[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part IV : One of these Nights
Paper Plane
(Let’s Meet Again)
Part IV : One of these Nights
Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.
***
Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^
Happy reading!
***
“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)
“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”
***
Seulgi mengangkat nomor internasional itu, “Hello?”
“Gom-ah.” suara yang dirindukannya.
“Wonwoo?” dan Seulgi mengenalinya.
“Hei, um, jam berapa ya di sana?” mula-mulanya dia, Wonwoo, berujar,
“Sayang, apa kau sedang menungguku di sana? Di bandara? Aku sedang di New York,
dan sekarang sudah tengah malam.”
“Wonwoo,”
“Sayang, maaf aku belum bisa pulang hari ini. Pulanglah terlebih dahulu,
nanti ku kabari jika―”
“Wonwoo, kau lagi jet lag?”
“Uh?”
“Suaramu aneh ―apa kau kena jet lag?”
“Tidak, tidak.” Wonwoo segera menyangkal, “I’m fine, gwaenchaneunde ―jeongmal. Aku hanya―”
“Sayang, tapi suaramu parau sekali.”
Terdengar Wonwoo mendesah, nafasnya berhembus dengan beratnya. “Ok, sorry.” ralatnya, “Ya, aku kena jet lag. Beberapa rekanku juga. Untungnya kami masih punya waktu sedikit untuk
istirahat ―seharusnya kami bisa kembali ke Korea dan sampai di sana hari ini
juga. Jadi kami tidak buru-buru mengejar jam terbang dan kembali ke bandara
Incheon.”
“Oh.” Seulgi tak bisa apa-apa, selain bergumam saja.
“Sayang, maaf, aku membuatmu harus menunggu lebih lama lagi.” Wonwoo
kembali menyesal.
“Tidak, kesehatan kalian terpenting.” hibur Seulgi, yang tanpa sadar
memelintir tali tasnya, “Istirahatlah ―aku akan selalu menunggumu.”
“Seulgi?”
“Mm?”
“Mianhada.”
“Mianeul
hajima.” kata Seulgi. Lalu dia berucap
lagi dengan nada yang lebih ceria, “Wonwoo, aku menyayangimu!”
Kedengarannya Wonwoo terkekeh, “Gom-ah~..”
“Serius! Aku menyayangimu!”
“Mengaku sajalah ―kau mau aku bilang apa?”
“Wonwoo~~..” dan Wonwoo kembali tertawa mendengar aegyo sori-nya.
“Baiklah, aku akan mengatakannya.” ucap Wonwoo akhirnya, “Kang Seulgi, aku
juga menyayangimu.”
“Ah~...” Seulgi bersuara seperti tersipu.
Wonwoo hanya terkekeh, membayangkan bagaimana wajah manis Seulgi yang
bersemu merah ditambah aegyo-nya yang lucu ―pasti sangat
menggemaskan!
“Sudahlah, katanya kau kena jet lag?
Istirahat sana!” Seulgi berusaha mengakhiri obrolan.
“Serius? Kau tidak ingin berbicara denganku lebih lama?” goda Wonwoo.
“Ah, Yeowoo-ya!”
Wonwoo terkekeh lagi. “Mm. Kau juga ―istirahatlah, jangan menungguku
terus di sana. Duduk terlalu lama juga capek, kan?” tanpa Wonwoo ketahui,
Seulgi mengerucutkan bibirnya ―kecewa tertahan, “Jaga pola makanmu, ya. Jangan
terlalu paksakan bekerja, nanti kau kelelahan. Ingat, kau juga butuh
istirahat.
Dan terlebih lagi, jangan nakal, ya, Gom-ah.”
Bibir yang mengerucut itu perlahan tertarik ke samping kanan dan kiri,
membentuk kurva manis dan mengundang warna merah muda bersemu di kedua pipinya.
“Iya, Yeowoo-ya.” jawab Seulgi.
“Anak pintar.” nada bass yang Seulgi rindukan itu.
“Pulang, ya.”
“Iya.”
“Jal ga.”
“Mm. Kau juga, jal ja.”
***
[Seulgi POV]
Aku, sambil terduduk sendirian di
salah satu kursi kesayanganku di bandara Incheon, termangu sambil memainkan body ponselku ―seakan-akan menunggu
seseorang menghubunginya.
Setiap bulan, kira-kira di tanggal
ke tujuhnya, aku selalu duduk di sini sejak matahari terbenam selama beberapa
jam. Seperti sebuah ritual yang ku lakukan selama bertahun-tahun, aku menunggu
Wonwoo pulang mengudara di sini.
