[FF] 먹자! Let’s Eat! Part I
먹자!
Let’s Eat!
Author : Near
Genre : School-Life,
Romance, Fluff
Length : Two shot
Length : Two shot
Cast : Kang Seulgi,
Jeon Wonwoo
Other cast : Wendy Son, Lee Jihoon
***
Dengan tergopoh-gopoh, gadis berseragam biru
itu berlari di antara lorong rumah sakit. Sesekali tasnya yang melorot dilonjakkan
hingga kembali ke punggungnya. Meski dua tas tangannya semakin menghambat
langkah-langkahnya, tetapi gadis itu tidak menyerah.
Sampailah ia di sebuah kamar rawat, tempat yang
sedari tadi dia tuju. Tanpa salam, tanpa permisi, langsung saja gadis itu
menggeser pintu, hingga membuat si penghuni serta merta menatapnya.
Lelaki itu, pemuda tanpa eksrpesi itu. Ya,
benar, dia memang di sana. Duduk bersandar pada head bed-nya, dengan kaki ditekuk dan memangku sebuah buku, serta
kacamata bulat yang membuat kesan angkuh dan dingin di wajahnya berkurang.
Selang infus menancap pada punggung tangan kirinya, tak lupa hari ini ia
kelihatan berbeda dengan baju khas dari rumah sakit.
“Seulgi?” sahut pemuda itu pada si gadis, Kang
Seulgi.
Tak menunggu lama, Seulgi berhambur ke arah
lelaki itu. “Kau di sini?” dia berucap heran begitu sampai di hadapan pemuda
tersebut.
“Ku pikir kau tau kalau aku sakit.”
“Sigh,” Seulgi menghela nafas, tentu saja dia
tau, lantas kenapa dia harus bertanya lagi?
“Harusnya aku yang tanya,” pandangan Seulgi
beralih lagi pada pemuda itu, “kau di sini? Bukankah hari ini karya wisata
kelas 1-1, 2-1 dan 3-1?” tanyanya.
“Bicaralah dengan bahasa yang sopan pada
seniormu, Jeon Wonwoo!” umpat Seulgi.
Wonwoo tersenyum tipis. “Mengakulah.” godanya,
meski dengan nada yang datar. Dengan matanya yang sipit, Seulgi menghujam
Wonwoo dengan tatapan sinis.
“Kalau gak, duduklah.” Wonwoo menunjuk sebuah
kursi dengan jari telunjuknya, Seulgi segera menyambar kursi itu dan duduk di
dekat Wonwoo.
Setelah meletakan kacamatanya di atas meja, pemuda itu bertanya “Jadi, ada apa?” Wonwoo mengubah posisi
duduknya menghadap Seulgi.
“Ada apa katamu?” ulang Seulgi, “Kau masih
tidak tau tujuan kedatanganku ke sini? Kau sedang sakit, jadi apa tujuanku ke
sini?”
“Menghilangkan jenuh.”
Sahutan Wonwoo berhasil membuat bibirnya
terkatup rapat. Wonwoo benar, sebenarnya Seulgi datang hanya untuk
menghilangkan rasa bosannya, karena untuk karya wisata yang diharap-harapkannya
ini, ternyata Wonwoo harus absen mendadak.
Sekolah mereka rutin mengadakan karya wisata
setiap tahun ajaran. Hanya saja berbeda dari sekolah kebanyakan, sekolah mereka
biasa mengadakan karya wisata dengan murid-murid dari satu kelas masing-masing
dari kelas satu, dua dan tiga. Untuk tiap-tiap angkatan tujuh kelas berbeda
yang terpilih akan tur secara bergantian ―kloter. Hal ini supaya antara senior
dan junior tidak canggung, sehingga mereka bisa lebih banyak berinteraksi di
sini.
