[FF] Aim part XVII
Aim
Part XVII : Fin(al)
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se
Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, Choi Han Sol/Vernon
***
| Spoiler
ver. |
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
“Krek, krek,” kamera itu diarahkan kepadanya.
“Hai,” sapa Solji pada kamera, “ini kamera
baruku, aku baru saja membelinya untuk acara reunian besok. Hehehe.” katanya,
“Apa yang harus ku katakan, ya?”
“Oh, ya, X team.” ingatnya, “Saat ini, kami
memang tidak terlalu aktif lagi, dan kami memang lebih sering terpisah sejak
kejadian luar biasa beberapa tahun yang lalu, sampai SWAT pun turun tangan.”
“Dimulai dari Seungcheol Oppa, S.Coups leader
kami.” katanya, “Setahun setelah kejadian, semuanya sudah membaik, Korea
Selatan menjadi aman dan damai. Dan di saat itulah, ia mempersunting Pelatih
Han. Yup, siapa lagi kalau bukan Nayeon Onnie!”
“Tiga tahun yang lalu mereka menikah, dan
sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua.” katanya, “Lalu Jeonghan Oppa, Seri, Seokmin dan Sunyoung kini
lebih fokus dalam tugas penyelidikan mereka, menjadi detektif dan polisi pada
umumnya. Mereka banyak mengungkap kasus-kasus pembunuhan yang rumit.”
“Jihun sendiri masih bekerja untuk Kepolisian
sebagai hacker, sementara Junhui
harus bolak-balik Cina-KorSel karena tugas. Mingyu baru saja kembali dari camp setelah hampir dua tahun bertugas
di sana. Oya, dia sudah berkenalan dengan Haera, dan ku rasa ada sesuatu di
antara mereka.” Solji terkekeh, “Sementara Wonwoo dan,”
“Kau lihat di mana handukku?” suara bass itu menggema.
Solji jengah, “Memangnya di situ tidak ada?”
teriaknya, dengan segera ia menghampiri si pemilik suara dan meninggalkan
kameranya di atas meja rias.
Selama keheningan itu, kamera berhasil menyorot
seisi kamar berinterior elegan yang dipenuhi warna-warna lembut. Di dindingnya
terdapat sebuah rak besar berdesain unik penuh dengan buku. Tak luput dari
rekaman, tertangkap juga beberapa pigura di samping kasur king size itu.
Pigura-pigura yang terbilang masih baru dan
sangat cantik. Berisi banyak gambar seorang pria dengan stelan jas rapi dan senjata
di tangan serta seorang wanita yang memakai gaun putih juga dengan senjata di
tangan. Sebuah pre-wedding photo yang
mengusung tema yang sangat unik.
***
Aim
Part XVII : Fin(al)
***
Seorang wanita dengan tubuh semampai, rambut
hitam kecoklatan yang dikuncir rapi, dengan langkah tegas memasuki lapangan indoor dan berhadapan dengan beberapa
polisi di sana.
“Mulai sekarang, sebagai pengganti Pelatih Han
Na Yeon yang harus absen karena baru saja melahirkan anak pertamanya,” ucap
wanita itu, “aku akan melatih kalian sampai Pelatih Han kembali atau sampai
penggantinya datang. Kalian bisa memanggilku Pelatih Choi,”
“Choi Sol Ji.”
“Siap!” seru seluruh pasukan itu.
“Lihat, dari kecil sampai dewasa pun dia takkan
pernah tumbuh menjadi gadis manis,” ucap Seungcheol, dari lantai atas
memerhatikan Solji yang memulai hari pertamanya melatih bela diri menggantikan
isterinya, Nayeon.
Wonwoo hanya tersenyum.
“Kapan-kapan mampirlah ke rumahku, aku ingin
menunjukkan banyak hal tentang Solji padamu.” Seungcheol menatap pria di
sampingnya.
Wonwoo mendelik. “Kenapa kau ingin sekali
menunjukkannya, Hyung?” herannya.
“Kenapa?” Seungcheol terkekeh, “Wonwoo-ya, kau
tak usah pura-pura padaku. Aku tau sebenarnya ada yang ingin kau katakan padaku
akhir-akhir ini, tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya.”
“Hyung,
aku,”
Seungcheol keburu mendekap bahunya, “Kau sudah
dewasa, Jeon Won Woo. Kau tau apa yang harusnya kau pilih di usiamu yang sudah
sangat matang ini.” nasihatnya, “Kau tak perlu takut soal bakcground-mu. Lagipula namamu sudah dibersihkan di persidangan
yang lalu, kan?”
Wonwoo ingat itu, “Gomawo, Hyung.” dan Seungcheol lah yang membantunya.
Setelah kejadian menegangkan itu usai, oleh
rakyat Korea Selatan nama Wonwoo sempat mencuat dan disebut-sebut sebagai
pengkhianat negara dan tidak pantas berada di dalam kepolisian. Hal ini dikarenakan
Wonwoo sempat bekerja sama dengan Ilsung untuk mengkhianati negara.
Namun Seungcheol menegaskan bahwa Wonwoo
mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan negara ini. Buktinya ia mau
kembali pada jalan yang benar, berbalik membasmi Ilsung, dan melindungi segenap
bangsanya, bahkan hampir mati.
Tidak ada lagi pembunuh bayaran Park Shi Yeon,
tidak ada lagi teroris Jung Il Sung. Semuanya sudah damai dan aman, Korea
Selatan tetaplah satu kesatuan yang utuh.
Wonwoo sudah mengurus semua dokumennya yang
masih beratasnamakan Park Nam Kyung yang kemudian dirubahnya menjadi Jeon Won
Woo. Sebenarnya ada satu alasan kenapa ia membenahi itu semua, namun Wonwoo tak
bisa mengungkapkannya pada siapapun.
“Bagaimana? Beberapa identitasmu sudah bernama
Jeon Won Woo sekarang, kan?” selidik Seungcheol, Wonwoo terkesiap, “Aku sudah
tau, kok.” ditepuknya bahu itu berulangkali.
Wonwoo meragu.
“Kau tak perlu cemas,” kata Seungcheol, “aku
sudah merestuimu.”







