[FF] Aim part XVII
Aim
Part XVII : Fin(al)
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se
Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, Choi Han Sol/Vernon
***
| Spoiler
ver. |
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
“Krek, krek,” kamera itu diarahkan kepadanya.
“Hai,” sapa Solji pada kamera, “ini kamera
baruku, aku baru saja membelinya untuk acara reunian besok. Hehehe.” katanya,
“Apa yang harus ku katakan, ya?”
“Oh, ya, X team.” ingatnya, “Saat ini, kami
memang tidak terlalu aktif lagi, dan kami memang lebih sering terpisah sejak
kejadian luar biasa beberapa tahun yang lalu, sampai SWAT pun turun tangan.”
“Dimulai dari Seungcheol Oppa, S.Coups leader
kami.” katanya, “Setahun setelah kejadian, semuanya sudah membaik, Korea
Selatan menjadi aman dan damai. Dan di saat itulah, ia mempersunting Pelatih
Han. Yup, siapa lagi kalau bukan Nayeon Onnie!”
“Tiga tahun yang lalu mereka menikah, dan
sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua.” katanya, “Lalu Jeonghan Oppa, Seri, Seokmin dan Sunyoung kini
lebih fokus dalam tugas penyelidikan mereka, menjadi detektif dan polisi pada
umumnya. Mereka banyak mengungkap kasus-kasus pembunuhan yang rumit.”
“Jihun sendiri masih bekerja untuk Kepolisian
sebagai hacker, sementara Junhui
harus bolak-balik Cina-KorSel karena tugas. Mingyu baru saja kembali dari camp setelah hampir dua tahun bertugas
di sana. Oya, dia sudah berkenalan dengan Haera, dan ku rasa ada sesuatu di
antara mereka.” Solji terkekeh, “Sementara Wonwoo dan,”
“Kau lihat di mana handukku?” suara bass itu menggema.
Solji jengah, “Memangnya di situ tidak ada?”
teriaknya, dengan segera ia menghampiri si pemilik suara dan meninggalkan
kameranya di atas meja rias.
Selama keheningan itu, kamera berhasil menyorot
seisi kamar berinterior elegan yang dipenuhi warna-warna lembut. Di dindingnya
terdapat sebuah rak besar berdesain unik penuh dengan buku. Tak luput dari
rekaman, tertangkap juga beberapa pigura di samping kasur king size itu.
Pigura-pigura yang terbilang masih baru dan
sangat cantik. Berisi banyak gambar seorang pria dengan stelan jas rapi dan senjata
di tangan serta seorang wanita yang memakai gaun putih juga dengan senjata di
tangan. Sebuah pre-wedding photo yang
mengusung tema yang sangat unik.
***
Aim
Part XVII : Fin(al)
***
Seorang wanita dengan tubuh semampai, rambut
hitam kecoklatan yang dikuncir rapi, dengan langkah tegas memasuki lapangan indoor dan berhadapan dengan beberapa
polisi di sana.
“Mulai sekarang, sebagai pengganti Pelatih Han
Na Yeon yang harus absen karena baru saja melahirkan anak pertamanya,” ucap
wanita itu, “aku akan melatih kalian sampai Pelatih Han kembali atau sampai
penggantinya datang. Kalian bisa memanggilku Pelatih Choi,”
“Choi Sol Ji.”
“Siap!” seru seluruh pasukan itu.
“Lihat, dari kecil sampai dewasa pun dia takkan
pernah tumbuh menjadi gadis manis,” ucap Seungcheol, dari lantai atas
memerhatikan Solji yang memulai hari pertamanya melatih bela diri menggantikan
isterinya, Nayeon.
Wonwoo hanya tersenyum.
“Kapan-kapan mampirlah ke rumahku, aku ingin
menunjukkan banyak hal tentang Solji padamu.” Seungcheol menatap pria di
sampingnya.
Wonwoo mendelik. “Kenapa kau ingin sekali
menunjukkannya, Hyung?” herannya.
“Kenapa?” Seungcheol terkekeh, “Wonwoo-ya, kau
tak usah pura-pura padaku. Aku tau sebenarnya ada yang ingin kau katakan padaku
akhir-akhir ini, tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya.”
“Hyung,
aku,”
Seungcheol keburu mendekap bahunya, “Kau sudah
dewasa, Jeon Won Woo. Kau tau apa yang harusnya kau pilih di usiamu yang sudah
sangat matang ini.” nasihatnya, “Kau tak perlu takut soal bakcground-mu. Lagipula namamu sudah dibersihkan di persidangan
yang lalu, kan?”
Wonwoo ingat itu, “Gomawo, Hyung.” dan Seungcheol lah yang membantunya.
Setelah kejadian menegangkan itu usai, oleh
rakyat Korea Selatan nama Wonwoo sempat mencuat dan disebut-sebut sebagai
pengkhianat negara dan tidak pantas berada di dalam kepolisian. Hal ini dikarenakan
Wonwoo sempat bekerja sama dengan Ilsung untuk mengkhianati negara.
Namun Seungcheol menegaskan bahwa Wonwoo
mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan negara ini. Buktinya ia mau
kembali pada jalan yang benar, berbalik membasmi Ilsung, dan melindungi segenap
bangsanya, bahkan hampir mati.
Tidak ada lagi pembunuh bayaran Park Shi Yeon,
tidak ada lagi teroris Jung Il Sung. Semuanya sudah damai dan aman, Korea
Selatan tetaplah satu kesatuan yang utuh.
Wonwoo sudah mengurus semua dokumennya yang
masih beratasnamakan Park Nam Kyung yang kemudian dirubahnya menjadi Jeon Won
Woo. Sebenarnya ada satu alasan kenapa ia membenahi itu semua, namun Wonwoo tak
bisa mengungkapkannya pada siapapun.
“Bagaimana? Beberapa identitasmu sudah bernama
Jeon Won Woo sekarang, kan?” selidik Seungcheol, Wonwoo terkesiap, “Aku sudah
tau, kok.” ditepuknya bahu itu berulangkali.
Wonwoo meragu.