Tahun ini kebetulan sekali dari kelas satu,
dua, dan tiga terpilih nomor kelas yang sama, yakni 1-1, 2-1, dan 3-1. Entah
kenapa Seulgi girang bukan kepalang mengetahui kelasnya akan tur bersama
kelasnya Wonwoo ―padahal Seulgi tidak minat sama sekali pada tujuan karya
wisata kali ini. Dia bahkan sudah menyiapkan satu bekal lagi untuk Wonwoo.
Hanya saja sehari sebelum karya wisata, Seulgi
mendengar kabar dari Jihoon kalau Wonwoo tiba-tiba harus absen dan tidak bisa
mengikuti tur karena dilarikan ke rumah sakit akibat sakitnya yang kambuh
mendadak. Serasa hati kecil Seulgi hancur berkeping-keping.
Biarlah tempat tujuan karya wisata kali ini
membosankan, selama ada Wonwoo tak apa. Tapi kalau Wonwoo pun tidak ada, apa
yang harus dilakukannya? Apa tur kali ini akan terasa menyenangkan?
“Kau menyia-nyiakan turnya.” ucap Wonwoo datar.
“Kau sendiri?” sahut Seulgi.
“Bagaimana dengan orangtuamu kalau mereka tau
kau ada di sini? Kau pergi tur pasti dengan uang mereka, kan?”
“Soal itu...,” Seulgi menggaruk tengkuk,
“sehari sebelum tur, aku bilang pada orangtuaku kalau aku tidak jadi pergi
karena objek wisatanya sudah terlalu sering aku kunjungi... Lantas...,”
“Lantas?” Wonwoo menagih, dagunya berpangku
pada tangan dan mendengarkan Seulgi dengan sangat baik.
“Lantas...,” Seulgi melanjutkan, “aku
memberikan kesempatan turku pada seorang temanku yang tidak bisa ikut tur
karena terhalang biaya...”
Ucapan itu membuat seulas senyum terukir di
wajahnya, “Anak pintar...” ditepuk-tepuknya kepala Seulgi seenaknya.
“Ish, kurang ajar!” jengkel Seulgi, “Kau pikir
kau siapa bisa seenaknya memegang kepala seniormu?!” bentaknya pada Wonwoo,
sementara Wonwoo sendiri tidak begitu peduli.
Seulgi meletakan semua tasnya di atas lantai,
lalu bangkit dan berkata, “Pinjam kamar mandimu, ya.” katanya sebelum melengos
pergi.
“Ja, jangan,” tiba-tiba saja Wonwoo menggenggam
tangan Seulgi.
Dan membuat gadis itu salah paham, “Jeon
Wonwoo!” dihempasnya tangan Wonwoo hingga terlepas dari cengkeramannya.
“Bukan begitu maksudku, hanya saja,” kata
Wonwoo, “jangan, Seulgi. Kau bisa pakai kamar mandi untuk pengunjung.”
“Lorong ke ruang rawatmu ini cukup panjang, aku
lelah kalau harus mondar-mandir.” kata Seulgi, tak peduli dan langsung saja
menuju ke kamar mandi.
“Seulgi, ku bilang jangan!” seru Wonwoo, tak
bisa ke mana-mana karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Masuk ke kamar mandi, semua baik-baik saja.
Namun kemudian tak sengaja Seulgi melihat ke arah washtafel dan melihat sesuatu. Dia agak terkejut, ada sisa di sana.
“Aku,” ketika Wonwoo bersuara, Seulgi
menatapnya, “memuntahkan semuanya.”
Entah kenapa Seulgi berbalik dan menghadap
Wonwoo, dia berdiri cukup lama di hadapannya sampai akhirnya Wonwoo menatapnya,
seperti ingin berkata “Kau marah padaku?
Kau tidak suka karena kotor?”
Namun kenyataannya tidak.
“Kenapa kau tidak mau makan, Wonwoo?” desis
Seulgi.
Wonwoo terperanjat.
“Kenapa kau tidak mau makan?”
