[FF] Aim part XVII

5:29 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part XVII : Fin(al)

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, Choi Han Sol/Vernon

***



A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Krek, krek,” kamera itu diarahkan kepadanya.

“Hai,” sapa Solji pada kamera, “ini kamera baruku, aku baru saja membelinya untuk acara reunian besok. Hehehe.” katanya, “Apa yang harus ku katakan, ya?”

“Oh, ya, X team.” ingatnya, “Saat ini, kami memang tidak terlalu aktif lagi, dan kami memang lebih sering terpisah sejak kejadian luar biasa beberapa tahun yang lalu, sampai SWAT pun turun tangan.”

“Dimulai dari Seungcheol Oppa, S.Coups leader kami.” katanya, “Setahun setelah kejadian, semuanya sudah membaik, Korea Selatan menjadi aman dan damai. Dan di saat itulah, ia mempersunting Pelatih Han. Yup, siapa lagi kalau bukan Nayeon Onnie!”

“Tiga tahun yang lalu mereka menikah, dan sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua.” katanya, “Lalu Jeonghan Oppa, Seri, Seokmin dan Sunyoung kini lebih fokus dalam tugas penyelidikan mereka, menjadi detektif dan polisi pada umumnya. Mereka banyak mengungkap kasus-kasus pembunuhan yang rumit.”

“Jihun sendiri masih bekerja untuk Kepolisian sebagai hacker, sementara Junhui harus bolak-balik Cina-KorSel karena tugas. Mingyu baru saja kembali dari camp setelah hampir dua tahun bertugas di sana. Oya, dia sudah berkenalan dengan Haera, dan ku rasa ada sesuatu di antara mereka.” Solji terkekeh, “Sementara Wonwoo dan,”

“Kau lihat di mana handukku?” suara bass itu menggema.

Solji jengah, “Memangnya di situ tidak ada?” teriaknya, dengan segera ia menghampiri si pemilik suara dan meninggalkan kameranya di atas meja rias.

Selama keheningan itu, kamera berhasil menyorot seisi kamar berinterior elegan yang dipenuhi warna-warna lembut. Di dindingnya terdapat sebuah rak besar berdesain unik penuh dengan buku. Tak luput dari rekaman, tertangkap juga beberapa pigura di samping kasur king size itu.

Pigura-pigura yang terbilang masih baru dan sangat cantik. Berisi banyak gambar seorang pria dengan stelan jas rapi dan senjata di tangan serta seorang wanita yang memakai gaun putih juga dengan senjata di tangan. Sebuah pre-wedding photo yang mengusung tema yang sangat unik.

***

Aim
Part XVII : Fin(al)

***

Seorang wanita dengan tubuh semampai, rambut hitam kecoklatan yang dikuncir rapi, dengan langkah tegas memasuki lapangan indoor dan berhadapan dengan beberapa polisi di sana.

“Mulai sekarang, sebagai pengganti Pelatih Han Na Yeon yang harus absen karena baru saja melahirkan anak pertamanya,” ucap wanita itu, “aku akan melatih kalian sampai Pelatih Han kembali atau sampai penggantinya datang. Kalian bisa memanggilku Pelatih Choi,”

“Choi Sol Ji.”

“Siap!” seru seluruh pasukan itu.

“Lihat, dari kecil sampai dewasa pun dia takkan pernah tumbuh menjadi gadis manis,” ucap Seungcheol, dari lantai atas memerhatikan Solji yang memulai hari pertamanya melatih bela diri menggantikan isterinya, Nayeon.

Wonwoo hanya tersenyum.

“Kapan-kapan mampirlah ke rumahku, aku ingin menunjukkan banyak hal tentang Solji padamu.” Seungcheol menatap pria di sampingnya.

Wonwoo mendelik. “Kenapa kau ingin sekali menunjukkannya, Hyung?” herannya.

“Kenapa?” Seungcheol terkekeh, “Wonwoo-ya, kau tak usah pura-pura padaku. Aku tau sebenarnya ada yang ingin kau katakan padaku akhir-akhir ini, tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya.”

Hyung, aku,”

Seungcheol keburu mendekap bahunya, “Kau sudah dewasa, Jeon Won Woo. Kau tau apa yang harusnya kau pilih di usiamu yang sudah sangat matang ini.” nasihatnya, “Kau tak perlu takut soal bakcground-mu. Lagipula namamu sudah dibersihkan di persidangan yang lalu, kan?”

Wonwoo ingat itu, “Gomawo, Hyung.” dan Seungcheol lah yang membantunya.

Setelah kejadian menegangkan itu usai, oleh rakyat Korea Selatan nama Wonwoo sempat mencuat dan disebut-sebut sebagai pengkhianat negara dan tidak pantas berada di dalam kepolisian. Hal ini dikarenakan Wonwoo sempat bekerja sama dengan Ilsung untuk mengkhianati negara.

Namun Seungcheol menegaskan bahwa Wonwoo mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan negara ini. Buktinya ia mau kembali pada jalan yang benar, berbalik membasmi Ilsung, dan melindungi segenap bangsanya, bahkan hampir mati.

Tidak ada lagi pembunuh bayaran Park Shi Yeon, tidak ada lagi teroris Jung Il Sung. Semuanya sudah damai dan aman, Korea Selatan tetaplah satu kesatuan yang utuh.

Wonwoo sudah mengurus semua dokumennya yang masih beratasnamakan Park Nam Kyung yang kemudian dirubahnya menjadi Jeon Won Woo. Sebenarnya ada satu alasan kenapa ia membenahi itu semua, namun Wonwoo tak bisa mengungkapkannya pada siapapun.

“Bagaimana? Beberapa identitasmu sudah bernama Jeon Won Woo sekarang, kan?” selidik Seungcheol, Wonwoo terkesiap, “Aku sudah tau, kok.” ditepuknya bahu itu berulangkali.

Wonwoo meragu.