“Kau tak perlu cemas,” kata Seungcheol, “aku
sudah merestuimu.”
***
Jeonghan yang berdiri paling dekat dengan
jendela itu, di belakangnya Seokmin dan Sunyoung memperhatikan. Dari speaker mereka bisa mendengar suara Seri
dan seorang saksi di dalam ruangan kedap suara tersebut. Beberapa layar
memantau dari tiap sudut ruangan 4 x 4 itu.
Setahun belakangan ―setelah usainya kejadian
menggemparkan tersebut― X Team tak lagi seaktif yang dulu, sehingga empat orang
di antara mereka, yakni Jeonghan, Seri, Seokmin, dan Sunyoung, dijadikan tim
penyelidik.
Hasil pekerjaan mereka pun tak diragukan.
Kasus-kasus yang mereka selidiki biasanya kasus pembunuhan sadis maupun
berantai yang sangat rumit, yang mana di tangan mereka berempat kasus-kasus
tersebut dapat terselesaikan dengan tuntas.
“Kau, kan, yang membunuhnya?” suaranya Seri
terdengar dari speaker.
Sunyoung menyelidik ke salah satu layar yang
menyorot wajah Nona Ma, si saksi mata yang menjadi terduga dalam kasus
pembunuhan berantai kali ini.
Nn. Ma tak bergeming, gadis bersurai panjang,
berwajah lunglai, dengan kulit putih pucat itu pun menatap Seri tanpa ragu dan
berkata, “Sudah ku bilang,” katanya lemah, “bukan aku yang membunuhnya.” lalu
air mata itu jatuh tanpa sedikitpun isakan terdengar.
Seri tersentak melihat raut wajahnya yang sama
sekali tak menunjukkan ketegangan dan sangat tenang. Ia pun memandang ke arah
jendela itu. Meski Seri sendiri tak bisa melihat apapun di jendela itu, ia
berharap Jeonghan bisa menangkap apa yang hendak disampaikannya.
Benar saja, Jeonghan juga merasakan hal yang
sama. Namun dua bocah girang ini belum menyadarinya.
“Ada apa, Hyung?”
tanya Seokmin.
Jeonghan tak berpaling dari gadis itu, “Dia,”
ucapnya, “jujur.”
***
“Tidak, tidak, maksudnya ke koordinat yang
ini,” ujar Jihun, mengarahkan seorang junior yang baru bekerja hari ini.
Lee Jihun saat ini masih bekerja sebagai
seorang hakcer, masih dalam ruang
lingkup kepolisian. Kemampuan hacking-nya
yang tak bisa diragukan membuatnya menjadi orang yang sangat penting di sini.
“Yeoboseyo?”
sahut Jihun ketika seseorang bernama kontak ‘yeoja’ itu menelponnya.
“Iiih, kau kira aku ini siapa?!” sebal Seri.
Benar, kontak bernama ‘yeoja’ di ponsel Jihun itu
adalah Seri. Sementara nama kontak Jihun di ponsel Seri adalah ‘namja’.
“Iya, iya,” Jihun hanya bisa tersenyum, ia
menyingkirkan diri dari tempatnya bekerja, “ada apa, Mini?” tanyanya, “Eoh? Rekaman kamera pengawas?”
***
Pandangan Sunyoung, Seokmin, Jeonghan dan Seri
loncat lagi dari laptop itu ke gadis di hadapan mereka, Nona Ma.
Seperti yang Seri minta, Jihun telah
mengirimkan beberapa rekaman CCTV di beberapa tempat kejadian. Dan dari sanalah
mereka mendapatkan bukti kuat bahwa Nona Ma memang tidak membunuh dan tidak
turut serta membunuh. Dirinya hanyalah seorang saksi mata.
“Dalam rekaman ini,” kata Sunyoung yang duduk
tepat di depan laptop tersebut, “kami mengakui kesalahpahaman yang terjadi
selama ini, Nona Ma.”
“Kami minta maaf karena telah menuduhmu sebagai
tersangka,” sambung Seokmin, “bagaimana pun kesenjangan seperti ini memang
biasa terjadi dalam masa penyelidikan, dan akan berakhir begitu bukti yang
cukup kuat ditemukan.”
“Tetapi mengapa,” Jeonghan angkat suara,
“mengapa kau begitu menutupi kesaksianmu, Nona Ma?”
Jeonghan menatap matanya, mata gadis bernama
lengkap Ma Ji Hyo tersebut. Tatapannya jernih dan lembut seperti embun fajar,
namun terlihat kegelapan menyelimuti kesuciannya. Jeonghan terkesiap.
Apalagi ketika gadis itu kembali menitikan air
mata.
“Dia,” ucapnya lirih, “mengancam akan memakai
tubuhku lalu membunuhku.”
Semua terkejut, Seri buru-buru mendekat padanya
dan mendekapnya lembut. Pantas saja, gadis itu pasti merasa sangat ketakutan
selama ini, dan keempat detektif ini tidak menyadarinya sejak awal. Jihyo butuh
perlindungan, baik secara fisik maupun mental.
“DK,” panggil Jeonghan.
Seokmin pun mengangguk, dengan segera ia
menghubungi seseorang. “Tenanglah, Nona Ma. Di sini, kau aman,” ucap Sunyoung.
Melihat gadis lembut itu menangis tanpa suara
membuat Jeonghan begitu sakit, hatinya terenyuh dan ikut merasakan perih akibat
duri-duri yang telah membungkam mulutnya sehingga menenggelamkannya pada lembah
mengerikan. Tangannya terasa gatal, rasanya ia ingin bergerak untuk memeluk dan
melindunginya.
***
Jihyo membungkuk sebagai tanda pamit, Jeonghan,
Seri, Sunyoung, dan Seokmin memandangnya kosong. Setelah memberikan
kesaksiannya hari ini, Jihyo diperbolehkan pulang, sementara itu di depan
ruangan mereka sudah bersiap dua orang penjaga untuk melindunginya selama di
perjalanan. Selama penyelidikan kasus ini berlangsung, pihak kepolisian pun
telah mengerahkan perlindungan untuk Jihyo.