Ya, menunggu Wonwoo pulang.
Kenyataan pahitnya, sekarang Wonwoo takkan pernah pulang. Setahun yang lalu, Wonwoo meninggalkanku, meninggalkan orang-orang yang mencintainya, untuk selama-lamanya. Dan, ya, tentu saja Wonwoo takkan pernah kembali.
Bodoh, aku mungkin memang beruang
bodoh. Meski dasarnya menyadari kenyataan itu, aku masih saja menunggu Wonwoo
di sini ―seakan dia masih hidup. Yang ku inginkan hanyalah musim semiku
kembali, dan mengakhiri hibernasiku di musim dingin.
Tapi musim semiku, takkan pernah
datang ―lagi.
Masa menunggunya, seperti hibernasi
seekor beruang di musim dingin. Menantinya, seakan menanti musim semi
menghangatkan tubuhku dan membangunkanku. Aku adalah beruang yang sedang
hibernasi itu, dan Wonwoo adalah musim semi yang ku tunggu.
Tapi kini, musim dinginku abadi.
Aku mengangkat kepalaku, memandangi
orang-orang yang sibuk lalu-lalang di bandara sejak senja meninggalkan langit.
Kembali aku tertunduk lemah dan memandangi ponselku yang tetap tak bergeming.
Entah aku ini bodoh atau gila, aku
masih saja menunggu Wonwoo dan seperti menganggapnya masih hidup. Jujur saja : I’m missing him like crazy.
Kenangan ketika aku lelah
menunggunya di kursiku di bandara lalu Wonwoo menelponku untuk mengabariku,
selalu terulang-ulang setiap kali aku menungunya di sini sejak kepergiannya ke
surga. Ingatan itu selalu membuatku terduduk di sini berlama-lama, seperti
menunggu Wonwoo menelponku dan mengabariku.
Tapi, Kang Seulgi, itu takkan pernah
terjadi lagi!
“Let
her, Sweety,”
“Sudah ku peringatkan kau berapa
kali, Kang Seulgi?!”
Segera aku menoleh ke belakang
ketika ku dengar dua suara yang tak asing di telingaku. Hadirlah Irene Onnie dan Joshua di sana, mereka datang
menghampiriku.
Onnie kelihatannya
geram.
“Berhenti mendatangi bandara dan
menunggu di sini!” semprot Onnie begitu
saja.
“Sweety,”
Joshua berusaha menggenggam tangannya, namun Onnie lantas mengibasnya.
Onnie pun
melanjutkan, “Sampai kapan kau akan menunggunya di sini, Seulgi?! Sampai
kapan?!” tegasnya, “Sampai dia kembali?! Sampai dia pulang?! Tidak mungkin!!”
Dengan bibir tertutup rapat, aku
hanya memandangi Onnie. Karena
bagiku, menunggu hanyalah hal yang sederhana.
“Jangan begitu, ajak saja dia
pulang.” ku dengar Joshua berbisik di telinganya.
Namun Irene Onnie sudah terlalu lelah melihatku seperti orang sakit. “Geuman, Seulgi-ya. Wonwoo..., Wonwoo itu...,”
dia kelihatannya ragu melanjutkan.
“Wonwoo sudah meninggal...”
Terasa pedih di mataku ketika ku
dengar kata terakhir yang terlontar dari bibirnya. Tapi Onnie benar, Wonwoo memang sudah meninggal setahun yang lalu karena
kecelakaan tragis itu. Dan Onnie jauh
lebih benar lagi tentang kembalinya Wonwoo yang mustahil terjadi.
Tapi aku tak bisa menghentikan
kebiasaanku ini hanya karena kaptenku telah berpulang ke pangkuan Tuhan. Karena
bagiku, menunggu adalah sebuah hal sepele, hal sederhana yang biasa ku lakukan.
Ketika akhirnya melihat air mataku
jatuh, Onnie menarik tanganku lembut,
“Ayo kita pulang, Seulgi. Di luar dingin.” bujuk Onnie, kali ini dengan nada khasnya yang melembut.
Sepasang mataku terus menatap netra
Irene Onnie, dan setelah semenit
mematung aku pun akhirnya bangkit jua. Aku bangun dari kursiku, dari
penantianku, dari mimpiku.
‘Ayo kita pulang’
Tuhan, tak bisakah ku dengar
suaranya mengatakan itu, bahkan sekali saja?
Ku mohon, sekali saja.