“Kau tak perlu cemas,” kata Seungcheol, “aku sudah merestuimu.”


***

Jeonghan yang berdiri paling dekat dengan jendela itu, di belakangnya Seokmin dan Sunyoung memperhatikan. Dari speaker mereka bisa mendengar suara Seri dan seorang saksi di dalam ruangan kedap suara tersebut. Beberapa layar memantau dari tiap sudut ruangan 4 x 4 itu.

Setahun belakangan ―setelah usainya kejadian menggemparkan tersebut― X Team tak lagi seaktif yang dulu, sehingga empat orang di antara mereka, yakni Jeonghan, Seri, Seokmin, dan Sunyoung, dijadikan tim penyelidik.

Hasil pekerjaan mereka pun tak diragukan. Kasus-kasus yang mereka selidiki biasanya kasus pembunuhan sadis maupun berantai yang sangat rumit, yang mana di tangan mereka berempat kasus-kasus tersebut dapat terselesaikan dengan tuntas.

“Kau, kan, yang membunuhnya?” suaranya Seri terdengar dari speaker.

Sunyoung menyelidik ke salah satu layar yang menyorot wajah Nona Ma, si saksi mata yang menjadi terduga dalam kasus pembunuhan berantai kali ini.

Nn. Ma tak bergeming, gadis bersurai panjang, berwajah lunglai, dengan kulit putih pucat itu pun menatap Seri tanpa ragu dan berkata, “Sudah ku bilang,” katanya lemah, “bukan aku yang membunuhnya.” lalu air mata itu jatuh tanpa sedikitpun isakan terdengar.

Seri tersentak melihat raut wajahnya yang sama sekali tak menunjukkan ketegangan dan sangat tenang. Ia pun memandang ke arah jendela itu. Meski Seri sendiri tak bisa melihat apapun di jendela itu, ia berharap Jeonghan bisa menangkap apa yang hendak disampaikannya.

Benar saja, Jeonghan juga merasakan hal yang sama. Namun dua bocah girang ini belum menyadarinya.

“Ada apa, Hyung?” tanya Seokmin.

Jeonghan tak berpaling dari gadis itu, “Dia,” ucapnya, “jujur.”

***

“Tidak, tidak, maksudnya ke koordinat yang ini,” ujar Jihun, mengarahkan seorang junior yang baru bekerja hari ini.

Lee Jihun saat ini masih bekerja sebagai seorang hakcer, masih dalam ruang lingkup kepolisian. Kemampuan hacking-nya yang tak bisa diragukan membuatnya menjadi orang yang sangat penting di sini.

Yeoboseyo?” sahut Jihun ketika seseorang bernama kontak ‘yeoja’ itu menelponnya.

“Iiih, kau kira aku ini siapa?!” sebal Seri.

Benar, kontak bernama ‘yeoja’ di ponsel Jihun itu adalah Seri. Sementara nama kontak Jihun di ponsel Seri adalah ‘namja’.

“Iya, iya,” Jihun hanya bisa tersenyum, ia menyingkirkan diri dari tempatnya bekerja, “ada apa, Mini?” tanyanya, “Eoh? Rekaman kamera pengawas?”

***

Pandangan Sunyoung, Seokmin, Jeonghan dan Seri loncat lagi dari laptop itu ke gadis di hadapan mereka, Nona Ma.

Seperti yang Seri minta, Jihun telah mengirimkan beberapa rekaman CCTV di beberapa tempat kejadian. Dan dari sanalah mereka mendapatkan bukti kuat bahwa Nona Ma memang tidak membunuh dan tidak turut serta membunuh. Dirinya hanyalah seorang saksi mata.

“Dalam rekaman ini,” kata Sunyoung yang duduk tepat di depan laptop tersebut, “kami mengakui kesalahpahaman yang terjadi selama ini, Nona Ma.”

“Kami minta maaf karena telah menuduhmu sebagai tersangka,” sambung Seokmin, “bagaimana pun kesenjangan seperti ini memang biasa terjadi dalam masa penyelidikan, dan akan berakhir begitu bukti yang cukup kuat ditemukan.”

“Tetapi mengapa,” Jeonghan angkat suara, “mengapa kau begitu menutupi kesaksianmu, Nona Ma?”

Jeonghan menatap matanya, mata gadis bernama lengkap Ma Ji Hyo tersebut. Tatapannya jernih dan lembut seperti embun fajar, namun terlihat kegelapan menyelimuti kesuciannya. Jeonghan terkesiap.

Apalagi ketika gadis itu kembali menitikan air mata.

“Dia,” ucapnya lirih, “mengancam akan memakai tubuhku lalu membunuhku.”

Semua terkejut, Seri buru-buru mendekat padanya dan mendekapnya lembut. Pantas saja, gadis itu pasti merasa sangat ketakutan selama ini, dan keempat detektif ini tidak menyadarinya sejak awal. Jihyo butuh perlindungan, baik secara fisik maupun mental.

“DK,” panggil Jeonghan.

Seokmin pun mengangguk, dengan segera ia menghubungi seseorang. “Tenanglah, Nona Ma. Di sini, kau aman,” ucap Sunyoung.

Melihat gadis lembut itu menangis tanpa suara membuat Jeonghan begitu sakit, hatinya terenyuh dan ikut merasakan perih akibat duri-duri yang telah membungkam mulutnya sehingga menenggelamkannya pada lembah mengerikan. Tangannya terasa gatal, rasanya ia ingin bergerak untuk memeluk dan melindunginya.

***

Jihyo membungkuk sebagai tanda pamit, Jeonghan, Seri, Sunyoung, dan Seokmin memandangnya kosong. Setelah memberikan kesaksiannya hari ini, Jihyo diperbolehkan pulang, sementara itu di depan ruangan mereka sudah bersiap dua orang penjaga untuk melindunginya selama di perjalanan. Selama penyelidikan kasus ini berlangsung, pihak kepolisian pun telah mengerahkan perlindungan untuk Jihyo.