“Kasihan dia,” ucap Seokmin, “kita terus
menerus menuduhnya pembunuh, ternyata itu hanya kebohonganya saja.”
“Demi melindungi dirinya sendiri.” sahut
Sunyoung.
“Tetapi sebagai gadis lemah, Jihyo tak bisa
apapun, apalagi melawan,” kata Seri, “ya, mau gak mau, dia harus menuruti
kemauan si tersangka, atau kalau tidak dia akan mengalami pelecehan seksual
sebelum dibunuh.”
Jeonghan mendengar teman-temannya membicarakan
Jihyo dan kejadian barusan.
“Tinggal selangkah lagi, kita akan menangkap
tersangka yang selama ini bersembunyi di balik kasus rumit ini!” kata Seokmin
berapi-api.
“Leader-nim,
bagaimana menurutmu?” tanya Sunyoung.
Ketiganya memandang ke arah Jeonghan, namun
lelaki berambut panjang itu hanya terbengong, masih menatap ke arah
menghilangnya sosok lembut Jihyo tersebut. Seri langsung memahami arti
tatapannya tersebut.
“Leader-nim?”
sahut Sunyoung lagi.
***
[► Nu’est - Overcome]
“Nona Ma!!”
Dua pengawal dan Jihyo segera berhenti ketika
mereka hampir saja meninggalkan gedung ini. Mereka berbalik dan menemukan
Jeonghan berlari ke arah mereka ―ke arah Jihyo lebih tepatnya.
“Kalian tunggu saja di mobil, ada yang ingin ku
bicarakan dengan Nona Ma.” kata Jeonghan pada dua pengawal tersebut, mereka pun
segera menuruti perkataannya.
Kini tinggal mereka berdua saja.
“Ikut aku,” tanpa basa-basi, Jeonghan langsung
menyeret Jihyo ke taman di samping gedung. Karena di sana hening, rasanya
mereka bisa lebih nyaman untuk berbicara.
Hingga mereka tiba di taman pun, Jihyo tak juga
bergeming. Tampangnya seperti orang sakit, dengan surai panjangnya yang kusut
dan pribadi yang dingin serta tertutup. Lengkaplah sudah.
“Kau masih merasa takut?” tanya Jeonghan,
ditatapnya Jihyo lekat-lekat.
Jihyo mengangguk.
“Kenapa? Kenapa kau masih merasa takut?” tanya
Jeonghan lagi, tak sabaran, “Apakah mereka saja tak cukup untuk menghapus
keresahanmu? Kami polisi, kami adalah pelindung negara, kami juga akan
melindungimu.”
“Kau pikir semudah itu meredakan ketakutanku?”
Jihyo berkata dengan wajah datar, “Kau pikir apa yang selama ini ku alami
hanyalah selembar kertas?”
Jeonghan bersabar, “Ijebuteo nan neoui gisaya. Kkeutkkajido neoneun naui yeowangiya. Mulai
sekarang aku adalah ksatriamu. Sampai akhir pun kau adalah ratuku.” katanya,
“Seorang ksatria harus melakukan apapun demi melindungi ratunya, bahkan jika
perlu mati untuknya.”
Ucapannya membuat Jihyo membeku.
“Itjimayo
nan ni pyeoniya. Jangan lupa, aku selalu di sisimu.”
Jihyo tersentak ketika menerima ciuman Jeonghan
di bibirnya. Gadis itu tak bisa apa-apa, Jeonghan mengantarnya lebih dalam dan
terhanyut lebih jauh lagi.
“Tuh, kan,” kata Seokmin, “kau harus traktir
aku burger!” suruhnya pada Sunyoung.
Rupanya, Seri, Sunyoung dan Seokmin mengintip
dari lantai jendela ruangan mereka ke taman di bawah sana. Seri menjelaskan
arti tatapan Jeonghan sebelum meninggalkan ruangan tadi, dari situ Seokmin
bertaruh kalau Jeonghan akan mencium Jihyo sementara Sunyoung bertaruh
sebaliknya.
“Aish,”
gerutu Sunyoung.
Sementara Seri tersenyum tipis, ia baru tau
ternyata beginilah jadinya kalau seorang Yoon Jeong Han jatuh cinta. Terlebih,
Jeonghan jatuh cinta pada seorang saksi yang dulu dituduhnya sebagai tersangka,
Ma Ji Hyo.
[■ Nu’est - Overcome]
***
“Kring,” bel itu berbunyi karena pintu yang
terbuka.
“Ibu,” panggil pria semampai tersebut.
Seorang wanita yang duduk di antara mannequin
itu bergegas menghampirinya. “Wonwoo,” didekapnya wajah pria tersebut, Wonwoo,
“kau tidak bertugas hari ini, sayang?”
Wonwoo melihat-lihat semua koleksi pakaian yang
didisain Ibunya tersebut setelah memastikan hanya ada dirinya dan Ibunya di
sini, “Ibu tau, kan, X Team sudah tidak seaktif yang dulu lagi?” katanya,
“Bahkan hampir dibubarkan.”
“Ah, Ibu paham,” beliau kembali duduk di
hadapan disainnya, “lalu apa yang saja kegiatanmu sekarang ini?”
“Tetap jadi seorang polisi yang seperti Ibu
ketahui, terkadang beberapa anggota X Team dipanggil untuk menyelidiki
kasus-kasus tertentu. Jadinya, kami jarang ketemu sekarang.”.
Butik ini Wonwoo hadiahkan pada sang Ibu enam
bulan yang lalu. Wonwoo ingin Ibunya tak lagi bekerja sebagai wanita malam dan
mengembangkan bakat yang selama ini dipendamnya. Hasilnya memuaskan, banyak
yang tertarik dengan baju rancangan Ibunya. Hal ini pulalah yang membuat beliau
melupakan pekerjaan kelamnya tersebut.
“Kau sudah temui keluarga Ayahmu belum?” tanya
si Ibu.
Wonwoo hanya mengangguk, tak lama pandangannya
beralih pada sketsa wedding dress yang
sedang Ibunya gambar.