***
Air mataku menetes, deras sekali. Pasalnya ini sudah lewat setengah jam,
dan Wonwoo belum juga datang. Dia bilang, dia butuh waktu setengah jam untuk
membereskan ini-itunya sebelum datang menemuiku yang sedang menunggunya.
Tapi apa?! Kenyataanya, aku sudah menunggu dua jam!
“Shireo.” desisku, “Shireo!”
Ponsel ku genggam erat-erat, mengutarakan kekesalanku pada benda mati
itu. Setidaknya, hubungi aku, kek, atau gimana, kek. Kabari aku kalau dia tidak
bisa janji setengah jam! Wonwoo, kau menyebalkan!
Hari ini adalah hari yang melelahkan!
Tadi pagi, aku bertemu klienku yang cerewet. Sudah minta
ini-itu, dia malah membatalkan orderan dress-nya
yang terbilang paling rumit.
Siangnya, karena dia, aku terlambat menghadiri seminar di daerah
Apgujeong, cukup jauh dari butikku. Padahal ada banyak sekali pengusaha yang
berminat dengan Dressing Bear-ku! Karena terlambat, image-ku jadi buruk di depan mereka.
Kemudian di sore hari, aku lapar sekali setelah seharian berpacu dengan
waktu. Buru-buru aku berangkat ke kedai Sun-yeon Ahjuma,
langgananku. Setelah sempat tergesa, begitu sampai rupanya kedai Ahjuma sedang libur! Aargh!
Tak mau sampai terlambat, sesuai yang Wonwoo katakan, aku pun menunggu kepulangannya
di bandara Incheon begitu matahari terbenam. Dan aku di sini, menunggunya di
kursi kesayanganku, menunggu selama setengah jam persis seperti yang Wonwoo
katakan.
Awalnya ku pikir, kehadiran Wonwoo akan membuat mood-ku jauh lebih baik. Kenyataanya? Justru bertambah buruk!
Bukan semenit dua menit, tapi Wonwoo mengingkari janjinya : dia
terlambat satu setengah jam! Dia membuat mood-ku
bertambah jelek saja. Apalagi perutku masih kosong karena kedai Sun-yeon Ahjuma libur. Tentu saja aku jadi cukup sensitif.
Lelah dengan hari ini, lelah dengan tingkahnya Wonwoo, dan lelah karena
kelamaan menunggu, membuat air mataku akhirnya meluncur begitu saja, mengalir
dan membanjiri pipiku. Aku lelah! Benar-benar lelah hari ini!
Setidaknya, bisakah Wonwoo mengerti perasaanku sedikit saja?
Istilahnya ngambek, aku bangkit setelah menghapus air mataku. Tak mau
terlihat seperti habis menangis di depan publik, aku pun mengenakan topi dan
berjalan sedikit menunduk meninggalkan bangku kesayanganku di bandara Incheon.
“♫♪♫” ponselku berdering. Siapa itu?
Setelah ku lirik, rupanya Wonwoo menelponku. Kelewat sebal, aku tak
berniat menjawabnya. Namun Wonwoo tak menyerah dan menelponku berulangkali.
Mungkin kasihan, jadi aku menjawabnya.
“Sayang,” begitulah caranya merayu, Wonwoo bukan tipe laki-laki yang
bermulut manis, “kau masih menungguku, ya?”
Kalau tau, kenapa nanya? Sebalku.
Tapi aku tidak menjawab.
“Gom-ah, kau di sana? Gom-ah?” Wonwoo tak mendapat jawabanku. Kemudian
dia tersadar, aku marah padanya. “Gom-ah, mianhada.
Aku tau aku mengingkari janjiku, maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama,
salahku tidak memberitaumu lebih dulu. Tapi ada briefing mendadak.”
Aku tidak peduli.
“Gom-ah, jawab aku.”
“Shireoyo.” desisku, suaraku serak dan berat.
“Gom-ah, mian.”
“Shireo.”
“Gom-ah, ayo kita pulang.”
Tunggu, suara itu?
Aku terperanjat kecil. Ponselku bergerak menjauh dari telingaku, tubuhku
berbalik ke belakang. Aku menemukan bahwa suara terakhir
yang ku dengar memang nyata ―bukan suara serak dari telepon.
Wonwoo, dengan kemeja putih, celana panjang hitam, topi khasnya, stelan
jas dan tas di tangannya, memandangiku sambil menggenggam ponselnya. Melihatku
berbalik, dia tersenyum.
“Gom-ah, ayo kita pulang.” ajaknya, Wonwoo melangkah mendekatiku.