Tanpa sadar suara Seulgi terdengar parau, ada
rasa bersalah dalam benak Wonwoo. Pertama, dia memang kesulitan makan, di kala
lambungnya bermasalah memang sangat sulit untuk menumbuhkan nafsu makannya.
Kedua, dia terpaksa makan dan malah memuntahkannya kemudian, dia sudah berusaha
menyembunyikannya dengan membersihkannya, tapi dia tidak bisa membuat alibi.
Ketiga, dia membiarkan Seulgi tau keadaannya itu, bahkan membuat gadis itu
merasa sedih dan khawatir.
“Wonwoo,”
“Aku makan,” segera Wonwoo menerangkan, “aku
makan, dan aku memaksa diriku sendiri untuk memakannya meski aku tidak
menyukainya. Tapi tubuhku menolaknya.”
Seulgi terdiam, matanya memerah.
“Kau harus makan...” lirih Seulgi.
“Aku sudah mencobanya,” Wonwoo menegaskan,
“tapi tubuhku menolaknya.”
Seulgi kembali terdiam, lalu dia terduduk di
atas kursinya kembali. “Kalau kau tidak makan, bagaimana bisa sembuh...?”
paraunya, “Pantas saja aku jarang melihatmu ke kantin, aku bahkan belum pernah
melihatmu makan. Ketika mendengar kau sakit saja sudah membuatku terkejut,
apalagi Jihoon bilang sakitmu ini cukup parah dan kau gak mau makan...”
“Kalau kau sakit biasa, sih, gak apa. Tapi...,
sakitmu ini, kan, ada sangkut pautnya dengan perut... Bagaimana nanti kalau kau
tidak bisa makan...?” lanjut Seulgi, berhasil membuat Wonwoo merenung.
Berbeda jauh dengan Wonwoo yang sering tidak
nafsu makan, Seulgi adalah sosok gadis yang sangat menyukai makan. Dia gadis
yang bisa makan dengan sangat baik dan lahap. Baginya, masalah perut adalah
masalah serius. Seulgi bahkan tetap makan meski sedang diet, hanya saja dia
mengurangi beberapa jenis makanan dalam tiap porsi makanannya, serta rutin
olahraga. Itulah kenapa bentuk tubuhnya tetap terjaga meski Seulgi adalah gadis
yang doyan makan.
Maka dari itu, baginya masalah lambung yang
diderita Wonwoo cukup membuat Seulgi khawatir, apalagi sampai dia dilarikan ke
rumah sakit karena itu. Bagi Seulgi, ini sudah darurat.
Wonwoo memperhatikan ketika Seulgi mulai
merogoh tasnya, “Kau bakal bosan kalau di rumah sakit, jadi aku bawakan ini...”
Tak ayal Wonwoo terperanjat ketika melihat
Seulgi membawakannya beberapa buku novel, komik dan buku-buku pengetahuan. Tak
disangka, Seulgi tau kalau Wonwoo suka membaca buku. Dan yang membuatnya geger
adalah Seulgi membawakannya boneka beruang?
“Apa itu?” tunjuk Wonwoo seenaknya pada boneka
itu.
Sontak, Seulgi menghentikan aktifitasnya
sementara, “Teddy bear-ku.” ceplosnya.
Melihat tatapan Wonwoo, sepertinya dia belum
puas dengan jawaban Seulgi.
“Aku tidak bisa seharian menjagamu, jadi biarkan
teddy bear-ku yang menjagamu selagi
aku tidak ada di sini.” jelas Seulgi.
“Seulgi, Ibuku pasti datang setelah matahari
terbenam dari tempatnya bekerja,” Wonwoo tidak habis pikir, “kau tidak perlu―”
“Repot-repot ―ya, aku tau.” serobot Seulgi
segera, dia lalu meletakan bonekanya di samping bantal Wonwoo. Sementara lelaki
itu hanya memandanginya jengah.
“Kau bilang Ibumu datang setelah matahari
terbenam, kan?” lanjut Seulgi, “Maka dari sepulang sekolah sampai Ibumu datang,
akulah yang akan menjagamu. Dan sebelum itu, teddy yang akan menjagamu.” cengirnya sepenuh hati.