“Itu bagus sekali, Bu. Sederhana, tetapi
cantik.” senyum Wonwoo.
Beliau menatap anaknya, “Baguslah kalau kau
menyukainya.” kemudian melanjutkan disainnya.
Wonwoo terkesiap, “Memangnya kenapa kalau aku
menyukainya, Bu?”
“Bukankah kau berniat menikahi Solji?”
Mendengar ucapan si Ibu, Wonwoo terdiam
―tersipu tepatnya. “Bu,” rajuknya.
Ibunya hanya terkekeh. “Baiklah kalau kau tidak
ingin buru-buru,” beliau menghentikan kegiatannya menggambar, lalu ia melepas
cincin yang tersemat di jari manisnya dan memberikannya pada Wonwoo.
Dipandangnya heran cincin itu.
“Margamu selama ini bukanlah nama yang
dipaksakan, sayang.” jelas si Ibu, “Aku berbohong pada Shiyeon yang telah
membunuh Ayahmu, sebenarnya kami sudah sempat menikah diam-diam.”
Wonwoo terkesiap.
“Karena kalau Ibu tidak berbohong pada Shiyeon,
dia tidak akan berhenti mengejar Ibu. Dia berharap Ibu akan menyukainya, tetapi
sampai Shiyeon mati pun Ibu tak pernah menaruh hati padanya.”
“I, Ibu,”
“Maaf selama ini Ibu menutupinya ―kau jadi
membenci Ibu.” raut wajahnya murung, “Tetapi tak apa, dibenci pun tak apa, yang
penting pada akhirnya kau tau kalau kau sudah menjadi anak yang sah, Jeon Won
Woo.”
“Bruk.” dengan segera pria itu memeluk Ibunya
hangat.
Ibu hanya tersentak, apalagi ketika mendengar
anaknya berdesis, “Terima kasih..., Ibu...” air matanya menetes, tangannya pun
mengusap punggung anaknya yang lapang.
“Terima kasih, Bu.”
***
Dari kejauhan sana, tepatnya di pintu gerbang,
lelaki bertubuh tinggi tegap itu melihat kehadiran sosok yang telah lama tak
dijumpainya.
“Junhui Hyung!”
serunya dengan senyumannya yang menawan.
Lelaki yang bersandar pada dinding pagar itu,
Junhui, menoleh, “Hooii! Kim Min Gyu!!” serunya pada lelaki yang memanggil
namanya, Mingyu.
Dengan tas punggung yang ia jinjing di bahunya,
Mingyu segera berlari mendekati Junhui. Mereka berpelukan melepas rindu
sejenak.
“Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, Hyung!! Bagaimana misimu di Cina?” tanya
Mingyu, mereka berjalan seiringan keluar dari basecamp tersebut.
“Ah, kaunya saja yang kelamaan di camp, aku sering bolak-balik Korea-Cina,
kok.” kata Junhui.
Mingyu cuma nyengir.
“Oya, sepulang dari camp ini kau tidak ada acara apapun, kan? Aku ingin makan-makan
denganmu, sekalian melepas kangen.” kata Junhui, “Wah, kau bahkan masih
bertambah tinggi, ya? Apa kau sering berjemur? Kulitmu kelihatan makin eksotis,
dan wow, badanmu sekarang makin bagus, ya?”.
Kembali Mingyu tersenyum menyunggingkan
taringnya yang manis. “Terima kasih, Hyung,
kau juga semakin tampan saja.” ia terkekeh.
“Eh, kalau itu tak usah ditanya!” kata Junhui,
“Aku ini sudah tampan dari lahir!”
“Kalau tampan, kok, belum dapet jodoh, ya
―uhuk,” Mingyu bercanda.
Mereka tertawa. “Ah, lupakan saja ―gak lucu
lagian.” kata Junhui, “Bagaimana, Mingyu-ya? Kau gak sibuk, kan?”
Mingyu menggaruk tengkuk sebelum berkata,
“Maaf, Hyung, tapi,” ucapnya ragu.
Junhui memandang ke arah Mingyu, “Kenapa? Ada
acara, ya?” selidiknya, “Katakan saja.”
“Sepulang dari sini, ada seseorang yang ingin
ku temui.” cengirnya.
“Siapa? Ayah Ibumu? Atau adik perempuanmu?
Oh!!” Junhui teringat sesuatu, “Jangan bilang..., kau ingin bertemu imprint-mu itu..., ya, kan...?”
tebaknya.
Ya, tak ada yang bisa Mingyu lakukan selain
nyengir.
***
Dari sebuah bangunan kecil dengan cat
warna-warni ini, Mingyu bisa mendengar riuhnya suara-suara manis dari surga.
Beberapa anak kecil berseragam manis berlarian melaluinya, bak malaikat kecil
yang mengitarinya.
Mingyu tersenyum.
Dari jendelanya, ia ingin tau siapakah yang
berdiri di depan kelas saat ini. Dan tepat seperti dugaannya, imprint-nya berdiri di sana.
“Jadi, apa yang pertama kali kita lakukan jika
hendak menyeberang?” serunya pada anak-anak kecil berseragam biru di
hadapannya.
“Melihat ke kanan dan ke kiri jalan!!!” seru
mereka antusias.
Senyuman gadis yang memakai blouse berwarna peach yang manis dipadu dengan rok selutut berwarna biru navy membuat sosoknya begitu anggun di
tengah-tengah kelas. Melihat senyuman itu, Mingyu tak mampu menahan bibirnya
untuk ikut tersenyum.
“Bagus!” ucapnya, “Sekarang siapa yang berani
menyebutkan langkah-langkah menyeberang di jalan, ayo acungkan tangan!!”
“Aku, Shin Sonsaengnim!!”
mereka berebut menunjukkan kebolehan.
“Satu-satu, ya. Di mulai dari Minju, Sungki,
lalu Nari.” senyuman itu tak bisa lekang dari wajahnya yang lugu.
Mingyu menyukainya sejak mereka pertama kali
bertemu.