Sial, ternyata Wonwoo mengerjaiku.
“Shireo!!” sambil menunduk dan menyembunyikan air
mataku yang kembali mengalir deras, ku dorong tubuh Wonwoo yang mendekat.
“Selamat, kau ku kerjai.” usil Wonwoo.
Iya, kau senang, kan?! Sudah puas?!
“Shireo! Shireo!!” ku pukuli tubuhnya, “Jeoriga!! Pergi sana!!”
Wonwoo tertawa lepas ―puas. Dia kelihatannya senang melihatku
marah-marah karena dikerjainya. Dengan mudah, Wonwoo menangkap tubuhku sehingga
kami tidak bisa terpisah ―meski aku memaksanya.
“Kau!! Kurang ajar!!” ku pukuli dia lagi dengan handbag-ku habis-habisan, “Sudah badmood, kau bikin mood-ku tambah
hancur!! Tambah berantakan!! Kau kurang ajar, Jeon Wonwoo!! Kau menyebalkan!!”
Aku terisak, memarahinya dengan suara yang luar biasa paraunya. Dan
Wonwoo masih tertawa senang, dia tertawa di atas penderitaanku! Menyebalkan!
“Hahaha. Aku gak tau kau lagi badmood,
Seulgi. Maafkan soal itu juga. Hahaha.” Wonwoo hanya menimpali.
Hah? Itu saja?
“Ureo
geuman. Jibe kaja. Berhentilah menangis.
Ayo kita pulang.” ajak Wonwoo, lalu melepas topiku untuk menatap wajahku yang
basah.
“Shireo! Aku gak mau pulang!” tukasku.
“Tidak lelah menangis? Jibe kaja.”
“Shireo!”
“Seulgi,”
“Shi―”
“Cup,” aku tak terkejut ketika Wonwoo menyambar bibirku tiba-tiba.
Sungguh, aku bahkan menolaknya, namun Wonwoo tak putus asa dan terus
melumatnya.
Ciumannya seperti menyerap isak tangisku yang bahkan masih ada di
tenggorokan. Wonwoo berhasil menghapus tangisanku yang salah satu penyebabnya
adalah ulahnya. Dia menjatuhkan stelan jas dan tas di tangannya hanya untuk
menahan pinggang dan tengkukku, lalu menyapu bersih bibirku dengan bibirnya.
“Maaf, ya.” bisik Wonwoo, memberi sela waktu sepersekian detik untukku,
lalu mencium bibirku lagi.
Tidak, kali ini kami berciuman, karena kami sengaja saling menautkan
bibir. Aku ingin melakukan ini dengannya, karena terlalu lama terpisah
membuatku rindu melakukan berbagai hal bersamanya.
Dari yang ku rasakan, sebenarnya Wonwoo ingin melebihkan, namun dia
tidak melanjutkan ciumannya dan segera menyudahinya.
“Jibe kaja.” ucapnya lagi, kali ini dengan nada yang
serius.
Aku hanya menunduk lemah, sesekali bahuku gemetar karena isak tangisku
masih tersisa. Lalu aku merasakan kehangatan di bahu dan punggungku. Rupanya
Wonwoo menyelimutinya dengan jas beremblem itu ―seragamnya ketika menerbangkan
pesawat.
“Kaja.” ajak Wonwoo lagi.
“Aku benci padamu.” desisku.
“Terserah, yang penting ayo kita pulang.” Wonwoo tak peduli, dia segera
mengisi sela-sela jemariku dengan jemarinya.
Wonwoo membawaku, menuntunku berjalan keluar bandara, menuju sebuah Nissan silver yang ku parkirkan tadi sore. Sesekali dia mengusap kepalaku seperti puppy.
“Kau kelihatan pucat? Apa kau belum makan? Ayo kita makan di kedainya Sun-yeon
Ahjuma.” ajak Wonwoo lagi, kali ini dengan nada
yang lebih ringan.
“Lagi libur, Pabo.” ketusku.
“Ya, sudah.” dia mengusap kepalaku lagi, “Kau mau makan di mana? Aku
juga lapar.”
“Biar aku saja yang masak.”
“Ya, sudah.” lagi-lagi Wonwoo yang harus mengalah. “Kita ke supermarket, lalu pulang, ya?”
“Mm.” jawabku.
“Sudah, jangan menangis lagi.”
“Aku lapar.”
“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” ucapnya, “Ayo kita pulang.”
***
Ku mohon,
Tuhan. Sekali saja.