“Kasihan dia,” ucap Seokmin, “kita terus menerus menuduhnya pembunuh, ternyata itu hanya kebohonganya saja.”

“Demi melindungi dirinya sendiri.” sahut Sunyoung.

“Tetapi sebagai gadis lemah, Jihyo tak bisa apapun, apalagi melawan,” kata Seri, “ya, mau gak mau, dia harus menuruti kemauan si tersangka, atau kalau tidak dia akan mengalami pelecehan seksual sebelum dibunuh.”

Jeonghan mendengar teman-temannya membicarakan Jihyo dan kejadian barusan.

“Tinggal selangkah lagi, kita akan menangkap tersangka yang selama ini bersembunyi di balik kasus rumit ini!” kata Seokmin berapi-api.

Leader-nim, bagaimana menurutmu?” tanya Sunyoung.

Ketiganya memandang ke arah Jeonghan, namun lelaki berambut panjang itu hanya terbengong, masih menatap ke arah menghilangnya sosok lembut Jihyo tersebut. Seri langsung memahami arti tatapannya tersebut.

Leader-nim?” sahut Sunyoung lagi.

***

[Nu’est - Overcome]


“Nona Ma!!”

Dua pengawal dan Jihyo segera berhenti ketika mereka hampir saja meninggalkan gedung ini. Mereka berbalik dan menemukan Jeonghan berlari ke arah mereka ―ke arah Jihyo lebih tepatnya.

“Kalian tunggu saja di mobil, ada yang ingin ku bicarakan dengan Nona Ma.” kata Jeonghan pada dua pengawal tersebut, mereka pun segera menuruti perkataannya.

Kini tinggal mereka berdua saja.

“Ikut aku,” tanpa basa-basi, Jeonghan langsung menyeret Jihyo ke taman di samping gedung. Karena di sana hening, rasanya mereka bisa lebih nyaman untuk berbicara.

Hingga mereka tiba di taman pun, Jihyo tak juga bergeming. Tampangnya seperti orang sakit, dengan surai panjangnya yang kusut dan pribadi yang dingin serta tertutup. Lengkaplah sudah.

“Kau masih merasa takut?” tanya Jeonghan, ditatapnya Jihyo lekat-lekat.

Jihyo mengangguk.

“Kenapa? Kenapa kau masih merasa takut?” tanya Jeonghan lagi, tak sabaran, “Apakah mereka saja tak cukup untuk menghapus keresahanmu? Kami polisi, kami adalah pelindung negara, kami juga akan melindungimu.”

“Kau pikir semudah itu meredakan ketakutanku?” Jihyo berkata dengan wajah datar, “Kau pikir apa yang selama ini ku alami hanyalah selembar kertas?”

Jeonghan bersabar, “Ijebuteo nan neoui gisaya. Kkeutkkajido neoneun naui yeowangiya. Mulai sekarang aku adalah ksatriamu. Sampai akhir pun kau adalah ratuku.” katanya, “Seorang ksatria harus melakukan apapun demi melindungi ratunya, bahkan jika perlu mati untuknya.”

Ucapannya membuat Jihyo membeku.

Itjimayo nan ni pyeoniya. Jangan lupa, aku selalu di sisimu.”

Jihyo tersentak ketika menerima ciuman Jeonghan di bibirnya. Gadis itu tak bisa apa-apa, Jeonghan mengantarnya lebih dalam dan terhanyut lebih jauh lagi.

“Tuh, kan,” kata Seokmin, “kau harus traktir aku burger!” suruhnya pada Sunyoung.

Rupanya, Seri, Sunyoung dan Seokmin mengintip dari lantai jendela ruangan mereka ke taman di bawah sana. Seri menjelaskan arti tatapan Jeonghan sebelum meninggalkan ruangan tadi, dari situ Seokmin bertaruh kalau Jeonghan akan mencium Jihyo sementara Sunyoung bertaruh sebaliknya.

Aish,” gerutu Sunyoung.

Sementara Seri tersenyum tipis, ia baru tau ternyata beginilah jadinya kalau seorang Yoon Jeong Han jatuh cinta. Terlebih, Jeonghan jatuh cinta pada seorang saksi yang dulu dituduhnya sebagai tersangka, Ma Ji Hyo.

[Nu’est - Overcome]

***

“Kring,” bel itu berbunyi karena pintu yang terbuka.

“Ibu,” panggil pria semampai tersebut.

Seorang wanita yang duduk di antara mannequin itu bergegas menghampirinya. “Wonwoo,” didekapnya wajah pria tersebut, Wonwoo, “kau tidak bertugas hari ini, sayang?”

Wonwoo melihat-lihat semua koleksi pakaian yang didisain Ibunya tersebut setelah memastikan hanya ada dirinya dan Ibunya di sini, “Ibu tau, kan, X Team sudah tidak seaktif yang dulu lagi?” katanya, “Bahkan hampir dibubarkan.”

“Ah, Ibu paham,” beliau kembali duduk di hadapan disainnya, “lalu apa yang saja kegiatanmu sekarang ini?”

“Tetap jadi seorang polisi yang seperti Ibu ketahui, terkadang beberapa anggota X Team dipanggil untuk menyelidiki kasus-kasus tertentu. Jadinya, kami jarang ketemu sekarang.”.

Butik ini Wonwoo hadiahkan pada sang Ibu enam bulan yang lalu. Wonwoo ingin Ibunya tak lagi bekerja sebagai wanita malam dan mengembangkan bakat yang selama ini dipendamnya. Hasilnya memuaskan, banyak yang tertarik dengan baju rancangan Ibunya. Hal ini pulalah yang membuat beliau melupakan pekerjaan kelamnya tersebut.

“Kau sudah temui keluarga Ayahmu belum?” tanya si Ibu.

Wonwoo hanya mengangguk, tak lama pandangannya beralih pada sketsa wedding dress yang sedang Ibunya gambar.