***
Meski kelas sudah berakhir di siang hari, namun
Haera baru pulang di sore hari. Maklum, sebentar lagi anak-anak didiknya di
Taman Kanak-kanak ini akan segera lulus, ada banyak hal yang harus ditanganinya
sebelum mereka meninggalkan sekolah yang menyenangkan ini.
Haera melewati jalan seperti biasanya, di mana
pepohonan rindang, bunga-bunga yang indah dan rerumputan yang bersahabat
terhampar di kanan dan kiri jalannya ―membuatnya sangat rileks. Namun tak hanya
mereka saja yang menyambut kepulangannya.
Dia, orang itu, seseorang yang telah mengunci
hatinya hanya untuk Haera, melambaikan tangan padanya di ujung jalan sambil
tersenyum menawan.
Haera hampir saja menangis melihat lelaki yang
sangat dirindukannya tiba-tiba muncul di hadapannya saat ini, seperti mimpi.
Dengan haru yang tertahan, lelaki itu terus berlari mendekati gadisnya yang
mematung di tengah jalan.
“Haera-ya!!” panggilnya riang.
Sementara Haera hanya bisa bergumam, “Min,
Mingyu,”
Dengan segera, Mingyu memeluk tubuh Haera yang
kecil, mengangkatnya dan membawanya berputar, sangking girangnya. Lalu mencium
bibirnya selama beberapa saat, bahkan sampai Mingyu meletakan tubuh Haera di
atas tanah pun dua bibir itu masih saling bertautan.
“Nal
geuriwoji? Kau rindu padaku, kan?” cengir Mingyu.
“Kau bohong,” Mingyu bisa melihat aliran bening
itu membasahi pipi Haera, “kau bilang padaku kau akan pulang akhir tahun nanti,
tapi ternyata kau pulang hari ini. Kau bohong!!”
Mingyu hanya tertawa lepas ketika Haera
memukuli tubuhnya yang tegap. “Kejutan untuk imprint-ku,” katanya, “kau suka?”
Haera semakin mengerucutkan bibirnya, “Kau
menyebalkan, Kim Min Gyu!” cemberutnya.
“Gak papa ―yang penting kau gak benci aku,
kan?” cengir Mingyu.
Lelaki itu berhasil membuat Haera membeku.
Lagi, Mingyu mengulanginya. Namun kali ini
Haera berjinjit agar lelaki jangkung itu bisa mencapai bibirnya lebih cepat.
Meski beberapa menit telah berlalu, rasanya mereka masih ingin melepas rindu
yang menggunung.
Seperti hidup kembali, kupu-kupu berpulang pada
bunga-bunga yang bermekaran di sana, seakan ikut merayakan kembalinya lelaki
itu ke pelukan Haera.
***
“Kau siap?”
Mingyu menjawab pertanyaan Haera itu dengan
senyuman. “Tentu saja,” katanya, “tunggu apa lagi?”
Pagi yang istimewa bagi anak-anak lugu ini,
khusus hari ini mereka kedatangan seorang pria tinggi tegap dengan pakaian
serba militer yang akan mengajarkan mereka berbagai hal baru tentang ketertiban
sebagai warga negara yang baik.
“Wah!! Ada tentara!!” seru mereka melihat
pemandangan baru yang menarik perhatian.
Haera dan Mingyu tersenyum senang mendapat
sambutan itu. Mereka sangat antusias dengan kedatangan Mingyu pagi ini, dan membuatnya
jadi sangat spesial.
“Shin Sonsaengnim,
Paman Militer ini siapa? Temannya Bu Guru, ya?” ujar salah seorang anak kecil.
Mingyu dan Haera berpandangan, lalu terkikik
kecil. Sebaiknya anak kecil selugu mereka tak perlu tau hubungan apa yang
tengah mereka jalin.
“Anak-anak, khusus hari ini, kita kedatangan
seorang teman baru yang akan mengajarkan kita bagaimana menjadi warga negara
Republik Korea Selatan yang baik!” ujar Haera, “Ayo beri salam.”
“Annyeong
haseyo, Haebaragi bang imnida. Bangapseumnida!!” sambut anak-anak itu
dengan sangat antusias.
Mingyu tersenyum, “Wah, kalian kompak sekali,
ya?” senyumnya, “Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku dulu. Namaku Kim Min
Gyu, karena di sini aku akan mengajarkan beberapa hal, jadi kalian bisa panggil
aku Kim Sonsaengnim saja, ya.”
“Annyeong
haseyo, Kim Sonsaengnim!!” sambut anak-anak itu lagi.
Mereka sangat manis, Mingyu memandangi Haera
dan gadis itu mengerti arti tatapannya, “Kami sering kedatangan sukarelawan
yang mengajar di sini, jadi aku mengajarkan mereka menyambut dengan baik. Dan
mereka juga melakukannya padamu.” senyumnya, “Kau suka?”
Mingyu mengangguk, “Boleh aku mulai?” tanyanya.
“Tentu.” kata Haera padanya, lalu gadis itu
beralih pada anak-anak di depannya, “Nah, Kim Sonsaengnim akan mulai mengajari kita hal-hal baru. Ayo, semuanya
duduk yang rapi di tempatnya masing-masing.”
Anak-anak kecil itu melangkahkan kaki mereka
yang mungil ke tempat duduknya masing-masing.
“Hyunjoo, ayo kau tidak boleh iseng. Woomin,
kembalikan bukunya Minah, jangan nakal, ya. Sohwa, kembali ke tempat dudukmu,
sayang. Nanti pelajarannya gak mulai-mulai, lho. Sudah di tempat duduk
semuanya? Ayo duduk yang rapi.”
“So lovely,” batinnya, Mingyu hanya bisa
memandangi Haera yang mengurus anak-anak di hadapannya itu dengan tulus hati.
Dari situlah kecantikannya terpancar.
Mingyu makin mencintainya.
***
Seungcheol memandangi tangan kiri Solji yang
berdiri di hadapannya bersama Wonwoo. Sudah tersemat sebuah cincin cantik di
jari manisnya. Itulah tandanya.
