalir deras mendengar gadis itu hanya bisa menangis selama beberapa saat via telepon. “Onnie... Wonwoo, Onnie... Wonwoo...”

Irene berusaha tenang, “Seulgi,”

“Wonwoo..., dia…, dia tidak selamat...,”

***

Paper Plane
(Lets Meet Again)
Part I : Bad News

by Near
retnonateriver.blogspot.com

***

Ayah...

Apakah ini yang Ayah rasakan sebelumnya...?

“To..., long...”

Apakah..., Ayah bisa mendengarku...?

“Uhuk,”

Aku menemukan tubuhku tertelungkup di atas tanah, aku melihat mereka tergolek tak bernyawa di sana sini, aku mendapati burung besi itu terpecah belah dan berasap, menjadi seonggok rongsokan yang mengenaskan.

“A..., yah...”

Sakit, sakit sekali rasanya. Tubuhku remuk, darah mengalir deras di mana-mana, ngilu dan nyeri di sekujur tubuhku, aku bahkan tak berdaya lagi untuk bergerak.

“Ibu...”

Ya, saat itu aku menangis. Aku menangis. Sesungguhnya, aku ingin melawan takdir, tapi aku hanya manusia. Aku tidak bisa apa-apa.

“Bohyuk...”

Aku berusaha memandang ke kaki dan tanganku meski pipiku harus beradu dengan tanah. Aku melihat tangan kananku, penuh darah dan penuh luka. Di sana, ada yang meregang nyawa, ada asap yang mengepul, ada tangis dan derita, ada jerit dan lara, ada duka dan luka.

Aku, aku juga demikian menyedihkan. Seragam yang ku impikan sejak kecil ini tak lagi nampak megah, tak lagi nampak berwibawa nan gagah. Beberapa lencananya copot, ada bagian yang sobek habis dicabik ranting, noda darah di mana-mana bercampur dengan deburan tanah yang menempel.

Topi hitamku yang sama megahnya juga tak bisa apa-apa di ujung sana, tergeletak begitu saja di atas tanah ―kotor, tak lagi indah dipandang mata. Seketika dia menjadi benda yang tidak ada apa-apanya. Emblem garuda emasnya juga ternodai tanah, tak terlihat keindahannya.

Ayah..., apa ini takdirku...?

“Seul..., gi...”

Aku menangis, namun hanya air mata yang bisa ku pancarkan. Sengal nafasku pertanda bahwa aku hanya makhluk lemah bak setitik debu di antara kosmik yang luas.

Jadi di sini, di hutan belantara ini, di antara kaki-kaki pegunungan ini, aku –tanpa berdaya— tertelungkup di atas tanah. Aku bahkan kehilangan kendali tubuhku sendiri. Selama itu, aku merasa ngilu. Selama itu, aku masih menangis.

Ibu, maafkan aku, maafkan puteramu ini. Aku tau, belum banyak yang bisa ku berikan padamu, Ibu. Tetapi aku tidak boleh menyesali bergulirnya waktu.

Bohyuk, adikku, kaulah yang Ibu miliki satu-satunya ―setelah ini. Jadi ku mohon, jagalah Ibu, untukku, untuk Ayah. Jadilah anak Ibu yang patuh, jangan nakal lagi, Bohyuk-ah. Kau harus membuat Ibu lebih bangga daripada aku.

Seulgi-ku,

“Uhuk, uhuk!”

maafkan aku, tapi berhentilah menungguku. Kali ini, aku takkan pulang, Seulgi. Aku tidak bisa kembali ke pelukanmu yang lembut nan hangat. Maafkan aku yang membuat hibernasimu tak berujung, Beruangku.

Maafkan aku, karena kita takkan bisa bertemu di hari penting kita nanti.

Dengan nafas yang tersisa, ku raba salah satu saku seragamku. Aku ingin meraih sesuatu di dalamnya, sesuatu yang telah ku rencanakan secara matang, sesuatu yang ku kira akan menjadi takdirku. Tapi aku mulai mati rasa, apa daya aku tidak sanggup menggapainya.

Jadi dua benda itu ku biarkan saja berada di saku jasku –tanpa ku mampu meraihnya…

Aku meremas tanah, berusaha keras untuk bangkit. Namun ―percuma― aku terjatuh lagi, “Uhuk,” darah meloncat dari mulutku ―aku tidak sanggup lagi.

Sekilas, bayang-bayang masa laluku melintas, seperti roll film yang berputar dengan cepat. Seperti reka adegan yang Tuhan siapkan untukku.