“Itu bagus sekali, Bu. Sederhana, tetapi cantik.” senyum Wonwoo.

Beliau menatap anaknya, “Baguslah kalau kau menyukainya.” kemudian melanjutkan disainnya.

Wonwoo terkesiap, “Memangnya kenapa kalau aku menyukainya, Bu?”

“Bukankah kau berniat menikahi Solji?”

Mendengar ucapan si Ibu, Wonwoo terdiam ―tersipu tepatnya. “Bu,” rajuknya.

Ibunya hanya terkekeh. “Baiklah kalau kau tidak ingin buru-buru,” beliau menghentikan kegiatannya menggambar, lalu ia melepas cincin yang tersemat di jari manisnya dan memberikannya pada Wonwoo.

Dipandangnya heran cincin itu.

“Margamu selama ini bukanlah nama yang dipaksakan, sayang.” jelas si Ibu, “Aku berbohong pada Shiyeon yang telah membunuh Ayahmu, sebenarnya kami sudah sempat menikah diam-diam.”

Wonwoo terkesiap.

“Karena kalau Ibu tidak berbohong pada Shiyeon, dia tidak akan berhenti mengejar Ibu. Dia berharap Ibu akan menyukainya, tetapi sampai Shiyeon mati pun Ibu tak pernah menaruh hati padanya.”

“I, Ibu,”

“Maaf selama ini Ibu menutupinya ―kau jadi membenci Ibu.” raut wajahnya murung, “Tetapi tak apa, dibenci pun tak apa, yang penting pada akhirnya kau tau kalau kau sudah menjadi anak yang sah, Jeon Won Woo.”

“Bruk.” dengan segera pria itu memeluk Ibunya hangat.

Ibu hanya tersentak, apalagi ketika mendengar anaknya berdesis, “Terima kasih..., Ibu...” air matanya menetes, tangannya pun mengusap punggung anaknya yang lapang.

“Terima kasih, Bu.”

***

Dari kejauhan sana, tepatnya di pintu gerbang, lelaki bertubuh tinggi tegap itu melihat kehadiran sosok yang telah lama tak dijumpainya.

“Junhui Hyung!” serunya dengan senyumannya yang menawan.

Lelaki yang bersandar pada dinding pagar itu, Junhui, menoleh, “Hooii! Kim Min Gyu!!” serunya pada lelaki yang memanggil namanya, Mingyu.

Dengan tas punggung yang ia jinjing di bahunya, Mingyu segera berlari mendekati Junhui. Mereka berpelukan melepas rindu sejenak.

“Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, Hyung!! Bagaimana misimu di Cina?” tanya Mingyu, mereka berjalan seiringan keluar dari basecamp tersebut.

“Ah, kaunya saja yang kelamaan di camp, aku sering bolak-balik Korea-Cina, kok.” kata Junhui.

Mingyu cuma nyengir.

“Oya, sepulang dari camp ini kau tidak ada acara apapun, kan? Aku ingin makan-makan denganmu, sekalian melepas kangen.” kata Junhui, “Wah, kau bahkan masih bertambah tinggi, ya? Apa kau sering berjemur? Kulitmu kelihatan makin eksotis, dan wow, badanmu sekarang makin bagus, ya?”.

Kembali Mingyu tersenyum menyunggingkan taringnya yang manis. “Terima kasih, Hyung, kau juga semakin tampan saja.” ia terkekeh.

“Eh, kalau itu tak usah ditanya!” kata Junhui, “Aku ini sudah tampan dari lahir!”

“Kalau tampan, kok, belum dapet jodoh, ya ―uhuk,” Mingyu bercanda.

Mereka tertawa. “Ah, lupakan saja ―gak lucu lagian.” kata Junhui, “Bagaimana, Mingyu-ya? Kau gak sibuk, kan?”

Mingyu menggaruk tengkuk sebelum berkata, “Maaf, Hyung, tapi,” ucapnya ragu.

Junhui memandang ke arah Mingyu, “Kenapa? Ada acara, ya?” selidiknya, “Katakan saja.”

“Sepulang dari sini, ada seseorang yang ingin ku temui.” cengirnya.

“Siapa? Ayah Ibumu? Atau adik perempuanmu? Oh!!” Junhui teringat sesuatu, “Jangan bilang..., kau ingin bertemu imprint-mu itu..., ya, kan...?” tebaknya.

Ya, tak ada yang bisa Mingyu lakukan selain nyengir.

***

Dari sebuah bangunan kecil dengan cat warna-warni ini, Mingyu bisa mendengar riuhnya suara-suara manis dari surga. Beberapa anak kecil berseragam manis berlarian melaluinya, bak malaikat kecil yang mengitarinya.

Mingyu tersenyum.

Dari jendelanya, ia ingin tau siapakah yang berdiri di depan kelas saat ini. Dan tepat seperti dugaannya, imprint-nya berdiri di sana.

“Jadi, apa yang pertama kali kita lakukan jika hendak menyeberang?” serunya pada anak-anak kecil berseragam biru di hadapannya.

“Melihat ke kanan dan ke kiri jalan!!!” seru mereka antusias.

Senyuman gadis yang memakai blouse berwarna peach yang manis dipadu dengan rok selutut berwarna biru navy membuat sosoknya begitu anggun di tengah-tengah kelas. Melihat senyuman itu, Mingyu tak mampu menahan bibirnya untuk ikut tersenyum.

“Bagus!” ucapnya, “Sekarang siapa yang berani menyebutkan langkah-langkah menyeberang di jalan, ayo acungkan tangan!!”

“Aku, Shin Sonsaengnim!!” mereka berebut menunjukkan kebolehan.

“Satu-satu, ya. Di mulai dari Minju, Sungki, lalu Nari.” senyuman itu tak bisa lekang dari wajahnya yang lugu.

Mingyu menyukainya sejak mereka pertama kali bertemu.