“Seperti yang ku katakan pada Wonwoo
sebelumnya,” Seungcheol melipat kedua tangan di depan dada, “aku memang
merestui kalian, dengan syarat,”
Wonwoo dan Solji memandang Seungcheol
bersamaan.
“di sini, kalian adalah polisi, kalian adalah
pelindung negara ―itulah profesi kalian. Di sini adalah tempat kalian bekerja,
dan aku menuntut kalian untuk profesional.” tegas Seungcheol, “Urusan pribadi,
urusan rumah tangga, dan segala hal yang berkaitan dengan kepentingan pribadi
harus dilupakan sejenak di sini. Paham?”
“Siap, paham.” ucap Wonwoo dan Solji tegas.
Seungcheol memandangi mereka lekat-lekat,
“Karena kalian adalah manusia-manusia dewasa, jadi ku rasa tak perlu ada
tambahan lagi ―kalian pasti sudah mengerti.” katanya, “Ku restui kalian untuk
menikah.”
“Sebenarnya,” ujar Wonwoo cepat.
“hanya bertunangan,” sambung Solji.
“terlebih dahulu.” Wonwoo melanjutkan.
Seungcheol menepuk dahi, Solji dan Wonwoo
saling melirik senang. “Maksudku, bertunangan baru setelah itu menikah ―aku
merestui keduanya.” ralatnya. “Tunggu apa lagi? Bubar, jalan.”
***
Aim
Part XVII : Fin(al)
***
“Sally,”
“Apa yang kau lakukan...?” lirih Solji.
“Sedikit saja.” sentuhan itu menggodanya.
“Tidak,”
“Sally,”
“Ku bilang tidak,”
“I’ve got
you,” desis Wonwoo ketika berhasil melakukannya.
Solji merintih, “Hentikan,” ia bisa merasakan
nyeri di bagian penting itu, “kita sudah melakukannya.”
“Kau tau kalau aku tipe laki-laki yang tidak
mudah puas, kan?” Wonwoo menyeringai, “Apalagi kita sempat terpisah jauh
sebelumnya.”
Baiklah, Solji mengaku ia sudah kalah ―tanpa
mengatakannya. Karena sekarang, dia sudah terlanjur menjadi korban malam ini.
Bahkan ia menarik Wonwoo, memaksanya untuk melakukan sesuatu padanya.
“Woah,” lelaki itu berhasil menahannya, “kau
ingin aku jadi agresif untuk malam ini?”
“Jangan cerewet dan lakukan saja ―rasanya
sakit.”
Rupanya begitu, Wonwoo paham. Mereka
mengawalinya dengan ciuman, dan Wonwoo yang menaikan level permainanya. Ia
paksa Solji membuka mulutnya dan bermain-main di dalam rongga mulutnya
―menggodanya dan meredakan nyeri yang dideritanya.
“Do it
―one more time,” pinta Solji.
Wonwoo tersenyum senang, “Kau ketagihan
rupanya,” dan tanpa pikir panjang segera mengulanginya lagi.
***
“Ssss...” selain rasa perih, Solji merasakan
berbagai hal yang tidak wajar yang membangunkannya di pagi hari.
Kepalanya terasa pening, tak hanya kepalanya
tapi tubuhnya terasa berputar-putar dan itu semakin membuatnya mual. Tak ayal
rasa yang semakin menyiksanya itu menyeret tubuhnya ke kamar mandi.
***
Sekali lagi Solji membasuh wajahnya, lalu
mengeringkannya dengan handuk di dekatnya. Kembali dipandanginya alat di dekat washtafel tersebut.
Solji meragu, lalu memungutnya dan
memandanginya lekat-lekat. Sebenarnya garis lurus ini pertanda plus atau minus, sih, batinnya.
“Apa mungkin alatnya rusak?” gumamnya.
Wanita itu bergerak mendekati jendela, lalu
menerawang tanda pada alat itu dengan memantulkan sinar matahari padanya. Dan
kemudian, Solji terkejut.
“What
the,” gumamnya lagi.
Keluar dari kamar mandi, ia menemukan Wonwoo sudah
memakai bajunya kembali. Namun sepertinya ia belum sepenuhnya terbangun, karena
lelaki yang perawakannya berantakan itu kembali menjatuhkan tubuhnya di atas
ranjang.
Solji mendesah, lalu kembali pada ranjangnya.
Dia duduk sambil bersandar pada headboard-nya.
Di saat itulah, dengan enggan Wonwoo mendekat pada tubuhnya dan meletakan
kepalanya di atas perut wanita tersebut.
“Hei, sudah siang, sloth.” ucap Solji.
“Hmmm,” Wonwoo masih menutup matanya, “kau
selalu saja menyebutku begitu.”
“Habisnya tiap pagi kau selalu begitu. Mau ku
panggil apa lagi? Koala? Kukang? Kus-kus?”
“Ya~...”
gerutunya, Wonwoo mencari posisi yang nyaman.
Perasaan Solji jadi campur aduk ketika melihat
hasil dari alat tadi. Dia jadi agak jengkel, entah mengapa. “Hei, jangan tiduran
di situ.” Solji mendorong kepala Wonwoo dari atas perutnya hingga jatuh ke atas
ranjang.
“Ish,” Wonwoo berdesis, “memangnya kenapa,
sih?”
Solji menutup mulut lelaki itu dengan
menunjukkan alat tersebut padanya. Wonwoo tak bergeming ketika melihat tanda di
atasnya, lalu dengan segera merebutnya untuk melihatnya lekat-lekat. Setelah
merasa yakin dengan apa yang ditangkap netranya, Wonwoo kembali menatap Solji.
“Apa maksudnya ini?” matanya yang tadi tertutup
rapat, tiba-tiba terbuka lebar.
Solji sedikit gusar, “Cepat perbaiki
penampilanmu ―rambutmu berdiri semua.” katanya sebelum melengos meninggalkan
kamarnya ―dan Wonwoo.
“Hei, berikan aku penjelasan tentang ini! Hei,”
Wonwoo memandang ke arah pintu itu, berharap Solji mau kembali, “hei, maksudku,
honey!!”