Lagi-lagi Wonwoo terperanjat.
“Percayalah pada teddy-ku, dia akan selalu tersenyum dan menghiburmu.” cengir Seulgi
lagi. Wonwoo tidak menyangka, sekalipun Seulgi dua tahun lebih tua darinya, ada
saja sisi kekanakannya ―dan itu terlihat imut.
“Aku juga membawakanmu makanan.” Seulgi beralih
pada tas tangannya.
“Harusnya tidak boleh, ini, kan, rumah sakit.
Aku sudah dapat makanan dari sini.” ujar Wonwoo.
“Ish, kenapa menolak terus, sih? Menolak rezeki
itu gak baik, lho!” ucap Seulgi sambil membuka kotak makannya yang ia simpan di
tas tangan tersebut. “Jjan!” serunya
setelah berhasil membuka bekalnya.
Wonwoo melihat isi kotak makan itu.
“Masih ingat temanku Wendy dan toko kue
orangtuanya? Ini hasil latihanku selama sebulan dengan Wendy : cupcake!” kata Seulgi girang, “Eh, tapi
aku gak tau, ya... Mm.., apa kau boleh makan cupcake...?”
Kali ini tatapan Wonwoo beralih pada Seulgi.
“Letakan dulu di meja, aku akan makan setelah
makanan dari rumah sakit datang.” kata Wonwoo, buru-buru dia menambahkan,
“Bukannya aku mau menolak, tapi―”
“Ssst!” dengan sembrono, Seulgi membungkam
bibir Wonwoo dengan jari telunjuknya, “Tidak usah sungkan, aku tau, kok, tadi
pagi kau baru selesai sarapan dan kau memuntahkan semuanya.” cengirnya seperti
biasa, “Aku tidak memaksamu memakannya sekarang, kok.” katanya sambil meletakan
kotak makan berisi cupcake itu di
atas meja.
Kalau saja wajahnya tidak pucat, mungkin
terlihat rona merah di sekitar wajahnya Wonwoo sekarang. Baru kali ini ada
gadis yang menyentuh bibirnya.
“Oya, bilang yang jujur, ya, kalau rasa cupcake-ku gak enak!” cengir Seulgi
lagi, “Untuk beberapa cupcake buatanku,
Wendy cuma nyengir dan bilang kalau..., aku kurang beruntung, hehehe...” dan dia kembali nyengir.
Wonwoo mengernyitkan dahi. Jangan sampai
masalah lambungnya semakin parah setelah memakan cupcake buatannya Seulgi.
Selama hampir setengah hari itu, mereka
habiskan untuk mengobrol ―meski rasanya cuma Seulgi saja yang berbicara. Seulgi
jadi tau beberapa novel kesukaan Wonwoo, dan Wonwoo juga tau kalau Seulgi
sangat suka makan chicken.
“Pokoknya, begitu kau keluar dari rumah sakit,
aku harus mentraktirmu makan!” tekad Seulgi.
“Untuk apa kau mentraktirku?” kata Wonwoo.
“Tentu saja aku ingin melihatmu makan!” jelas
Seulgi, “Pokoknya, karena aku yang mentraktir, kau tidak boleh menolak makanan
yang ku belikan buatmu! Kau harus memakannya! Sekalipun kau tidak nafsu makan,
kau harus memakannya!” katanya sambil mengepalkan kedua tangan dengan sepasang
matanya yang berbinar. “Aku akan membuatmu makan lebih banyak!”
“Hadeuh...”
ucap Wonwoo dalam hati, tidak bisa memungkiri tingkah lakunya Seulgi yang aneh
bin ajaib.
Tak lama, seorang perawat dan trolley-nya tiba di kamar rawat Wonwoo.
Dia membawakannya makan siang. “Jangan lupa diminum obatnya, ya.” ingat perawat
itu pada Wonwoo sebelum ia pergi.