***

Meski kelas sudah berakhir di siang hari, namun Haera baru pulang di sore hari. Maklum, sebentar lagi anak-anak didiknya di Taman Kanak-kanak ini akan segera lulus, ada banyak hal yang harus ditanganinya sebelum mereka meninggalkan sekolah yang menyenangkan ini.

Haera melewati jalan seperti biasanya, di mana pepohonan rindang, bunga-bunga yang indah dan rerumputan yang bersahabat terhampar di kanan dan kiri jalannya ―membuatnya sangat rileks. Namun tak hanya mereka saja yang menyambut kepulangannya.

Dia, orang itu, seseorang yang telah mengunci hatinya hanya untuk Haera, melambaikan tangan padanya di ujung jalan sambil tersenyum menawan.

Haera hampir saja menangis melihat lelaki yang sangat dirindukannya tiba-tiba muncul di hadapannya saat ini, seperti mimpi. Dengan haru yang tertahan, lelaki itu terus berlari mendekati gadisnya yang mematung di tengah jalan.

“Haera-ya!!” panggilnya riang.

Sementara Haera hanya bisa bergumam, “Min, Mingyu,”

Dengan segera, Mingyu memeluk tubuh Haera yang kecil, mengangkatnya dan membawanya berputar, sangking girangnya. Lalu mencium bibirnya selama beberapa saat, bahkan sampai Mingyu meletakan tubuh Haera di atas tanah pun dua bibir itu masih saling bertautan.

Nal geuriwoji? Kau rindu padaku, kan?” cengir Mingyu.

“Kau bohong,” Mingyu bisa melihat aliran bening itu membasahi pipi Haera, “kau bilang padaku kau akan pulang akhir tahun nanti, tapi ternyata kau pulang hari ini. Kau bohong!!”

Mingyu hanya tertawa lepas ketika Haera memukuli tubuhnya yang tegap. “Kejutan untuk imprint-ku,” katanya, “kau suka?”

Haera semakin mengerucutkan bibirnya, “Kau menyebalkan, Kim Min Gyu!” cemberutnya.

“Gak papa ―yang penting kau gak benci aku, kan?” cengir Mingyu.

Lelaki itu berhasil membuat Haera membeku.

Lagi, Mingyu mengulanginya. Namun kali ini Haera berjinjit agar lelaki jangkung itu bisa mencapai bibirnya lebih cepat. Meski beberapa menit telah berlalu, rasanya mereka masih ingin melepas rindu yang menggunung.

Seperti hidup kembali, kupu-kupu berpulang pada bunga-bunga yang bermekaran di sana, seakan ikut merayakan kembalinya lelaki itu ke pelukan Haera.

***

“Kau siap?”

Mingyu menjawab pertanyaan Haera itu dengan senyuman. “Tentu saja,” katanya, “tunggu apa lagi?”

Pagi yang istimewa bagi anak-anak lugu ini, khusus hari ini mereka kedatangan seorang pria tinggi tegap dengan pakaian serba militer yang akan mengajarkan mereka berbagai hal baru tentang ketertiban sebagai warga negara yang baik.

“Wah!! Ada tentara!!” seru mereka melihat pemandangan baru yang menarik perhatian.

Haera dan Mingyu tersenyum senang mendapat sambutan itu. Mereka sangat antusias dengan kedatangan Mingyu pagi ini, dan membuatnya jadi sangat spesial.

“Shin Sonsaengnim, Paman Militer ini siapa? Temannya Bu Guru, ya?” ujar salah seorang anak kecil.

Mingyu dan Haera berpandangan, lalu terkikik kecil. Sebaiknya anak kecil selugu mereka tak perlu tau hubungan apa yang tengah mereka jalin.

“Anak-anak, khusus hari ini, kita kedatangan seorang teman baru yang akan mengajarkan kita bagaimana menjadi warga negara Republik Korea Selatan yang baik!” ujar Haera, “Ayo beri salam.”

Annyeong haseyo, Haebaragi bang imnida. Bangapseumnida!!” sambut anak-anak itu dengan sangat antusias.

Mingyu tersenyum, “Wah, kalian kompak sekali, ya?” senyumnya, “Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku dulu. Namaku Kim Min Gyu, karena di sini aku akan mengajarkan beberapa hal, jadi kalian bisa panggil aku Kim Sonsaengnim saja, ya.”

Annyeong haseyo, Kim Sonsaengnim!!” sambut anak-anak itu lagi.

Mereka sangat manis, Mingyu memandangi Haera dan gadis itu mengerti arti tatapannya, “Kami sering kedatangan sukarelawan yang mengajar di sini, jadi aku mengajarkan mereka menyambut dengan baik. Dan mereka juga melakukannya padamu.” senyumnya, “Kau suka?”

Mingyu mengangguk, “Boleh aku mulai?” tanyanya.

“Tentu.” kata Haera padanya, lalu gadis itu beralih pada anak-anak di depannya, “Nah, Kim Sonsaengnim akan mulai mengajari kita hal-hal baru. Ayo, semuanya duduk yang rapi di tempatnya masing-masing.”

Anak-anak kecil itu melangkahkan kaki mereka yang mungil ke tempat duduknya masing-masing.

“Hyunjoo, ayo kau tidak boleh iseng. Woomin, kembalikan bukunya Minah, jangan nakal, ya. Sohwa, kembali ke tempat dudukmu, sayang. Nanti pelajarannya gak mulai-mulai, lho. Sudah di tempat duduk semuanya? Ayo duduk yang rapi.”

“So lovely,” batinnya, Mingyu hanya bisa memandangi Haera yang mengurus anak-anak di hadapannya itu dengan tulus hati. Dari situlah kecantikannya terpancar.

Mingyu makin mencintainya.

***

Seungcheol memandangi tangan kiri Solji yang berdiri di hadapannya bersama Wonwoo. Sudah tersemat sebuah cincin cantik di jari manisnya. Itulah tandanya.