***
“Sepertinya ada yang kurang?” ucap Jihun.
“Siapa lagi?” kata Jun, “Tentu saja kita
kekurangan Tuan dan Nyonya Jeon.”
Benar, hari ini semua anggota X Team reunian.
Mereka pergi keluar kota dan menyewa sebuah penginapan untuk mereka. Setelah
tiga tahun lamanya jarang bertemu, akhirnya di acara ini mereka kembali
bersama-sama, tapi bukan untuk sebuah misi.
Melainkan liburan.
Di halaman rumah tempat mereka menginap,
Mingyu, Seungcheol, Jun dan Jeonghan berusaha menyiapkan peralatan untuk BBQ Party. Ada juga Nayeon dan Seri yang
duduk-duduk di bawah terpal yang rindang setelah selesai dengan tugas mereka
menyiapkan bahan dasar BBQ. Jihun
sesekali membantu keempat temannya menyiapkan pemanggang, kemudian Seokmin dan
Sunyoung yang asik sendiri bermain-main dengan seorang bocah.
“Ayo, turunlah dari punggung Paman.” ucap
Seokmin pada bocah lelaki tersebut yang kemudian merosot dari punggungnya dan
berlari ke arah Seungcheol.
“Appa!!”
seru anak itu.
Seungcheol terkejut begitu anak itu naik ke
punggungnya ketika ia belum sempat berbalik. Namun ia dan anaknya tertawa
kemudian.
“Seyong-ah, jangan nakal.” tegur Nayeon.
“Sana, bermainlah dengan Omma-mu dulu,” kata Seungcheol, menyuruh bocah bernama Choi Se Yong
itu mendekati Nayeon yang duduk-duduk di sana.
Bocah berusia dua tahun itu meluncur pada
Ibunya, Nayeon. Namun tubuh mungilnya lantas direbut Seri yang duduk di samping
Nayeon.
“Aduh, lucunya.” dicubitnya gemas pipi Seyong.
“Aku gak mau sama Ahjumma!! Aku mau duduk sama Omma!!”
Seyong menggertak manis.
“Seyongie,” tegur Nayeon.
“Hyung, letakan
saja seperti ini.” Mingyu datang dan menunjukkan kebolehannya memasang alat
pemanggang tersebut pada Seungcheol, Jeonghan dan Jun.
“Tentu saja, house wife Mingyu.” sahut Sunyoung dari jauh.
“Kenapa gak dari tadi aja, sih, Mingyu-ya.”
ucap Junhui.
“Kau, ambil beberapa perabotan di belakang sana
―cepatlah.” suruh Seungcheol pada Jeonghan.
“Sudah ku suruh Seokmin mengambilkanya.” cengir
Jeonghan kemudian.
Selesai dengan persiapannya, dengan senang
hati, Sunyoung menggelar terpal berpola kotak-kotak itu di atas rerumputan
halaman. Seri dan Nayeon meletakan sekerangjang buah, beberapa camilan, dan
minuman di atasnya.
Kemudian, semua berkumpul dan duduk di sana.
“Mana, nih, Tuan dan Nyonya Jeon, kok, belum
datang juga?” ujar Jihun, sementara itu Mingyu mengajak Seyong bermain bola.
Baru saja disebut, Solji sudah muncul dari
kejauhan sana.
“Nah, panjang umur rupanya.” kata Junhui.
“Kau kenapa, Solji-ya?” Seuncheol melihat
sepupunya itu sedikit gusar dan bad mood.
Solji tak mau menjawab, dia hanya berdiri saja.
“Mana Wonwoo? Kau datang sendirian saja?” tanya
Jeonghan.
“Mungkin kurang morning kiss.” Seokmin berbisik pada Sunyoung, lalu mereka
terkikik. Solji memandangi mereka tajam.
Tak lama, datanglah Wonwoo, dan alat itu masih
di dalam genggamannya.
“Ada apa ini? Kenapa kalian datangnya
terpisah?” Nayeon ikut mengoreksi.
“Tidak ada apa-apa,” Wonwoo kelihatan
sumringah, lalu memeluk Solji dari belakang.
“Kau berusaha menutupi konflik.” selidik Mingyu
sambil memungut bolanya.
“Lihat, Mingyu yang datang sendirian ke sini.”
ledek Sunyoung, “Harusnya kau ajak saja pacarmu, Kim Min Gyu! Kau jadinya
bermain dengan Seyong.”
Mereka tertawa.
“Sunyoung benar,” Wonwoo menyetujui, Mingyu
memandanginya, “harusnya kau ajak saja Haera ke sini.”
“Dia sudah punya Solji. Takkan terjadi apapun
di antara mereka.” sahut Seungcheol, menyinggung Wonwoo dan Haera.
“Hari ini Haera harus menghadiri tour-nya anak-anak, acara perpisahan.”
jelas Mingyu, kemudian lanjut bermain dengan Seyong.
“Kalau Seri dan Jihun sendiri, bagaimana?”
Sunyoung memulainya.
“Kau ini?!” Jihun menyikut makhluk heboh
tersebut.
“Oppa
sangat melindungiku,” kata Seri, canggung, “dia bahkan meminta pada pengelola
penginapan untuk menyediakan kamar dengan dua single bed. Habisnya aku tidak bisa tidur sendiri, sementara Nayeon
Onnie sudah bersama Leader-nim dan Seyong, serta Solji Onnie sudah bersama Wonwoo Oppa.”
“Kau terpaksa sekamar denganku?” Jihun menatap
Seri usil, gadis itu segera mendorong mukanya menjauh.
“Wow, Woozi sekarang agresif.” ledek Sunyoung,
semua tertawa.
“Ingatlah janjiku ―aku takkan mengingkarinya.”
Jihun berbisik di telinga Seri setelah merangkul pinggangnya.
“Kalau Jeonghanie Hyung? Ah, gak usah ditebak lagi!”
kata Seokmin. “Bagaimana kencanmu dengan Nona Ma?”
“Ya!!
Lee Seok Min!!” jengkel Jeonghan, hampir saja tersedak gara-gara bocah girang
itu.