***
Meski tiga tahun telah berlalu, tiap
tahun partisipan Pesawat Kertas ini tak pernah berkurang. Mereka hadir di sini,
tepat di peringatan hari Pesawat Kertas yang ketiga tahunnya. Kami mengenang dan
mendoakan orang-orang yang kami kasihi yang pergi untuk selamanya lewat jalan
yang mengerikan.
“Terima kasih sudah datang.” salam
Joshua pada mereka di akhir acara sederhana kami.
Sejak tugu Pesawat Kertas ini
dibangun, Joshua selalu menjadi relawan dan memimpin doa sampai sekarang.
Benar, Joshua memang sahabat Wonwoo, jadi baginya hanya inilah yang bisa ia
lakukan untuk mengenang sahabatnya itu.
Begitu senja datang, acara kami yang
hanya terdiri dari kegiatan sederhana dan doa bersama ini berakhir. Dan aku
selalu jadi orang terakhir yang meninggalkan tugu ini, berdiri dan memandangi
prasasti dengan lebih dari seratus nama ini.
“Hyung,”
sahut seorang pemuda di sampingku, Bohyuk. Tau-tau dia sudah di sana, dia sudah
berhadapan dengan tugu ini.
“Bagaimana di sana? Kalian bahagia?”
senyumnya ringan, “Mm,” angguknya singkat, “aku dan Ibu baik-baik saja. Jangan
khawatir. Oya, sampaikan salamku ya, Hyung.”
Bohyuk lalu meletakan sebuket bunga
kecil di depan tugu itu, bergabung dengan bunga-bunga lainnya, foto-foto para
korban, dan kenangan yang mereka tinggalkan.
“Nuna,
aku tidak bisa lama-lama di sini. Yang penting aku sudah menghadiri acara
ini dan berdoa bersama kalian.” kata Bohyuk.
Mengerti akan kesibukan Bohyuk di
kampus, aku pun mengangguk dan mengizinkan, “Bergegaslah, Bohyuk-ah.”
“Aku akan mengunjungi Wonwoo Hyung duluan, setelah itu aku akan balik
ke Changwon.” ucap Bohyuk lagi sambil menjinjing tasnya, “Aku pamit.”
“Ya, hati-hati.” ucapku.
“Terima kasih sudah datang.” ucap
Joshua, dan Bohyuk meninggalkan kami berdua di sini.
Aku selalu berlama-lama, menghabiskan
banyak waktu hanya untuk memandangi nama ‘Jeon Won Woo’ yang tertera di tempat
paling atas, paling awal.
“Waktu berlalu begitu cepat.” ucap
Joshua.
“Ng.” balasku.
“Tau-tau, Wonwoo sudah besar saja.
Tau-tau, Wonwoo sudah masuk SMA saja. Tau-tau, Wonwoo sudah bisa menerbangkan
pesawat saja.” Joshua tersenyum tipis, “Dia..., benar-benar luar biasa...”
“Bolak-baik LA-Seoul ku pikir akan
membuatmu sulit untuk keep-in-touch
dengannya.”
“Tidak, justru Wonwoo mencari cara
menghubungiku. Karenanya, aku juga mencari cara menghubunginya. Apalagi kalau
dia sempat singgah di LA, dia akan berusaha menemuiku, atau dia akan menelponku
dan memintaku menemuinya.” Joshua terkenang, “Tapi begitu aku meminang Irene,
aku tinggal di Seoul, jadi lebih sering ketemu Wonwoo. Dan sungguh, bocah itu
memang mengagumkan...”
“Really?”
“Really.”
“Seperti apa?”
“Seperti..., membuat Ibundanya
tersenyum kembali..., misalnya...?” kata Joshua, “Kau pasti tau itu...”
“Mm.” gumamku. Lalu aku teringat
sesuatu, “Josh, aku mau pergi menemui Wonwoo, kau bergegaslah dan jemput Irene Onnie.”
“Kau takkan ke mana-mana setelahnya,
kan?”
Tatapan interogasi Joshua memang
tiada duanya, pantaslah dia sebagai seorang Hong Gyeongchal-nim. “Baiklah, tolong jangan beritaukan ini pada Onnie.”
“Tapi Nu―”
“Seulgi.”
“Ya, maksudku― Seulgi,” ucap Joshua
setelah meralat, “ku pikir kau sudah berjanji padanya untuk tidak pergi ke sana
lagi?”
“Please,
Josh,” pintaku, “sekali ini saja.”
“Tidak.” dan dia setara tegasnya.