“Seperti yang ku katakan pada Wonwoo sebelumnya,” Seungcheol melipat kedua tangan di depan dada, “aku memang merestui kalian, dengan syarat,”

Wonwoo dan Solji memandang Seungcheol bersamaan.

“di sini, kalian adalah polisi, kalian adalah pelindung negara ―itulah profesi kalian. Di sini adalah tempat kalian bekerja, dan aku menuntut kalian untuk profesional.” tegas Seungcheol, “Urusan pribadi, urusan rumah tangga, dan segala hal yang berkaitan dengan kepentingan pribadi harus dilupakan sejenak di sini. Paham?”

“Siap, paham.” ucap Wonwoo dan Solji tegas.

Seungcheol memandangi mereka lekat-lekat, “Karena kalian adalah manusia-manusia dewasa, jadi ku rasa tak perlu ada tambahan lagi ―kalian pasti sudah mengerti.” katanya, “Ku restui kalian untuk menikah.”

“Sebenarnya,” ujar Wonwoo cepat.

“hanya bertunangan,” sambung Solji.

“terlebih dahulu.” Wonwoo melanjutkan.

Seungcheol menepuk dahi, Solji dan Wonwoo saling melirik senang. “Maksudku, bertunangan baru setelah itu menikah ―aku merestui keduanya.” ralatnya. “Tunggu apa lagi? Bubar, jalan.”

***

Aim
Part XVII : Fin(al)

***

“Sally,”

“Apa yang kau lakukan...?” lirih Solji.

“Sedikit saja.” sentuhan itu menggodanya.

“Tidak,”

“Sally,”

“Ku bilang tidak,”

I’ve got you,” desis Wonwoo ketika berhasil melakukannya.

Solji merintih, “Hentikan,” ia bisa merasakan nyeri di bagian penting itu, “kita sudah melakukannya.”

“Kau tau kalau aku tipe laki-laki yang tidak mudah puas, kan?” Wonwoo menyeringai, “Apalagi kita sempat terpisah jauh sebelumnya.”

Baiklah, Solji mengaku ia sudah kalah ―tanpa mengatakannya. Karena sekarang, dia sudah terlanjur menjadi korban malam ini. Bahkan ia menarik Wonwoo, memaksanya untuk melakukan sesuatu padanya.

“Woah,” lelaki itu berhasil menahannya, “kau ingin aku jadi agresif untuk malam ini?”

“Jangan cerewet dan lakukan saja ―rasanya sakit.”

Rupanya begitu, Wonwoo paham. Mereka mengawalinya dengan ciuman, dan Wonwoo yang menaikan level permainanya. Ia paksa Solji membuka mulutnya dan bermain-main di dalam rongga mulutnya ―menggodanya dan meredakan nyeri yang dideritanya.

Do it ―one more time,” pinta Solji.

Wonwoo tersenyum senang, “Kau ketagihan rupanya,” dan tanpa pikir panjang segera mengulanginya lagi.

***

“Ssss...” selain rasa perih, Solji merasakan berbagai hal yang tidak wajar yang membangunkannya di pagi hari.

Kepalanya terasa pening, tak hanya kepalanya tapi tubuhnya terasa berputar-putar dan itu semakin membuatnya mual. Tak ayal rasa yang semakin menyiksanya itu menyeret tubuhnya ke kamar mandi.

***

Sekali lagi Solji membasuh wajahnya, lalu mengeringkannya dengan handuk di dekatnya. Kembali dipandanginya alat di dekat washtafel tersebut.

Solji meragu, lalu memungutnya dan memandanginya lekat-lekat. Sebenarnya garis lurus ini pertanda plus atau minus, sih, batinnya.

“Apa mungkin alatnya rusak?” gumamnya.

Wanita itu bergerak mendekati jendela, lalu menerawang tanda pada alat itu dengan memantulkan sinar matahari padanya. Dan kemudian, Solji terkejut.

What the,” gumamnya lagi.

Keluar dari kamar mandi, ia menemukan Wonwoo sudah memakai bajunya kembali. Namun sepertinya ia belum sepenuhnya terbangun, karena lelaki yang perawakannya berantakan itu kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.

Solji mendesah, lalu kembali pada ranjangnya. Dia duduk sambil bersandar pada headboard-nya. Di saat itulah, dengan enggan Wonwoo mendekat pada tubuhnya dan meletakan kepalanya di atas perut wanita tersebut.

“Hei, sudah siang, sloth.” ucap Solji.

“Hmmm,” Wonwoo masih menutup matanya, “kau selalu saja menyebutku begitu.”

“Habisnya tiap pagi kau selalu begitu. Mau ku panggil apa lagi? Koala? Kukang? Kus-kus?”

Ya~...” gerutunya, Wonwoo mencari posisi yang nyaman.

Perasaan Solji jadi campur aduk ketika melihat hasil dari alat tadi. Dia jadi agak jengkel, entah mengapa. “Hei, jangan tiduran di situ.” Solji mendorong kepala Wonwoo dari atas perutnya hingga jatuh ke atas ranjang.

“Ish,” Wonwoo berdesis, “memangnya kenapa, sih?”

Solji menutup mulut lelaki itu dengan menunjukkan alat tersebut padanya. Wonwoo tak bergeming ketika melihat tanda di atasnya, lalu dengan segera merebutnya untuk melihatnya lekat-lekat. Setelah merasa yakin dengan apa yang ditangkap netranya, Wonwoo kembali menatap Solji.

“Apa maksudnya ini?” matanya yang tadi tertutup rapat, tiba-tiba terbuka lebar.

Solji sedikit gusar, “Cepat perbaiki penampilanmu ―rambutmu berdiri semua.” katanya sebelum melengos meninggalkan kamarnya ―dan Wonwoo.

“Hei, berikan aku penjelasan tentang ini! Hei,” Wonwoo memandang ke arah pintu itu, berharap Solji mau kembali, “hei, maksudku, honey!!”