“Oh, jadi kau menyukai saksi mata itu?” usil
Junhui.
“Kalian menyebalkan.” gerutu Jeonghan, “Kau
berdua ―Kwon Sunyoung, Lee Seokmin! Memangnya kalian mementingan hubungan
dengan lawan jenis, huh?!”
“Kami masih pengin single.” aku Sunyoung.
“Masih pengin berkarir ―itu saja.” sambung
Seokmin.
“Single, apa
jomblo, ya.” candaan Junhui berhasil membuat tawa meledak.
“Kau yang jomblo!” Seokmin dan Sunyoung tak
terima.
“Hei, Junhui ini sedang cari jodoh, tau!”
kembali tawa meledak ketika Jihun bergurau.
Di sela tawa mereka, Solji melepaskan pelukan
Wonwoo dengan gusar.
“Hei, hei,” Seungcheol menyadarinya, “kalian
berdua ini kenapa, sih? Ada masalah, ya?” sahutnya pada Wonwoo dan Solji.
Wonwoo kembali menarik tubuh itu ke dalam
dekapannya. “Dia mungkin sedikit syok setelah melihat ini.” katanya, lalu
melemparkan alat di genggamannya pada Seungcheol.
“MWOYA?” kaget Seungcheol begitu melihat tanda
di atas alat tersebut.
[► SEVENTEEN – Pretty U]
Semua pun ikut menyelidik, kecuali Mingyu yang
harus bermain dengan Seyong. Sama seperti Seungcheol, mereka semua juga
terkejut.
“Kau akan jadi Paman sebentar lagi, Hyung.” cengir Wonwoo.
“Syukurlah! Oppa,
Onnie, chukhahae!!” sambut Seri yang segera berhambur ke arah Solji dan
memeluknya.
Wonwoo hanya tersenyum melihat mereka berdua,
apalagi melihat Solji yang tidak bergeming.
“Bukankah ini baru bulan ketiga setelah
pernikahan kalian?” selidik Junhui, “Jangan-jangan, sebelumnya kalian sudah...,”
“Ya, kenapa
kau tidak kelihatan senang, Solji-ya!” protes Sunyoung, “Bukankah ini bagus?
Nayeon Nuna dan Seungcheol Hyung tengah menanti kelahiran anak
kedua, sementara kau dan Wonwoo akan segera memiliki anak pertama?!”
“Sudah ku bilang, dia syok.” Wonwoo yang tak
puas pun kembali memeluk Solji. Lalu mencium pipi Solji, segera saja Solji yang
tersentak itu memukuli Wonwoo.
“Aku tidak ingin punya pasangan hidup seperti
Solji Nuna ―nanti dipukuli terus.”
ledek Seokmin.
“Berisik!” sebal Solji, lalu dengan iseng
menyerobot selang di atas rumput itu.
“Hei, hei! Apa yang,” kaget Jeonghan.
“Syuuurrr!!!” dengan segera Solji menyemprotkan
air ke arah mereka semua. Rasanya menyenangkan melihat mereka terbirit-birit
kebasahan.
“Jeon Sol Ji!!!” jengkel Seungcheol, namun
mereka semua senang meski kebasahan.
Bukannya menghentikan kelakukan pasanganya,
Wonwoo malah datang dan menggerakan tangan Solji ke arah semua teman-temannya
tersebut hingga mereka basah. Bahkan Mingyu harus kabur membawa Seyong supaya
tidak ikut jadi korban.
Dan pasangan sehidup semati itu kelihatan
begitu bahagia.
***
fin(al)
***
Komentar..
Part XV : Death
![]() |
| Istigfar, Nak.. Istigfar.. |
![]() |
| Shipper nya SeulWoo, merapat.. ^^ |
Alhamdulillah, ada yang doain..
Amin, amin, amin..
Part XVI : COMA
![]() |
| Bininya Jun, minta pembelaan. Hehehehe |
![]() |
| Lagi-lagi didoain jadi novel. Near terharu ㅠㅠ |
Behinde the scenes...
궁굼하잖아? *tapi gak ada yang penasaran*
*spoiler gagal*
Update juga di IG
Uji coba..
Sayangnya, gak ada yang baper
*Near edisi spoiler gagal* wkwkwk
Sayangnya, gak ada yang penasaran
*Near edisi spoiler gagal lagi* sib nasib wkwkwkwk
A letter from Author..
Alhamdulillah wa syukurillah, bisa rampungin ff ini aja udah seneng, apalagi banyak yang pada suka sama Aim, bahkan doain Aim biar dijadikan novel sekaligus film. Amin, amin ya rabbal alamin.
Makasih, dan makasih banget buat Readers yang mungkin tidak 'kasat mata' tapi masih mau kasih komen buat Aim, bahkan kasih doa. Semoga doanya terkabul, amin!!
Makasih buat mbak Tyas dan mbak Narin yang masih pengin aku tagin. Para makhluk-makhluk (?) tak kasat mata tapi selalu muncul di komentar, Erika, Galuh alias Ashley 😂😂, Putri, dan tentu saja Arthea-nim!! Dan yang sudah komen maupun cuma kasih like atau G+. Semuanya, makasih!!! *hug satu satu*
Mungkin perjuangan Near yang ke warnet meskipun Near masih nganggur ini dianggap sia-sia sama orang kebanyakan, tapi Near berharap semua orang yang Near ucapkan terima kasih ini akan selalu mendapat berkah. Amin.
Rencananya, Aim mau Near posting ulang di Wordpress. Near juga akan berusaha untuk tetap menulis ff, meskipun Near masih harus nyari kerjaan dan dalam perjalanan menuju mimpi Near untuk jadi seorang novelist. Mohon doanya ya, Readers^^
Makasih tak terkira juga buat SEVENTEEN!! You are my shinning diamonds!!
Maaf yang gak bisa Near sebutkan satu persatu..
Terima kasih. Mohon sukungannya untuk SEVENTEEN, Carats, dan Near ya!! Sukses selalu buat Readers semua!!
Amin, ya rabbal alamin.
Author
Near

