“Terima kasih!” bukannya Wonwoo, malah Seulgi
yang menjawabnya sambil tersenyum manis ala Kang Seulgi.
Wonwoo anak yang pendiam dan jarang tersenyum, sementara
Seulgi anak yang ceria dan selalu berusaha untuk tersenyum. Benar-benar
bertolak belakang.
Ketika Wonwoo hampir menyentuh makanannya yang
masih tersegel rapi, buru-buru Seulgi menepuknya ―mengusirnya. Dia bergegas
membukakan semua plastik steril yang menyegel makanan itu untuk Wonwoo. Di saat
itu pula, tanpa Seulgi sadari, Wonwoo memandanginya.
“Ja,”
Seulgi sudah selesai dengan plastik segelnya, “sekarang, makanlah!” ucapnya
riang sambil menyerahkan sendok dan jeotgarak
pada Wonwoo.
Tak bergeming, Wonwoo menerima pemberian Seulgi
dengan sedikit canggung bercampur heran. “Manhi
deuseyo!” tak peduli Wonwoo tak mengucapkan ‘selamat makan’ pun, Seulgi
tetap menyambutnya.
Baru sesendok makanan masuk ke mulutnya, Wonwoo
merasa risih. “Seulgi?” panggilnya.
“Mm?” Seulgi menyahut dengan manis, tidak marah
meski Wonwoo tidak memanggilnya ‘sunbae’.
“Bisa tolong berhenti melihatku sedang makan?”
pinta Wonwoo.
“Ku mohon sekali saja biarkan aku melihatmu
makan!” kali ini Seulgi yang meminta dengan caranya yang manis, “Melihatmu
makan..., ternyata menyenangkan...” ucapnya penuh decak kagum.
Hampir saja Wonwoo tersedak. Dalam hatinya,
Wonwoo bingung ―gadis macam apa, sih, dia? Lagipula, apa kerennya melihat orang
makan? Baginya, Seulgi aneh.
Melihat nafsu makan Wonwoo mulai berkurang
karena ulahnya, buru-buru Seulgi menyambar tas tangannya yang satu lagi. “Kalau
begitu aku juga akan makan! Aku, kan, bawa bekal!”
Wonwoo hanya melihat saja, setelah mendapatkan
kotak makan siang warna oranyenya Seulgi segera membukanya sambil berkata, “Jal meog-gesseumnida!”
Benar, Wonwoo juga baru kali ini melihat Seulgi
makan. Dia makan dengan sangat baik, meskipun bekalnya bukan ayam kesukaannya.
Tanpa sadar Wonwoo menyunggingkan senyum tipis.
“Eeyy, kau juga melihat orang makan?” goda
Seulgi, menyadari Wonwoo masih melihatnya sedang makan.
“Aku sedang mengunyah.” umpat Wonwoo tidak mau
ketauan, ia kembali lagi pada makanannya dan menyantap mereka dengan lebih
lahap dari yang sebelumnya.
Seulgi tersenyum.
***
Dengan telaten, Seulgi menyiapkan beberapa obat
yang harus Wonwoo minum setelah makan, tak lupa juga dengan segelas air
mineral.
“Ingat, kan, kata perawatnya? Jangan lupa minum
obatmu.” ucap Seulgi.
Tak mendapat respon, Seulgi pun berbalik dan
mendapati Wonwoo tengah merenung.
“Wonwoo, ada apa?” tanya Seulgi.
Awalnya, pemuda itu terdiam, “Apa aku..., akan
memuntahkannya lagi...?” ucap Wonwoo, lalu memandang Seulgi setelahnya.
Gadis itu tersenyum tulus, “Jangan berpikiran
seperti itu.” ucapnya lembut.
“Sejak aku di sini, tak banyak makanan yang
berhasil masuk ke lambungku. Kebanyakan ku muntahkan kembali.” kata Wonwoo
pesimis.