“Joshua,”
“Tidak.”
“Ayolah...”
Dan tatapannya berubah, seperti
menimbang-nimbang.
***
Langkah kakiku menggema, memasuki
lorong-lorong rumah persemayaman ini. Aku sendirian, berjalan sambil membawa
sebuket bunga kecil. Pada sebuah ruangan aku berhenti, aku memasukinya dan
berjalan di antara rak-raknya.
Tak lama berjalan, aku tersenyum
seakan menemukan seseorang yang ku cari. Tapi bukan. Tak jauh dari tempatku
berdiri, aku sudah bisa melihat di mana sebuah guci abu itu diletakan. Aku
menghampirinya ―guci kecil dengan nama seseorang yang amat ku cintai itu.
“Hei, Yeowoo-ya,” ku panggil dia
begitu,
Jeon Won Woo.
“apa Bohyuk sudah sempat ke mari?
Adikmu itu akan segera jadi sarjana! Tunggu saja nanti! Dia akan mendatangimu
begitu dia menyelesaikan kuliahnya!” ucapku bersemangat pada rak itu.
“Wonwoo-ya, kau tau? Hari ini aku sangat........,”
Seperti sosok rilnya ada di sana ―tapi
dia hanya berupa abu di dalam guci― aku berbicara padanya. Entahlah, tapi
dengan cara ini, aku akan merasa lega kemudian.
Di dalam rak itu tak hanya ada
abunya, beberapa bingkai foto juga ada di sana, sebuah boneka rubah kecil, dan
emblem kesayanganya. Aku yang menata dan menghiasnya dengan rapi, supaya Wonwoo
senang dan nyaman ―karena dia suka tempat yang rapi dan bersih.
Ada empat bingkai foto di sana.
Bingkai pertama adalah foto masa kecilnya, bersama kedua orangtuanya dan
Bohyuk. Kemudian, ada lagi fotonya bersama sang Ibu dan Bohyuk dengan seragam
impiannya. Lalu fotonya ketika berhadapan dengan cock-pit, dengan gagah dia memberi hormat pada kamera. Dan yang
terakhir..., fotonya bersamaku...
Kenangan itu melekat setiap kali aku
memandangi bingkai terakhir. Pantai itu ―tempat dia menyatakan perasaannya
padaku― sejak saat itu kami jadi sering berkunjung ke sana dan di sanalah foto
ini terabadikan.
Entah kenapa hari itu, Wonwoo
mengambil banyak selca bersamaku,
salah satunya yang ada di dalam bingkai itu. Dia merangkulku di bibir pantai,
seakan takut aku terbawa angin laut saat itu. Tak pandai ber-selca, Wonwoo hanya mengarahkan
kameranya dari atas dan mengambil banyak gambar.
***
“Ya!! Kang Seulgi!!”
Aku tertawa lepas, melihatnya mengejar-ngejarku aku merasa puas. “Jal ga, Jeon Wonwoo!!” dan aku terus meninggalkannya di belakang.
Meskipun pasir yang basah ini menahan langkahku, aku tetap berlari dan terus
berlari.
Tapi Wonwoo memang jauh lebih cepat dibandingkan aku. Beradu lari dengan
seseorang yang pernah mengalami pelatihan militer seperti itu memang percuma
saja. Toh, pada akhirnya, Wonwoo berhasil menangkap tubuhku.
“Aah! Jeon Wonwoo!!” dia takkan menyerah sekalipun aku menjerit.
“Kena! Kena kau!” ucap Wonwoo gemas.
Aku memeluk tubuhnya, dan dia merangkul tubuhku dengan sebelah tangan,
sementara tangannya yang satunya lagi memegang ponselnya, merekam dan
mengabadikan apa yang kami berdua lakukan.
“Seulgi, ayo kita ambil gambar.” dengan spontan, Wonwoo berniat untuk
sedikit narsis. Tumben sekali dia?
Jadi dia berhenti merekam dan bersiap dengan kamera ponselnya.
“Ambil dari atas.” ucapku, tau betul kalau Wonwoo memang tidak jago selca.
Klik, klik, klik. Dia mengambil beberapa gambar sekaligus.
“Kau terlalu banyak mengambil gambar!” ingatku, yang ku tau Wonwoo tidak
senarsis itu.
“Ah, sesekali ini saja.” ucap Wonwoo.
“Klik, klik, klik.” dia mengabadikan lagi, sama banyaknya.