***

“Sepertinya ada yang kurang?” ucap Jihun.

“Siapa lagi?” kata Jun, “Tentu saja kita kekurangan Tuan dan Nyonya Jeon.”

Benar, hari ini semua anggota X Team reunian. Mereka pergi keluar kota dan menyewa sebuah penginapan untuk mereka. Setelah tiga tahun lamanya jarang bertemu, akhirnya di acara ini mereka kembali bersama-sama, tapi bukan untuk sebuah misi.

Melainkan liburan.

Di halaman rumah tempat mereka menginap, Mingyu, Seungcheol, Jun dan Jeonghan berusaha menyiapkan peralatan untuk BBQ Party. Ada juga Nayeon dan Seri yang duduk-duduk di bawah terpal yang rindang setelah selesai dengan tugas mereka menyiapkan bahan dasar BBQ. Jihun sesekali membantu keempat temannya menyiapkan pemanggang, kemudian Seokmin dan Sunyoung yang asik sendiri bermain-main dengan seorang bocah.

“Ayo, turunlah dari punggung Paman.” ucap Seokmin pada bocah lelaki tersebut yang kemudian merosot dari punggungnya dan berlari ke arah Seungcheol.

Appa!!” seru anak itu.

Seungcheol terkejut begitu anak itu naik ke punggungnya ketika ia belum sempat berbalik. Namun ia dan anaknya tertawa kemudian.

“Seyong-ah, jangan nakal.” tegur Nayeon.

“Sana, bermainlah dengan Omma-mu dulu,” kata Seungcheol, menyuruh bocah bernama Choi Se Yong itu mendekati Nayeon yang duduk-duduk di sana.

Bocah berusia dua tahun itu meluncur pada Ibunya, Nayeon. Namun tubuh mungilnya lantas direbut Seri yang duduk di samping Nayeon.

“Aduh, lucunya.” dicubitnya gemas pipi Seyong.

“Aku gak mau sama Ahjumma!! Aku mau duduk sama Omma!!” Seyong menggertak manis.

“Seyongie,” tegur Nayeon.

Hyung, letakan saja seperti ini.” Mingyu datang dan menunjukkan kebolehannya memasang alat pemanggang tersebut pada Seungcheol, Jeonghan dan Jun.

“Tentu saja, house wife Mingyu.” sahut Sunyoung dari jauh.

“Kenapa gak dari tadi aja, sih, Mingyu-ya.” ucap Junhui.

“Kau, ambil beberapa perabotan di belakang sana ―cepatlah.” suruh Seungcheol pada Jeonghan.

“Sudah ku suruh Seokmin mengambilkanya.” cengir Jeonghan kemudian.

Selesai dengan persiapannya, dengan senang hati, Sunyoung menggelar terpal berpola kotak-kotak itu di atas rerumputan halaman. Seri dan Nayeon meletakan sekerangjang buah, beberapa camilan, dan minuman di atasnya.

Kemudian, semua berkumpul dan duduk di sana.

“Mana, nih, Tuan dan Nyonya Jeon, kok, belum datang juga?” ujar Jihun, sementara itu Mingyu mengajak Seyong bermain bola.

Baru saja disebut, Solji sudah muncul dari kejauhan sana.

“Nah, panjang umur rupanya.” kata Junhui.

“Kau kenapa, Solji-ya?” Seuncheol melihat sepupunya itu sedikit gusar dan bad mood.

Solji tak mau menjawab, dia hanya berdiri saja.

“Mana Wonwoo? Kau datang sendirian saja?” tanya Jeonghan.

“Mungkin kurang morning kiss.” Seokmin berbisik pada Sunyoung, lalu mereka terkikik. Solji memandangi mereka tajam.

Tak lama, datanglah Wonwoo, dan alat itu masih di dalam genggamannya.

“Ada apa ini? Kenapa kalian datangnya terpisah?” Nayeon ikut mengoreksi.

“Tidak ada apa-apa,” Wonwoo kelihatan sumringah, lalu memeluk Solji dari belakang.

“Kau berusaha menutupi konflik.” selidik Mingyu sambil memungut bolanya.

“Lihat, Mingyu yang datang sendirian ke sini.” ledek Sunyoung, “Harusnya kau ajak saja pacarmu, Kim Min Gyu! Kau jadinya bermain dengan Seyong.”

Mereka tertawa.

“Sunyoung benar,” Wonwoo menyetujui, Mingyu memandanginya, “harusnya kau ajak saja Haera ke sini.”

“Dia sudah punya Solji. Takkan terjadi apapun di antara mereka.” sahut Seungcheol, menyinggung Wonwoo dan Haera.

“Hari ini Haera harus menghadiri tour-nya anak-anak, acara perpisahan.” jelas Mingyu, kemudian lanjut bermain dengan Seyong.

“Kalau Seri dan Jihun sendiri, bagaimana?” Sunyoung memulainya.

“Kau ini?!” Jihun menyikut makhluk heboh tersebut.

Oppa sangat melindungiku,” kata Seri, canggung, “dia bahkan meminta pada pengelola penginapan untuk menyediakan kamar dengan dua single bed. Habisnya aku tidak bisa tidur sendiri, sementara Nayeon Onnie sudah bersama Leader-nim dan Seyong, serta Solji Onnie sudah bersama Wonwoo Oppa.”

“Kau terpaksa sekamar denganku?” Jihun menatap Seri usil, gadis itu segera mendorong mukanya menjauh.

“Wow, Woozi sekarang agresif.” ledek Sunyoung, semua tertawa.

“Ingatlah janjiku ―aku takkan mengingkarinya.” Jihun berbisik di telinga Seri setelah merangkul pinggangnya.

“Kalau Jeonghanie Hyung? Ah, gak usah ditebak lagi!”  kata Seokmin. “Bagaimana kencanmu dengan Nona Ma?”

Ya!! Lee Seok Min!!” jengkel Jeonghan, hampir saja tersedak gara-gara bocah girang itu.