Namun Seulgi adalah gadis yang optimis. “Aku
percaya, kali ini tubuhmu akan menerima semuanya.” Seulgi memberi semangat, di
saat yang hampir bersamaan Wonwoo menatapnya.
Seulgi seperti enegi positif buatnya.
“Nah, sekarang minumlah.” Seulgi membawakan
tiga butir obat tablet dan sebutir obat kapsul dengan telapak tangannya, juga
segelas air untuk Wonwoo.
Tanpa ragu, Wonwoo memungut keempatnya dari
telapak tangan Seulgi. Dengan dibantu beberapa tegukan air mineral, Wonwoo menelan
keempatnya secara bersamaan.
Seulgi terkejut bukan main, “Astaga! Jeon
Wonwoo, pelan-pe―”
Ucapannya terpotong ketika Seulgi melihat
pemuda itu tengah meneguk habis segelas air mineral dalam genggamannya
―membuatnya ikut menelan ludah. Bagi kamu yang perempuan, bagaimana, sih,
rasanya melihat crush kita sedang
meneguk air mineral? Apakah hati kalian tidak berdebar-debar?
Dan hal tersebutlah yang akhirnya membuat
Seulgi berdesis, “Uwah..” untungnya Wonwoo tidak mendengarnya.
“Berisik.” ketus Wonwoo setelah berhasil
menelan empat butir obatnya dan segelas air. Mendengar ucapan Wonwoo seperti
itu, Seulgi terbangun dari lamunannya.
“A-aku, kan, cuma kaget melihatmu menelan
keempat butir obat itu secara bersamaan! Apalagi ukurannya, kan, tidak termasuk
mudah ditelan.” umpat Seulgi.
Meski sebenarnya Wonwoo tau apa yang baru saja
Seulgi lihat : swaegol-nya.
“Pulanglah ketika aku tertidur, Seulgi.” ucap
Wonwoo to the point, “Obatnya akan
membuatku ngantuk.”
“Oh?” Seulgi menelengkan kepalanya, “Apa tidak
bisa aku menungguimu sampai kau bangun?”
“Tentu saja tidak.” kata Wonwoo, lalu memandang
jam dinding, “Biasanya aku akan bangun ketika Ibuku pulang dari kerjanya, saat
itu matahari pasti sudah terbenam. Jadi kau lebih baik pulang ke rumah setelah
aku tertidur.”
“Berapa lama efek sampingnya akan terasa?”
Seulgi bertanya lagi.
Untuk sesaat Wonwoo terkejut. Entah kenapa
sepertinya mendengar dia akan tidur saja sudah seperti kabar buruk buat Seulgi.
“Sekitar satu atau dua jam dari sekarang.” kata
Wonwoo.
“Ya, sudah.” Seulgi pasrah, “Kalau begitu,
biarkan aku menemanimu sampai kau tertidur.”
Ralat, baginya Seulgi bukan aneh, tapi ajaib.
“Biar ku bacakan novel untukmu!” Seulgi
bergegas mengubek beberapa tumpukan buku di dekatnya.
“Tidak usah, aku lebih senang membacanya
sendiri.” kata Wonwoo, “Kau bawa ponsel? Bisa putarkan lagu-lagu yang tenang?”
“Oh? Baiklah.” ucap Seulgi, ia pun menuruti
perkataan Wonwoo.
Ketika Wonwoo mulai merebahkan tubuhnya lalu
membaca bukunya, Seulgi tetap di tempatnya duduk dan bersenandung mengikuti
lagu yang diputar oleh ponselnya.
Dari situ, Wonwoo juga baru tau kalau suara
Seulgi begitu indah. Sangking indahnya di telinga, tanpa sadar seulas senyum
tipis terukir menghiasi wajahnya.
“Kenapa? Apa ada yang lucu?” Seulgi melihat
Wonwoo tersenyum ketika membaca novel.
“Tidak ada,” umpat Wonwoo, tanpa sedikit pun
beralih dari bacaannya, “ceritanya menyenangkan.”