Aku melakukan v-sign atau pose lainnya lagi, sementara Wonwoo
memang tidak pandai mengekspresikan diri selain tersenyum saja. Dan demi
mengatasi hal itu, dia akhirnya bergegas mencium pipiku.
Klik, klik, klik..., dan aku tidak tau seberapa banyak foto Wonwoo
menciumku.
Yang pasti ekspresiku jelek sekali saat itu : terkejut.
***
“Jeon Wonwoo!” seruku pada Wonwoo yang sedang menuangkan air panas ke
dalam cangkirnya. Wonwoo tak menjawab, dia hanya menoleh saja sambil mengaduk
minumannya, “Bagaimana kalau kita cetak foto yang ini juga?”
Seketika Wonwoo menyemburkan minuman yang baru saja diteguknya. Aku tau
dia akan terkejut begitu aku meminta izinnya mencetak foto kami berciuman tadi
sore.
“Ah,” gumam Wonwoo sambil menyeka bibirnya, sebelum dia melanjutkan,
“bukankah itu terlalu intim...?”
“Ayolah, sesekali yang kissing scene..” aku berbaring di
atas ranjang, memeluk bantal sembari melakukan aegyo supaya Wonwoo mengizinkan.
“Kau pikir ini drama, Gom-ah? Tidak.” tolaknya, dia duduk di pinggir
ranjang setelah meletakan minumannya, “Bukankah tadi aku mencium pipimu? Cetak
yang itu saja.”
“Tidak mau.”
“Gom―”
“Aku janji aku akan menyimpannya sendiri, aku akan menjaganya!”
“Ah, sudahlah, tidak usah dicetak.” tegas Wonwoo.
“Yeowoo-ya~~...” aku merengek.
“Biar aku saja yang cetak! Kau ini, tidak bisa jaga privasi sedikit
apa?”
“Tapi aku akan menjaganya~~...”
“Tidak.”
“Ayolah~~”
***
Aku selalu tersenyum sendiri tiap
kali kenangan itu terulang kembali dalam pikiranku. Oh iya! Benar juga!
“Oh ya, Jeon Wonwoo,” ucapku, “kau
waktu itu melarangku mencetak foto 'itu', kan...? Jadi maaf, aku sudah
mencetaknya sekalipun kau pernah melarangnya... Aku sangat menginginkannya
tercetak menjadi sebuah foto...
Kau takkan marah padaku, kan?
Ayolah, sekali ini saja, ya?” cengirku, seperti anak nakal.
Seulgi nakal.
“Aku janji akan menjaganya, deh!”
***
Karena Joshua telah mengizinkanku,
jadi ya, aku datang lagi ke bandara hari ini. Seperti sebuah kebiasaan yang
kemudian menjadi sebuah ritual di tanggal ke tujuh setiap bulannya, aku duduk
di kursi kesayanganku di bandara dan menunggunya,
Wonwoo.
Meski aku sadar, dia telah pergi
selamanya, namun aku tidak bisa menghilangkan kebiasanku yang telah melekat
padaku selama bertahun-tahun ini. Menunggu Wonwoo, memang hanyalah hal
sederhana buatku.
Jadi setelah menemuinya di rumah
persemayaman, aku datang kembali ke bandara dan duduk di kursiku di sini. Hari
ini terasa sangat spesial, karena tepat hari ini adalah ketiga tahunnya aku
hidup tanpa Wonwoo ―tepat sepuluh hari sebelum ulang tahunnya.
Aku tersenyum kecut mengenang makan
siang kami lima tahun yang lalu itu, di mana aku sangat bermanja padanya.
Wonwoo menyeka helaian rambut Seulgi yang menutupi sebagian kecil
wajahnya. “Kau kelihatannya bekerja keras hari ini.” katanya, khawatir,
“Sisihkan dulu saja proyek ‘Tujuh Sketsa Pilihan’-mu itu, Seulgi. Oktober masih
jauh, kau juga disibukkan dengan brand barumu.”
Seulgi tersenyum, “Bukan apa-apa.” katanya, “Kau sendiri? Apa belum
dapat libur panjang?”
Waktu itu, aku berharap bisa
merayakan ulangtahunnya bersamanya.
“Jadi, kapan tepatnya kau libur panjang?”
“Gom-ah,”
“Apa sebelum hari ulangtahunmu?”
“Seulgi,”
“Ayolah, Yeowoo-ya, aku tidak sabar lagi.”
Tapi ajal menjemputnya duluan.
Penantianku takkan berakhir, selamanya. Aku seharusnya berhenti menunggu, tapi
kenapa tidak bisa? Kenapa aku selalu ingin menunggu saja? Seakan aku memintanya
kembali?