“Oh, jadi kau menyukai saksi mata itu?” usil Junhui.

“Kalian menyebalkan.” gerutu Jeonghan, “Kau berdua ―Kwon Sunyoung, Lee Seokmin! Memangnya kalian mementingan hubungan dengan lawan jenis, huh?!”

“Kami masih pengin single.” aku Sunyoung.

“Masih pengin berkarir ―itu saja.” sambung Seokmin.

Single, apa jomblo, ya.” candaan Junhui berhasil membuat tawa meledak.

“Kau yang jomblo!” Seokmin dan Sunyoung tak terima.

“Hei, Junhui ini sedang cari jodoh, tau!” kembali tawa meledak ketika Jihun bergurau.

Di sela tawa mereka, Solji melepaskan pelukan Wonwoo dengan gusar.

“Hei, hei,” Seungcheol menyadarinya, “kalian berdua ini kenapa, sih? Ada masalah, ya?” sahutnya pada Wonwoo dan Solji.

Wonwoo kembali menarik tubuh itu ke dalam dekapannya. “Dia mungkin sedikit syok setelah melihat ini.” katanya, lalu melemparkan alat di genggamannya pada Seungcheol.

“MWOYA?” kaget Seungcheol begitu melihat tanda di atas alat tersebut.

[SEVENTEEN – Pretty U]




Semua pun ikut menyelidik, kecuali Mingyu yang harus bermain dengan Seyong. Sama seperti Seungcheol, mereka semua juga terkejut.

“Kau akan jadi Paman sebentar lagi, Hyung.” cengir Wonwoo.

“Syukurlah! Oppa, Onnie, chukhahae!!” sambut Seri yang segera berhambur ke arah Solji dan memeluknya.

Wonwoo hanya tersenyum melihat mereka berdua, apalagi melihat Solji yang tidak bergeming.

“Bukankah ini baru bulan ketiga setelah pernikahan kalian?” selidik Junhui, “Jangan-jangan, sebelumnya kalian sudah...,”

Ya, kenapa kau tidak kelihatan senang, Solji-ya!” protes Sunyoung, “Bukankah ini bagus? Nayeon Nuna dan Seungcheol Hyung tengah menanti kelahiran anak kedua, sementara kau dan Wonwoo akan segera memiliki anak pertama?!”

“Sudah ku bilang, dia syok.” Wonwoo yang tak puas pun kembali memeluk Solji. Lalu mencium pipi Solji, segera saja Solji yang tersentak itu memukuli Wonwoo.

“Aku tidak ingin punya pasangan hidup seperti Solji Nuna ―nanti dipukuli terus.” ledek Seokmin.

“Berisik!” sebal Solji, lalu dengan iseng menyerobot selang di atas rumput itu.

“Hei, hei! Apa yang,” kaget Jeonghan.

“Syuuurrr!!!” dengan segera Solji menyemprotkan air ke arah mereka semua. Rasanya menyenangkan melihat mereka terbirit-birit kebasahan.

“Jeon Sol Ji!!!” jengkel Seungcheol, namun mereka semua senang meski kebasahan.

Bukannya menghentikan kelakukan pasanganya, Wonwoo malah datang dan menggerakan tangan Solji ke arah semua teman-temannya tersebut hingga mereka basah. Bahkan Mingyu harus kabur membawa Seyong supaya tidak ikut jadi korban.

Dan pasangan sehidup semati itu kelihatan begitu bahagia.

***

fin(al)

***

Komentar..
Part XV : Death


Istigfar, Nak.. Istigfar..

Shipper nya SeulWoo, merapat.. ^^

Alhamdulillah, ada yang doain..
Amin, amin, amin..


Part XVI : COMA


Bininya Jun, minta pembelaan.
Hehehehe

Lagi-lagi didoain jadi novel.
Near terharu ㅠㅠ

Behinde the scenes...

궁굼하잖아? *tapi gak ada yang penasaran*
*spoiler gagal*

Update juga di IG

Uji coba..

Sayangnya, gak ada yang baper
*Near edisi spoiler gagal* wkwkwk

Sayangnya, gak ada yang penasaran
*Near edisi spoiler gagal lagi* sib nasib wkwkwkwk


A letter from Author..

Alhamdulillah wa syukurillah, bisa rampungin ff ini aja udah seneng, apalagi banyak yang pada suka sama Aim, bahkan doain Aim biar dijadikan novel sekaligus film. Amin, amin ya rabbal alamin.

Makasih, dan makasih banget buat Readers yang mungkin tidak 'kasat mata' tapi masih mau kasih komen buat Aim, bahkan kasih doa. Semoga doanya terkabul, amin!!

Makasih buat mbak Tyas dan mbak Narin yang masih pengin aku tagin. Para makhluk-makhluk (?) tak kasat mata tapi selalu muncul di komentar, Erika, Galuh alias Ashley  😂😂, Putri, dan tentu saja Arthea-nim!! Dan yang sudah komen maupun cuma kasih like atau G+. Semuanya, makasih!!! *hug satu satu*

Mungkin perjuangan Near yang ke warnet meskipun Near masih nganggur ini dianggap sia-sia sama orang kebanyakan, tapi Near berharap semua orang yang Near ucapkan terima kasih ini akan selalu mendapat berkah. Amin.

Rencananya, Aim mau Near posting ulang di Wordpress. Near juga akan berusaha untuk tetap menulis ff, meskipun Near masih harus nyari kerjaan dan dalam perjalanan menuju mimpi Near untuk jadi seorang novelist. Mohon doanya ya, Readers^^

Makasih tak terkira juga buat SEVENTEEN!! You are my shinning diamonds!!

Maaf yang gak bisa Near sebutkan satu persatu..

Terima kasih. Mohon sukungannya untuk SEVENTEEN, Carats, dan Near ya!! Sukses selalu buat Readers semua!!

Amin, ya rabbal alamin.

Author

Near



감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^