“Oh,” dan bodohnya, Seulgi mempercayainya. Dan
karena hal itu juga lah dia kembali bersenandung. Memang ada baiknya Wonwoo
berbohong kali ini, karena suara merdu Seulgi kembali menemani jalan ceritanya yang senada.
Sesekali Seulgi mengacaukan jam membacanya,
dengan bertanya ini-itu tenang novel yang sedang dibacanya. Biasanya Wonwoo
akan sangat tidak suka, tapi entah kenapa pada Seulgi dia biasa saja, bahkan
menjawab pertanyaan-pertanyaan Seulgi.
“Kenapa dia menyimpan dendam?” tanya Seulgi.
“Karena dia memang pendendam,” Wonwoo
membalikan halaman novelnya, “keluarganya dikhianati. Makanya dia
selalu......,”
Dan seterusnya, dan seterusnya. Setiap
pertanyaan Seulgi, pasti Wonwoo jawab.
Setelah beberapa pertanyaan terjawab, Seulgi
akan bersenandung lagi. “One step
closer... ♪” tubuhnya ikut bergerak ke kanan dan ke kiri
sesuai iramanya yang lembut, “One step
closer... ♪”
“Tuk!”
Hampir saja mencapai refrain terakhir, Seulgi terperanjat mendengar suara buku yang
jatuh. Rupanya Wonwoo sudah tertidur, buku yang dipegangnya jatuh ke atas
pangkuannya. Pemuda itu tertidur dengan sangat lelap ―sepertinya efek samping
obatnya bekerja lebih cepat.
Tanpa menghentikan musik, Seulgi bangkit
perlahan. Dengan lembut, dia menyingkirkan buku yang menimpa tubuh Wonwoo itu.
Dia naikan selimut dan menutup tirai. Tak lupa, ia membereskan ini dan itunya
sebelum ia beranjak pulang.
Seulgi memutar lagu yang sama, duduk di
kursinya, memangku dagunya pada ranjang, dan menatap Wonwoo lekat-lekat.
Melihat lekuk wajahnya sedekat ini membuat jantungnya berdegup dengan sangat
cepat.
“I will not let anything take away..." senandungnya lembut.
Untuk sementara, biarkan dia seperti ini.
Sebentar saja.
“Aku menyukaimu, Wonwoo. Tapi apa kau merasakan
hal yang sama? Aku gugup mengakuinya di hadapanmu, jadi aku tidak berani
mengatakannya secara langsung ―apalagi kau adik kelasku.” gumamnya, “Hanya
saja, tingkah lakuku padamu pasti sudah membuatmu mengerti, ya kan? Aku gadis
yang tidak bisa berbohong ―kalau suka ya bilang suka, kalau tidak suka ya
bilang saja tidak suka.”
Meski Wonwoo tetap terlelap.
“Aku selalu berusaha akrab dengan semua orang
dan itu berhasil. Aku bahkan juga akrab denganmu, namun tetap saja aku tidak
bisa mengutarakan perasaanku. Tapi aku bukan anak yang pemalu, kok.” gumam
Seulgi, “Ya sudah, mungkin di lain waktu, aku akan mengatakannya padamu. Entah
itu kapan. Kalaupun selamanya tak terucap, biarkanlah ―cuma aku dan Tuhan saja
yang tau.”
Seulgi bangkit dari tempat duduknya. “Teddy, titip Wonwoo, ya. Juga, titip
salamku untuk Ibunya Wonwoo. Jaga dia selagi aku tidak di sini. Aku akan
kembali besok pagi, karena besok hari Minggu.”
Dipikul kembali tas punggung itu, sementara
kedua tas tangan itu dijinjingnya. Seulgi bersiap untuk meninggalkan Wonwoo dan
mimpi lelapnya. Namun ada sedikit ide nakal hinggap di kepalanya.
Setelah memastikan sekitar, Seulgi
membungkukkan badannya perlahan. Semakin dekat, hatinya malah semakin ragu.