Kenapa?
***
Gelap, gelap sekali, tak ada bedanya
jika aku menutup maupun membuka mata ―sama saja gelapnya. Perlahan namun pasti,
aku melihat butiran cahaya. Otakku berusaha mencerna benda-benda berkilau apa
kiranya yang ada di sekelilingku ini.
Nafasku seperti terhenti ketika
menyadari mereka semua adalah butiran bintang, berkerlap-kerlip dan berkilauan.
Nyata sekali. Aku terkejut ketika mendapati tubuhku melayang-layang di antara
mereka. Aku terkejut ketika aku mendapati diriku di ruang hampa tanpa udara, di
ruang hampa tanpa gravitasi, di ruang hampa tanpa siapapun di sini. “Di mana aku sebenarnya?”
Belum sempat aku mengucapkan kalimat
itu dengan bibirku, aku terdiam melihat jejeran debu yang berwarna-warni,
sangat indah dan bersinar. Mereka membuatku takjub dan terpana. Mereka ada
beberapa kumpulan, seperti debu atau awan yang menyembul-nyembul, beberapa
membentuk seperti sebuah gambar. Tapi, aku tidak tau apa namanya?
Lalu ada lagi, sebuah pusaran,
berputar-putar secara teratur dan juga bersinar, seperti ada ribuan bahkan
jutaan bintang mengikuti rotasinya. Tidak hanya satu, namun ada banyak lagi
pusaran, bentuknya pun bermacam-macam. Tapi, aku juga tidak tau, apa namanya?
Wonwoo, dia yang tau apa-apa saja
semua benda langit ini. Hanya dia yang tau benda-benda apa ini, yang begitu
asing di mataku. Dialah yang selalu mengajariku tentang langit, dialah yang
menjanjikanku untuk terbang bersamanya.
Andaikan saja ada Wonwoo di sini,
dia pasti akan memberitauku : apa nama benda yang berbentuk debu itu, apa nama
benda yang berbentuk pusaran itu? Dan terlebih lagi, di manakah aku berada saat
ini?
Ketika aku bertanya dan berharap,
aku merasakan kakiku berpijak, aku merasakan gravitasi menggenggam tubuhku, aku
merasakan kehadiran ―kehadiran yang tak ku duga sebelumnya. Aku berputar ke
sekeliling, dan aku melihat sesosok di hadapanku.
Aku mulai mencernanya. Tubuhnya
tinggi dan tegap, dia mengenakan stelan jas kehitaman. Dan oh, aku juga melihat
beberapa benda-benda kecil menempel pada jasnya. Sepertinya dia mengenakan
sebuah topi, yang tak asing di mataku.
Sekarang, pandanganku mulai jelas,
aku mulai mengenali beberapa benda yang dikenakannya. Stelan jas itu, topi itu,
dan benda-benda kecil yang menempel pada jasnya. Seketika aku membekap mulutku
karena terkejut.
Seorang pria, dengan pakaian maskapai
penerbangan, lengkap dengan emblem di jasnya, lengkap dengan topi berlambang
garudanya. Air mataku berjatuhan ketika aku mengenali siapa pria yang berbalik
dan menatapku dengan senyumannya yang khas itu.
Dia, Jeon Wonwoo.
***
to be continued
***
Annyeong, ini Near!
Gimana? Kalian gak bosen, kan, sama Near? Sama karya-karyanya Near? *emang kenapa thor?* Enggak, soalnya kaya ada yang bosen sama acuu #curhat wkwkwkwkk
Oya, berhubung sejak kemarin hingga hari ini masih terjadi sebuah tragedi yang memilukan, Near justru gak akan men-delay postingan part ini. Bukannya Near gak menghormati atau gak merasa berduka, justru alasan Near tetap memposting ff seperti biasa adalah wujud dari #KamiTidakTakut.
Yup, walaupun semua orang sedang berwaspada, namun ada aja yang tetep beraktifitas seperti gak terjadi apa-apa. Semuanya bentuk rasa tidak takut dan keberanian bangsa ini melawan yang saat ini sedang hangat diperbincangkan.
Jadi *maaf nih OOT* mari kita rapatkan barisan dan satukan hati kita karena meski pun kita berbeda kita adalah Indonesia yang satu dan kaya. Mari kita lawan segala macam bentuk hal-hal yang meresahkan dan memecah belah bangsa ini!!
#KAMITIDAKTAKUT
Author
Near