Kelahiran Bohyuk yang ku sambut dengan riang gembira. Ada juga adeganku berlari-larian di lapangan meninggalkan Bohyuk sendirian lalu Ayah memarahiku. Aku ingat saat itu Bohyuk baru berusia tiga tahun.

Kali pertama aku masuk SD, dan di saat yang bersamaan Bohyuk masuk Playgroup. Hari-hari yang ku lalui bersama teman-temanku. Saat aku dipanggil Bu Guru karena aku kedapatan memukul teman. Astaga, waktu kecil aku nakal sekali.

Kelulusan SD, di mana kedua puluh lima murid bernyanyi lagu perpisahan dengan sangat sendu. Pertama kali masuk SMP dan pertama kalinya ikut tim Futsal. Keterkejutan Ayah dan Ibu ketika aku membulatkan tekadku untuk menjadi pilot begitu dewasa nanti.

Aku menertawai Bohyuk yang dihukum Ayah karena ulah nakalnya di SMP barunya, dan ujung-ujungnya kami bertengkar ―seperti biasa. Kesedihan Ibu di tengah kebahagiaanku yang menerima beasiswa di salah satu sekolah tinggi penerbangan. Kami berkabung saat itu.

Kali pertamanya aku bisa duduk di cock-pit pesawat, meski hanya simulator. Dan saat-saat yang menggelikan ketika aku tau Bohyuk sudah bisa jatuh cinta, lucu sekali melihatnya begitu canggung di hadapan gadis yang ditaksirnya.

Ketika akhirnya aku bisa melihat Ibu tersenyum lagi setelah sekian lama berkabung, saat itu aku memenangkan beberapa perlombaan dan mendapatkan penghargaan. Saat aku akhirnya bisa menerbangkan pesawat untuk pertama kalinya, aku sangat bangga dan bahagia.

Sebuah perusahaan penerbangan merekrutku bahkan sebelum aku menamatkan pendidikanku. Mereka sudah menyiapkan tempat untukku, betapa sebuah kebanggaan terbesar yang pernah ku raih.

Saat pertama kalinya aku harus meninggalkan Ibu dan Bohyuk di Changwon dan berangkat ke Seoul untuk memulai penerbangan pertamaku di perusahaan tempatku bekerja, saat itu aku baru saja lulus akademi. Aku melihat senyuman Ibu yang ku rindukan terpancar untukku. Dan saat itu, aku akur sekali dengan Bohyuk, dan dia berkata bahwa ia pasti akan merindukan saat-saat kami bertengkar suatu hari nanti. Dan kami hanya tertawa.

Briefing pertamaku, penerbangan pertamaku, kali pertama aku mengenakan seragam impianku, hal yang takkan pernah ku lupa sampai kapanpun. Geum Hwa Airline adalah keluargaku, yang selalu menyambutku dengan tangan terbuka.

Di saat-saat aku rindu pada masakan Ibu dan pertengkaranku dengan Bohyuk, setiap kali singgah di suatu negara dan makan makanan yang enak, aku selalu merindukan mereka. Di saat itulah aku merasakan home sick untuk pertama kalinya.

Ketika aku mulai beranjak dewasa dan lebih bisa memaklumi segala sesuatunya, jadwal penerbanganku mulai padat dan aku mulai terbiasa. Bertemu banyak orang-orang asing di berbagai belahan dunia dan belajar banyak hal dari mereka.

Dan saat yang takkan pernah ku lupakan.

“Jeon Wonwoo.”

“Kang Seulgi.”

Aku bisa merasakan adegan itu begitu nyata. Adegan di sebuah acara amal, di mana aku dan Seulgi bertemu untuk pertama kalinya. Adegan yang tak pernah ku duga sebelumnya.

“Jadi, kau seorang pilot?”

“Kelihatannya?” senyumku, “Kau sendiri?”

“Aku seorang fashion designer,” katanya, sedikit canggung, “Dressing Bear.

“Oh, aku tidak tau kalau kau yang membuat Dressing Bear.” kali ini aku yang canggung, “Maafkan aku, ya.”

“Tidak apa, aku juga masih baru, kok.”

Tanpa sadar aku tersenyum, namun buliran air mataku terus berjatuhan. Tanganku bergerak seakan ingin menggapai sosok indah itu. Seulgi, adegan itu begitu nyata di hadapanku.

“Hei, sedang apa kau di sini?” dia menyambutku dengan senyuman, “Sebelumnya kita tak sengaja bertemu di bandara, di toko buku, di kedai pinggir jalan, dan sekarang di butikku sendiri?” kata Seulgi.