Namun keinginannya begitu besar, sehingga ia berhasil mengalahkan keraguannya
dan, “Cup,”
Mata sipitnya yang terpejam sejenak tiba-tiba
terbuka ―Seulgi berhasil mengecup dahinya. Setelah sempat bersitegang dengan
keraguannya sendiri, Seulgi akhirnya mengecup dahi pemuda itu ―sesuai
keinginannya.
“Selama
dia tertidur, tidak apa.” hibur batin Seulgi.
“Cepat sembuh, ya. Tidur yang nyenyak. Makan
yang banyak. Jangan lupa minum obat.” desisnya, meski dia tau Wonwoo tidak
mendengar. “Aku pulang dulu.”
Ketika langit menjingga, Seulgi beranjak dari
kamar rawat itu. Dia melangkah tanpa ragu lagi menuju daun pintu. Setelah
dirinya sepenuhnya menyingkirkan diri dari kamar Wonwoo, untuk sejenak Seulgi
memandangi pemuda itu dari celah pintu selama beberapa saat ―barulah digesernya
pintu itu hingga tertutup rapat.
***
Dengan dress
selutut berwarna oranye, gadis itu berjalan riang bersama tas tangannya.
Seperti biasa, dia menelusuri lorong yang kemarin dia lalui dengan tergesa,
namun untuk hari ini ia melewatinya dengan ringan.
Kembali Seulgi memasuki kamar rawat kemarin
―kamar rawat Wonwoo. Digesernya sedikit pintu itu, kemudian kepalanya melongok
di antara celah pintu. Niatnya ingin memberi kejutan untuk Wonwoo, namun justru
Seulgi lah yang terkejut.
Kamar itu kosong, tidak ada penghuninya. Tidak
ada Wonwoo, bahkan sedikitpun barangnya tidak ada di sana. Seulgi panik, dia
memasuki kamar itu untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
Dan Wonwoo memang tidak ada di kamar itu.
“Apa aku salah masuk
kamar? Apa aku salah?” Seulgi panik, “Tidak! Ini benar kamar Wonwoo, tapi ke mana dia?!”
Tak mampu menahan kekhawatirannya, Seulgi berlari-lari kecil menuju
meja resepsionis dan mencari tau yang terjadi.
“Ganhosa-nim, apa di kamar
sebelah benar ruang rawat inap Jeon Wonwoo?” tanya Seulgi sesegera mungkin pada
seorang perawat di balik counter.
Dan wanita itu mendengarkan dengan baik, “Dia sudah tidak ada, Agassi.” jawabnya datar.
Entah karena kekhawatirannya yang berlebihan atau memang Seulgi hanya
kurang sarapan hari ini, jadi pikiran Seulgi semakin kacau. Dia terkejut bukan
main mendengar jawaban perawat tersebut.
“Won..., woo...?” lirihnya.
***
to be continued
***
Oke, ini ff ditulis berdasarkan kegalauan Near karena Wonwoo absen..
Oya, ada yang tau swaegol itu apa?
Yups, 쇄골 swaegol itu tulang selangka. Nah, ngomong-ngomong Wonwoo itu cukup dikenal karena swaegol-nya yang seksoyy.. Hehehe..
Kayaknya ini ff SeulWoo yang pertama kali Near posting ya. Jadi semoga pada suka!!
Makasih banget buat yang sudah baca! Jangan lupa nantikan chapter keduanya besok ya!!
Oya, ada yang tau swaegol itu apa?
Yups, 쇄골 swaegol itu tulang selangka. Nah, ngomong-ngomong Wonwoo itu cukup dikenal karena swaegol-nya yang seksoyy.. Hehehe..
Kayaknya ini ff SeulWoo yang pertama kali Near posting ya. Jadi semoga pada suka!!
Makasih banget buat yang sudah baca! Jangan lupa nantikan chapter keduanya besok ya!!