Aku nyengir. “Kali ini bukan kesengajaan. Nunim, aku ingin membelikan sesuatu untuk Ibuku sebagai hadiah ulangtahunnya.”

“Kau takkan minta diskon, kan?”

Aku tertawa mendengar candaannya. “Ayolah, Nunim. Bisa kau pilihkan baju mana yang cocok untuk Ibuku? Beliau sosok yang dewasa dan sederhana. Kalau bisa jangan yang terlalu complicated.

“Tentu saja, selera Ibumu sama persis seperti Ibuku. Biar ku lihat,”

Hanya air mata yang ku ungkapkan, “Seulgi...” isakku, menangis untuk pertama kalinya.

Suaramu, senyumanmu, tawamu, candamu, sentuhanmu ―segala hal tentang dirimu― semuanya terasa sangat nyata. Ketika aku menyapamu, ketika aku memeluk tubuhmu, ketika aku menggenggam tanganmu, ketika aku mencium bibirmu, ketika aku mengusap rambutmu. Semua kenangan itu, pahit manisnya, suka dukanya ―segalanya.

Kenapa terasa begitu nyata, Seulgi...?

Seulgi, jika saja aku punya kesempatan, aku pasti akan berpamitan padamu, aku pasti akan menyampaikan betapa aku sangat mencintaimu. Tetapi, maafkan aku ―ini sudah jadi takdirku.

Aku ingin kembali pada saat-saat itu. Pada adegan ketika kau menyambutku dengan aroma pancake memenuhi ruangan. Ketika bibirku membasuh bibirmu untuk terakhir kalinya, dan ketika kau memberiku salammu yang terakhir kalinya.

“Selamat lepas landas, Kapten Jeon Wonwoo.”

“Seul..., gi...”

Maaf aku melanggar janjiku untuk segera kembali. Maaf, aku tak bisa mengganti musim dinginmu ke musim semi. Seulgi, maaf aku takkan pernah pulang. Kang Seulgi, maafkan aku...

Ketika aku berusaha bangun, tetap saja aku terjatuh lagi. Nafasku semakin sempit, paru-paruku terhimpit, aku semakin terjepit. Mungkin ini sudah waktunya, sudah waktunya, Jeon Won Woo! Menyerahlah! Kau harus ‘pulang’!

Aku menangis, dan menangis. Betapa besar kuasaNya dan aku tak bisa melawan. Berharap dalam hati, aku bisa mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang berarti bagi hidupku, namun aku tetap berakhir di sini ―di pelosok hutan di kaki gunung, terkapar tak berdaya di atas tanah.

Tuhan, mohon ampuni aku.

Tuhan, mohon lindungi Ibu, Bohyuk, dan Seulgi.

Dan jika memang saat inilah waktunya, aku takkan pernah bisa melawan, aku hanya manusia, aku hanya makhluk yang lemah di hadapanMu. Semua ini murni karena kehendakMu. Maka takkan ada yang bisa ku lakukan selain kembali padaMu. Akan ku penuhi takdirku.

Tuhan, aku akan pulang.

***

to be continued

***

Gimana part pertamanya Paper Plane? Ada yang baper gak, nih? Kalau gak ada, berarti Near gagal, dong. Huhu..

Maaf juga kalau ada kata-kata yang kurang srek gitu ya dibacanya.. Mohon koreksiannya juga dari readers-nim sekalian.. Kalau masih ada yang bingung dengan part pertama ini, mungkin kalian belum baca teaser-nya kali, ya? Monggo mundur sejenak, biar tau cerita awalnya bagaimana.

Karena sudah cukup lama sejak Near ngerevisi FF ini, Near jadi baper sendiri bacanya --apalagi yang monolognya Wonwoo. Huhu, maklum aja, Near juga lagi ada masalah sama seseorang. Sedang galau-galaunya, gak nafsu makan sampai-sampai insomnia, kerja juga rasanya masih pengin nangis, serasa kaya gak punya semangat lagi..

Tapi Near, kan, sudah janji untuk ngeposting FF ini. Jadi, Near tetap bertanggungjawab untuk melanjutkan terbitnya FF yang sudah lama mengendap ini. Hehe..

Terima kasih banget sudah mau baca dan komenin Paper Plane, apalagi sampai ada yang suka sama ff ini dan couples di dalamnya.. Haha..

Kapan next chapter-nya bakal di posting??

Like Facebook Fanpage Near atau cari di kolom pencarian dengan mengetik 'nearestworld' untuk mengetahui schedule rilisnya "Paper Plane (Let's Meet Again)"

Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!
Author


Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^